Namaku Fany, aku gadis berumur 9 tahun, aku masih bersekolah kelas tiga SD.
Hari itu, merupakan hari yang tak akan pernah aku lupakan sepanjang hidupku. Saat aku mulai merasakan ada sesuatu hal yg mulai merasuki diriku. Aku seperti memiliki sisi lain dalam diriku.
Setiap hari aku hanya tinggal bersama kakakku dan ayah ibu. Sehari-hari mereka pergi bekerja di ladang. Kakakku putus sekolah, jadi ia tak melanjutkan sekolahnya sejak SD, dan lebih memilih untuk bekerja serabutan.
Sepulang sekolah aku selalu membantu ibu membersihkan rumah, menyapu mengepel, bahkan memberi makan sapi, sudah biasa aku lakukan. Aku tak pernah mengeluh sedikitpun. Karena percuma saja mengeluh, kehidupan tak akan berubah jika kita hanya mengeluh tanpa berusaha.
Sejak kecil aku sudah biasa melakukan pekerjaan rumah tangga sendiri. Bahkan aku selalu belajar sendiri.
Hari itu seperti biasa aku membersihkan rumah, tak sengaja aku menyenggol keris peninggalan kakek yg tertempel di dinding rumah.
Memang diatas pintu masuk gudang rumah, ada sepasang keris peninggalan kakek yg terpajang disana. Ada 2 keris tepatnya, satu disisi kiri, satu disisi kanan.
Kata ayah, itu kerisnya memang sepasang, satu laki-laki, satu lagi perempuan. Mereka tak terpisahkan satu sama lain. Dan keris itu turun temurun dari kakek buyutku.
Tak sengaja aku menjatuhkan salah satu keris tersebut saat aku membersihkan area langit-langit rumah.
"Untung saja, tak ada yg melihatnya ... huft," aku pun segera menaruh keris tersebut kembali ke tempatnya.
Dan aku pun melanjutkan membersihkan rumah seperti biasanya.
Sore menjelang, semua anggota keluarga satu persatu kembali ke rumah. Dan kami pun makan malam bersama.
Beberapa hari kemudian aku pun jatuh sakit. Bermula dari sisi mata kananku yg tiba-tiba ada luka kecil, gatal sekali rasanya, dan mungkin karena aku tak sadar, aku selalu menggaruknya. Akibatnya lukanya pun semakin membesar.
Aku pun tak masuk sekolah sampai 3 hari, aku dibawa berobat ke dokter. Dan nihil, lukanya tak kunjung sembuh.
Siang itu aku maen ke rumah tetanggaku. Anaknya sudah aku anggap seperti kakak perempuan sendiri. Saat aku bertemu ibunya, ibunya menanyakan ada apa dengan mata kananku.
"Fany, ada apa dengan mata kamu?"
"Sakit tante, sudah dibawa ke dokter tapi tidak kunjung sembuh, jadi dibiarkan saja seperti ini."
"Eh, tidak boleh begitu, sini tante obatin." Kata Ibu Kak Resti.
Lalu Kak Resti pun menyuruhku untuk menurut dengan ibunya, aku pun setuju.
Ibu Kak Resti pun mengambil satu biji bawang putih, lalu ia haluskan dengan cara ditumbuk, lalu ia pun mengolesnya pada sebelah mataku.
"Aduh, perih sekali tante." Ucapku, karena memang benar itu rasanya sakit sekali. Bahkan aku pun hampir menangis.
"Ditahan ya sayang, biar cepet sembuh." Ucap Ibu Kak Resti.
"Ini kalau dibiarkan saja, bisa saja nanti salah satu mata kamu engga bisa melihat, apa kamu mau?"
Perkataan beliau sontak membuatku tersadar, bisa saja hal itu terjadi, toh nyatanya dokter pun angkat tangan dengan sakitku ini.
"Tapi tante, ini sungguh sakit sekali, hiks." Ucapku sambil menahan sakit, dan lihatlah tangisnya tak bisa dibendung lagi.
"Ambilkan jajan buat Fany ya." Titah tante pada Kak Resti.
"Baik bu, emang buat apa sih?"
"Kasih kan ke Fany, biar dia tidak nangis." Ibu Kak Resti terus saja menggodaku, mungkin saja biar aku engga nangis lagi.
"Eh iya juga ya bu, nanti ibu belikan jajan yg banyak buat kamu Fany, asal janji engga nangis lagi." Ucap Kak Resti menimpali.
"Hiks, hiks, kalian jahat ..." Ucapku dalam hati.
Dan beberapa hari kemudian lukaku benar-benar sembuh. Aku sungguh bahagia, bahkan bekasnya saja tidak ada.
Aku pun berniat berterima kasih kepada Ibu Kak Resti dan juga Kak Resti. Aku pun membawakan hadiah satu kantong buat buat mereka. Ibuku pun turut mengucapkan banyak terimakasih kepada mereka karena telah membuatku sembuh dari penyakit aneh itu.
Hari-hari pun berlalu dengan cepat. Aku pun sudah pulih seperti biasa, tapi setiap malam aku merasa ada yg selalu mengawasiku.
Setiap malam, ibuku pergi ke pengajian warga bersama ibu-ibu lain, sedangkan ayahku pun juga berkumpul dengan bapak-bapak di komplek rumah kami. Kakak aku sudah pergi dari sore bermain dengan teman-temannya.
Tinggallah aku sendiri, hanya ditemani Luna dan Artemis dua kucing kesayanganku. Luna seluruh tubuhnya dipenuhi bulu putih halus dan lembut. Sedangkan Artemis dipenuhi bulu hitam di sekujur tubuhnya.
Ya, hanya dengan dua kucing itu temanku disetiap malam. Bahkan seperti malam ini, aku berada dibawah selimut bersama mereka sambil menonton TV kesayanganku, ada film horor yg diperankan oleh mendiang Suzanna.
Saking takutnya aku pun berada dibawah selimut dengan mata terus menuju ke arah TV, dan disamping kiri ada Luna dan disamping kanan ada Artemis. Terkadang aku sering berteriak histeris saat hantunya muncul tiba-tiba.
Dan itulah kebiasaan rutin yg aku jalani setiap malam. Saat kedua orangtuaku kembali aku sudah tertidur dengan kondisi TV yg masih menyala. Setiap malam ayahku lah yg menggendongku ke kamar tidur.
Sore itu, saat aku sedang nonton TV, aku berteriak histeris ketakutan. Ayah dan ibuku yg sedang ada di dapur pun mendekatiku.
"Ada apa Fany, apa yg terjadi?" Tanya ayah sambil menggoyang-goyangkan tubuhku.
Mataku tetap saja menuju satu sisi, pintu arah ke gudang yg didepannya ada keris sepasang itu.
"Fany, sayang, kamu kenapa?" Tanya ibuku, yg tambah kalut karena tak ada respon dariku.
Mereka hanya melihat tatapan kosong dari kedua mataku. Aku pun didekap ibu, sedangkan ayah membacakan ayat kursi dan beberapa ayat suci Al-Quran dan meniupkannya di kepalaku.
Ahirnya aku pun berhenti menatap ke arah pintu itu dan kembali pada kesadaranku.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya ibu yg terus mendekapku.
"A ... ku melihat ada wanita cantik yg menari-nari disana bu." Ucapku sambil terus menunjuk ke arah pintu gudang.
"Kamu bilang apa sayang, ibu tidak melihat apapun disana." Ucap ibuku.
"Coba cerita ke ayah, apa yg kamu lihat disana." Ucap ayah kepadaku.
"Ayah, ibu percayalah padaku. Tadi aku melihat ada wanita cantik dengan selendang hijau menari-nari disana, dan dia semakin mendekatiku, dan ia ingin mengajakku pergi."
Ayah dan ibu saling memandang satu dengan yg lain, sedangkan aku masih terdiam seribu bahasa, mulutku terasa terkunci rapat, dan tiba-tiba aku pun jatuh pingsan.
Berhari-hari badanku terasa panas, sampai aku tidak masuk sekolah selama satu minggu, karena badanku naik turun panasnya. Dan anehnya salah satu kakiku pun ada luka yg sama persis dengan yg pernah ada di mataku.
Kaki kiriku terkena penyakit gatal seperti kapan hari, kata orang aku kena sakit dompo, aku pun diobati dengan tumbukan batu bata hangat yg dikompreskan ke kakiku dengan dibalut selembar kain.
Tapi tak ada perubahan, kakiku diberi tumbukan bawang putih, tapi lukanya bukannya sembuh malah semakin melebar, bahkan hampir melubangi daging kulit dikakiku.
Setiap hari ibuku selalu memberikan obat-obatan tradisional, karena dokter hanya memberikan obat dalam saja, tanpa memberikan salep atau apapun. Luka dikakiku bukan semakin kering, melainkan semakin melebar dari sebuah titik, kini melebar menjadi hampir 8 cm.
Tidak ada nanah disana, hanya seperti luka lecet, tapi menggerus ke dalam. Seperti membuat lubang dikakiku.
Kedua orangtuaku hanya bisa pasrah, dan aku pun juga begitu. Satu minggu lebih aku tidak masuk sekolah, banyak guru dan teman-teman sekelas yg datang menjengukku.
Aku tak patah semangat, setiap hari aku mengerjakan tugas-tugas sekolah dari atas tempat tidur. Sampai suatu hari, ia datang lagi kepadaku.
Wanita yg sama dengan selendang hijaunya kembali menari dan mendekatiku. Aku diajak jalan-jalan dan aku diberi tau kalau aku mau sembuh, aku harus mandi kembang telon yg sudah dicampur dengan bekas mandi air cemani. Dan aku harus berkunjung ke sebuah tempat. Ya dibayanganku itu sebuah candi. Dia pun pergi meninggalkan aku dan aku pun terjaga dari tidurku.
Pagi harinya aku pun bercerita semuanya pada ibu dan ayahku, lalu ayah pun segera pergi ke pasar membelikan semua keperluanku. Dari mulai kembang dan lain-lainnya.
Kalau ayam cemani, ayah sudah mempunyai dirumah, jadi tinggal dimandikan dan airnya dicampur dengan kembang yg sudah dibeli ayah tadi.
Sebelum aku mandi, aku sudah dibacakan doa-doa oleh ayahku, dan ibukulah yg bertugas memandikan aku. Sesudah itu, siangnya kami pun pergi ke Candi Borobudur.
Niat ayah dan ibu agar aku senang dan bahagia agar sejenak melupakan sakit yg aku derita selama ini. Dan sore harinya kami pun langsung pulang.
Di Candi tadi kalau aku capek, ayah menggendongku. Sebenarnya aku malu, tapi ayah dan ibu menguatkan aku. Aku sungguh berbahagia hari itu. Aku benar-benar melupakan sakit yg kuderita selama ini.
Malam harinya seperti biasa, aku pun tidur di kamar sendiri. Ada rasa panas yg menjalar di kakiku. Tapi aku gak berani membuka selimut yg menutupi lukaku. Semakin lama semakin panas, aku pun berteriak.
"Ibu, sakit." Ucapku.
Dengan tergopoh-gopoh ibuku mendatangiku ke kamar.
"Ada apa sayang."
"Kakiku bu, panas sekali, hu ... hu ... hu ..." aku pun menangis.
"Sabar sayang, biar ibu lihat."
"Masya Allah, lukamu kering nak."
"Benarkah bu."
"Alhamdulillah." Ucapku penuh haru.
Dan sejak saat itu lukaku benar-benar sembuh. Beberapa bulan kemudian aku pun masih bisa melanjutkan study ku seperti biasanya. Sampai pada suatu waktu.
Tetanggaku ada yg meninggal, dan anaknya itu adik kelasku. Saat kami pergi melayat ke rumahnya, aku tak berani memandang peti jenazahnya. Aku bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah nya. Tapi saat aku pulang, aku merasa ada yg mengikutiku. Dan benar saja arwah ibu temanku itulah yg mengikutiku.
Aku tentu saja lari terbirit-birit. Dia memang tak menggangguku, tapi aku tetap saja takut akan kehadirannya.
Dan entah kenapa setiap aku merasakan merinding, pasti aku bisa melihat sosok dari dunia lain itu dengan jelas. Mereka tak mengganggu tapi siapa yg mampu melihat wujud asli mereka seperti itu.
Aku tak pernah mengatakan apapun yg aku lihat pada kedua orangtuaku. Tapi berbekal ilmu pengetahuan aku pun tau sesuatu. Kini dan entah karena hal apa, mata batinku terbuka. Dan terkadang apa yg aku pikirkan bisa menjadi sebuah kenyataan. Aku bisa membaca hal-hal buruk yg akan menimpaku atau seseorang yg dekat denganku.
Dan kini usiaku sudah 17 tahun. Dan semua pengalaman dan kejadian masa kecilku tak bisa aku hapus begitu saja. Meski sekarang aku sudah tidak bisa melihat mereka seperti dulu, tapi firasatku dan mata batinku masih tetap terbuka. Dan kehadiran mereka tetap bisa aku rasakan sampai sekarang. Satu hal yg pasti aku akan tetap merahasiakan ini sampai kapanpun.
🍃 TAMAT 🍃