Namanya Janette. Sudah sepuluh tahun lebih aku mengenalnya. Terkadang Janette datang ke rumah dan bercerita banyak hal. Janette adalah hantu Belanda yang suka berinteraksi denganku. Janette yang cantik dengan rambut blonde, gaun biru laut dan sebuah payung yang selalu ada ditangannya. Dari segi energi sangat positif. Janette memiliki fisik yang tidak sempurna. Jari kakinya cacat sejak lahir.
Pertemuan kami berawal saat aku masih sekolah. Saat itu aku mengerjakan tugas kelompok disalah satu rumah kost yang disewa teman, sebut saja namanya Ani. Kelompok kami ada 4 orang dan semuanya perempuan. Kebetulan kelompok terakhir yang dibentuk guru sehingga semuanya perempuan.
Tepat jam tiga siang kami berkumpul di kost Ani. Kost dengan pohon bambu dan semak-semak yang cukup lebat disekitarnya. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumahku. Ketika melangkahkan kaki ke dalam rumah aku melihat sesosok perempuan bergaun biru duduk di sudut rumah sambil memandangku dengan senyum. Aku balas menatapnya, terdiam dan mengalihkan pandangan. Rupanya dia tahu aku bisa melihat dan berkomunikasi dengannya. Dia mengikuti dan duduk tepat disampingku. Aku memilih diam, mempertahankan wajah poker face dengan berpura-pura tidak melihatnya. Namun Ani tiba-tiba nyeletuk " Sebenarnya disini ada noni Belanda tapi dia baik, sudah lama jadi penunggu di rumah ini." Semua orang langsung tegang dan aku hanya tersenyum simpul melirik sang noni. Dia membalas lirikanku dengan senyuman manis.
Sambil mengerjakan tugas aku mencoba berkomunikasi dengannya. Namanya Janette dan asli dari Belanda namun sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia. Ayahnya berprofesi sebagai seorang dokter. Saat itu ayahnya diminta pemerintah Belanda untuk bertugas di Indonesia sehingga mereka semua pindah dan menetap di Indonesia. Di Belanda, Janette tinggal di sebuah desa dengan kincir angin sebagai sumber aliran listrik. Hanya sebuah desa kecil dengan penduduk minoritas berladang dan penggembala.
Janette pun bersekolah dan bergaul dengan warga lokal. Ayahnya bertugas sebagai dokter di markas para tentara Belanda. Ia juga bersekolah dan bergaul dengan anak pribumi sehingga ia fasih berbahasa Indonesia. Janette termasuk anak yang cerdas dan selalu mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Ia memiliki banyak teman pribumi salah satunya Ali. Mereka menjadi sahabat.
Bertahun-tahun Janette dan keluarganya tinggal di Indonesia. Mereka pun akrab dengan semua orang dari semua kalangan. Hingga suatu hari hal yang tak diduga terjadi. Saat itu Janette sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah, namun tiba-tiba dia mimisan hebat. Darah mengucur deras dari hidungnya. Semua teman sekelasnya panik termasuk Ali. Janette pingsan dan dibawa ke ruang kesehatan. Ali yang panik langsung berlari menuju markas tentara Belanda tempat Ayah Janette bekerja. Jaraknya hampir tiga kilometer namun Ali pantang menyerah, dia terus berlari menelusuri jalan dengan satu tujuan membawa Ayah Janette ke sekolah. Sesampainya di markas, beberapa tentara Belanda menghalanginya masuk. Akhirnya dengan segala sisa tenaga yang ada, dia berteriak memanggil nama Ayah Janette dan membuat sedikit keributan. Ayah dan ibunya Janette yang mendengar adanya keributan, keluar dan menemui Ali. Ali menjelaskan apa yang terjadi sambil menangis dan mereka bergegas menuju sekolah dengan mobil.
Janette sadar dan kaget melihat ayahnya berada disampingnya. Wajah Janette terlihat lebih pucat dan lemah. Ayahnya meminta dia untuk dirawat di rumah sakit namun dia menolak. Selama ini dia sudah sering mimisan dan sakit-sakitan serta berat badan yang turun drastis namun dia merahasiakannya. Ayah dan ibunya sangat sibuk sehingga tidak sempat memperhatikan Janette bahkan mereka jarang bertemu. Ayahnya lebih sering menghabiskan waktu di markas tentara dan sang ibu membantunya. Namun Janette tidak pernah mengeluh dan menjadi gadis yang mandiri. Dia sudah melakukan pemeriksaan medis di sebuah rumah sakit dan hasil menunjukkan positif leukimia stadium akhir. Janette pasrah dengan keadaan dan tetap merahasiakan semuanya. Hari ini semuanya terungkap dari mulutnya sendiri. Ayah dan ibunya menangis mendengar pengakuannya.
Janette terlihat susah bernapas. Oksigen mulai dipasang. Namun, tangannya menggenggam erat tangan sang ayah. Dia tersenyum dan pergi untuk selamanya. Bau melati yang wangi tercium sesaat setelah dia menghembuskan napas terakhirnya. Ayah dan ibunya menangis histeris menyaksikan anak yang sangat disayangi pergi untuk selamanya. Ali berlari keluar ruangan dan menangis. Ali sepertinya belum ikhlas kehilangan sahabatnya.
Janette dimakamkan didekat rumahnya. Sebulan setelah pemakaman, seluruh keluarganya kembali ke Belanda namun tidak bisa membawa jasad Janette. Konon ayah dan ibunya sangat stres dan shock dengan kematian Janette yang dianggap tiba-tiba. Padahal orang tuanya tidak sadar kalau mereka kurang memberikan perhatian dan kasih sayang kepada Janette. Janette sakit dan kehilangan berat badanpun mereka tidak menyadarinya. Apalah daya nasi telah menjadi bubur. Hanya rangkaian penyesalan yang tersisa.
Itulah sebuah cerita nyata dari hantu Belanda bernama Janette. Hanya nama Janette yang merupakan nama asli, sisanya adalah nama samaran. Janette tidak memperbolehkanku menulis nama asli temannya. Sampai sekarang dia masih sering ke rumah. Sekedar main atau mengejar kuntilanak dibelakang rumahku. Janette memang sering mengejar para kuntilanak. Pernah kulihat dia memukul kuntilanak dengan payungnya sambil berteriak marah. Terkadang aku bertanya padanya "Apa yang kamu tunggu? Kembalilah ke sisi Tuhan.." Namun, dia tidak menjawab dan hanya tersenyum. Dia tidak mau memberitahuku apa yang sedang dia tunggu.
Jangan khawatir siapapun yang membaca cerita ini tidak akan didatangi atau diganggu Janette. Dia hantu yang baik dan ramah. Jangan tanyakan padaku bagaimana cara memanggilnya agar muncul kehadapanku karena aku tidak pernah memanggilnya. Dia akan datang dan muncul sendiri ke rumah jika ia menginginkannya.