365 hari kami menunggumu
Cerpen karya Ilusi Tak Bertepi
" Huaaaaaaaaaaa ," lagi tangisan Esmiralda putri bungsu kami. Ah kami.
Kumengurut dahiku dan membungkuk seakan lelah menatap ke depan semua semu. Kulirik Esmiraldaku sudah mulai bisa dijinaki tangisannya yang kerap memecah kesunyiap perumahan di sini.
Alfarendra duduk bersimpuh seperti membaca mantra menetralisasikan keadaan adiknya. Jika kalian sudah binasa tak 'kan bisa kurasakan ini hai sepasang anak kesayangan kami. Ah kami.
Kuraih mug di atas nakas kecil sebelahku, kosong. Kutak pernah memeras ingatanku bahwa kopi pahit telah kusapu bersih tadi malam.
Kusingkap gordyn yang bercorak kumal ini, jalanan sudah mulai sepi saatnya kumencari sebutir roti untuk kedua anak kami. Huh kenapa harus kukatakan kami, kami, dan kami.
Diriku jengah meyakini semua ini. Kuberjalan mendekati Alfarendraku dan kutarik lembut tubuh kecilnya, kubisikan atensi padanya untuk menjaga Esmiralda.
Alfarendra memberi kemantapan anggukan padaku segera kubangun dan kukunci dapur kami tak ingin Esmiralda bermain api di sana.
Dan kumulai melangkah penuh semangat.
" Lihatlah lelaki gendut itu ," desis wanita muda tak jauh dari rumahku.
Hahahaha!
Tawa mereka membahana. Mereka tidak bosan membicarakan topik yang sama berulang - ulang. Diriku pendengar gratis saja malas memasang telinga disekitar mereka.
Ya kubuka kisah penyebab obrolan radio tadi yang selalu diputar sampai kasetnya rusak baru diam.
Semua ini karena kesalahanku. Dulu ya walau tidak kaya tapi berkecukupan untuk makan. Tapi semua kebahagiaan kurusak karena mematahkan cinta Emiliaku. Dia pujaan hatiku.
Hal konyol membuatku bermain api dengan Lusiana sekretaris bosku. Sebatas say hello dan ngobrol mesra di kantor dan kami hanya itu tidak sampai kemana - mana. Dengan tidak hormat kami dipecat. Sedangkan Lusiana, ia masih lajang tak mengubris hidup tanpa kerjaan.
Dia have fun menjalaninya. Berbeda denganku tanggungan ekonomi banyak dan malah kehilangan Emiliaku. Tak kusangka kebodohanku menghilangkan kebahagiaan yang begitu susah dibangun.
Diriku selalu mengenang Emilia namun tak kusangka, baru mau merajut cinta terlarang sudah kehilangan segalanya.
Kini ditambah kebingungan adalah Alfarendra dan Esmiralda kecilku. Pertikaian hebat malam itu setelah Emilia mengetahui penghianatan dariku membuatnya berlari seorang diri dan berteriak sejadi - jadinya.
Kupeluk dan kudua anakku. Saat hujan lebat membuatku tak bisa melepaskan kedua anakku. Kurasa hujan reda kelak Emilia akan kembali.
Tapi hingga kini ia tak datang. Sungguh ia membenci penghianatan ini sampai ia tak sedikit pun memikirkan kedua anaknya yang ia tinggalkan begitu saja.
Kuterima hukuman Emilia ini. Kutebus kesalahanku dengan sepenuh hati kurawat Alfarendra dan Esmiralda kami. Tak kusia - siakan anak kami ini.
Sebisaku kuhidupi mereka penuh cinta walau diriku bukan wanita, kini membuatku mengerti merawat mereka. Bahkan diriku peka pada reaksi keduanya dan pandai menjadi sikap yang disukai keduanya. Sikap keibuan.
Meski diriku pejantan serasa malu mengakui itu karena sok jantanku membuat harga diriku tak bearti di mana - mana.
Ya di sekitar rumahku sudah mendapat cap buruk begitu juga di dunia perkantoran, semua dataku sudah sampai keseluruh Eropa untuk menolakku dengan prestasi terburuk.
Dengan begitu diriku tetap tegar menjadi seorang ibu. Dan segila hasratku diriku enggan mencari yang baru, jika dicari tak ada yang mau sudah gendut, memiliki dua anak, dan kerja hanya memungut sampah sepanjang jalan. Hah siapalah yang mau.
Diriku menantimu Emiliaku sampai pada hari ini, hari ke tiga ratus enam puluh lima. Tepatnya dihari ini kita berpisah sampai tiada kita berjumpa.
Kami terus menunggumu Emiliaku. Di tengah keasyikan lamunanku, mataku tertuju pada tongsampah besar yang baru saja seorang gadis berjacket panjang bewarna cokelat dan berambut panjang itu melepaskan sebuah hadiah dua kantong besar sampah.
Takut diburu yang lain segera kuhampiri sampah itu. Uwwaw kumendapatkan berpap a potong roti dan juga banyak kaleng bekas minuman untuk kujual.
" Apa kau kelaparan ?" Tanya seorang pria berjas hitam seperti tampang bodyguard orang kaya.
Senyumku dibalas pria itu.
" Laparku ini biasa, tapi kumengumpul roti ini untuk anakku dahulu ," akuku pada pria itu.
Pria berjaz itu berbalik menuju mobil hitam yang kurasa itu merk Mercedes - Benz yang harganya funtastis. Karena dulu sewaktu bekerja mobil jenis ini yang dinaiki bosku.
Kemudian pria itu kembali dan menyerahkan amplop cokelat padaku. Diriku kebingungan apalah maksud pria ini.
Saat kubuka wow berlembar - lembar dolar membuat hatiku bersorak - soray.
" Pasti bahagia Alfarendra dan Esmiralda kuajak makan enak hari ini ,"
Pria itu tersenyum dan menepuk pundakku.
" Kau seorang ayah yang baik, dimanakah alamatmu tuan ?"
" Kau berjalan kesana dan carilah jalan Maountain, carilah rumah pria gemuk Louis. Di sanalah kediaman berhargaku ,"
Pria itu tersenyum dan meninggaljanku. Kurasa semua ini pemberian wanita tadi yang kuyakini dia atasan pria yang memberiku uang ini. Diriku tak tahu wajahnya namun kuingat plat mobil mahalnya.
Dan dengan membawa makanan enak cepat kupulang dan kumenangis melihat anak - anakku makan begitu lahap.
" Tuan kenapa kau tidak ikutan makan ?" Tiba - tiba pria berjaz tadi berdiri di depan pintu rumahku, entah sejak kapan dia berdiri di situ.
" Mereka sudah kenyang baru kumakan sisanya ,"
" Uang yang kuberikan tadi banyak Tuan ,"
" Uang itu kusimpan untuk anak - anakku saja, ini pemberian Tuhan untuk mereka ,"
Pria itu tersenyum lalu pergi, ya kurasa dia menuju mobil bosnya. Sudahlah nanti dia akan datang lagi. Kuperhatikan sepuasnya anak - anakku makan dan semoga mereka selalu bisa makan enak.
"Sugar bear,"
Tunggu. Panggilan itu. Panggilan itu. Panggilan itu. Air mataku oh tak dapat kutahan. Apa ini mimpi. Kuperlahan menoleh berharapa semua tidak mimpi.
" Sugar bear ,"
" Emilia ,"
Dengan penuh airmata diriku dan Emilia berlari dan memecahkan kerinduan selama tiga ratus enam puluh lima hati. Kami berpelukan erat.
" Beybe come here Mr. Al and Sweety doll Esmiraldaku ," panggilan hangat Emilia pada anak kami.
Dengan airmata juga berlarilah dua bocah kecil kami. Kami berpelukan penuh penghayatan. Smeua menangis. Lebih cepat diam ya Esmiralda, dia keheranan dan bertanya kemana Emilia dan kenapa tak membuatkan susu untuknya.
Ah benar Emilia sejak kau tak ada susu Esmiralda habis dan aku tak punya uang untuk membelikan susu untuknya walau hanya satu cangkir saja.
" Sugar kau telah berlaku baik selama ini pada Al dan Esmiralda, kau menyesali perbuatanmu. Sugar mari kita bina rumah tangga kita lagi dan kumohon janganlah kau mendua lagi ," penuh airmata Emilia berpesan padaku.
Kumengangguk dan akhirnya ikut bersama Emilia.
" Dari mana kau dapatkan semua ini ?" Tanyaku di dalam mobil mahal Emilia karna kami diajaknya pindah.
" Sisa uang di saku celanaku ya kubelikan undian dan ternyata aku menang dengan harta cukup ," jawab Emilia dengan tawa manjanya dan merebah ketubuh gempalku.
Diriku kembali menangis. Dia sudah kaya tapi dia tidak melupakan lelaki gemuk yang ia cintai dan tidak melupakan dua anaknya. Dan tiga ratus en puluh lima hari kau memberiku sebuah hukuman hebat, Emilia.
TAMAT
Krisannya kaka ditunggu moga Ilusi bisa jadi satu bacaan yang kaka suka