Jangan sesumbar di tempat yang angker.
cerpan horor
SUMPAH MEMBAWA PETAKA
by ilusi tak bertepi
Rintik hujan masih bergelayut dikotaku. Sudah sedari tadi pagi tadi hujan bermain dengan kami, nampaknya ia menyukai kemalasan kami hari ini. Bagaimana tidak malas, berkeinginan pun ambyar diulahnya. Bisanya hanya mengudud atau mengorok dikapuk butut.
Sebenarnya pagi tadi kuingin menerobos belantara semak belukar diujung kampungku, ingin menemukan tanah usang yang dulu punya kisah berujung pergelutan dua bersaudara.
Ah tak penting mengurai kisah itu diera milenial ini, tak ada bagusnya karena itu taruh diarsip ingatan kami saja. Masih ada bau saudara walau sangat jauh.
Kini hari sudah larut mengudud ditemani trilam dan berapa potong talas rebus. Karna hujan listrik tertidur nyenyak sampai lupa menengok kampung kami.
Tubuh kurusku ini kubungkus sarung lusuh yang sudah mengerut jahitannya, tak lagi rapi macam semula. Warna pun ditimpa lampu trilam ini semakin tak nampak. Merah pun dikira hitam jadinya.
Dingin sekali. Tapi mataku enggan terpejam menyusul emak dan abah. Diriku menikmati kemesraan malam dan cuaca saat ini, mereka bercinta dikegelapan disaput kedinginan yang melilit hingga tulang belulang.
Kring kring... suara lonceng ontel yang kukenali ini pasti Sukirman temanku yang mengayuhnya. Ya temanku yang satu ini curang saat bepergian ia menaiki ontel bapaknya, ketika bergaya menyaksikan keramaian kampung baru ia naik pespa yang entahlah darimana asal muasalnya. Seingatku itu sedekah dari orang penting.
Dan ketika mendekati gantungan trilamku barulah terlihat warna gigi bonengnya menandakan ia akan memberi kabar yang gembira.
Langsung Sukirman menyenderkan ontelnya ditangga rumahku. Segera ia menaiki rumah panggungku dan menyerempet kesebelahku.
"Aku tadi mendengar pembicaraan ayah Nilam," bisik Sukirman pelan.
Kuhisap ududku lalu kuhembuskan paksa asapnya yang mengental dilidahku yang tlah dijamah rasa tembakaunya.
Mataku menatap Sukirman lekat menyajikan diriku siap mendengarkan lagi kabar dari Sukirman, pemuda punya tabiat perhitungan ini dengan orang lain ini membalas tatapanku.
"Beliau mengizinkan kamu melamar Nilam, ia berharap besok kalian sudah bertunangan"
"Aku sulit mencerna maksud ayah Nilam itu, aku tak mungkin melukai hati Kenanga yang kupuja setiap malam slalu kusanjungi sampai mentari menyeruak alam tidurku" keluhku akan kabar Sukirman.
Tubuh bagus Sukirman itu menunduk lesu, nampaknya ia iba dan mengerti kondisi hatiku yang tak menentu saat ini. Kepalaku pun dirobek kerisauan akan apa yang kurasa dan tak tahu pilihan yang akan kucengkeram.
"Sudahlah Pramudji, gusti aloh itu ada bersama orang baik jadi kamu tenanglah" tutur Sukirman menepuk pundakku.
Kuhembuskan nafas panjangku yang dirangkul kepulan asap udutku dan habis asap itu kuseruput kopi tumbukku yang kulakoni sendiri jadi rasa kopiku tak sama dengan yang sudah dijamah para tengkulak juga para pengaroma kopi dipasar sana.
Dan tak berapa lama Sukirman pamit pulang. Kuantarkan ia sampai ketepian rumah panggungku. Diriku bersyukur punya kawan seperti Sukirman, ia orang memiliki sifat langka bagiku.
Ya dia dengan orang lain sangat perhitungan semacam bergaul dengan orang itu tak ingin ada rugi sepeser pun. Kala denganku ia rela membagikan apa yang dia punya, tapi itu kepemilikan pribadinya bukan pemberian tetuanya keluarganya entah itu ayahnya, kakek, atau kerabat jauhnya.
Sukirman juga orang berada tapi lambat ia menghamburkan harta bendanya, seperti tadi kerumahku ia naiki ontel ayahnya dan pespa menterengnya ia keramatkan dirumahnua. Lucu sekali sipat Sukirman itu.
Sudahlah segala keanehan sipat Sukirman, ia tetap berlaku baik padaku. Kini kutarik cawan kopiku tadi juga piring dari seng wadah talas rebusku tadi kubawa masuk kedalam rumah pondokku. Kuletakkan dibaskom tempat perabot kotor yang sudah disiapkan ibuku.
Diriku melanjutkan langkahku menuju pulau kapukku. Kantuk sudah bermanja dikelopak mataku tak kuat menahannya lagi. Dunia mimpi siap kujelajahi.
***
Keesokan harinya diriku sudah sampai ditanah yang kufikirkan semalam. Kutebas tepian tanah kosong ini. Kubersihkan dan kuratakan tetumbuhan lalang juga tanaman kayu kecil lainnya. Hingga jika ditelaah membentuk kotak lahan yang kubersih ini.
Tanah ini semacam tanah orang tua yang diperebutkan sampai nyawa dua orang bersaudara itu yang masih badan membujang disikat malaikat maut. Diatas tanah yang kubersihkan ini telah terjadi tumpah darah berapa puluh tahun silam.
Alhasil tanah ini diakui bapakku saja yang masih ada kerabat jauh daripada tak digunakan, takut diakui orang tak bertanggung jawab ya berperilaku licik begitu misalnya.
Dan kini bapak serahkan tanah ini untuk kujual biar bisa membiayai pernikahanku dengan Kenanga adik kandung Nilam yang diharapkan menjadi istriku oleh bapak Rojak ayah kandung kedua gadis ayu itu.
"Pramudji...," kudengar ada teriakan memanggil namaku.
Ugerakkan kepalaku kearah belakangku, terlihat barulah kusebut namanya datang menghampiriku.
"Ayo cepat kerumahku, keluargaku membutuhkan kamu saat ini" desak pak Rojak.
"Acara apa pak ?"
"Lamaran yang kau hembuskan berapa hari lalu, diriku mengingatmu ini tanggal yang kamu janjikan"
Segera pak Rojak menarik lenganku yang masih memegang teguh golok untukku membersih sumber biaya pernikahanku kelak.Dan kuikuti tarikan tangan pak Rojak.
Sampai dikampung pak Rojak langsung membawaku merumahnya. Disana sudah banyak keluarganya. Sebenarnya aku malu karena busanaku saat ini bagai gembel kelaperan, ya buat apa bajuku bagus jika aku berkutat dengan beluakr seharian.
Kukihat kekasihku Kenangan tertunduk tak berdaya sedang disebelahnya kaka satu-satunya Nilam menatapku dengan keji bagai kucing kebanyakan makan ikan mentah ingin muntah.
"Katakanlah Pramudji apa yang akan kamu berikan untuk anakku ?" Tanya pak Rojak, maksud pertanyaannya ini bukan untuk masa deoan rumah tanggaku dan anaknya tapi biaya yang akan kusuguhkan untuk putrinya dipernikahan kami kelak.
"Aku memiliki sepetak tanah yang besar, terserah bapak menginginkan sebesar tanah itu atau lembaran hasil tanah itu kuserah titipkan pada tuan lainnya," tukasku pelan.
Kuberikan dua pilihan apa pak Rojak ingin tanah itu atau ia ingin berupa uang setelah tanah itu kujual.
"Aku pilih tanahmu, karena tadi kulihat begitu kuas tanahmu dan pesta kalian akan aku biayai" akunya pak Rojak mantap.
Diriku terseringai tersenyum sampai memperlihatkan gigiku tanda bahagia. Taoi tidak dengan Kenanga, ia berat mengangkat wajahnya dan disebelahnya Nilam malah seperti ingin menerkamku dan mengoyak tubuhku.
"Jadi apa lamaranku pada Kenangan ini sudah selesai, pak ?"
Mata semua orang diruang tamu pak Rojak itu menatapku keheranan. Diriku pun heran dengan tatapan mereka.
"Kamu akan menikah dengan Nilam, kami membutuhkanmu sebagai pelindung kehormatan keluarga kami" sembur pak Rojak mengagetkanku luar biasa.
"Pak, kusangat menginginkan Kenangan menjadi kstriku. Sudah sedari dulu kukatakan diriku menginginkan Kenanga bukan Nilam," tolakku mentah-mentah.
"Aku pun najis ingin kau tukar dengan tanah keluarga yang kau paling itu," hina Nilam padaku.
"Pernikahan ini hanya untuk melindungi nama baik keluarga kami, sangat buruk bila Nilam melahirkan anaknya tanpa suami," harap pak Rojak padaku.
"Aku hanya mau menikah dengan mas Sutardji, pak," keukeuh Nilam.
Diriku menunduk lesu. Perbuatan hina harus aku yang menanggungnya. Nilam dan Sutardji sudah berbuat biadap sampai ia hamil tapi bejadnya lagi orang yang ia sanjungi itu pergi jauh. Haruskah diriku melindungi nama baik keluarga inu dan kehilangan kekasih hatiku.
"Aku tak sudi pak ditukar dengan tanah curian itu, tanah sial. Aku bersumpah diwaktau mengandung anak Sutardji ini bahwa lebih baik menajdi hantu penunggu belukar ujuang dari pada harus menjadi istri pria miskin ini," teriak Nilam lantang mengagetkan seisi ruangan.
Hujatlah terus Nilam untuk diriku, sudah sering kusantap hujatanmu namun kali ini kusetuju dengan sumpahmu bahwa diriku pun tak menyukaimu sedikit pun. Terserah engkau mau jadi apa, penunggu belukar ujung pun tak penting bagiku intinya janganlah sosokmu menjadi istriku.
Belukar ujung adalah hutan terbesar dimana jika orang bermental kosong saat memasukinya akan tersesat sampai ia mati barulah ditemui orang yang melewati tepi hutan itu untuk kekebunya.
Hutan belukar ini pintu gerbangnya adalah tanah yang akan kujual untuk pernikahanku dengan Kenanga kelak rencananya. Dan tenga hutan itu terasa tak ada, hanya orang tertentu bisa mekihat tengah hutan itu.
Meski siang bolong bagaikan suasana sehabis subuh ditengah hutan itu, cahaya bulan mulai meredup. Daun-daun pun serasa basah berembun dan air sungainya bak air salju dingin bukan kepalang.
Tapi jika tak ahli supranaturalnya maka akan tersesat dan mati tak senonoh. Ada dulu orang sekolah kuliahan yang mati tergantung akar parasit juga ada ditimpa pohon pisang raksasa dan lain sebaginya. Dan menjadi penunggu belukar itulah sumpah Nilam.
Keesokan harinya petir menyambar kemana-mana. Hari pukul 09.00 tapi bagai pukul 00.00 sangat gelap. Dan listrik kembali yertidur lelap.
"Bagaimana saksi ?" Tanya pak penghulu.
"Sah," jawab kedua saksi.
Dan pak penghulu memanjatkan doa. Diriku sah menjadi suami terpaksa Nilam dan diriku akan direstui menikahi Kenanga kelak saat anak Nilam lahir karena kami diminta bercerai sesudah itu.
Berat hati sebenarnya tapi diriku hanya menikahi saja dan tidak harus sebubung dengan Nilam. Diriku tetap menjalin kasih dnegan Kenanga. Tapi tetap kuberikan tanahku itu sebagai ganti biaya pernikahan dengan Nilam ini, karena giliran menikahi Kenanga kelak seutuhnya akan dibiayai pak Rojak.
Tiba-tiba aaaaaa... jeritan Nilam memekik dikamarnya. Ia sedang dirias untuk bersanding denganku sebentar dipelaminan. Kami semua dibuat kaget dan tak berapa lama mpok Juleha perias pengantin itu menghambur keluar kamar Nilam.
Mata mpok Juleha membesar semacam antara terkejut dan ketakutan. Spontan pak Rojak berteriak melihat isi kamar Nilam dan pak Rojak pingsan. Giliranku melihat isi kamar istriku tapi kosong dan berantakan.
Jendela kamar Nilam terbuka lebar sampai daun jendelanya bergoyang dimainkan angin kencang. Tapi tak tahu Nilam dimana.
Berapa hari kemudian kampung kami selalu angin ribut sebentar dipukul sembilan pagi tepat saat Nilam menghilang. Dan kami terus mencarinya. Sepuluh orang pintar pun tak bisa menjawabnya, mereka diancam petinggi kerajaan disini.
Takut tujuh turunan akan direnggut petinggi kerajaan gaib itu. Mereka mengatakan kelak Nilam akan pulang disaat waktunya pulang. Tali baik keluarganya atau pun diriku kasihan mengenang hidup Nilam sampai ia menghilang.
Dan disuatu hati diriku memancing disungai tak jauh dari tanah yang kuserah pada pak Rojak itu. Sudah lama aku tak mancing. Dikenang kini sembilan bulan Nilam menghilang.
"Pramudji...,"
Ada yang memanggilku. Kucari arah suara itu tapi tak ada.
"Pramudji...," panggilnya lagi.
Semacam kenal tapi ah tak mungkin.
"Pramudji...," suara itu semakin dekat.
Dan saat tubuhku berbalik sungguh terkejut bukan kepalang. Ada perempuan berwajah amat buruk mengenakan gaun pengantin putih yang kotor berdiri dibelakangku. Kucelup tangan kiriku keair sungai itu dan kubajakan syair kampung lalu kuusap air itu kewajahku.
Kini nampak siapa hantu itu. Dia adalah Nilam, ia datang dengan tangisan yang merdu airmatanya pun mengalir tiada henti.
"Nilam, kamu kemana sudah sembilan bulan menghilang ?" Tanyaku lembut karena saat begini tak dapat mahluk semacam ini diekraskan.
Dan sudah dibasuh air dengan doa keramat tadi diriku sudah bisa melihat wujud asli Nilam, ia benar Nilam tapi bukan manusia lagi seperti dulu.
"Kenapa engkau menangis Nilam ?"
"Diriku menanggung sumpahku dan sampai kapan pun diriku akan menjadi penunggu belukar ujung. Diriku menetap ditanah yang kamu beri untukku, aku ada disitu. Setiap hari kalian mencariku, aku hanya bisa menangis tapi belum waktunya diriku menyapa kalian," akunya roh Nilam.
"Jasadku ada dipintu gerbang kerajaan belukar ujung, ambil dan kuburkan dengan kayak jenazahku. Kumohon maafkan diriku Prabumudji, kini kuhidup bersama kedua saudaramu yang mati bertikai ditanah itu dulu dan juga bayiku sudah lahir. Selamat jalam Prabumudji, kutitipkan adikku Kenanga bahagiakanlah ia. Hihihihi... hihihihi... hihihi," cekikikan Nilam membuat bulu kidikku merinding.
Kulihay ia berjalan menjauh bersama arwah petua keluargaku yang mati berebut tanah yang kuserah pada pak Rojak itu dan ada bayi kecil yang diambin atau digendong Nilam dibelakang punggungnya.
Segera kupulang mengabari kabar ini pada pak Rojak lalu kami beramai-ramai datang ketanah itu. Memang benar disitu ada jasad Nilam dengan gaun pengantinnya mati berkujud dicela ranting pohon besar. Tapi kulewat disini pergi mancing tadi tak ada jasad Nilam.
Dan jasad itu tinggal tulang. Bau busuk pun tak ada lagi saking terlalu lamanya tergantung dipohon itu. Setelah dimandikan jasad itu dikuburkan dengan kafan yang bersih dan gaun pengantin Nilam pun dikuburkan disebelah makamnya.
👻TAMAT👻
Bagaimana gaya tulisanku kaka apakah ada perubahan dan sudah baik belum? Ini karya pertama setelah karya-karya lama dikoreksi memiliki banyak kesalahan. Mohon krisannya ya terima kasih I Love You, readerslovers