"Vin, Elden jalan lagi sama cewek lain!" teriak Kana pada Vina yang yang sedang duduk membaca buku.
Vina tersenyum sembari menutup bukunya.
"Biarin aja," kata Vina.
"Gak bisa gitu Vin, Lo terlalu baik buat cowo brengs*k kayak dia," kata Arkan.
Ternyata Kana tidak datang sendirian, ada Arkan, Devan, dan Devina.
"Kenapa Lo gak putus aja Vin, Gue kesel sendiri, Elden selalu jalan sama cewek lain, Lo yang notabene nya pacar di abai in," Cerocos Devina.
"Gue gak bisa," kata Vina sembari tersenyum.
"Kenapa? Kenapa gak bisa?" tanya Devan.
"Karena Gue sayang sama dia," jawab Vina.
"Vin, ini cuma ngelukain hati Lo sendiri," kata Arkan.
Vina hanya tersenyum.
'Lirik gue Vin, kapan Lo liat Gue' batin
seseorang.
.~.~.~.
Siapa yang tak kenal pasangan Elden dan Vina. Pasangan hits sekolah.
Pada awalnya, kisah cinta mereka berjalan mulus. Sampai akhirnya ada masa dimana Elden yang mulai bosan.
Ia mulai mengabaikan Vina dan mencari kesenangan lewat perempuan lain.
Ditegur? Vina hanya tersenyum pahit melihatnya. Tentu saja Elden tau, tapi ia hanya diam saja.
Sahabat Vina selalu ingin bertindak, tapi Vina selalu menahan nya. Bukan hanya sahabatnya. Kakak Laki-laki Vina pun juga ditahan oleh Vina sendiri.
Alasan Vina hanya satu...
Ia mencintai Elden.
.~.~.~.
Vina POV.
Aku berjalan menuju sebuah toko buku.
Yahh, aku kehabisan novel bacaan, aku ingin membeli lagi.
"Ohh ini, sepertinya bagus,"
Aku memegang sebuah novel berwarna biru.
Aku mengambil satu buku berwarna Hitam Putih.
"Lepaskan lah, kau berhak bahagia,"
Aku bergumam membaca bagian belakang buku itu.
Aku memang ingin melepaskan nya, tapi bahagia ku hanya dia...
Aku berjalan membayar novel tersebut.
Setelah membayar, aku pergi ke caffe.
"Lo cantik,"
"Makasih,"
Aku mendengar suara yang tak asing.
Aku menoleh ke arah sumber suara tersebut.
Aku mendapati Elden tengah duduk dengan seorang wanita.
Aku tersenyum. Aku berjalan kearahnya dan mengambil tempat duduk disamping nya.
"El, kok gak bilang kamu kesini juga?" tanyaku pada Elden.
Aku tidak bodoh, aku tau kenapa ia tidak memberi tahuku. Mana mungkin kencan dengan wanita lain harus memberitahu pacar nya sendiri.
Elden hanya diam.
Tidak ada raut wajah terkejut atau semacamnya.
Ia tetap berbicara dengan wanita itu. Wanita itu memandang ku risih, sedangkan aku hanya mendengar kan pembicaraan mereka.
"Mau jalan lagi?" tanya Elden pada wanita itu.
"Boleh, mau kemana?" tanya Wanita itux.
"Ayo kerumah," kata Elden.
"El, aku belum pernah diajak kerumah kamu Loh,"
"Oke," jawab wanita itu pada Elden.
Bohong jika aku tidak sakit hati, selama kami pacaran, tidak pernah sekalipun ia mengajakku kerumah nya.
Aku hanya diam sampai......
Author POV
"Vin? Untung aja ketemu disini, temen nin Gue ke toko buku," kata Arkan.
"Arkan? Gue habis dari toko buku, mau ngapain kesana?" tanya Vina.
"Ada yang mau Gue beli, yuk,"
Arkan menarik tangan Vina. Kami berjalan menuju mobil nya.
"Nangis aja kalo perlu," kata Arkan.
Vina hanya diam, ia meremat ujung sweater nya.
"Sini," kata Arkan memeluk Vina.
Vina mulai terisak disana. Ia menangis melampiaskan kesedihan nya
. ~. ~. ~. ~
Vina POV
Aku membuka chat ku dengan Elden.
Meski aku tahu dia mengabaikan ku, aku tetap memperhatikan nya.
Aku bertanya padanya di chat.
'Sudah makan?'
'Apa kamu bosan? Jika bosan mari ayo kita jalan jalan,'
'Malam sayang, apa kau sudah tidur?'
'Sepertinya kau sudah tidur,'
'Kalau begitu mimpi indah, mimpikan lah aku,"
Begitu banyak pesan kukirim, tak satupun ia baca.
Aku menarik selimut ku, menenggelamkan wajahku disana sembari menumpahkan air mataku.
. ~. ~. ~. ~
Author POV.
Pagi-pagi sekali Vina bangun.
Ia hendak menyiapkan makanan di dua kotak berkal, tentu saja itu untuknya dan Elden.
"Pagi dek," sapa Rian dan Rion kakak Vina.
Ya, mereka kembar
"Pagi kak," balas Vina.
"Kok bawa dua bekal?" tanya Rion.
"Jangan bilang buat Elden," teka Rian sebelum Vina menjawab.
Vina hanya tersenyum.
"Gausah dek, buang-buang tau gak? Paling juga gak dimakan, mending buat Kakak aja," kata Rian.
Vina tau itu, tapi rasa cintanya lebih besar.
"Gapapa kak, mungkin aja dimakan," jawab Vina.
. ~. ~. ~. ~
Vina berjalan menuju kelas sang kekasih.
Tok.. Tok.. Tok..
"Permisi, Elden nya ada?" tanya Vina.
"Udah keluar duluan mungkin kekantin," jawab salah satu murid dikelas Elden.
"Oke, makasih," jawab Vina.
'Kasian tau Vina, dia gak dianggep sama Elden'
'Iya, padahal Vina baik banget kayaknya,'
'Kenapa gak putus aja ya?'
'Ga tau,'
Beberapa cuitan terdengar dikelas Elden.
Vina tentu mendengar nya. Tapi ia mengabaikan nya.
Vina berjalan berkeliling sekolah.
Kantin, taman belakang, parkiran, semua sudah ia datangi.
Ia berjalan ke gudang sekolah, dimana Elden terkadang berada disitu bersama antek-anteknya.
Vina berjalan membuat pintu gudang.
'Bprakk,'
Vina menutup mulut nya. Ia menjatuhkan salah satu bekal yang ia bawa.
Ia melihat Elden berciuman dengan seorang wanita, berbeda lagi dari yang ia temui kemarin.
Elden, wanita itu, dan antek-anteknya menoleh kearah Vina yang terkejut.
Elden jelas terlihat terkejut, ia menutup i nya dengan ekspresi dingin
Vina meremas Rok nya, hatinya sakit.
Ia mencapai batasnya. Batas dimana kesabarannya selalu ditahan oleh kata 'Cinta'
"Oh maaf ganggu, Gue cuma mau kasih bekal buat Elden, Gue taruh sini, permisi," kata Vina lalu berlalu.
Mungkin langit sedang merasakan bagaimana perasaan nya.
Hujan turun dengan deras, disertai airmata Vina yang tertutup hujan.
"VINA!" teriak seseorang dari belakang. Dia Elden.
Vina mempercepat larinya.
Ia berjalan keluar sekolah.
Satpam sudah memanggil nya untuk berhenti. Begitu juga Elden. Mungkin sebuah kebetulan, semua sahabat Vina ada di dekat kejadian itu.
Vina hanya berlari, berlari, ia menyadari bahwa ia lelah, hingga...
Tanpa sadar ada sebuah mobil yang melaju kencang menembus hujan.
BRAKKK.
"VINAAAAA!" Semua yang menyaksikan itu segera berlari kearah kejadian itu.
Mungkin inilah waktunya, waktunya untuk Vina istirahat...
Suara Ambulan terdengar.
Tak lama, kata semangat diimbangi tangisan menggema dilorong rumah sakit.
Didetik terakhir, Vina melihat semua yang ia sayang. Arkan, Devan, Devina, Kakak kembarnya Rian dan Rion, serta kekasihnya, seseorang yang sangat ia cintai, Elden Diarano Saputra. Ia senang, hanya setidaknya jika ini yang terakhir, ia dapat melihat wajah kekasihnya, memang buka dengan senyum, hanya saja dengan tangis......