cerpan MULUT MASIN
by ilusi tak bertepi
sinop : karma itu mitos atau fakta.
Senja mulai meredup. Para murai terbang mencari mana sarangnya dan angin tak lagi bersorak seperti tadi, kini mulai berhanyut tenang di udara.
Dari sebuah pondok tua dengan ketinggian bumbung padi lebih menjulang dari atap rumahnya nampak asap mengepul. Mengacak bulu hidung untuk memuncrat rasa gatal dan lendiri tipis yang bersarang di lubang pernafasan.
Dan keadaan api tidak senakal tadi menjilati dedaunan kering yang melenggak di raba tiupan kencang semilir angin tadi.
Dengan tenang Nyai Zaenab duduk di atas tangga pondoknya memainkan sugi daun sirih di kelopak bibirnya yang sudah berwarna maroon yang pekat.
Zaenab melihat Bagus mengaduk - aduk bara api unggun di depannya. Terlihat gerakan tangan Bagus meramah benda yang ada di sebelahnya dan menyusun sesuai kehendaknya di tumpukan bara itu.
Setelah aroma khas benda itu menebar ke seluruh alam berbondong - bondong pemuda pemudi yang sedari tadi bergumbus datang mendekati Bagus cucu Nyai Zaenab.
Mereka keluar dari pondok kosong yang mereka sewa, pondok itu milik Zaenab yang di buatkan untuk Bagus tapi ia enggan berpisah dari rumah buyutnya karena merasa memikul tanggungan besar akan kondisi Nyainya.
Zaenab melihat aktifitas anak muda itu. Mereka bercanda ria bersama Bagus. Tak berapa lama seorang pemuda celingak - celinguk nampak mencari sesuatu. Dan Bagus menunjuk ke arah pondok Zaenab.
Langsung pemuda itu berlari dan berhenti tepat di depan Zaenab.
" Mau kemana Cu ?"
Zaenab terus memelintir sugi yang tersungging di mulutnya.
Pemuda itu diam dan merayap ke arah belakang pondok Zaenab. Dan Zaenab heran dengan pemuda itu apakah ia tidak mendengar suaranya atau sedang terburu - buru ingin ke belakang pondok.
Tak berapa lama terdengar gemerincik air pancur menimpa genangan air dalam. Zaenab beringsut mengintip pemuda tadi dari atas tangganya.
Pemuda itu muncul dengan memperbaiki resleting celana jeansnya tak jelas warnanya di kegelapan malam ini.
" Kenapa kau buang hajat di situ, itu air untuk bersuci mendirikan sembahyang ?" Tanya Zaenab geram dan ke geraman Zaenab di dengar Bagus dan lainnya.
Pemuda itu masa bodoh dengan celoteh nenek tua itu tak penting baginya. Dirinya dan team datang ke tempat ini untuk melakukan riset, dan nenek itu bukan objeknya jadi anggap nenek tua itu angin berlalu.
" Bisa - bisa bengkak barangmu berani mengencingi air untuk sembahyang ," Zaenab menatap pemuda itu sinis.
Pemuda itu mencampur ke teman - temannya.
" Lo sih air buat wudhu itu, lo stres pipis di situ ," ujar seorang anak kuliahan perempuan.
" Iya, bisa - bisa nanti lo kencing batu kualat ama air bersih di kencingin ," tambah mahasiswi lainnya.
" Guys ... Gue bakal kencing batu jika pola hidup gue gak sehat, jadi dari segi mana bisa itu ,"
" Omongan orang tua jangan di anggap remeh Lur ," sambung pria lainnya.
" Ho'oh, Nyai Zaenab usianya udah seratus sepuluh tahun itu udah uyut ," tambah mahasiswi lainnya.
" Jaman now kalian biacara soal itu, gue gak percaya karma bro ," sembur pria yang buang air kecil tadi.
Bagus terus mengaduk bara api di depannya dan ia mengeluarkan beberapa potong ubi yang ia bakar tadi. Ia menyodorkan ketepian dan para oemuda pemudi itu mebgerti maksud Bagus, mereka bergantian mengambil potongan ubi bakar itu.
Mereka makan lahao ubi bakar itu terasa empuk dan manis. Dan Bagus bangun mengantarkan untuk Nyai Zaenab sepotong ubi bakar ukuran sedang. Nyai Zaenab pun segera menyantap ubi itu.
Malam semakin dingin. Semua orang akhirnya beranjak tidur. Dan ketika ayam Nyai Zaenab bersenandung bersahutaan membangunkan umat membuat semua terbangun. Anak kuliahan itu menggeliat masih mengantuk berat untuk bangun.
" Aaaaa ," teriak seorang pemuda kesakitan. Semua langsung terbangun.
Mereka terkejut melihat teman mereka kesamitan dan di balik celannya terlihat menggelembung. Matanya memerah dan air matanya keluar.
" Aduh gimana nih itunya Satria bengkak ," tukas temannya.
Mereka kebingungan dan Satria terus menahan sakitnya.
" Lo sih nyepelein karma, sekarang kesakitan 'kan ," cetus temannya yang lain.
Satria tak bersuara menanggapi pembicaraab teman - temannya, ia terus sekuat tenaga menehan sakitnya.
" Lo minta ampun sana sama Nyai ," desak Mahasiswi lain.
Satria menatap temannya satu persatu. Akhirnya mereka memapah Satria menemui Nyai Zaenab. Mereka mengetuk daun pintu pondok Nyai Zaenab dan memanggil Bagus cucunya. Merasa tak nyaman menyapa nenek tua itu di jam segini, usia seperti itu butuh istirahat cukup.
Bagus membuka pintu. Mereka mengutarakan keinginan mereka dengan memaparkan keadaan Satria, mereka merasa Nyai Zaenab tabib mujarabnya.
" Bukan Nyai tabibnya, di bawah kendi yang kau kencingi itu adalah makan raja Xiau Me yang mati saat ia bersembunyi di tempat kita ini berapa ratus tahun lalu ," jabar Bagus sambil membantu memapah Satria ke pembaringan di pondok Nyai.
" Tapi ucapan Nyaimu itu terjadi Gus ," sergah salah satu Mahasiswi di situ.
" Nyai bicara begitu tak ingin kita melakukan hal tak wajar di makan orang, walau itu kuburan usang tapi tetap di hormati Nyai. Oleh sebab itu dia meletakkan kendi untuk berwudhu saja, agar tempat itu selalu bersih. Jika itu kamar mandi entahlah seberapa kotor makam orang ,"
" Apalagi itu makam raja negeri bambu yang ku tak tahu rinci kisahnya, di mana makam orang berdarah negeri bambu maka kisahnya akan begini seperti yang Satria alami bila kita mengotorinya. Tidak pakai menakut - nakuti kita dengan penampakan tapi langsung pada inti pelakunya ," bongkar Bagus panjang lebar.
" Jalan keluarnya bersihkan makam itu nak ," suara Nyai Zaenab muncul dari bilik kecilnya dengan gegopoh ia mendekati Satria di bantu cucunya Bagus.
Semua mata saling pandang memecah jawaban jalan terbaik untuk Satria. Dan mereka sepakat bersama membersihkan makam Raja negeri bambu bersama, karena mereka memaklumi keadaan Satria mentidak mungkinkan melakukan semuanya sendiri.
Sampai matahari beringsut meredup tugas semua mahasiswa selesai termasuk membersihkan makam tadi. Dan keadaan Satria mulai membaik dengan keadaan kemaluannya semakin sempurna seperti awal dengan sedikit menyisa sakit.
Dan pada akhirnya mereka memohon pamit pada Nyai Zaenab dan Bagus. Di situ banyak pelajaran yang mereka ambil. Dan bersama mereka masih menjadikan karma itu misteri. Dimana kejadian pada Satria soal karma masih mitos atau fakta. Dimana mengotori makam orang pun tetap akan mendapat keburukan sebagai peringatan sebelum semua terlambat. Karena makam itu rumah kedua mahluk hidup.
🌺TAMAT🌺
Semoga ceritaku meninggalkan kesan di hati kalian para pembaca. Salam ilusi tak bertepi.