Terkadang rasa penasaran bisa membawa kehancuran. Jadi, berhati-hatilah!
✡✡✡
Sekarang aku dan keluarga sedang berada di pemakaman. Kami mengantarkan jenazah ayah ke peristirahatan terakhirnya. Semua orang tampak sangat sedih, tak terkecuali aku.
Tunggu, ada Kak Tomy! dia [1. blank...] .
Kala itu aku mencoba melangkah mendekati Kak Tomy. Deg! jantungku serasa disambar petir saat melihat pelototannya. Tatapan tersebut seakan seperti tombol flashback untukku. Kilatan ingatan langsung muncul di kepala.
[Flashback 2 Hari yang lalu]
"Maia! kamu mau ikut aku ke atap?" ajak Kak Tomy.
"Aku ikut Kak! Mamah, Ayah bolehkan aku ikut Kakak?" ijinku pada kedua orang tua yang tengah membereskan barang-barang.
"Tentu saja sayang, tetapi hati-hati ya... Tomy! jaga adikmu ya, Mamah mau beli barang kebutuhan. Kalau ada apa-apa, kasih tahu Ayah saja!" ujar Mamah.
Tanpa pikir panjang, aku pun berlari mengikuti Kak Tomy. Dia terlihat menaiki tangga lebih dulu. "Kak! tunggu!"
Tak! Tak! Tak!
Tibalah sudah aku di atap dan segera mencari Kak Tomy yang tiba-tiba menghilang. Kemana dia?
"Kak Tomy?. . ." panggilku sembari meraih steker. Dan pada saat lampu menyala. . . "Boooo!" Kak Tomy tiba-tiba saja muncul, aku pun langsung tersentak kaget.
"Nggak lucu Kak!" keluhku dengan dahi yang berkerut. Namun lelaki yang lebih tua empat tahun dariku tersebut malah tertawa geli.
"Sudahlah Maia, jangan cemberut dong. Ayo kita cari sesuatu di sini! mungkin ada boneka untukmu." Kak Tomy mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
Sudah hampir satu jam aku dan Kak Tomy menghabiskan waktu di atap. Banyak hal menarik yang kami temukan. Salah satu benda yang membuatku penasaran adalah sebuah kotak klasik bergambar bintang. Namun baik aku maupun Kak Tomy sama sekali tidak berhasil menemukan kuncinya.
Kresss!
Kak Tomy tengah merobek karton yang menutupi dinding. "Kak Tomy mau apa?" tanyaku.
"Sepertinya ada sesuatu di balik ini, lihat!" sahut Kak Tomy seraya menunjukkan gambar dengan tinta merah di dinding. Pupil mataku membesar seketika saat melihat tinta yang lebih mirip seperti darah, ditambah bau anyir mulai menguar dengan jelas.
"Kak Tomy sudahlah! ayo kita turun yuk! beri tahu ayah saja!" aku menarik-narik lengan Kak Tomy yang masih berusaha melepas bagian-bagian karton penutup dinding.
"Kau duluan saja Maia, panggil saja ayah ke sini. Aku akan menunggu," ungkap Kak Tomy yang telah berhasil mengoyak semua kartun di dinding. Terlihat jelas sudah gambar berupa bintang yang sama pada kotak klasik berdebu tadi. Bedanya, gambar tersebut tampak sangat mengerikan dengan tinta merahnya.
"Ya sudah, aku cari ayah dulu ya," ucapku sambil beranjak pergi dari atap, dan meninggalkan Kak Tomy sendirian.
✡✡✡
"Ayah, ayo ikut aku ke atap, ada sesuatu di sana! ini penting!" desakku seraya menghentakkan sebelah kaki beberapa kali.
"Ada apa Maia?" balas ayah yang berjongkok, karena berusaha menyamakan tingginya denganku.
"Itu, ada darah di dinding atap!" terangku yang sontak membuat mata ayah membola. Dia segera berlari menuju atap.
Aku mencoba melangkah untuk mengikuti ayah, namun segera mendapatkan larangan darinya. Alhasil aku hanya bisa duduk diam.
Di kala menunggu, telingaku bisa mendengar jelas suara bising dari atap. Lantas aku pun berdiri dan berjalan ke sumber suara.
"Aaaaaarrkkhh!!!" aku berteriak histeris saat telah berada di depan pintu atap, dikarenakan melihat tubuh ayah telah bersimbah dengan darah. Cairan merah kental memenuhi lantai, bau amis semakin mengganggu indera penciumanku.
Tak. . . Tak. . . Tak. . .
Aku melihat Kak Tomy mencoba berjalan mendekatiku. Tubuhnya tampak belepotan dengan darah, bahkan ada pisau di tangan kanannya. Di belakang Kak Tomy aku bisa melihat kotak klasik berlambang bintang sudah terbuka.
"Apa yang Kakak lakukan?!!!" ujarku sembari melangkah mundur. Kak Tomy hanya terdiam dan tidak menjawab sedikitpun, tetapi kakinya terus melangkah mendekatiku.
"Hentikan Kak! hentikan!" pekikku.
Karena terus melangkah mundur, tanpa diduga aku pun terjatuh dari tangga. Setelah itu penglihatanku langsung menggelap seketika.
✡✡✡
Jadi apa yang Kak Tomy lakukan? apakah semuanya karena kotak klasik itu? Aku bertanya-tanya sambil terus menatap Kak Tomy yang tak henti melotot.
Tidak terasa selesai sudah proses pemakaman ayah, orang-orang pun segera kembali pulang. Namun tidak untuk Mamah dan Kak Tomy. Aku sengaja diam mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tomy, sudahlah sayang. Ayo kita pulang!" ucap Mamah dengan wajah sembabnya.
"Hahahaha! hahaha!" tiba-tiba Kak Tomy tertawa dengan suara yang begitu mengerikan. Mendengarnya, lantas Mamah langsung menjaga jarak dari Kak Tomy.
Perlahan Kak Tomy memalingkan wajah ke arah Mamah dan berkata, "Dia masih lapar, Mamah mau kan jadi yang selanjutnya?" sekarang dia semakin mendekati Mamah, dan perlahan mengeluarkan sebuah benda berbentuk bintang dari sakunya.
Mataku membulat sempurna tatkala melihat tubuh Kak Tomy perlahan berubah menjadi [2. blank...].
"Hentikan!" pekikku. Makhluk itu merespon dengan seringai diwajahnya, lalu mengangkat tubuh Mamah dan menghempaskannya ke tanah. Selanjutnya makhluk tersebut mengukir sebuah gambar lambang bintang di dahi Mamah.
"Hentikan Kak Tomy!" aku berlari menghampiri makhluk itu dan berusaha menolong Mamah. Namun tubuhku tidak bisa menyentuh tubuhnya sama sekali. Astaga! apa yang terjadi padaku?...
"Hahaha! dasar bodoh! kamu itu sudah [3. blank...]" ucap makhluk tersebut.
Aku yang mendengarnya merasa tak percaya. "Tidak, tidak mungkin!... bagaimana... apa yang telah kamu lakukan pada kami?!!... hiks... hiks..."
"Aku Azafel, sang iblis yang selalu datang saat manusia menuliskan lambang pentagram dengan darah," sahut makhluk itu.
"Tidak! Kak Tomy tidak mungkin melakukan itu!" imbuhku dengan nada tinggi.
"Memang! dia menjadi tawananku sekarang. Sebenarnya aku sangat berterima kasih pada Tomy yang telah mengeluarkanku dari belenggu kotak tua. Tetapi, karena rasa lapar yang tak tertahankan aku tidak bisa menolak darah yang berlalu lalang di depan, iyakan? haha!"
"Hiks... padahal kami tidak melakukan kesalahan apapun... hiks... hiks..." hati ini terasa hancur, sekarang aku hanya bisa menerima kenyataan.
~TAMAT~