Sore ini selepas kuliah, Agatha dan Reno sedang berjalan menelusuri lorong kampus yang masih ramai.
Agatha dan Reno adalah saudara tiri, satu ayah beda ibu. Banyak masalah yang menyertai kehidupan remaja mereka, sampai pada akhirnya mereka sama-sama menatap kembali hidup dan mulai semuanya dari awal.
Mulai dari hubungan yang sebelum benar-benar tidak dapat dikatakan baik, sekarang sudah dapat berdamai, walaupun percekcokan masih sering terjadi.
Di tengah perjalanan Agatha membuka percakapan, atau lebih tepatnya memberitahu nasehat yang benar-benar penting dan gak bisa dianggap remeh.
"Ren, kalo emang lo gak suka sama dia, lebih baik bilang. Jangan kasih harapan sama dia." Ucap Agatha sambil melirik Reno yang berjalan di sampingnya.
"Gue gak kasih harapan sama dia Tha." Ujar Reno acuh.
"Ren gue tau lo emang baik dan care ke semua cewek bahkan semua orang, tapi lo seenggaknya bilang baik-baik sama dia kalo emang lo gak suka." Ucap Agatha menasehati. "Cewek tuh apa-apa suka di bawa perasaan, apalagi saat dia tau bahwa cowok yang dia suka itu care balik ke dia, seakan lo kasih harapan buat dia Ren."
"Mungkin sekarang dia masih baik-baik aja, tapi nanti saat lo udah punya kekasih itu adalah masa dimana dia hancur. Seakan dia merasa ditikung dengan cewek lo. Kalian yang deket tapi lo sama orang lain yang jadian, rasanya tuh gak enak Ren. Digantungin aja udah sakit, apalagi ditinggalin pas lagi sayang-sayangnya. Mungkin lo gak ngerasa tapi dia pasti ngerasa." Setelah mengatakan itu Agatha langsung pergi begitu saja, meninggalkan Reno yang membatu.
Bukan berniat untuk mendikte adiknya itu, tetapi Agatha hanya ingin memberitahu apa yang salah. Tau bahwa Reno akan mengelak seperti sebelumnya, makanya ia lebih memilih untuk pergi, membiarkan adik lelakinya itu paham apa yang salah dari sikapnya.
Bukannya tidak boleh seorang laki-laki bertindak baik dan perhatian kepada perempuan, hanya saja ada batasan tertentu dalam hal tersebut.
Seperti kasus ini, Dira —Gadis yang menyukai Reno— mendapatkan perhatian dari Reno langsung, apalagi Reno sangat-sangat baik kepadanya, akan membuat Dira salah mengartikan perhatian Reno kepadanya. Dira bisa saja langsung menanggap Reno menyukainya balik. Tapi nanti saat dirinya tau bahwa Reno sudah mempunyai pacar itulah saatnya Dira hancur dan merasa dihianati. Mungkin terdengar drama, tapi memang masalah percintaan klise itu akan berdampak buruk bagi yang merasakan.
Reno sendiri masih merenungkan kata-kata Agatha dalam benaknya sebelum berucap, “Gue itu sukanya sama elo Tha, tapi sayangnya elo enggak paham dengan perasaan gue, dan lebih memilih Ethan.” Ucap Reno lirih.
“Gue paham banget Tha, bagaimana ditinggalin sama orang yang disukai saat lagi merasa bahwa orang itu adalah pusat dunia yang sebenarnya, tapi sayangnya dia lebih memilih orang lain.” Batin Reno berucap. Reno hanya bisa menatap punggung Agatha yang kini kian menjauh dari pandangannya, sebelum menghilang ditengah keramaian lalu-lalang mahasiswa.
***
Malam minggu yang selalu ramai oleh pasangan muda-mudi untuk berkencan. Tempat mana pun akan ramai, kecuali kuburan. Ya lagi pula, mana ada juga orang yang mau pacaran di kuburan.
Tetapi berbeda dengan orang yang berstatus jomblo yang hanya bisa menatap kosong pasangan yang melewati di depannya, seperti sekiranya Reno, Hendra, dan Daniel yang hanya menatap para pasangan di sekeliling mereka. Mereka berada di salah satu cafe yang jelas sangat ramai oleh banyak pengunjung, dan didominasi oleh kau m milenial yang sedang berkencan.
“Sepertinya kita salah tempat,” kata Hendra sambil menatap sekeliling.
“Nih si Reno yang ngajakin nongkrong disini, udah tau ini tempat kencan para bucin.” Balas Daniel sambil menikmati kentang goreng didepannya.
“Kalo tau kaya gini sih, mending gue ajak Fira kesini deh.” Ujar Daniel kembali.
“Ye elo, siapa lagi tuh si Fira?” Tanya Hendra penasaran. Pasalnya Daniel belum lama putus dan sekarang sudah mendapatkan penggganti, lah dirinya saja yang sudah tiga bulan menjomblo belum menemukan lagi.
“Anak fakultas sastra,” jawab Daniel sekenanya. Hendra hanya menggeleng takjub, temannya yang satu ini memang playboy akut, sedangkan yang satunya adalah jomblo akut, atau lebih tepatnya gagal move-on dari saudari tirinya sendiri.
“Elo ngapain ngajak kita kesini sih Ren?” Tanya Hendra yang sudah dari tadi memperhatikan temannya yang satu ini galau.
“Gue masih belum bisa menghapus perasaan ini.” Perkataan Reno langsung membuat Hendra dan Daniel menatapnya serius.
“Gimana elo mau move-on kalo semisal selalu berdua mulu,” celetuk Daniel.
“Biasalah plin-plang banget temen lo yang satu ini Niel,” unjuk Hendra dengan santai.
“Emang ada masalahnya sama hal itu?“ tanya Reno bodoh.
“Ya jelas ada lah Ren, kalo elo terus-terusan deket sama Agatha ya bisa-bisa gak bisa move-on lah, udah gitu kalian tinggal di satu apartemen yang sama, ya walaupun beda kamar, tapi kan tetap aja Ren.” Jelas Hendra rada sewot.
“Dan jangan lupakan juga bahwa Agatha itu udah punya tunangan, dan bisa aja dia nikah pas lulus kuliah.” tambah Daniel memanasi.
“Kalian tau kan gue udah berusaha untuk melupakan Agatha dan pindah hati ke Dira tapi tetap aja gak bisa. Lima tahun bukan waktu yang sedikit buat gue lupain dia, tapi tetap gak bisa.” Ujar Reno frustasi.
“Kenapa enggak langsung lo pacarin aja si Dira?” Tanya Hendra santai.
“Gue gak mau terlibat dengan hubungan tanpa perasaan, itu sama aja gue kaya bokap gue. Gue gak sebrengsek itu ya.” Tungkas Reno.
“Ya kan bisa aja rasa cinta itu timbul seiring dengan berjalannya waktu Ren,” timpal Daniel.
“Enggak semudah itu soal perasaan Niel. Gue bukan elo yang sering gonta-ganti cewek tanpa memikirkan perasaannya, gue juga bukan Hendra yang bisa dengan santainya punya hubungan dengan cewek. Gue butuh komitmen dalam sebuah hubungan.” Jelas Reno dengan tampang datar, tak suka dengan saran keduanya. Benar-benar tak masuk akal.
“Emang bisa lo nahan perasaan ini terus sampe Agatha nikah dan punya anak?” tanya Hendra dengan wajah penasaran.
“Entahlah, gue pengen hapus tentang dia dihidup gue, tapi itu seakan hal mustahil yang ada di hidup gue.” lirih Reno dengan wajah sendu.
Melupakan orang yang dicintai itu tak semudah bilang bahwa 'gue bisa melupakan orang semudah menghapus pengsil dengan penghapus', tidak semudah itu ferguso. Melupakan orang yang sangat dicintai itu adalah hal yang cukup mustahil dihilangkan.
Bahkan sekalipun sudah mempunyai hubungan lain dengan orang yang berbeda kita tetap tidak akan merasa bahwa mantan itu pernah jadi bagian yang penting selama hidup.
“Sabar Ren, siapa tau nanti elo bisa mendapatkan Agatha yang lain.” kata Hendra menyemangati.
***
Tak terasa bahwa waktu berjalan dengan sangat-sangat cepat. Lima tahun yang lalu mereka baru saja meneruskan langkah menuju jenjang kuliah, memulai hidup dengan diri lebih dewasa, dan sekarang mereka sudah lulus kuliah saja.
Waktu seakan berjalan dengan sangat-sangat cepat, tanpa bisa dihindari. Masalah yang ada pun masih dicoba untuk diselesaikan dengan baik-baik, tetapi cowok yang satu ini kelihatannya belum mempunyai perasaan lain terhadap kakak tirinya.
Reno dengan style sarjana yang lengkap melekat di tubuhnya. Tubuh tinggi itu terlihat sangat menawan mengenakan baju sarjana, terlihat tampan berkali-kali lipat. Saking tampannya banyak perempuan yang ingin berfoto dengannya, apalagi dengan sikap Reno yang memang terkenal baik kepada perempuan membuat mereka tak sungkan untuk meminta hal tersebut.
“Cape Ren?” tanya Agatha menghampiri Reno yang sudah selesai sesi foto dengan para perempuan.
“Ya gitulah,” balas Reno sekenanya. Lalu mengambil duduk di kursi yang ada di pinggiran lorong taman.
“Nih minumnya,” ujar Agatha sambil memberikan air mineral lalu duduk di samping Reno. “Kurang baik apa gue sebagai kakak sama lo?” ujar Agatha bercanda.
“Iya-iya elo sebagai saudara perempuan memang yang terbaik.” Ungkap Reno sambil tertawa kecil. “Ethan mana?” tanya Reno, karena tadi Agatha bersama Ethan tapi sekarang dirinya sendiri.
“Lagi ke toilet,” jawab Agatha. Agatha mengarahkan handphonenya untuk selfie dengan Reno.
“Ren,” panggil Agatha, Reno menoleh dan langsung saja Agatha memencet tombol kamera handphone untuk memotret.
“Tha gue jelek itu,” ujar Reno tak terima. Agatha hanya tertawa setelah melihat hasil jepretannya dan melihat tau wajah Reno yang rasa cenggo, dan itu terlihat lucu.
“Enggak ah, lucu tau Ren. Kapan lagi gue punya foto lo yang candid.” ujar Agatha sebelum mematikan handphonenya.
“Bukannya candid itu mah, tapi aib Tha.” kata Reno kesal.
“Oh ayolah, anggap aja sebagai kenang-kenangan wajah lo ini.” ujar Agatha sambil mencubit pipi Reno.
“Kenang-kenangan?” Tanya Reno yang langsung menatap Agatha dengan wajah bingung, melupakan rasa kesalnya.
“Iya, kan nanti gue bakal pindah. Dan bakal ngambil S2 di London, dan mungkin akan menetap disana untuk waktu yang lama.” Jelas Agatha.
“Lo beneran mau pindah? Dan bangun bisnis disana?” tanya Reno.
“Iyalah, dan lagi pula Ethan kan memang melanjutkan S2 di sana, gak mungkin kan gue sama dia LDR lagi?” balas Agatha sambil menatap Reno dengan tatapan aneh. Padahal memang dirinya sudah bilang kepadanya bahwa akan melanjutkan S2 bersama Ethan.
“Iya sih, tapi gue pikir waktu itu elo hanya sekedar wacana aja.” balas Reno setelah berusaha menghilangkan rasa terkejutnya. Tanpa sepengetahuan mereka ada orang yang memperhatikan mereka berusaha dengan tampang santai tanpa terganggu, bahkan memberikan waktu untuk kedua saudara itu mendapatkan waktu.
“Ngomong-ngomong masalah hubungan, gimana hubungan elo sama Dira?” tanya Agatha mengalihkan pembicaraan tentang hubungannya.
“Enggak gimana-gimana, hubungan gue sama dia hanya sekedar teman, enggak lebih.” jawab Reno sekenanya.
“Anak orang di gantung mulu, udah kekeringan itu. Ikan asin aja kalah keringnya kali.” Canda Agatha. Reno yang mendengarnya hanya tertawa kecil, berusaha menerima hiburan dari Agatha.
“Ren,” jeda Agatha yang membuat Reno mengalihkan atensinya kearahnya. “Lupain gue, dapatin apa yang memang untuk di takdirkan untuk lo. Dan segi apapun kita enggak akan bisa bersama.” Ujar Agatha serius, tidak ada tampang bercanda, tatapan mata coklat itu seakan menghunus Reno sampai kepedalaman pembulu aterinya.
Agatha yang melihat Reno membeku melanjutkan ucapannya. “Gue dari awal pun sadar akan hal itu Ren, tapi kita memang enggak di takdirkan untuk bersama. Elo, gue itu hanya ditakdirkan sebagai kakak dan adik, enggak lebih dari itu. Coba tanya lagi sama hati lo, perasaan lo buat gue itu perasaan sayang sebagai laki-laki yang melindungi kakaknya atau perasaan laki-laki sebagai cinta kepada lawan jenis? Lo harus bisa membedakan perasaan itu. Ren, jangan skak di tempat yang salah. Masih ada seorang perempuan yang menanti lo sebagai pasangannya.” ujar Agatha panjang lebar, sambil menepuk bahu Reno.
Dari awal pun dia tau bahwa bahwa saudara tirinya ini menyukainya, tapi dirinya tak tau bahwa menyukai yang dimaksud itu adalah perasaan lawan jenis, sampai pada akhirnya sebulan yang lalu dirinya tau itu dari Daniel, sahabat Reno.
Awalnya mendengar itu cukup terkejut sampai pada akhirnya dirinya paham akan satu hal, dan ya Reno bisa saja salah mengartikan perasaannya. Dan dirinya pun sebentar lagi akan mengadakan acara tunangan dengan Ethan, sebelum menuju kesenjangan yang lebih serius dengannya.
Dirinya pun menjalani hubungan dengan berkomitmen, bukan sekedar perasaan suka kepada lawan jenis, makanya saat merasa sudah cocok degan Ethan setelah kenal lebih dari sepuluh tahun dirinya yakin untuk melanjutkan ke jenjang yang jauh lebih serius.
“Ren, minggu depan gue tunangan sama Ethan. Datang ya?!” Pinta Agatha. Reno masih memikirkan ucapan Agatha, dan sedikit terkejut saat mendaptkan undangan mini dengan tulisan.
Pertunangan
Agatha & Ethan
Sabtu, 20 Juli 2021
Setelah memberikan kartu undangan tersebut, Agatha meninggalkan Reno dalam diam, membiarkannya merenungkan perkatannya, serta membuka hati untuk perempuan lain yang sudah setia menunggunya.
Agatha langsung menghampiri Ethan, lalu sedikit berbincang singkat sebelum melangkah keluar gedung menuju parkiran. Acara wisuda memang sudah selesai dari sejam yang lalu, yang masih tersisa pun hanya orang yang menunggu sesi foto keluarga bersama.
***
Reno memikirkan ucapan Agatha tadi siang, ucapan itu terus terngiang-ngiang didalam otaknya. Dirinya pun jadi bertanya-tanya sebenarnya apa arti perasannya? Hanya sekedar sayang sebagai adik kepada kakaknya atau laki-laki kepada perempuan. Jujur saja selama ini dirinya pun merasa bimbang akan hal itu, membuatnya kadang memikirkan hal itu, tapi sampai sekarang belum ada jawaban dari pertanyaan itu.
“Jadi sebenarnya perasaan apa ini?” Tanya Reno sambil menatap langit-langit kamarnya, memikirkan semua perkataan Agatha. Perkataan yang justru membuatnya bertanya-tanya tanpa kepastian yang jelas.
“Apa ini hanya rasa sayang seorang adik yang ingin melindungi? Atau apa? Kenapa semuanya makin rumit Tuhan.” Ujar Reno pasrah.
“Jujur saja ini adalah perasaan yang sangat sulit untuk di deskripsikan, dan ditanyakan kebenarannya. Jadi apa yang harus aku lakukan Tuhan? Menyerah akan perasaan yang entah apa ini, atau memperjuangkan rasa egoisme ini? Aku butuh jawaban-Mu.” Lirih Reno yang tampak kacau.
Menghela nafas panjang lalu menatap langit kamar yang bernuansa biru langit, warna kesukaannya. Memikirkan tindakan apa yang diambilnya, sampai pada akhirnya dirinya ingat pesan sang Papa.
“Jika perempuan itu memang jodohmu, pasti akan kembali. Jika tidak kamu harus mengikhlaskannya. Jangan jadi egois untuk memperoleh dapatkan keduanya. Milikmu hanya satu, yang lain punya orang.” Begitulah sekiranya perkataan sang Papa tepat sebelum meninggal. Papa menang pengecut tapi dia tetap pahlawan. Setelah memutuskan dengan benar apa pilihannya, dirinya mulai terkelap tidur dan berisi untuk menggapai waktu yang cepat berlalu, sampai pada akhirnya pertunangan Agatha berasa didepan mata.
***
Acara pertunangan Agatha berlangsung cukup meriah. Acara tersebut kebanyakan dihadiri oleh teman-teman SMA, sekaligus mengadakan reuni dengan anak se-geng Agatha dulu saat SMA.
Acaranya meriah sekali, saking meriahnya pesta tersebut seakan tidak mau dihentikan tapi sayangnya waktu berlalu terlalu cepat, jam sudah menunjukkan pukul 00.25 hampir setengah satu pagi. Acaranya tadi di mulai dari sehabis isya, mungkin sekitar jam setengah delapan dan batu benar-benar sepi jam segini, cukup melelahkan dan membahagiakan pula.
Reno pun tadi menghadiri acara tersebut dengan membawa kado untuk Agatha, sekaligus kado hadiah kelulusannya yang belum semoga dirinya berikan.
Sekarang Reno berniat mengginap di kediaman Agatha dengan beberapa teman se-geng Agatha juga. Reno berada di halaman belakang rumah Agatha, tepatnya duduk di pinggir kolam renang sambil menatap sendu air kolom.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di sampingnya, dengan kaki yang dicelupkan kedalam kolam, menahan air dingin yang menusuk di kulit kaki, serta hempasan angin malam yang dingin.
“Belum tidur Tha?” tanya Reno yang jelas-jelas jawabannya tak penting, dan dirinya pun sudah tau jawabannya.
“Gimana dengan ucapan gue? Apa udah lo pikiran?” tanya Agatha mengalihkan pembicaraan yang tak penting. Reno menghela nafas lalu menatap air yang bergerak karena kaki Agatha yang menggerakkan.
“Gue masih binggung, atau lebih tepatnya bimbang.” Jawab Reno singkat.
“Coba buka hati lo untuk orang baru, salah satu cara untuk membuktikan hal itu.” Saran Agatha. “Udah gue coba, tapi tetap sama.” Ujar Reno pelan.
“Ren, gue bilang buka hati lo, bukan memberikan perhatian secara acak.” kata Agatha gemas. “Coba elo buka hati lo untuk pengemar rahasia lo,” ucap Agatha misterius.
“Siapa?” Tanya Reno penasaran. “Gue tau dulu cinta pertama lo siapa, kenapa gak coba untuk memulai hubungan itu kian serius?” tanya Agatha dengan ringan, seakan hal itu bukan masalah besar.
“Maksud lo Nasya?” tanya Reno menganggap maksud Agatha. Agatha hanya tertawa saat Reno mengetahui siapa orang yang dimaksudnya. Ternyata memang benar, cinta pertama sulit untuk di lupakan walau hanya sekedar cinta monyet.
“Ternyata lo masih inget sama cinta monyet lo? Gue kira udah lupa.” ujar Agatha masih dengan sisa tawanya. “Ngomong-ngomong Nasya memang suka sama elo sejak SMP, mungkin sekedar mengidolakan aja sih, tapi pas kuliah gue liat dia suka nyuri kesempatan liatin elo pas di kantin.” Jelas Agatha.
“Coba buka hati lo untuk sang pujaan hati. Aku percaya Ren, bahwa perasaan lo ke gua hanya bentuk perasaan sayang kepada kakak aja, enggak lebih.” Ungkap Agatha, lalu pamit menuju ke kamarnya.
***
Reno benar-benar melakukan saran yang diberikan Agatha, sudah sebulan lebih dia dekat dengan Nasya, masih selama batas teman tapi entah kenapa dirinya sudah mulai terbiasa dengan adanya Nasya di sekitarnya.
Gadis polos itu memang sedikit lucu untuk ukuran anak kuliahan, apalagi saat ini dirinya berkerja satu perusahaan bersama Nasya. Dan satu divisi. Reno berada di divisi manager properti sedangkan Nasya dibidang marketing, jelas masih sering ketemu.
Hampir setahun mereka menjalani hubungan yang kian lama kian mendekat, sampai akhirnya di suatu malam Reno menggungkapkan perasaannya.
“Sya?” panggil Reno ketika keduanya berada dalam event yang sedang di adakan oleh perusahan.
“Kenapa Pak Reno?” Jawab Nasya formal. Reno yang mendengarnya hanya tertawa kecil, dirinya dan Nasya seumuran tapi Nasya masih saja memanggilnya 'Pak' bahkan diluar kantor begini.
“C'mon Sya, kita berada diluar kantor. Jadi stop panggil saya 'Pak', cukup Reno saja.” Ujar Reno.
“Maaf Pak, eh Reno. Saya sudah terbiasa memanggil 'Pak'.” Balas Nasya masih kaku.
“Nasya,...” Jeda Reno. “Saya mau memulai semuanya dengan komitmen, bukan sekedar saling menggangumi dari jauh dan diam-diam,” ucap Reno sambil menatap Nasya serius. Satu tahun untuk membuktikan perasannya sudah cukup bagi Reno, sekarang sudah saatnya dirinya memulai hubungan berkomitmen dengan seorang perempuan pilihannya.
“Maksud kamu Ren?” tanya Nasya masih tak paham.
“Saya mau kamu menjadi pendamping hidup saya Nasya, sebagai ibu dari anak-anak saya.” Ucap Reno menjelaskan, yang membuat Nasya terkejut bahkan hampir jatuh karena badannya yang mendadak tak seimbang.
“Jangan bercanda Ren, itu bukan hal yang lucu.” Tungkas Nasya setelah menguasai keterkejutannya.
“Saya gak bercanda Sya, saya serius. Apa menurut kamu saya gak tau bahwa kamu selalu memperhatikan saya? Dan apa menurutmu saya gak paham akan perasaan kamu kepada saya? Jelas saya sangat paham Nasya.” Tegas Reno penuh wibawa, benar-benar cowok idaman.
“Kamu serius Ren? Enggak lagi ngeprank kan? Atau sekedar main-main?” tanya Nasya yang benar-benar masih syok atas pernyataan Reno tersebut.
“Saya bukan orang yang suka bercanda Nasya, jika memang saya serius, saya akan benar-benar serius. Di hidup saya perempuan itu segala-galanya dan saya enggak akan menyakiti mereka. Itu prinsip saya Nasya.” Ungkap Reno penuh ketegasan, dan sangat serius.
“Jadi maukah kamu menjadi istri saya?” Tanya Reno benar-benar serius.
“Apa ini tidak terlalu cepat?” Tanya Nesya yang terlalu merasa tiba-tiba.
“Lebih cepat lebih baik, lagi pula kita sudah kenal dari dulu, jadi tak perlu perkenalan lebih dalam. Saya sudah kenal kamu, begitu pun denganmu.” Jelas Reno.
Akhirnya Nasya dan Reno resmi malam itu menjadi pasangan. Tak perlu repot-repot untuk berpacaran yang jelas akan menambah lama waktu.
Reno lebih memilih semuanya dalam waktu singkat, bahkan tak sampai tiga bulan mereka sudah resmi menikah dan menjadi suami istri.
Semuanya berakhir bahagia, tanpa tau nanti dikedepannya akan ada masalah apa, yang jelas masalah percintaan yang cukup rumit ini selesai. Semuanya berakhir indah. Dengan pasangan masing-masing.
Agatha bersama Ethan yang sudah menikah lima bulan sebelum mereka berdua menikah, lalu Reno yang memang jodohnya bersama Nasya. Hendra yang akan melangsungkan pernikahan dengan perempuan piliahnnya dalam waktu dekat. Dan terakhir Daniel yang akan menikah enam bulan lagi dengan Fira, wanita yang dapat meluluhkan sifat playboy akut Daniel.
***
“Perasaan itu indah jika kita bisa memililahnya. Pahami perasaanmu, sebelum sakit hati akan makna dari sebuah perhatian. Sayang dan cinta itu beda, tapi kita yang merasa bahwa itu sama. Belajar untuk memilah itu penting, jangan asal menyakini yang berujung sakit hati.”
—Pesan Penulis, Ra–