Cinta memang tak selamanya indah karena tak selamanya cinta harus saling memiliki. Mengikhlaskan dia untuk pergi bukan berarti tak mencintai. Karena bertahan pun akan percuma, tak akan ada yang merestui. Terang dan gelap memang tidak akan bisa bersatu. Ia ditakdirkan untuk terpisah jauh. Itulah yang dialami gadis remaja seperti ku.
Sebut saja namaku Trima Yunita, sosok yang selalu dipanggil Ima. Gadis remaja yang baru duduk di bangku SMA namun telah merasakan kisah rumit yang berjalan sulit. Aku jatuh cinta pada sosok lelaki yang berbeda keyakinan denganku. Ia bernama Bintang Cristhian. Dari namanya saja kita tau bahwa ia adalah seorang penganut agama Kristen. Siapa yang tidak jatuh cinta pada lelaki bertubuh tinggi dan putih bersih. Entah sebuah keberuntungan ataukah awal dari kehancuran, tiba-tiba ia menyatakan cintanya kepadaku. Siapa yang menolak sosok yang anindya sepertinya. Namun, awalnya aku menolak karena kita mempunyai keyakinan yang berbeda. Namun ia begitu lihai meyakinkan aku.
"Kita jalani saja ini dulu, jangan pikirkan masalah keyakinan kita yang berbeda." Begitulah ia meyakinkan aku.
Sampai lah saat hubungan kami menginjak tahun keempat. Permasalahan tentang keyakinan itu mulai muncul. Dari keluarga yang tak merestui dan dari tuhan yang menentang.
" Bagaimana hubunganmu dengan Bintang, ma? Jujur Bunda bukannya tidak suka dengan dia. Tapi hubungan kalian ini terlarang. Bahkan tidak hanya Bunda yang melarang. Tuhan pun menentang cinta kalian." ucap bundaku yang begitu tak merestui.
" Entahlah bund, Aku pun bingung dengan semua ini. Tapi aku gak mau semua ini berakhir begitu saja." ucapku
" Tegarkan dan yakinkan hatimu, apakah kamu lebih memilih mempertahankan cintamu dari pada Tuhanmu? Apakah kau lebih memilih dia yang kau cintai dari pada dia yang telah menciptakanmu? tanya Bunda yang begitu menusuk.
" Tidak bund, Ima tentu lebih memilih Tuhan dari pada mempertahankan cinta tak berujung ini. Ima janji akan mengakhiri semua ini." ucapku yakin.
" Bunda mau kamu menuruti permintaan bunda untuk dijodohkan dengan anak teman bunda. Dia seorang ustadz muda, dia tentu bisa membimbing kamu. Ia bisa menjadi teman ibadah kamu Lan." ucap bunda yang membuatku terdiam.
Aku termenung di ujung ruang yang temaram. Di temani angin malam yang kapan saja siap untuk menghantam. Seperti atma ini yang telah hancur bersama angan-angan. Aku hanya bisa terdiam, mengingat kisahku dengan lelaki yang ku cintai, seseorang yang aku harapkan untuk menjadi teman ibadahku. Namun nyatanya tempat ibadah kita saja berbeda. Jum'at adalah hariku dan Minggu adalah harinya. Aku mengangkat tangan saat berdoa sedangkan ia mengatupkan seluruh jemarinya. Kita berbeda namun kenapa saling jatuh cinta.
*Keesokan Harinya*
" Maaf aku tidak bisa melanjutkan hubungan kita ini." ucapku sambil menatap danau yang berada tak jauh dari tempat kami duduk. Aku benar-benar tak berani untuk menatap wajahnya.
" Apakah hanya karena penyebutan nama tuhan kita yang berbeda, kita tidak bisa bersama? Serodra inikah buana? tanya Bintang, kekasihku.
" Kau bilang hanya?? bagaimana kau menyebut ini dengan hanya. Bagaimana aku bertahan sedangkan sainganku begitu berat antara japamala rosario sedangkan aku hanya punya kiblat untuk penunjuk arah. Sungguh berat rasanya saat Assalamu'alaikum dijawab dengan Syalom." ucapku
" Lalu bagaimana dengan rasa kita? Apakah kau mau jika kisah kita berakhir tragis seperti ini. Apakah saat kita saling mencintai, kita harus memilih antara mempertahankan cinta atau mempertahankan keyakinan. Apakah dinding tuhan ini benar-benar tidak bisa kita tembus?" tanya Bintang frustasi.
" Ini adalah kesalahan kita. Sejak awal, kita tahu ini tidak akan berhasil. Kita adalah sebuah ketidakmungkinan. Kita adalah kesalahan terindah yang tuhan ciptakan. Namun entah tuhan siapa yang menciptakannya? Entah tuhanku atau tuhanmu? Kita harus sadar, bahwa salibmu memang tak akan pernah bersanding dengan tasbihku. Kita seamin namun tak seiman. Hubungan kita penuh anca dan jika terus kita lanjutkan maka akan berakhir retysalya yang tak ada ujungnya." ucapku terdayuh.
" Lalu sekarang aku harus apa? Aku tak mau kisah kita berakhir. Apa kau semudah ini untuk sumarah?" ucapnya.
" Islammu adalah mahar terindah untukku," ucapku singkat.
" Apa maksud mu? Apakah kau ingin aku menjadi muslim? Maaf aku benar-benar tidak bisa untuk itu." ucap Bintang.
"Percuma aku memintanya, kau pun tak akan mau jika berpindah keyakinan karena aku bukan? Begitupun denganku, aku tidak mau berpindah keyakinan hanya karena cinta manusia. Aku tidak memintamu berpaling dari tuhanmu. Aku tidaklah seegois itu merebut kamu dari Tuhanmu. Kembalilah kepadanya jika mencintaiku dilarang oleh tuhanmu. Akupun akan berusaha melupakanmu. Aku akan menerima keinginan Ibuku untuk menjodohkan ku dengan seorang ustadz muda." ucapku.
" Apa kau lebih memilih dia yang pintar agamamu. Apakah sebenarnya kau tidak mencintaiku? Apakah kau tak menghargai adorasi ku? Apakah ia lebih anindita dari pada aku? Aku bahkan sekarang meragukan rasamu padaku." ucap Bintang.
"Terserah apa katamu. Aku benar-benar tidak bisa menjalani kisah rumit ini lagi.Karena Al-Qur'anku memang tak akan pernah bersanding dengan Alkitab mu." ucapku.
Dua bulan kemudian
Sejak pertemuan terakhirku di pinggir danau dengan Farel, aku tak lagi melihatnya. Ia yang selalu datang ke rumah dengan senyum ramahnya. Dia yang datang dengan ucapan salam yang tak pernah aku jawab, namun kini ucapan salam itu tidak lagi kudengar. Ia gata, membawa rasa yang masih begitu nyata meski salah. Akupun benar-benar menerima permintaan bunda untuk mau dijodohkan dengan seorang ustadz. Hari ini adalah hari pernikahanku dengannya. Hari dimana ia akan mengikatku dengan akad. Hari dimana ia akan menjadi pembimbingku dalam beribadah. Hari dimana arah cintaku harus ku ubah. Karena dinding raksasa dari tuhan ini, benar-benar tak akan bisa kami tembus.