“kenapa kita harus pindah rumah sih pah?” tanya Erlan kepada sang papah yang sedang mengetik pekerjaannya didepan laptop.
“karena papah memang dipindahtugaskan ke kantor baru perusahaan papah, jadi mau tidak mau kita memang harus pindah” ujar sang papah sembari menggerakkan lihai jari ketikannya.
“apa aku boleh membawa puchi?” tanya Erlan sembari membawa kucing kesayangannya itu.
“kalau kau mau mengurusnya di rumah baru nanti, papah tidak akan keberatan” ujar sang papah sembari mengusap matanya.
Tiba tiba saja, terdengar telefon dari hp milik sang papah di saku kemejanya. Telefon itu berasal dari sopir mobil box yang akan membantu papah dan Erlan untuk mengusung semua barang barang mereka. Sang papah pun menyuruh Erlan dengan segera untuk memasukkan semua barang barang pindahannya kedalam mobil box saat itu.
Malam hari, aku bersama dengan papah berkendara jauh menuju rumah baruku itu. sembari memeluk puchi erat erat, ia tertidur di pelukanku. Perjalanan yang sangat jauh, dimana aku dan papah harus menghabiskan berjam jam perjalanan didalam mobil. Hingga sampai jam 12 malam, kita sampai di rumah baru.
Rumah yang simpel dan megah, hanya ada satu pagar besi tua yang sudah sedikit berkarat. Teras depan rumha itu seakan akan hutan bagi binatang kecil. Bagaimana tidak, ilalang dan rerumputan sudah memenuhi paving depan rumah baruku itu.
“apa kita tidak salah rumah pah? Ini benar benar seperti rumah yang terbengkalai” ujarku sembari memeluk puchi erat erat.
“tidak, aku sudah melihatnya kemarin sore, memang inilah rumah baru kita. santai saja, kita akan merenovasinya besok pagi” ujar sang papah.
“kalau begitu, papah minta tolong, buka pagarnya, papah akan memarkir mobil ini” ujar papah.
“hmm, baik” ujarku menganggukkan kepala.
Maka, aku pun meletakkan puchi di dalam mobil dan menutup pintu mobil itu. aku melakukan sedikit kesalahan dimana aku menutup pintu mobil itu sedikit terlalu kencang hingga terdengar begitu keras.
*dubrakkk, bunyi suara bantingan pintu.
Seketika itu, sangat amat banyak burung burung yang menghinggapi atap rumah itu berterbangan kesana kemari. Erlan pun terkejut dengana ap yang ia lihat itu, namun lain dengan papahnya. Papah menganggap bahwa itu adalah hal yang keren dan sangat disayangkan jika tidak diabadikan lewat foto.
Aku pun membuka pagar itu perlahan, nyatanya terdapat suara lengkingan dan gesekan besi yang saling bergesekan. Suara itu membuat bulu Erlan berdiri. Hingga pada saat pagar itu terbuka seluruhnya, mobil papah pun memasuki rumah dan kemudian memarkirkannya di bawah pohon mangga yang sudah tua.
Papah pun membuka pintu mobilnya, begitu pula dengan erlan yang membuka pintu mobil dan mengeluarkan puchi dari sana. Namun, dengan sangat terkejut, puchi seketika berlari dan mencakar cakar batang pohon mangga itu dengan menghadap ke salah satu ranting di pohon tersebut.
“wah, ternyata kau sudah melatih puchi untuk memanjat pohon yah” ujar sang papah sambil tertawa lepas.
“emm, biasanya puchi mencakar sofa atau kursi saat mati lampu pah” ujar Erlan dengan sedikit kebingungan.
“iya juga, sekarang kan memang gelap gulita, sebaiknya kita masuk” ujar sang papah.
Maka mereka berdua pun berjalan mengarah kedalam rumah itu. hanya lampu teras yang menerangi pintu rumahlah yang menyala, selain itu, tidak ada lampu lain yang menyala. Bisa dilihat dari luar rumah, suasana didalam rumah sangatlah gelap gulita, maka dari itu erlan pun menyalakan lampu senternya dari hp miliknya.
Namun, secara tidak sengaja, ia tergelincir dan jatuh didepan pintu itu. begitu pula dengan hp nya yang terjatuh hingga pecah dan tidak bisa menyala lagi. ia pun sangat menyayangkan hal itu, karena hp milik papah memang sudah lowbat dan sebentar lagi, hp nya akan habis baterai. Maka dari itu, papah mengarahkan mobilnya dan menyalakan lampu mobilnya agar lampu mobil itu menerangi dalam rumah.
Lampu mobil itu berhasil menerangi seluruh ruang tamu itu. disana terdapat beberapa sofa dan meja tamu sederhana yang tertata rapi. Mereka pun memasuki ruang tamu itu, namun tidak dengan puchi. Biasanya, puchi akan selalu mengikuti kemanapun Erlan akan pergi, namun tidak dengan kali ini. puchi seakan akan tidak ingin masuk kedalam rumah itu dan malah mengeong di depan pintu.
Maka, aku pun menggendong puchi untuk masuk kedalam. Papah mencari saklar lampu dan menyalakan lampu ruang tamu itu. Saat papah menyalakan lampu ruang tamu itu, dengan seketika lampu mobil papah mati.
“hah, apa mungkin mobilku kehabisan bensin?” tanya papah.
“tidak tau juga” ujar Erlan.
“kalau begitu, biarkanlah saja itu, kita akan menyusuri rumah ini” ujar papah.
“hmm, iya” ujar Erlan.
Maka mereka berdua pun berjalan dari lorong demi lorongd an menyalakan saklar lampu satu persatu. Hingga sampai pada gudang rumah yang berada di samping kamar mandi, gudang itu sama sekali tidak bisa dibuka. Maka dari itu mereka berdua memilih untuk membiarkan gudang itu.
Mereka pun mulai membersihkan lemari didalam kamar mereka masing masing. Erlan membersihkan kasurnya begitu pula dengan papahnya. Mereka menyapu kamar dan tidak lupa untuk mencuci muka sebelum tidur.
“hey, kakimu kotor sekali, maaf ini terlalu malam. Tapi kau harus mandi” ujar Erlan mengajak puchi untuk mandi.
Erlan pun membawa puchi untuk mandi dikamar mandi. tidak lupa kalau erlan selalu membawa shampo untuk bulu puchi. Selama ini, puchi selalu memberontak saat dimandikan, dan itupun menggunakan air hangat. Namun saat itu, erlan memandikan puchi dengan air dingin, tapi puchi sama sekali tidak memberontak. Tatapan mata puchi terfokus pada satu objek. Mata puchi selalu terpaku di telinga kanan milik Erlan.
“heh, kau malam ini aneh sekali” ujar Erlan sembari menggosokkan sabun kepada bulu puchi.
“tumben sekali kau sangat diam saat dimandikan, biasanya kau sangat takur saat mandi. padahal itu dengan air hangat. Aku ingat ketika kau mencakarku ketika aku memandikanmu air dingin” ujar erlan tertawa didalam kamar mandi itu.
“hey, kau menatap kemana?” tanya Erlan melihat puchi yang mulai melihat melotot kearah belakang tubuh Erlan.
“kenapa matamu hanya melihat dibelakangku? Memangnya dibelakangku ada apa?’ tanya Erlan.
Erlan pun melihat perlahan kearah belakang. Erlan menengok kepalanya perlahan, sedikit demi sedikit. Hingga sampai saat sedikit lagi Erlan bisa melihat, Erlan hanya bisa melirik dibelakangnya. Erlan hanya bisa melihat sekilas seperti pakaian yang menggantung di satu hanger.
Seketika saat ia bisa melirik satu pakaian itu, listrik pun padam dirumah itu. Erlan pun sedikit terkejut dengan pemadaman listrik itu. sesaat setelah lampu dikamar mandi itu mati, puchi mulai mengeong dengan keras. Puchi semakin keras saat mengeong, hingga pada sampai saat puchi mengeong untuk yang terakhirkalinya. Puchi seketika melompat kearah pundak kanan Erlan. Puchi melompat dengan keras hingga pundak kanan erlan berdarah karena cakarannya itu.
“yatuhan selamatkanlah aku, dan lindungi aku selalu” gumam Erlan dalam hati.
Sesaat setelah itu, lampu pun menyala. Lampu itu menerangi seluruh bagian kamar mandi. ia pun berdiri dan kemudian mencari dimanakan puchi berada, namun puchi sama sekali tidak ada didalam kamar mandi itu. padahal pintu kamar mandi itu terkunci rapat saat ia memandikan puchi.
Ia pun keluar dan bertanya kepada papah, dimanakah puchi berada. Namun ia pun kehilangan papahnya. Sekarang hanya dia seorang didalam rumah itu. saat dia berjalan menuju ke arah ruang tamu, ia mendapati papahnya yang sedang memanjat pohon mangga didepan rumahnya itu.
Ia pun seketika berlari menuju kepada papahnya yang berada diluar rumah. Namun sayangnya, pintu itu benar benar tidak bisa dibuka. Dengan susah payah ia berusaha membuka pintu itu, namun hasilnya nihil dan masih tidak bisa dibuka.
Sesaat setelah itu, listrik di rumah itu seketika padam secara sendirinya. Listrik itu mati dan membuat seluruh ruangan dirumah itu gelap gulita. Erlan semakin ketakutan saat ia sedang berada dirumah sendirian dengan ruangan yang gelap gulita didalamnya.
Seketika erlan dikejutkan dengan hp miliknya yang menyala diatas meja ruang tamu. Hp itu tiba tiba menyala sendiri padahal tadi hp miliknya retak dan tidak bisa menyala. Sesaat setelah hp miliknya itu menyala, terdapat satu panggilan telefon di hp nya. Erlan pun menjawabnya dengan suara ketakutan dan bergetar. Saat ia mendengarkan suara didalam telefon itu, ia terkejut bukan main. Pasalnya suara itu adalah suara papahnya.
“halo, erlan. Kamu sekarang ada dimana? Kenapa kamu tidak ada di apartemen?” tanya papahnya.
“papah sekarang ada dimana?” tanya Erlan.
“papah sekarang ada di apartemen. Papah baru saja pulang kerja. Maaf ya, papah harus sedikit lembur di kantor. Sekarang kamu ada dimana nak?” tanya papah.
“jadi, papah tidak ikut pindah rumah?” tanya Erlan benar benar ketakutan.
“hah? pindah rumah? kamu itu ngomong apa?” tanya papahnya dengan tertawa lepas didalam telefon itu.
“ma-maaf pah. Mungkin aku tidak akan bisa kembali” ujar Erlan yang melirik kearah ujung lorong rumahnya itu.
“hah? kamu itu ngomong apa nak? Cepatlah kembali ke apartemen” ujar papah.
“sekarang ada seorang perempuan yang sangat kurus namun tubuhnya sangat tinggi berjalan menghampiriku” ujar Erlan benar benar bergetar ketakutan.
“halo nak? Suaramu tidak jelas” ujar papah.
“dia tersenyum kepadaku. matanya putih semua, giginya berupa taring, dia tidak memiliki daun telinga begitu pula dengan hidung, kakinya kurus namun panjang dan berbulu” ujar Erlan semakin bergetar ketakutan.
“halo nak, suara kamu putus putus” ujar papah.
“sekarang dia berlari dengan pincang kearahku” ujar Erlan menangis ketakutan hingga tangannya bergetar tidak karuan.
“nak Erlan, jawab papah!” ujar papah didalam telefon.
“aku bisa melihatnya dengan jelas, sekarang dia berlari dengan cepat menuju ke arahku seperti kecoak yang memiliki beberapa kaki” ujar Erlan bergetar ketakutan.
“halo? Nak erlan?” tanya papahnya dalam telefon.
“terimakasih pah, selamat tinggal” ujar Erlan tersenyum dengan kondisi air mata yang berlinang deras.
-TAMAT-