LDR karna COVID
cerpen remaja karya Ilusi Tak Bertepi
Ini adalah kisah singkat temen gue. Kalau diingat buat gue tertawa terbahak - bahak inget kisah kasih sahabat gue. Lucu dan nyebelin juga. Dimana waktu sekolah kita aktif mereka selalu membuat onar baik di kelas, di lapangan, sampai di luar sekolah kapan ketemu selalu ditakdirkan buat onar.
Dan kita sahabatnya menyayangkan banget kisah tak terduga dari onar itu menumbuhkan cinta. Sedihnya ketika benih cinta membara sekolah kita diliburkan karena di mana - mana terserang virus covid cukup virus mengerikan.
Akhirnya mereka LDR sudah pada tau 'kan apa itu LDR ya singkatan dari Long Distance Relationship yang diartikan sebagai hubungan jarak jauh.
Tapi udah satu tahun mereka masih bersama. Buat bertemu saat rindu pun susah itulah yang dialami sahabat gue Diandra dan Jovan. Kisah lucu dan haru harapan gue ya mereka beneran jodoh.
Dan inilah kisah mereka yang masih gue simpan diingatan gue, kenangan yang sayang dibuang.
Pagi ini gue udah siap menunggu si Ratu make up Soraya. Gue paling sebel karna gue yang duluan siap eh malah kelamaan nunggu Soraya. Apalagi si Lelet Monica dia lebih dari siput leletnya. Dimarahi pun ini kebiasaan Soraya dan Monica. Juga Diandra, dia ogah dateng ke rumah gue buat barengan nunggu yang lain. Dia bermain game di kamarnya nunggu kita. Kebangetan tuh anak.
" Sil, Lo masih nunggu miss celebrity ya ?"
Dia yang bertanya itu Kevin abang gue yang ketampanannya bikin meleleh deh hati para ladies termasuk Soraya. Jika ketemu abang gue, dia bisa lupa kerumah gue mau ngapain.
" Iya bang, biasa kita barengan. Abang berangkat sendiri apa sama bang Bryan ?"
Gue bocorin gue jatuh hati sama Bang Bryan dan kita backstreet karna gue malu ngakuin sama abang Kevin juga ah pokoknya malu gue ceritain.
" Bryan mulu, bosen gue dengernya. Dia rencana sih jemput gue tapi katanya ada urusan dulu jadi telat ,"
" Alaaah gaya Lo Bang males denger pertanyaan gue tapi dijawab juga ,"
Kevin memonyongkan bibirnya ke arah gue bikin gue tertawa.
" Silvia ... ," Lantang teriak Ratu make up.
" Lama banget sih ," gerutu due.
Barusan Soraya dianter kerumah gue sama supir pribadinya. Tinggal menunggu Monica. Soraya tersenyum dan melangkah menuju rumah gue dengan gaya bikin gue mau muntah, dia malah ngerapiin rambutnya yang gaya itu - itu aja.
Gue intip Soraya terlihat pembicaraan rahasia sama Bamg Kelvin, karena mereka ngobrol di teras rumah gue.
Tak berapa lama datanglah Monica. Udah jangan lama kita langsung go ke rumah Diandra.
" Dian ... ," Kita rame - rame manggil Diandra, kayak manggil cowok tapi ya begitulah Diandra. Nama tak sesuai sifat orangnya.
Debrak!
Diandra membuka pintu rumahnya keras - keras bikin kita nyengir gak mau dia marah. Terus Diandra tak bicara apa - apa langsung masuk mobil gue. Gue pemiliknya masih berdiri depan pintu rumahnya sama Soraya dan Monica.
" Lo bertiga bisa cepet gak sih ?" Tanya Diandra dengan nada tingginya dan kita semua langsung masuk mobil.
Mulailah aksi rumpi. Kita ngerumpi kecuali Diandra dia natap luar jendela dengan topi sweter hitam nempel di kepanya nutupin rambut yang mirip Genji.
Sampe di sekolah Diandra turun duluan. Kita sudah tahu dia mau kemana dan aksi dia malah bikin kita seneng. Dia ke kantin duluan karena kelaperan. Ya dia tinggal sendiri di rumahnya dan dia males punya asisten kalau baju ya dia anter ke Loundry juga bersih rumah dia hubungi cleaning servis praktis hidup tuh anak.
Dan kalau dia sudah di kantin maka kita gak perlu cari tempat. Otomtis dia sediain buat kita, baik 'kan temen kita. Kalau dia dateng semua siswa mundur karena dia anak di takuti di sekolah.
Kecuali sama Jovan anak baru bersama temannya William. Musuh bebuyutan Diandra.
Gebraaaak! Geburuuk!
Suara kerusuhan anak - anak berlarian sampe tabrakan sama kita menuju kantin. Barusan gue ceritain dan terjadi lagi 'kan.
Kantin sepi tinggal Mpok Siti di tengah - tengah antara Diandra dan Jovan. Gue gak tahu Mpok itu mau melerai atau sebagai wasit pertarungan sengit sepasang mahluk onar itu.
Dan siangnya saat anak - anak bermain basket bolanya sampai menumpahkan minuman Diandra karna kita jalan sambil bawa minuman botol yang seger dan manis rasanya.
Nafas Diandra ngos - ngosan setelah minumannya tumpah, ditambah saat ke lapangan ngendapetin Jovan yang ngelempar bola. Alhasil bola basket dikempesin Diandra dan dia buang ke tong sampah.
Abis itu saat jam pelajaran gue nemenin Diandra ditugasin Bu Mtk buat ngambilin tugas di ruang guru eh nih bocil malah buka jendela kelas Jovan cuma buat ngelempar kulit pisang mendarat di kepala Jovan, langsung heboh satu kelas dan Jovan langsung ke luar cari pelaku. Gue sih takut diajak Diandra ngumpet di balik pintu kelas Jovan.
Begitulah setiap hari mereka selalu onar sampai keonaran itu mencapai puncak. Dimana sekolah kita bentrok sama sekolah laen. Udah tiga hari berjurut selalu tawuran. Untung Diandra gak ikutan karena dia di rawat inap karena kecapekan habis sibuk latihan karate sampai ketika memegang sabuk hitam dia K.O.
Dan hari ini gue, Soraya, dan Monica menjemput Diandra di rumah sakit. Saat lewat jalanan sepi, aman terkendali kayaknya tawuran udah mengheningkan cipta deh karena di sekitar sini lokasi sering tawuran.
Kalau korban sih ada cuma masih biasa aja cuma lecet - lecet sama baju pada robek. Penyebab tawuran sih bunyi - bunyinya masalah motor, ada lagi yang bilang masalah cewek jadi belum bisa dipastiin penyebab sebenarnya.
Dan kini sampai di rumah sakit Diandra diam dan dia pengen cepet pulang. Di mobil dia tenang banget tapi ngeburu gue lebih cepet nyetirnya, gak tau ada apa.
Tiba - tiba gue rem paksa mobil gue karena di depan ada tawuran. Gue berharap mereka gak tau kalau kita adalah siswi sekolah musuh mereka, karena di depan kita itu siswa dari sekolah sebelah. Serem banget.
Gue liet dari kaca mobil si Diandra gak bereaksi, dia melihat sikon kayaknya dan gue harap Elu gak ikut tawuran Diandraku sayang.
Aaaaaaaaa!
Membahana teriakan siswa di depan kita dan juga banyak bersimbah darah berlarian. Kita semua ketakutan kecuali Diandra. Diem - diem gue kirim pesan lewat aplikasi hijau ke cowok gue Bang Bryan untuk segera menghubungi aparat keamanan. Nasib kita di Bang Bryan.
" Cepat Lo lari cari bantuan, kaki Jovan patah cepatlah lari ," lantang teriakan seorang siswa dari jauh dan gue tahu itu William.
Brugh!
Diandra tanpa kompromi keluar mobil gue.
" Dian, Elo sakiiiiit ," teriak gue menghentikan aksi Diandra tapi buru - buru gue tutup pintu mobil gue takut musuh tau.
Dan di luar akal sehat gak tahu kekuatan dari mana tapi setiap woman ikut karate tenaganya luar biasa. Diandra menarik rantai motor orang langsung terputus dan ia melibas musuh satu persatu dengan keadaan musuh bersimbah darah.
Musuh berlarian ngeri melihat ulah Diandra si cewek karate. Dan dengan mata kepala gue sendiri gue lihat Diandra berjongkok dan menggendong seorang lelaki yang ia bawa kearah mobil gue.
Dia Jovan.
Dan keesokan harinya kita semua di rumah Diandra karena dia benar - benar tak sehat. Ia terjatuh sakit.
Tin! Tin! Suara klakson mobil.
Gue kaget saat mendapati yang dateng itu Jovan dan William, dan Jovan menggunakan tongkat karena kaki kirinya patah tawuran kemarin.
" Kalian mau ngapain kesini ? Jangan buat onar ya ," Tanya gue ketus.
" Gue mau jenguk Diandra dan ucap makasih dia udah nolong gue kemarin ," kata Jovan dengan ekspresi tenang.
What ? Dia mau jenguk musuhnya dan dia tipe anak tahu diri, tahu berterima kasih. Salut gue.
Dan dari situlah Diandra nempel sama Jovan. Dia gak lagi sekolah bareng gue tapi dijemput Jovan dengan mogenya. Kalau di sekolah sih ya Diandra langsung nempel sama kita, cuma beda aja kalau kemana - mana Jovan ikut dan Diandra jadi ceria.
Dia tertawa terus setelah sekian lama jadi orang yang susah buat ngomong. Sampai pada suatu malam Diandra ngedobrak pintu kamar gue untung pintu gak rusak.
Wajah Diandra panik banget.
" Lo sakit Ian ?" Tanya gue ikutan panik.
" Gue hilaf Sil, aaagh ," keluh Diandra dan ia menunduk dengan keluar keringan dinginnya.
" Cerita Ian, Lo kenapa ?"
" Gue ... Gue ... ," Diandra jadi gagap gak tahu kenapa nih anak jadi begini.
" Sil, gue ... Ini ,"Diandra memamerkan cincin cantik bermata berlian pink di jari manisnya.
" Ya bagus dong cincin Elu, terus masalahnya apa Lo nyolong cincin orang ya ?"
" Bukan Sil, Jovan suruh gue milih cincin sama bunga cuma kalau gue terima dia pilih cincij kalau gue nolak dia pilih bunga ," jelas Diandra tetep panik.
" Terus Eloooo ... ," Gue nyengir liet Diandra.
" Selamet ya sobatku ," gue kecup nih pipi Diandra berkali - kali sampai dia risih dengan ulah gue.
Dia panik gue tertawa lepas. Gak nyangka lho Jovan bisa suka sama musuhnya. Gila berasa gak nyangka banget deh gue.
Dan akhirnya ya mereka jadian dan satu sekolahan belom tahu tuh musuh jadian, kita sudah dilibur panjangkan karena covid.
Dan inilah saatnya gue sering banget kerumah Diandra liet dia pacaran lewat androidnya.
Baru ini gue lihat Diandra pacaran. Cuma mereka gak ada panggilan lucu kayak Sugar bear, Hon - hon, Beybe, atau apa kek tapi mereka Jo en Dian. Romantisnya dimana coba.
Beda dengan gue dan Bang bryan kita punya panggilan manja saat telponan si Bang Bryan dipanggil Baby Cokies dan gue Baby Doll. Lucu 'kan.
Dan kalau bertemu ya di cofee shop dan itu jarang banget karna di mana ada keramaian di situ ada razia demi kesehatan.
Kasihan di Diandra sama Jovan udah genap satu tahun bulan maret 2020 ini mereka LDR dan semoga setelah lulus mereka get married dulu. Aamiin.
Ini sejarah terindah buat gue dimana musuh jadi pacar dan semoga jadi suami istri.
Itulah guys cerita gue tentang sahabat gue dan musuhnya, terkadang kebersamaan tanpa kita sadari menumbuhkan cinta yang indah.
Tamat
Karya pertama aku soal pov 2 tapi maaf kalau salah kak mohon pencerahannya. Terima kasih semoga bahagia selalu.