Aku berjalan dengan langkah kaki yang seperti dipaksa untuk berjalan. Menyusuri gelapnya malam ditambah suasana sunyi di sebuah tempat asing yang tak kukenal.
Guk! Guk! Guk!
Tiba-tiba suara anjing terdengar mendekat ke arahku. Kepala dan mataku tak henti menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara hewan yang terdengar mengerikan malam itu. Tak sampai aku menoleh, tiba-tiba sesuatu benda runcing dan tajam serasa menggigit leherku.
Arggg! Krak! Krak!
Aku ingin berteriak, namun bibirku (blank 1). Kulirik mataku, terlihat di sebelah kiri ku terdapat sepasang mata merah menyala menatap tajam ke arahku.
Arggg! Kruak! Krass!
Anjing besar itu mengigit dan mengunyah leherku. Aku dapat merasa ada bunyi tulang yang patah dan daging yang tercabik. Makhluk itu mengibas-ngibaskan tubuhku dengan kondisi setengah leherku yang masih berada di dalam moncongnya.
Akhirnya tubuhku terpental menghantam pohon dengan kondisi leher patah yang setengah hancur.
Dalam kondisi pandanganku yang semakin memburuk, aku melihat seorang wanita berjubah hitam yang asing bagiku. Ia mendekati tubuhku dan menancapkan ujung tombak panas yang membara ke leherku seraya berkata, "Ini balasan untuk mulut pedasmu!"
"Aaaaaa.... hosh, hosh, hosh." Aku mengambil segelas air putih yang telah tersedia di meja kecil dekat tempat tidurku. "Mimpi buruk lagi. Huft!" keluhku.
Lagi-lagi aku terbangun tepat pukul 01.00 dinihari setelah mengalami mimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya. Namun anehnya leher sebelah kiriku terasa sakit. Seperti benar-benar telah ada yang mencabik daging di leherku. Namun aku tak ingin ambil pusing. Aku kembali berbaring dan melanjutkan tidurku walau terbesit rasa trauma dan takut akan mengalami mimpi buruk lagi.
~~
Pagi ini aku menatap jengkel di hadapan sebuah cermin rias di kamarku. Leher mulusku ditumbuhi jerawat batu seukuran jagung dan sangat mengganggu penampilanku.
"Pantesan tadi malem sakit, ternyata tumbuh jerawat. Mana keliatan banget lagi. Huhhh bikin malu aja!" Aku mengomel sendiri di depan cermin.
Lalu ku putuskan untuk pergi menemui dokter ahli kulit untuk memeriksakan jerawatku ini. Dokter memberiku obat dan salep untuk mengempeskan jerawat batu yang di klaimnya tidak ada bahaya.
Setelah mendengar penjelasan dokter dan menerima resep obat, aku merasa sedikit lega dan yakin bahwa penampilanku akan kembali seperti semula.
~~
Setelah 3 hari aku menemui dokter kulit, jerawatku tak kunjung membaik bahkan semakin memburuk. Kini jerawat (blank 2). Dan rasa nyeri di leherku semakin parah hingga menjalar ke bagian kepalaku.
Ku tekan-tekan bulatan jerawat sebesar pimpong itu, ia terasa kencang namun lembek. Seperti hanya berisi cairan.
Hingga aku kembali memutuskan untuk pergi menemui dokter kulit yang menanganiku 3 hari lalu. Aku khawatir ini bukan jerawat.
"Dokter, jerawat saya kenapa bukannya sembuh malah semakin besar ya dok ?" Kulepas ikatan syal yang melingkar menutupi leherku. Dokter tersebut nampak kaget dengan matanya yang terlihat membelalak.
"Maaf ya mbak saya cek dulu benjolannya." Dokter menyentuh benjolan itu dan mengernyitkan dahinya. "Sakit tidak?" tanyanya.
"Sakit dok, bahkan rasanya perih dan panas." sahutku seraya meringis kecil saat benjolan di leherku tersentuh jarinya.
"Yasudah. Kita lanjut rontgen aja ya, dikhawatirkan ini bukan benjolan biasa. Karena baru 3 hari ternyata benjolannya semakin membesar dengan drastis."
Aku dan Dokter menuju ruang rontgent untuk mencari tahu benjolan apa yang sebenarnya bertengger di leherku.
Setelah beberapa menit dokter membawa hasil foto rongent yang baru saja aku jalani, dan menjabarkan maksud foto hitam putih tersebut.
"Ini adalan bagian leher kamu. Warna putih ini adalah tulang leher kamu, dan yang abu-abu ini adalah kumpulan otot." Dokter menjelaskan sembari menunjuk gambar pada foto rontgen di depanku. "Dan yang berbentuk bulat ini adalah benjolan di leher kamu, tapi saya lihat di dalam benjolan ini hanya berwarna hitam itu artinya tidak ada otot ataupun lemak di dalam benjolan tersebut, hanya udara. Jadi untuk saat ini benjolan di leher anda tidak terdeteksi adanya penyakit."
"Lalu apa yang harus saya lakukan dok?" tanyaku dengan penuh kecemasan.
"Untuk sementara saya akan memberi kamu resep obat pereda nyeri dan beberapa obat lainnya. Silahkan di tebus di apotek rumah sakit ini ya." Dokter memberiku selembar kertas berisi tulisan tegak bersambung dari macam jenis resep yang tak kuketahui maksud dari tulisannya.
Aku berjalan menuju koridor rumah sakit dan segera menebus resep tersebut di apotek. Aku berharap semoga benjolan ini akan membaik dan tak berbahaya.
~~
1 minggu berlalu, aku meminum seluruh resep dokter dengan teratur. Namun benjolan di leherku tak kunjung membaik dan kini semakin membesar sebesar bola kasti. Bahkan benjolan itu kini berwarna hitam dengan garis-garis urat merah yang nampak jelas dan menjijikkan.
Aku menangis sendu menatap (blank 3). Seluruh leherku terasa panas, perih dan gatal. Aku hanya bisa menangis meraung seraya menggaruk pelan benjolan mengerikan itu.
"Aaaaarrgh..." Aku berteriak dalam tangis sehingga tak sengaja menggaruknya dengan terlalu keras.
Swarrr !
Cairan merah kental bercampur serangga hitam kecil menyembur dari balik lubang benjolan di leherku, dan mengotori cermin rias di hadapanku.
"Aaaa...." Aku terperanjat seketika dan terduduk di lantai dengan kondisi leher yang masih mengeluarkan darah bercampur serangga.
Serangga-serangga itu menghisap habis darah yang berceceran di lantai dan membuat ukurannya menjadi lebih besar. Makluk hitam menjijikkan itu pun berterbangan membawa aroma amis darah menyeruak memenuhi seisi ruang kamar.
Aku menyentuh bekas benjolan di leherku yang mengempes dengan tangan yang bergetar. Kuraba kulit hitam yang menggelambir di leherku, dan kurasakan ada sesuatu yang bergerak dan menggeliat di dalamnya. Akupun sontak menarik tanganku karena merasa geli oleh gerakan itu.
Leherku pun terasa gatal dan perih. Aku pun memberanikan diri untuk memastikannya lewat cermin.
Tiba-tiba 2 ekor lipan besar dengan tubuh yg panjangnya hampir 15 sentimeter menyembul keluar dari lubang bekas benjolan itu. Kaki-kaki merah dan lancipnya menusuk geli ke seluruh wajahku hingga membuatku tak tahan untuk berteriak takut.
"Aaaa..." Tiba-tiba kedua lipan itu memasuki mulutku dan menjalar ke dalam tenggorokanku.
Bersamaan dengan itu laba-laba hitam besar juga ikut menyembul dari balik lubang bekas benjolan yg semakin terasa panas dan perih.
Hewan-hewan itu menjalari seluruh badanku dan mereka masuk di setiap lubang mulut, hidung serta telingaku.
Hingga aku merasakan rasa sakit yang begitu menusuk menyerang dadaku. Nafasku tersenggal bersamaan dengan keluar masuknya para laba-laba hitam itu. Aku tak tahan lagi menahan sakit di dalam dada dan leherku dimana bekas benjolan itu menyisakan lubang.
Uweeekkk !
Darah segar menyembur dari mulutku, bercampur hewan menjijikkan yang perlahan membunuhku dengan sadis.
-TAMAT-