Aku masih ingat saat itu, saat aku merasa sangat senang, ketika aku dan dia duduk di atas motor berdua.
Saat itu acara lomba futsal antar SMP yang diselenggarakan oleh SMA. SMA ku memang sering mengadakan acara loba tahunan seperti itu, bisa dibilang sebagai ajang promosi sekolah, kebetulan aku menjadi salah satu panitia di acara tersebut, yang menjadi panitia ialah anggota OSIS, MPK, dan para anggota ekskul futsal. Biasanya kami melaksanakan pertandingan di lapangan sekolah, namun jika sudah masuk final pertandingan akan dilaksanakan di salah satu GOR di Cianjur.
Acara menjadi sangat seru saat penentuan juara 3, 2, dan 1 apalagi dengan hadirnya para anak-anak HOLIGAN dari SMA kami yang ikut memeriahkan acara tersebut, mereka juga ikut membantu kami saat kami mulai kewalahan. Sebagai panitia banyak yang harus kami kerjakan dari sejak dimulai persiapan jam 10 pagi lalu pertandingan, sampai pembagian hadiah selesai kira-kira jam 12 malam, tapi kami bahagia dan terharu karena acara ini terselenggara dan sukses seperti yang diharapkan bahkan para guru dan pihak URSIS juga tersenyum bangga bahkan ada yang sampai memeluk kami dengan penuh tangis haru.
Teman-temanku sudah pada pulang, dijemput pacarnya, atau kakaknya, ada juga yang dijemput ayahnya. Sedangkan aku masih berdiri di depan GOR menunggu sahabat orokku si Rian yang tadi dia bilang mau menjemputku usai mengantarkan pulang pacarnya si Dini, namun hampir satu jam aku menunggunya dan dia belum juga menampakkan batang hidungnya, hp ku juga lowbet aku tidak bisa menghubunginya aku juga jadi tidak bisa memesan ojol hah entahlah bagaimana nasibku. Malam semakin larut, gerimis juga dan si Rian belum muncul juga sampai tiba-tiba sebuah motor berhenti di hadapanku. Siapa dia pikir ku saat itu, namun saat dia membuka helm nya aku langsung tahu siapa dia itu, dia adalah Repi salah satu anak HOLIGAN dari kelas IPS. “Bareng moal?” (bareng gak) ucapnya saat itu. “Moal ah, nanti dijemput si Rian” jawab ku. “Yakin si Rian bakal jemput” ucapnya. Aku hanya diam. “Udah larut, GOR ini jauh dari permukiman hujan juga kamu mau dirampok apa” katanya. ”Hush kalo ngomong ya suka ngawur” ketusku. “Yaudah buru” ucapnya sedikit keras. “Tapi kalo si Rian jemput kesini gimana” kataku. “Atuh da si Rian mah lalaki ke ge bisa balik deui sorangan” ( Si Rian kan cowok nanti juga dia bisa balik lagi sendiri) tegasnya. Setelah perdebatan itu akhirnya aku menerima tawarannya untuk naik motornya.
Motor itu melaju diatas jalanan Cianjur yang indah ketika malam dihiasi lampu-lampu jalan dan lampu-lampu dari rumah orang-orang kaya. Di atas motor aku juga tidak bicara sama sekali karena Repi adalah salah satu orang yang paling menyebalkan di sekolah, orang yang selalu mempermalukan aku di depan teman-temannya, aku benar-benar tidak mau bicara dengannya, sampai dia duluan yang membuka pembicaran. Saat itu dia bilang “Ra, orang kaya mah lampunya juga warna-warni ya, ada yang ijo, merah, biru, putih” katanya. Aku asal saja menjawabnya saat itu “iya kan sultan mah bebas” ucapku. Lalu ku dengar dia tertawa pelan. Di tengah perjalanan Repi menghentikan motornya entah mau apa, dia tidak bilang tapi dia mengeluarkan sesuatu dari dalam jok motornya, sebuah jas hujan yang terlipat rapih dan memberikannya padaku. “Lalu bagaimana dengan kamu?” tanyaku. “Udah pake aja” jawabnya sembari kembali melajukan motornya. Jarak dari GOR ke rumahku memang lumayan jauh hujan juga semakin deras dan saat itu Repi bilang padaku kita berhenti dulu ya hujan na makin deras aku susah lihat jalannya, katanya. Iya jawabku. Kita berhenti di salah satu warkop di pinggir jalan awalnya aku enggan masuk dan istirahat di warung kopi itu karena di situ ada lumayan banyak orang dari mulai anak remaja seperti kami sampai bapak-bapak paruh baya tapi Repi bilang padaku mereka semua kenal sama Repi mereka juga teman-teman nongkrongnya Repi. Setelah Repi bilang seperti itu akhirnya aku mau duduk di warkop itu, Repi juga mengenalkanku pada pemilik warkop juga pada teman-temannya. “Mang kenalkan, namanya Amara, primadona di sekolah” ucap Repi sedikit berbisik pada kata primadona sekolah. “Oh pacar Rep?” tanya pemilik warkop itu, mang Encep namanya. “Eeh bukan, ini mah calon istri” jawab Repi sembari tersenyum tipis ke arah ku, aku malu sekali saat itu dan mungkin pipiku sudah semerah tomat. “Si Repi mau nikah muda euy” ucap salah satu teman Repi diikuti tawaan dari teman-teman Repi yang lainnya termasuk Repi sendiri. “Ra aku sama temen-temen kelas sering nongkrong di sini” ucapnya. “terus?” ucapku. “Terus aku pesan kopi” jawabnya. “Terus kamu minum kopinya” ucapku. “Iya terus aku keinget sama trio O” ucapnya. “Trio O siapa itu?” tanyaku. Dono, Kasino, Indro” jawabnya. Setelah itu kami tertawa.
Di warkop itu Repi dan teman-temannya juga mengalunkan sebuah lagu yang mungkin sudah melekat ditelinga khalayak karena yang menyanyikan lagu itu adalah komedian legendaris.
Ngobrol di Warung Kopi Nyentil sana dan sini sekedar suara rakyat kecil bukannya mau usil, hai kau warga kota biasakan dirimu Jangan asal serobat-serobot, semau hatimu patuhilah peraturan lalu lintas jalan, jangan bikin pak polisi bermain sempritan.
Begitulah mereka bernyanyi di warung kopi itu, benar kata Repi mereka ternyata ramah. Setelah itu kami berpamitan pada Mang Encep dan teman-temannya Repi untuk pulang karena saat itu hujan juga sudah mulai reda.
“Ra” panggil Repi saat sudah melajukan motornya. “Iya” jawabku. “Kata si Siti kamu suka aku ya” tanyanya. Aku sedikit canggung mendengar itu ada malu dan terkejut juga sekilas aku berpikir apa mungkin Siti benar-benar mengatakan itu pada Repi, kalo saja benar awas aja akan aku marahi dia. “Ra” panggil Repi sekali lagi. “Hah” jawabku. “Jadi benar” ucapnya. “Itu si Siti bohong” jawabku. “Ah aku gak yakin si Siti bohong Ra” ucapnya lagi. “Memangnya kalo aku beneran suka sama kamu, kamu mau apa hah?” Tanyaku, niatnya sih agar Repi yang balik gugup eh jadinya malah menjawab yang gak pernah aku sangka. “Ya makasih” jawabnya saat itu. “Makasih untuk apa?” tanyaku lagi. “Makasih udah suka aku” jawabnya sembari
menengadahkan kepalanya. Lagi-lagi aku dibuatnya malu sendiri tapi aku juga senang. Saat itu adalah awal dimulainya hubungan kami, saat itu juga awal di mana aku selalu merasa sangat senang setiap kali bersamanya.
Terima kasih untuk Repi karena sudah menjadikanku bagian kecil dari cerita hidupmu dan menjadi salah satu orang yang kamu cintai.