Setiap orang pasti pernah merasakan getaran asmara. Entah nantinya akan diungkapkan atau memendamnya sendiri dan hanya membiarkan Allah yang tahu mengenai getaran tersebut.
Dan memendam asmara dalam diamnya berlaku pada seorang gadis berjilbab, bernama Arumi Annisa. Getaran asmara dalam hati Arumi mulai timbul kala pertemuannya dengan seorang lelaki berpenampilan layaknya seorang santri di pelataran masjid.
‘Zul’ sapaan Arumi untuk lelaki tersebut. Dan ‘Arum’ sapaan Zul untuk Arumi. Walau keduanya saling mengagumi, tidak membuat keduanya seperti pasangan remaja lain yang akan menjalin hubungan pacaran. Mereka tidak akan melewati batas.
Mentari kini telah sembunyi dibalik ancala. Semburat jingga terlukis di langit biru ufuk barat. Suara qira'ah dari speaker masjid mulai terdengar. Waktu maghrib akan segera tiba.
Lelaki berpeci dan bersarung yang tadinya duduk di luar masjid, kini mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam masjid bersiap untuk menunaikan ibadah maghribnya.
Tepat saat lelaki itu bangkit, datanglah seorang perempuan berjilbab pashmina yang mendekap sajadah dan mukena miliknya.
Hanya sebuah anggukan kepala yang menjadi sapaan mereka satu sama lain. Bukannya apa, akan tetapi mereka sedang menahan gejolak di hati masing-masing.
“Bolehkah aku meminta lelaki seperti dia padaMu, Rabb?” Arumi tersenyum simpul menatap punggung lelaki yang ia kagumi dalam diamnya. “Dan tidakkah dia terlalu sempurna untuk perempuan sepertiku?”
Hingga hari itu kini telah tergantikan oleh hari, dimana lelaki yang Arumi kagumi pamit padanya untuk melanjutkan pendidikan S1 nya di Madinah. Ada rasa berat untuk mengiyakan lelaki tersebut pergi, akan tetapi Arumi sadar bahwa dia dan Zul bukanlah siapa-siapa. Mereka tidak memiliki ikatan yang akan menjadi alasan Zul agar tetap di Tanah Air.
“Jika kita berjodoh, Allah pasti akan menyatukan kita. Menggerakan dua hati yang sama-sama menyimpan rasa untuk disatukan dalam ikatan sakral pernikahan.”
Arumi menunduk, hatinya membenarkan ucapan Zul yang kini tengah berada di hadapannya.
“Sibukkan dirimu dengan kuliahmu dan hobimu, Rum. Ingat, kita hanya dua manusia asing. Aku tidak mengenal keluargamu dan kamu juga tidak mengenal keluargaku.”
Usai mengatakan kata-kata yang mampu membuat hati Arumi getir, Zul pun pergi. Hari ini adalah hari keberangkataannya ke Madinah.
Jarak telah memakan daksa lelaki itu dan Arumi kini berani mengangkat pandangannya. Jauh di depannya, punggung Zul semakin ditelan.
“Apa kamu tahu jika selama ini aku mengagumimu, Zul? Maaf, tidak seharusnya aku menyimpan rasa ini. Kamu benar, Zul. Kita hanya orang asing. Kita baru mengenal satu minggu lamanya. Aku tidak tahu keluargamu, dan begitupun sebaliknya,” gumam Arumi dengan sorot mata sendu.
Hari-hari Arumi dilewati dengan berbagai tugas kuliahnya, dan juga cerpen-cerpen buatannya. Selain sebagai seorang mahasiswi, Arumi juga seorang penulis yang sedang belajar agar kelak bisa menjadi penulis handal.
Bukan hanya kuliah dan menulis saja yang dilakukan Arumi setiap harinya, akan tetapi ia juga turut membantu Ummahnya mengajar ngaji anak-anak perumahan setiap sore.
Namun di tengah aktivitas mengajar ngajinya, Arumi mendapat sebuah pesan dari nomor yang sama sekali tidak ia kenali. Berawal dari iseng untuk membuka hingga akhirnya membuat hati Arumi berdebar tak karuan.
“Arum...” Suara lembut itu menyadarkan Arumi yang tengah tersenyum sendiri menatap layar ponselnya. Dengan segera Arumi melepas pandangan dari layar ponselnya, dan menatap seorang perempuan bercadar di sampingnya.
“Maaf, Ummah.” Hanya itu yang keluar dari mulut Arumi. Dan perempuan bercadar yang Arumi sapa ‘Ummah’ itu menganggukkan kepalanya.
Senangnya hati Arumi mendapat sebuah pesan singkat dari lelaki yang telah mengatakan pamit padanya satu bulan lalu. Ya, dia adalah Zulfiqar Abrisam atau kerap disapa ‘Zul’.
Hingga waktu kembali bergulir, detik demi detik tak terasa telah dilalui. Dan kini, genap sudah dua tahun Arumi tidak bertemu Zul. Jujur, Arumi begitu rindu dengan lelaki kalem tersebut. Satu pesan tempo waktu adalah pesan pertama dan terakhir yang Arumi terma dari Zul. Selebihnya tidak ada lagi.
Hingga waktu kembali mempertemukan keduanya di sebuah acara keluarga yang sebenarnya Eyang dari Arumi yang mengadakan. Alangkah terkejutnya Arumi mengetahui siapa sebenarnya Zul.
Bak diterjang deburan ombak yang begitu keras, hati Arumi getir dan … ah, tidak dapat digambarkan lagi. Intinya, Arumi sangat terkejut dan getir. Saat itu pula, Arumi tidak berniat untuk bertemu dengan Zul. Tapi keinginannya itu bertolak belakang dengan takdir yang tanpa sengaja selalu mempertemukan keduanya.
Di pelataran masjid dekat kampusnya, kini Arumi berada bersama dengan Zulfiqar Abrisam. Arumi yang tadinya ingin menghindar, kalah telak oleh Zul yang sigap membuat Arumi tidak berkutik.
Zul tahu bagaimana terkejutnya Arumi saat tahu bahwa dirinya adalah anak dari saudaranya sendiri. Jika memang diperbolehkan menjalin hubungan, namun Abi dari Arumi telah mewanti agar Arumi tidak akan menjalani hubungan dengan saudaranya. Walau secara agama dibolehkan.
Mengapa? Apakah Abi Arumi tidak terlalu kejam? Abi dari Arumi telah memiliki keputusannya sendiri dengan sahabatnya. Bahwa jika putra putri mereka telah dewasa, mereka akan menjodohkannya.
Arumi yang memunggungi Zul tidak berniat berbicara. Ia telah janji, bahwa ia tidak akan menjalani hubungan dengan saudaranya sendiri walaupun secara hukum agama memperbolehkan.
“Tidakkah kamu ingin menemuiku, Rum? Sekarang kita bisa bertemu, mengapa kamu malah seolah menghindariku?” tanya Zul. Lelaki itu heran dengan Arumi.
Arumi memejamkan matanya. “Setelah mengetahui kamu adalah saudaraku, Zul. Aku tidak berniat ingin menemuimu. Aku takut jika aku mengingkari janjiku dan Abiku. Aku takut... ”
Tanpa sepengetahuan Zul, air mata Arumi telah berderai. Arumi mengatupkan mulutnya rapat-rapat agar suara tangisnya tidak sampai ke telinga Zul.
“Jika kita memang saudara, bukankah harusnya kita menjalani tali silatuhrahmi? Bukankah kita harus menghindari yang namanya saling mendiamkan?” Zul menatap perempuan di depannya dengan tatapan tak berarti.
“Aku hanya takut, jika aku terus memikirkanmu, Zul. Sedangkan aku kini akan berta'aruf dengan putra sahabat Abiku.”
DEG. Zul tersentak kaget. Baru beberapa hari ia di Tanah air, berniat ingin menemui pengisi hatinya yang merupakan saudaranya sendiri, kini ia dikejutkan dengan rencana ta'aruf yang akan dilaksanakan Arumi.
“Rum—”
“Mungkin akhir dari kesalahan yang telah ku lakukan adalah perpisahan denganmu, Zul,” potong Arumi. Isak tangisnya samar terdengar di telinga Zul.
“Kenapa, Rum? Bukankah kita saudara, kenapa harus berpisah?” Zul terheran dengan ucapan Arumi.
Arumi memberanikan dirinya menatap Zul. Oh, buka. Bukan menatap Zul, akan tetapi menghadapkan daksanya ke arah Zul.
“Sebab, aku akan melanjutkan pendidikanku di Yaman dan menetap di sana bersama imamku. Maaf, Zul. Maaf … karena aku telah menaruh hati padamu. Padahal, aku tahu apa keinginan Abiku dari dulu. Maaf...”
Arumi berlari meninggalkan Zul yang mematung menatapnya. Tangisnya semakin lolos. Ia tidak peduli dengan orang-orang sekitarnya.
“Arum rela mengubur rasa ini demi wasiat terakhir Abi. Arum akan wujudkan keinginan Abi yang ingin jika dewasa Arumi menikah dengan sahabat Abi. Semoga Abi bahagia di sana. Arum tidak menyesal melakukannya, Bi…”
Perpisahan ini adalah akhir dari kesalahan Arumi yang jelas-jelas ia tahu jika ini adalah kesalahannya pada almarhum Abinya.
Dan inilah takdir. Tidak semua apa yang kita inginkan harus terwujud. Dan apa yang tidak kita inginkan jangan sampai terwujud. Manusia tidak lebih tahu dari pada Sang Pencipta yang telah menuliskan takdir hamba-hambaNya di lauhil mahfudz.
Short story by
Nabila R.S.