Terletak persis di puncak Gunung Manglayang, Jatinangor, Jawa Barat, Hotel Manglayang adalah hotel yang teramat sangat unik karena dikhususkan buat mereka yang sudah Almarhum/Almarhumah dan (¹...........) di dunia ini.
Para hantu yang berkunjung ke Hotel Manglayang selalu akan disambut dengan kurang ramah oleh pemilik sekaligus pengelola hotel, Ny. Manadam.
Banyak kamar menyeramkan dengan segala fasilitasnya disediakan hotel untuk memanjakan para pengunjungnya, seperti pemandangan yang indah ke Lembah Manglayang, kamar mewah dengan kasur sedingin es balok, kolam renang bergelombang mini tsunami, makan malam lezat dengan iringan syahdu gamelan lengkap, sampai ke lapangan golf khusus hantu.
Tidak ada satupun makhluk hidup yang pernah mengunjungi hotel tersebut. Selain karena lokasinya yang sulit dijangkau, juga karena hotel tersebut terlihat oleh kasat mata manusia normal, hanya seperti reruntuhan bangunan yang terbengkalai di kelilingi pohon-pohon besar dan semak belukar.
Sesekali juga Ny. Manadam melakukan atraksi pengusiran mahluk hidup (terutama manusia yang berkemah di kaki gunung), yaitu dengan bernyanyi senyaring mungkin lagu-lagu kesedihan disusul dengan kikikan menyeramkan, atau bahkan ia sesekali menyuruh anak buahnya mengganggu ketenangan para pendaki gunung yang sedang hiking.
Inilah yang paling menarik para hantu untuk berkunjung ke Hotel Manglayang, yaitu jaminan dapat beristirahat dengan tenang tanpa gangguan makhluk hidup.
Karena ketenaran hotelnya, Ny. Manadam mengharuskan pengunjungnya untuk melakukan reservasi dari jauh hari jika ingin menginap.
***
Namun siang itu sesuatu yang tidak biasa terjadi.
Segerombolan orang nampak mendekati kawasan Hotel Manglayang. Mereka mengenakan pakaian kerja ala kontraktor bangunan.
"Inilah lokasi yang terbaik untuk membangun Griya Mewah saya" kata seorang perempuan paruh baya yang tampak memimpin gerombolan itu.
Dia adalah Ny. Endank, seorang janda kaya baru (baru saja ditinggal mati suaminya yang kaya raya dan mewariskan semua harta miliknya kepada Ny. Endang) dari Sumedang.
"Saya akan mendirikan menara skylift/gondola layang di sini, yang nantinya akan mengarah ke parkiran di lembah sana itu.. dan ini akan jadi gerbang utama masuk griya, lalu di situ ada pos keamanan, nanti ini akan jadi lobby utamanya, trus disitu adalah taman dan kolam ikan, di sebelah sana kolam renang dan jakuzi.. dll.. dsb.. bangunan griya ini akan saya buat 2 lantai saja, eksklusif untuk kalangan terbatas berkantong tebal.. Ayo kamu para arsitek dan teknik sipil, saya ajak kalian ke sini bukan buat bengong saja, mulai bekerja, ukur-ukur apa kek gitu, saya mau blue-print, yah minimal rancang bangun kasarnya paling lama seminggu lagi!" suara cempreng Ny. Endank terdengar membahana sambil menunjuk ke sana dan ke sini.
Ny. Manadam yang mendengar kehebohan tersebut merasa terkejut dan sangat terganggu. Ia juga gusar dan marah dengan keberadaan gerombolan orang yang dengan lancang mulai berpencar berkeliling hotelnya.
Kegeramannya menggetarkan permukaan tanah dan (²..... ..... .....).
"Maaf nyonya, sepertinya penunggu gunung ini tidak suka dengan rencana pembangunan griya nyonya." kata bpk Kepala Lingkungan setempat, yang berdiri di samping Ny. Endank.
"Omong Kosong!" teriak Ny. Endank.
"Kalau penunggunya tidak senang, dia bisa pindah. Saya sudah lunas membeli kawasan ini dan surat-suratnya juga sudah lengkap saya urus. Siapa berani menghentikan saya? Silahkan saja mencobanya!" katanya lagi dengan nada menantang.
"Hei, berapa lama lagi kalian perlu waktu mengukur dan meninjau kawasan ini?" seru Ny. Endank kepada para pekerjanya, mengabaikan peringatan si-kepala lingkungan itu.
"Ini kan gunung nyonya, permukaannya tidak rata, kami perlu waktu aga lama mengukur setiap jengkal area yang rencananya akan dibangun, supaya tidak salah perhitungan. Mungkin kita perlu bikin tenda disini supaya bisa selesai malam ini juga." jawab kepala arsitek lugas.
"Okey, kita berkemah di sini malam ini. Mang Dim, tolong siapkan perlengkapannya!" kata Ny. Endank kepada pelayan yang selalu mengikutinya.
"Baik nyonya.. ng.. nganu nyonya, apakah tidak lebih baik kita menginap di hotel Jatinangor yang tadi kita lewati dan membiarkan para pekerja ini mengukur dan membuat denah kasar di sini?" jawab Mang Dim perlahan dan tampak terpaksa.
Sesungguhnya dia sudah merasa takut sejak memasuki area kaki Manglayang tadi, tapi karena masih siang dan cuaca terang, ia memberanikan diri mengikuti nyonya-nya tersebut. Tapi kalau harus sampai malam dan menginap di tenda, dia khawatir mental dan tubuh tuanya tidak akan kuat menanggungnya.
"Tidak, saya perlu merasakan aura sekitar dengan lebih baik lagi. Saya juga perlu inspirasi untuk promosi griya ini nantinya. Sudah jangan malas, bilang sama pekerja-pekerja di parkiran untuk segera membangun tenda-tenda kita!" jawab Ny. Endank tegas.
"Baiklah nyonya.." kata Mang Dim lagi pasrah.
***
"Kurang ajar ini perempuan" batin Ny. Manadam sambil bergegas mengumpulkan seluruh staf hotel dan beberapa tamu teman dekatnya.
Tidak ada satupun dari para hantu tersebut yang senang dengan rencana Ny. Endank. Mereka tidak rela kehilangan tempat nyaman yang selama ini jadi suaka istirahat bersama tersebut.
"Kita harus mengusir mereka!" kata salah satu tamu.
"Ayo kita takut-takuti mereka semua!"
"Ga sopan mereka itu!"
"Harus dihajar biar kapok!"
"Iya, jangan mau kalah!" kata yang lainnya saling menimpali.
"Baiklah, tenang dulu semuanya.. segera setelah gelap, kita mulai menakut-nakuti dan mengusir rombongan perusak kedamaian kita itu" kata Ny. Manadam akhirnya.
***
Ny. Endank baru saja keluar dari tendanya di tengah malam ketika tiba-tiba sosok berbaju merah tampak melayang-layang menghalangi langkahnya.
Ny. Endank tampak terkejut sesaat, namun kemudian tersadar dan berseru: "Pergilah dari hadapanku, bodoh.. tidak ada yang bisa kamu lakukan untuk mengusik-ku!"
Hantu Ny. Manadam yang dihardik demikian merasa syok.. wajahnya tampak lebih pucat dari pada biasanya, belum pernah dia merasa seterhina itu sepanjang hidup dan kematiannya.
Tapi hantu dan arwah yang lain belum selesai. Ada yang bolak-balik menjatuhkan pinsil si-arsitek dari meja gambar, ada yang menggoyang alat ukur, membuat kain alas tidur seakan-akan bisa terbang, barang-barang berpindah tempat tanpa ada yang menyentuh, bahkan ada yang mematikan lampu berulang-ulang. Suara rintihan dan cekikikan juga terdengar hampir sepanjang malam.
Walau rombongan banyak yang merasa takut dan gentar, namun rasa khawatir dipecat lebih terasa memberatkan mereka dan mereka juga malu untuk mengungkapkan rasa takut tersebut di hadapan Ny. Endank, perempuan yang telah mempekerjakan mereka, yang sama sekali tidak pernah merasa takut sama yang namanya hantu.
Namun Ny. Manadam tidak langsung menyerah.
Ia pun segera menyelidiki masa silam dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Ny. Endank.
Ia mengerahkan segenap sumber daya yang dimilikinya termasuk kenalan dan teman-teman jauhnya.
***
Pagi harinya, rombongan arsitek kembali bekerja keras dan menyelesaikan pengukuran secepat mungkin. Siang harinya merekapun sudah bisa bersiap-siap kembali ke Sumedang.
Berpamitan kepada bapak Kepala Lingkungan setempat, Ny. Endank berkata: "Bapak benar loh.. lokasi ini penuh hantu dan penunggu yang suka iseng.."
"Benarkan nyonya.. apakah rencana pembangunan griya-nya dibatalkan?" tanya si-kepala lingkungan.
"Mana ada!" seru Ny. Endank cepat.
Setelah terdiam sesaat ia menambahkan: "Hantu-hantu penunggu kawasan ini malah akan meningkatkan harga hunian nantinya.. bayangkan para petualang berkantong tebal akan mengantri dan berani membayar mahal untuk bisa merasakan sensasi menginap bersama para hantu.. aku akan segera mendapat balik-modal dan keuntungan.. " katanya dengan mata berapi-api penuh semangat.
"Kami akan segera kembali dan membangun.." lanjutnya sambil berpamitan.
***
Seminggu kemudian, pada tengah malam di kamar tidur Ny. Endank, tampak dua sosok melayang menghampiri tempat tidur dimana Ny. Endang sedang terlelap.
"Hai menantuku tersayang, bangunlah!" kalimat singkat itu menghentakkan kesadaran Ny. Endank dengan segera.
"Siapa di situ?" tanya Ny. Endank sambil mengucek matanya.
"Ini aku ibu mertuamu.. masa kamu tidak mengenaliku? Dasar mantu kurang ajar!" hardik suara arwah mertua Ny. Endank sangar.
Ternyata Ny. Manadam telah menemukan hantu yang ditakuti Ny. Endank, yang adalah arwah ibu mertuanya, yang telah wafat beberapa tahun lalu. Semasa hidupnya, mertua Ny. Endank sangat galak dan suka menghukum Ny. Endank tanpa sebab.
Ny. Endank sangat takut dengan mertuanya ini ketika hidup, apalagi setelah menjadi arwah..
"Iy.. iya ibu.. ma.. maaf.. maafkan saya.. ap.. apa.. yang ibu.. inginkan?" jawab Ny. Endank lagi terbata-bata sambil bangun berdiri dari posisi sebelumnya untuk menunjukkan rasa hormat kepada arwah ibu mertuanya.
"Aku dengar kamu akan membangun griya mewah di Gunung Manglayang? Apa itu benar?" tanya ibu mertuanya lagi.
"Iya ibu.." jawabnya singkat sambil menundukkan kepala.
"Bagus, saya akan tinggal bersama kamu sampai kamu menyusul ke alam baka ini." kata ibu mertuanya lagi.
"TTIIIDDDDAAAAAKKKKKK" teriak Ny. Endang seketika.
Ia pun bergegas berlari ke arah meja kerjanya, mengambil blue print, yang baru sehari sebelumnya diserahkan tim arsitek bayarannya, dan merobek-robek kertas berisi rancang bangun dan rincian biaya pembangunan itu menjadi potongan-potongan kecil.
"Saya tidak jadi membangunnya ibu.. mohon maafkan niat saya bu, tolong kembalilah ke (³............) ibu dengan tenang.." katanya lagi terbata-bata dengan berurai air mata.
Hantu Ny. Manadam pun tersenyum puas.
Sambil melayang meninggalkan kamar tersebut bersama arwah si-Ibu Mertua dari Ny. Endank, ia berkata: "Terima kasih nyonya, anda kami persilahkan menginap sebagai tamu kehormatan di Hotel Manglayang, kapanpun anda mau.."
~ T A M A T ~