Chris meraba tuts tuts piano di hadapannya. Dia menghela nafas panjang, lalu ia hembuskan kembali. Perlahan jari jemarinya mulai menekan tuts tuts piano itu, memainkan satu lagu karena hanya itu lagu yang dia bisa, lagu yang seseorang pernah ajarkan kepadanya.
Seseorang yang spesial untuknya.
"You are my sunshine..."suara Chris yang merdu mulai terdengar, mengisi ruang yang kini mulai menggelap bersama tenggelamnya matahari. Tidak peduli beberapa tuts yang salah ditekan, Chris tetap melanjutkan nyanyiannya.
•°•°•°•
"Halo, aku Kanaya. Kau bisa memanggilku Aya. Salam kenal!"Gadis bersurai panjang itu memberanikan dirinya menyapa Chris duluan. Padahal, sebelumnya tidak ada yang mau berkenalan dengan Chris. Mereka tidak mau berurusan dengan Chris yang menyebalkan dan merepotkan.
"Chris."
"Halo Chris! Sedang apa disini?"Kanaya masih terdengar sama riangnya.
Tanpa Chris sadari, dia menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan indah yang membuatnya semakin rupawan, andai dia sadar kalau dia sangat rupawan.
"Aku tadi mendengar suara musik..."
"Ah! Apa aku mengganggumu Chris?"
Chris menggeleng. "Kamu yang main pianonya?"
"Eh, hehehe, iya."
"Aku suka! Bisa mainkan lagi untukku?"
•°•°•°•
"My only sunshine..."perlahan tapi pasti, tubuh Chris semakin rileks seiring permainan pianonya berjalan. Semakin lama semakin akurat juga tuts tuts yang dia tekan. Chris memejamkan matanya, menikmati permainannya dengan ditemani hembusan angin dari jendela. Chris mengulas senyum puas, akhirnya ia bisa menguasai lagu ini. Kanaya pasti akan sangat senang mendengar permainannya.
•°•°•°•
"Aku pianis, Chris. Yah, walaupun belum hebat, tapi aku mau jadi pianis profesional di masa depan!" Kanaya selalu terdengar antusias kapanpun ia berbicara. Chris rasa, hidup Kanaya hanya diisi oleh cahaya saja, tidak seperti dirinya yang penuh kegelapan.
"Hebat, kamu udah tau mau jadi apa kedepannya!" Chris yang tidak pernah tertawa, tidak pernah ceria, tidak pernah bahagia, akhirnya merasakan semuanya saat bersama Kanaya.
Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, saling menyayangi bahkan...saling mencintai.
"Aya." Chris dengan gugup memberikan setangkai bunga kepada Kanaya yang dia yakin itu adalah bunga calendula. Chris sudah bertanya kepada penjualnya berkali kali dan penjualnya selalu memastikan kalau bunga yang dia pegang adalah calendula.
"Apa ini?" Kanaya bertanya dengan nada bingung, tidak seperti biasanya.
Jantung Chris berdetak kencang. Dia khawatir. Kenapa reaksi Kanaya berbeda?
"A...apa kamu nggak suka?"
"Aku..."
"Aku suka banget Chris! Kamu ingat ya, kalau warna kesukaanku oranye?"
Chris tersenyum senang, lebar sekali, sampai menampakkan gigi giginya dan mengecilkan matanya.
"Aya..."
"Hm?"
"Aku mencintaimu."
•°•°•°•
"You make me happy... When skies are grey..." rasa senang Chris perlahan berubah jadi sesak. Senyum indahnya perlahan menjadi senyum pahit. Pikirannya selalu dipenuhi Kanaya dan makin lama Chris tidak menyukainya.
Dentingan piano makin lama terdengar makin kasar dan mencekam, seakan tidak bisa berbohong, tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Sekarang Chris paham apa kata Kanaya tentang piano yang mengerti perasaan pemainnya.
•°•°•°•
"Aya...menurutmu aku seperti apa?" Pertanyaan Chris terdengar ragu, cukup perlahan, tercampur dengan suara televisi yang menayangkan siaran komedi.
"Hm? Maksud Chris?" Kanaya yang semula berada di pundak Chris menegakkan tubuhnya. Pertanyaan Chris terlalu buram baginya.
"Umm...tampangku. Seperti apa?"
Kanaya terkejut sesaat lalu tertawa. Tawa yang sangat indah, saking indahnya sampai mungkin Chris bisa sekarat jika tidak bisa mendengarnya lagi. "Kenapa tiba tiba Chris bertanya begitu?"
"Ha-habis, apa yang Aya lihat dari aku? Sampai mau jadi pacarku?"
Kanaya menghela nafas. Dia meraih tangan Chris yang bergerak gerak secara acak lalu menggenggamnya, menautkan jari jari mereka, menyalurkan kenyamanan kepada tangan yang terlihat resah. "Menurut Chris? Aku bagaimana?"
Chris menaikkan alisnya bingung. Pacarnya malah balik bertanya."Umm...tentu saja Aya manis. Dan juga cantik, hehehe."
Kanaya terkekeh. Sebelah tangannya yang bebas meraih pipi Chris, perlahan mengelus mata Chris yang tegas. "Kalau Chris percaya aku cantik, aku percaya Chris juga tampan. Jangan khawatir, aku bukan menilaimu dari fisik kok."
•°•°•°•
"You'll never know dear, how much I love you..." satu satunya suara yang mengisi ruangan besar dan gelap itu perlahan menjadi parau. Suaranya masih tetap indah, namun bisa mengiris hati siapa saja yang mendengarnya.
Chris membiarkan air matanya mengalir begitu saja. Dia tidak mau terisak, tidak ingin merusak nyanyian untuk kekasihnya. Sesekali Chris meraba atas pianonya, memastikan calendula itu masih ada disana.
Kanaya, Chris sangat menyayanginya. Bahkan Chris ragu seperti apa dia akan menjalani hidupnya kelak jika Kanaya tidak ada lagi di sisinya.
Kanaya seperti sihir, seperti mukjizat yang Tuhan berikan atas doa doanya. Kanaya hadir saat Chris berpikir untuk menyerah. Kanaya selalu ada untuknya, membantunya yang payah, mengajarkannya kalau sebenarnya hidup itu indah.
•°•°•°•
"CRISH! Hiks... SUDAH AKU BILANG HATI HATI!" Kanaya berlari kencang menghampiri Crish yang tersungkur akibat ditarik oleh seseorang ke pinggir jalan.
Untuk pertama kalinya Chris mendengar Kanaya marah kepadanya dan menangis karena ulahnya di waktu yang bersamaan. Chris takut takut memegang pundak Kanaya yang bergetar hebat. Kanaya makin mengeratkan pelukannya.
"Maaf..." hanya itulah kata kata yang bisa terucap dari mulut Chris.
"Lain kali jangan ceroboh begitu, Chris! Hiks...coba kalau tadi gak ada polisi yang narik kamu ke pinggir bagaimana?!"
Crish meremas sebuket calendula yang hancur akibat tertimpa tubuhnya sendiri. "Maafkan aku, aku janji nggak akan ulangi lagi." Chris meraba pipi Kanaya, menghapus air mata yang mengalir dari pelupuk indah Kanaya.
Kanaya melihat kaki dan tangan Chris yang terdapat beberapa luka goresan disana. "Hiks...lihat! Chris luka!"
Lagi, Chris hanya bisa mengucapkan maaf. Dalam hatinya, ia merutuki kecerobohannya yang telah menyakiti hati kekasihnya. "Aku nggak akan ulangi lagi...aku janji."
•°•°•°•
"Please don't take my sunshine away..." melodi piano terakhir berbunyi sebelum akhirnya Chris mengakhiri permainannya. Chris mencoba tersenyum walau itu membuat air matanya semakin deras. Dia sudah berjanji untuk tidak bersedih lagi. Kali ini, dia janji tidak akan mengingkari janjinya lagi.
Tapi apa poin dari menepati janjinya sekarang? Kanaya sudah meninggalkannya. Dia sudah pergi bersama yang jauh lebih baik.
Chris berusaha mengingat suara Kanaya, tawanya, candanya, manjanya, semuanya. Tapi Chris ingat, tawa itu, suara itu, tidak akan bisa dia dengar lagi. Dan apakah Chris sekarat sekarang? Jawabannya iya. Chris sekarat sampai rasanya ingin mati saja.
Chris membanting tutup piano itu. Tangisannya sudah tidak bisa dia tahan lagi. Dia menangis keras di ruangan yang dengan senang hati memantulkan suaranya, menyajikan kembali rasa sakit itu masuk ke dalam telinganya. Jeritannya terdengar pilu. Rasanya bisa menyakiti siapa saja yang mendengarnya. Kedua tangan Chris mencengkram wajahnya, memukul mukul matanya yang tak kunjung berhenti mengalirkan air mata.
Teriakan dan raungan makin terdengar. Chris mengerahkan seluruh tenaganya untuk berteriak keras, menangisi kesialannya. Rambutnya ia acak acak, dadanya ia pukul pukul. Sungguh, rasanya terlalu sakit.
Chris meraba samping piano, mencari dimana tongkat tunanetra miliknya, lalu melemparnya jauh. Dia merutuki keadaan dirinya, memaki maki hidupnya, menghujat nasibnya yang begitu sial.
"AKU BAHKAN BELUM TAU SEPERTI APA RUPAMU KANAYA!!!" jerit Chris lagi. "KENAPA AKU BUTA?! KENAPA?!" pukul, pukul dan pukul, Chris terus terusan menyakiti dirinya sendiri.
Chris meraung raung belasan menit lamanya hingga akhirnya lemas dan terjatuh dari kursi piano. Dia meringkuk di lantai, tidak peduli udara dingin yang menusuk kulit pucatnya.
"Padahal akhirnya aku menemukan cahayaku..."pandangan Chris lurus ke depan, menatap kosong karena yang selalu dia lihat seumur hidupnya hanyalah hitam gelap.
"Tapi kenapa Tuhan mengambil matahariku pergi?"
Tiba tiba dengan kurang ajarnya otaknya memutar kembali kejadian beberapa hari lalu. Saat Chris dengan bodohnya mengingkari janji yang sudah dia buat kepada Kanaya, hanya karena ingin mendengar tawa itu lagi. Bodoh memang, karena pada dasarnya Kanaya akan dengan senang hati tertawa setiap hari untuknya.
Padahal Kanaya sudah memperingatkan kalau toko bunga itu ada di pertigaan jalan, tapi demi setangkai-dua tangkai calendula, Chris menghiraukannya.
Semua demi hari jadi mereka yang setahun, demi alasan sepele itu Chris mengingkari janjinya. Padahal Kanaya tidak pernah terlalu memedulikan soal hari jadi mereka, karena baginya, selama Chris terus disisinya sudah lebih dari cukup.
Chris merasakan dengan jelas bagaimana tangan lentik seorang pianis lucu mendorongnya, suara yang selalu menjadi musik kesukaannya itu meneriakkan namanya. Tapi Chris bisa buat apa? Bukannya Chris tau dimana Kanaya berada.
"Kenapa kamu selamatkan aku, Aya?"
_THE END_
Terinspirasi Dari Lagu: You Are My Sunshine-Johnny Cash
Semoga kalian menikmati cerita ini ฅ'ω'ฅ
Maaf kalau jelek, masih pemula (๑•́ ₃ •̀๑)
Jika ada kesalahan jangan ragu untuk berkomentar!
Sekian ⁄(⁄ ⁄•⁄ω⁄•⁄ ⁄)⁄