Cuaca pagi menjelang siang ini sangat cerah.
Sebuah kondisi yang kurang disukai junior, karena biasanya para senior sering menampakkan batang hidungnya dengan datang/mampir (sendiri ataupun bergerombol) ke komplek kelas mereka. Motivasi para senior ini pun beragam, antara lain:
- Lagi PDKT (pendekatan/ngegebet/mengincar cinta junior putri) = senior yang masuk golongan ini aga nyebelin tapi masih bisa ditolelir, karena biasanya mereka selalu berusaha untuk menunjukkan sisi terbaik mereka, pada baik-baik gitu deh, demi untuk menyenangkan hati gebetan/dedemenan/incarannya itu, malah terkadang suka bawa makanan/minuman yang enak-enak untuk dibagi bersama para junior lainnya;
- Mengunjungi dan/atau menyapa pacar = senior yang begini mulai berasa menyebalkan bagi junior putra, selain karena sudah mengurangi jatah 'calon pasangan' di angkatan sendiri, biasanya para senior ini juga mulai berani menunjukkan rasa kepemilikan dan kecemburuan berlebihan (dengan marah-marah dsb) jika menemukan pacarnya terlihat dekat dengan teman seangkatannya;
- Sekedar iseng dan/atau balas dendam (biasanya bergerombol lebih dari 4/5 orang) = ini adalah sekumpulan senior yang paling dibenci dan/atau dihindari junior pria, karena biasanya kedatangan mereka benar-benar hanya ingin mencari kesenangan dengan menindas (bahasa sekarang tuh ngebully) juniornya, yang mungkin disebabkan oleh cintanya pernah ditolak atau hanya untuk membalaskan dendam akibat ketika junior dulu juga merasa terzolimi (dibully) oleh seniornya.
Cuaca yang sangat disukai junior adalah ketika hujan apalagi kalau sampai deras, karena bisa dipastikan akan sangat jarang ada senior yang rela basah 'nyebrang ke komplek kelas junior' demi apapun itu. Selain itu, ketika hujan turun, situasi dan kondisi kelas juga akan terasa lebih nyaman jika jam istirahat (atau kalau kebetulan dosen pengajar yang dijadwalkan berhalangan masuk tanpa dosen pengganti) dimanfaatkan untuk tidur/beristirahat di ruang kelas.
***
Benar saja, belum lagi 5 menit berlalu sejak bel tanda istirahat berbunyi, sudah terlihat beberapa senior (Nindya dan Wasana Praja) memasuki komplek kelas Madya Praja.
"De', ruang kelasnya Wira G-1 dimana?" tanya seorang Wasana Praja kepada Madya Praja yang lewat dihadapnnya sambil PPM (Pemberian Penghormatan ala Militer).
Dengan sigap si-Madya menebak motivasi berkunjung senior tersebut: sikap kurang ramah namun tidak bergerombol, pasti mengunjungi pacar.
"Siap ka.. Wira G-1 ya? Sepertinya di lantai 4 sebelah kanan tangga itu ka.." jawabnya kemudian, menunjuk ke arah atas, sambil sekuat tenaga menahan membuang hajat yang sudah di ujung tanduk, demi untuk menjawab pertanyaan si-senior.
Tanpa basa-basi, apalagi ucapan terima kasih yang tulus, si-Wasana pun segera melangkahkan kakinya ke tempat yang ditunjukkan si-Madya.
'Dasar ga tau berterima kasih.. 😤.. 😡.. 🤬.. ☠.. 👹.. biar rasa dikerjain dikit.. 😏.. 😈... 👻..." batin si-Madya Praja sambil berlari menuju ke toilet terdekat.
《Sekilas info: gedung yang ada di ksatrian, maksimal hanya terdiri dari 4 lantai tingginya, sehingga tidak ada bangunan di ksatrian ini yang diperlengkapi dengan lift ataupun eskalator》.
Setelah mengatur nafas akibat bergegas menaiki banyak tangga ke lantai 4 komplek kelas Madya Praja ini, si-Wasana pun melongokkan kepalanya melihat dari jendela belakang kelas, mencari sosok pujaan hati di ruangan kelas yang tadi diinfokan.
Namun ketika tak kunjung terlihat yang dicari, ia pun bergerak ke pintu kelas dan menanyakan kepada Madya Praja Perempuan yang duduk di bangku paling depan: "De', Tiwi mana?"
"Siap ka, Tiwi? Oh Prastiwi yang Wira G-1 itu ya ka?" tanya si-junior sambil berdiri sigap.
"Iya, dia kemana? Kog ga ada di kelasnya ini?" tanya si-Wasana mulai menunjukkan kekesalannya sambil membatin: 'Kenapa seh junior ini lemot (lemah otak) aja? Nanyain sesuatu yang sederhana aja musti diulang-ulang?'
"Siap, saya kurang tau ka.." jawab si-junior aga perlahan, takut salah jawab.
"Loh, bukannya kamu teman sekelas dan sewisma-nya? Kog bisa ga tau?" si-Wasana mulai curiga dan meradang.
"Siap bukan ka, ini Wira D-1, saya tidak satu wisma dengan Tiwi ka.." dengan perasaan takut (melihat wajah senior yang memerah) dan bingung ('salah saya apa?') si-junior kembali menjawab.
"Hah? Trus kelasnya Wira G-1 dimana?" tanya si-Wasana kemudian, merasa kaget (karena ada junior yang berani membodohinya) sambil mengingat-ingat wajah dan nama Madya Praja tadi.
"Siap ka, sepertinya.. ada di lantai 2.. tangga yang sebelah kiri ka.." si-junior, mulai menerka dan memahami yang dialami sang senior, sambil menahan tawa yang sewaktu-waktu siap meledak.
'Cinta memang butuh perjuangan.. sabar.. sabar.. sabar..' sang senior membatin mengingatkan dirinya sendiri.
Sampai di lantai 2 pada kelas yang dituju, terlihat kelas yang luas (biasanya perkuliahan kelas gabungan) hanya diisi setengahnya saja, si-Senior kembali mencari sosok yang dia rindu, namun tetap tidak menemukan dan akhirnya kembali menurunkan ego dan bertanya kepada salah satu Madya yang terdekat.
"Ini kelas Wira G-1 kuliah hari ini kan de?"
"Siap iya ka.. sebelum istirahat kami kelas gabungan, tapi kelas mereka sudah bubar dan mencar² untuk kerja kelompok, sepertinya ada yang di lantai 4, di lantai 1 bahkan ada yang bilang mau ke perpus, tadi seh demikian saya lihat ka.."
Dengan wajah menghitam, si-Senior kembali mengarahkan pandangan ke lantai 4, namun rasa malu dan juga lelah menahan langkahnya.
"Ok, kamu kenal yang namanya Tiwi? Kira² dia kemana?" tanya si-senior lagi. Masih tampak setitik harapan bertemu pujaan hati hari ini walau jam istirahat sebentar lagi akan berakhir.
"Sepertinya kelompoknya di Perpus ka.." jawab si-junior lirih, melihat wajah si-senior yang semakin menghitam.
Gedung perpustakaan berjarak sekitar 500m dari komplek kelas Madya Praja ini, kalau cepat mungkin masih bisa keburu, maka kembali ia langkahkan kaki bergegas menuju gedung dimaksud.
Melayangkan pandang ke antero gedung perpus yang aga teduh-temaram dibandingkan teriknya matahari di luar bangunan, sang senior kembali mencari sosok terkasihnya. Namun ketika tak jua ditemukannya, ia pun mendekati kelompok Madya Praja terdekat dan bertanya: "De, kamu lihat Tiwi?"
"Siap ka, Tiwi hari ini tidak masuk kelas karena menggantikan jaga wisma yang pagi tadi dibawa ke UKS karena sakit."
DUG.. berasa ditonjok 2½ kancing (istilah pukulan ke arah dada/ulu hati, antara kancing kedua dan ketiga baju PDH).. sang senior pun membatin: "Cukup.."
- T A M A T -
Semoga menghibur dan sebagai tambahan informasi, kisah ini berdasarkan kejadian nyata dengan sedikit penyesuaian di sana dan sini... 🤭✌🏻