Musim panen padi tiba. Para petani sibuk di sawah. Termasuk Pak Narto, dia juga ikut memanen padi di sawah tetangganya. Setelah tiga hari yang lalu para tetangganya membantu panen di sawahnya. Begitulah tradisi di kampungnya saat musim panen tiba. Mereka membentuk kelompok tani yang mana anggota nya akan saling bergantian membantu baik saat panen maupun saat menanam.
Sementara para bapak sibuk di sawah, para ibu di rumah memulai memasak dan membersihkan rumah sebelum matahari terlihat. Begitu matahari mulai nampak, para ibu mulai menjemur padinya. Membuka terpal yang membungkus padi dan meratakannya. Sesekali mereka mengorak-arik padinya agar cepat kering. Rasa gatal di kaki dan tubuh mereka tak menghentikan semangat mereka. Peluh bercucuran deras membasahi tubuh mereka. Bahkan terik matahari semakin menambah semangat mereka dalam menjemur.
Namun, pagi ini matahari hanya sesekali nampak. Kadang hilang tertutup mendung. Hal itu cukup membuat khawatir Bu Parmi, istri Pak Narto. Belum lagi serangan dari ayam-ayam tetangga yang membuatnya main kejar-kejaran dengan ayam.
" Harusnya kalau panas, nanti sore sudah bisa dijual, " kata Endang, putri Bu Parmi.
" Iya nduk ... Sudah tanya Pak de Mecca belum, harganya berapa? "
" Udah, buk. Katanya kalau bener-bener sudah kering Rp 4.000. Kalau nggak kering suruh bawa pulang lagi. "
" Kok murah banget to, nduk? Kalau gitu ya disimpen sendiri aja buat makan sehari-hari. Dari pada murah gitu. Nanti ibuk tak bilang bapakmu. Ayo bantuin ngorak-arik padinya lagi. Lho ... Ndang ... AYAM E ... hush ... hush ... "
Endang yang tidak tahan langsung melempar kayu kecil di tangannya.
WUSH ....
Petok ... petok ... petok ...
" Bu ... kita kok kayak main sama ayam aja ya bu? Dari tadi nggak ada panas. Nanti kalau tiba-tiba hujan gimana? Mana bapak belum pulang. Endang kan nggak kuat kalau harus ngangkat padi 1 karung, " omel Endang sambil tetap mengusir ayam-ayam tetangga.
" Assalamu'alaikum ... Buk ... Ndang ..."
" Wa'alaikumussalam ... " jawab Bu Parmi dan Endang.
" Mas Hadi? "
" Bapak di sawah? " tanya Hadi, anak pertama Bu Parmi.
" Iya ... Kamu apa kabar? Ada apa kok pulang? Kan belum libur to kuliahnya? " tanya Bu Parmi.
" Mau bantu ibuk sama bapak lah. Endang ... itu ayam mu ... "
" Ish ...hush ... hush ... Buk ... Kutangkap semua ku masak boleh nggak bu ayamnya? Gemes aku ... " Endang gregetan.
" Boleh ... Nanti kalau kamu di opor sama tetangga jangan minta tolong ibu ya ... "
Tiba-tiba angin berhembus kencang. Langit bertambah gelap. Titik-titik air hujan mulai turun dari arah langit.
" Buk ... gerimis ... Mas ... ayo bantuin ... "
Mereka bertiga pun mulai mengumpulkan padi di tengah-tengah terpal. Ketika padi telah dikumpulkan di tengah terpalnya dilipat seperti melipat daun pembungkus nagasari ( kok jadi nagasri ...?). Atasnya diberi kayu untuk menahan agar terpal tidak terbuka. Hujan semakin deras. Baju mereka mulai sedikit basah. Mereka melanjutkan menutup 4 terpal yang ada di halaman mereka. Setelah selesai, mereka duduk di kursi teras rumah.
Bress ... takk ... takk ...
5 menit hujan deras mengguyur. Lalu matahari mulai mengintip. Sedikit terang. Dan lama kelamaan semakin cerah. Bu Parmi dan Endang pun telah berganti pakaian dan makan di meja makan. Sedangkan Hadi, ia masih capek dan tertidur di depan tv.
" Wah ... Kita di prank buk. Tuh ... di luar panas lagi. "
Bu Parmi tersenyum, " Ya udah lah nduk. Mending sekarang kita makan dulu. Bapak juga pasti sudah makan di sawah. "
" Sawah siapa hari ini, buk? "
" Pak Lasirin. "
* * *
Pagi-pagi ba'da subuh di rumah.
" Pak. Ada Pakde Mecca. Wajahnya kayak mau nerkam orang. Hiii ... "
Pak Narto pun ke ruang tamu. Bu Parmi ke dapur membuat kopi. Endang ikut Bu Parmi ke dapur.
" Gimana kamu itu Nar ... Nar ... Pembelinya udah kasih DP ke kamu lo. Kok nggak jadi di jual. Aku ... Aku yang malu ini, Nar. "
" Maaf, Kang Mecca. Soalnya kemarin Hadi baru pulang. Katanya temennya dari kota ada yang mau beli berasnya. Pagi ini mobilnya ngambil beras ke sini. Jadi kemarin padinya udah aku giling semua. Tinggal sedikit yang di halaman itu. "
" Trus ini masalah DP gimana? Kembalikan yo. Bisa-bisa orangnya nggak percaya sama aku lagi ini. "
" Iya Kang. Nanti kalau udah dapet uangnya DP nya tak kembalikan. Sebagian udah dipake soalnya. "
" Udah lama Pakde? " sapa Hadi.
" Hemm ... " jawab Pakde Mecca
" Kamu itu besok-besok kalo mau jual beras tanya dulu, udah ada yang nawar apa belum. Jadi nggak bikin malu kayak gini, " lanjutnya.
" Pakde ... Hadi nggak ada maksud apa-apa. Hadi cuma kasian sama ibuk bapak. Kerja di sawah itu capek. Ibu juga jemur padi itu capek. Masak cuma dihargai 4.000 per kilo padinya. Harga beras di kota aja 10.000 lebih. Jadi Hadi jual beras aja ke kota. Lumayan Pakde. "
" Wis ... wis ... Sak karepmu wae ( sudah ...sudah...terserah kamu saja.) Yang penting sekarang DP mana DP?"
" Ini masih kurang 200.000 ya Kang. Nanti sore insyaAllah ... "
Pakde Mecca langsung berdiri dan berjalan cepat sambil berkomat-kamit. Tiba-tiba, BRUKK ... GUBRAK ... GUBRAK...
" ARGGHHHH ... " teriak Pakde.
" Pakde nggak papa? " tanya Hadi.
" Nggak liat kamu? Orang jatuh guling-guling gini kok dibilang nggak papa. Sudah sana. Aku bisa sendiri. "
Pakde berdiri dan menendang kursi yang membuatnya jatuh. Lalu pergi dari rumah Pak Narto.
" PAKDE ... KOPINYA ..." teriak Endang membawa kopi ke depan rumah.
Namun, Pakde Mecca terus berjalan.
" Ya udah. Tak minum sendiri. Lagian ... mentang-mentang orang desa, diakali terus. Gak tau apa?Nanem padi itu nggak gampang. Tiap hari bapak ke sawah. Pupuk mahal. Belum lagi obat hama, obat rumput, biaya traktor dan lain-lain. Trus, jemur padi juga perjuangan banget. Panas-panasan, ngorak-arik, angkat padi berkarung-karung. Ya, kalau pas panas, kalau mendung harus siap siaga. Belum lagi main kejar-kejaran sama ayam tetangga. Kok ya tega mau beli padi kering
4.000 per kilo. Mending nggak usah dijual atau dijadiin beras dijual ke kota. Orang kota nggak akan bisa makan nasi kalau nggak ada petani. Harus dihargai yang pantas dong. Ya nggak Mas? " tanya Endang.
" Hemm ... pinter adek ku. Yuk masuk. Bentar lagi temenku dateng. "
* * *
Cuma sekedar coretan. Ungkapan hati petani desa. Maaf kalau nggak sesuai konten. Maaf juga kalau kurang menghibur.
Makasih udah baca.