Entah sejak kapan pandanganku padanya berubah. Bukan hanya rival, diam-diam aku memendam rasa padanya. Cinta pertamaku.
.
.
.
Hei, Namaku Kahiyang Fahira. Usiaku sekarang tujuh belas tahun. Dan sekarang ini aku berada di tahun terakhirku sebagai murid sekolah menengah atas.
Sebagai murid kelas tiga tentu Aku tengah disibukkan dengan berbagai les tambahan untuk menghadapi ujian kelulusan. Ya, tahun yang sibuk.
Aku menjalani kehidupan sekolah dengan cukup menyenangkan. Aku memiliki cukup banyak teman. Nilaiku juga baik, bahkan sesekali aku masuk dalam sepuluh besar nilai tertinggi. Cukup pintar bukan ?
Kehidupan sekolahku tak cuma seputar hal-hal tersebut diatas saja. Di usiaku inilah untuk pertama kalinya aku merasakan apa itu jatuh cinta, termasuk telat mungkin aku jatuh cinta sedangkan teman-temanku sudah putus nyambung dalam menjalin cinta.
"Hei, Kahi. Apa ada seseorang yang kau sukai ?"
Pertanyaan yang kerap kali dilontarkan Indira dan Temia ini selalu kejawab dengan 'Tidak' dengan tegas.
Hingga suatu hari aku tanpa sadar memperhatikan Dia. Rehan Saputra namanya. Aku tak banyak berinteraksi dengannya, akan tetapi entah sejak kapan dirinya masuk radar perhatianku. Dua tahun kami menjadi teman satu kelas.
Awalnya aku hanya melihatnya sebagai rivalku. Aku cenderung membencinya. Eits, benci bukan dalam artian negatif. Ah, sebut sajalah aku iri dengannya.
Dia selalu mendapatkan nilai yang lebih tinggi dariku. Hal itu berlangsung sejak di kelas dua. Aku tak bisa mengunggulinya. Dia selalu lebih baik dariku di semua mata pelajaran. Dan aku benci itu.
"Aku tidak menyukai pelajaran ini." Ujarnya pada teman sebangkunya, Ardi Viansyah.
Perlu kalian tahu. Tempat dudukku tepat di belakangnya jadi bukan maksudku untuk menguping loh. Memang merekalah yang berbicara kelewat keras.
"Kau tak menyukai tapi tetap dapat nilai tinggi. Apa kau mau berkelahi, sialan."
Aku terkikik pelan mendengar jawaban yang begitu ketus dari Ardi. Memang benar, Rehan tak begitu ahli dalam pelajaran sastra.
"Pelajaran ini keahlianmu kan, Kahiyang."
"Eh?"
Aku terkejut mendengar ucapannya.
Sontak saja terlintas dipikiranku, Apa maksudnya? Apa dia memperhatikanku ? Menganggapku rivalnya juga ? Astaga ada apa dengan debaran jantung ini. Aku tak sanggup menatap matanya.
"Benarkah itu, Rehan ? Aku baru tahu."
"Kahiyang memang selalu dapat nilai tak kurang dari 8 jika pelajaran ini." Jawab Rehan sembari memamerkan senyum tipisnya padaku.
"Kau benar, Re. Ayo, Kahiyang ajari aku." Sambung Indira teman sebangku-ku.
"Em."
Interaksi kami sering kali hanya berlangsung singkat. Tapi bagiku itu cukup membuat Aku kesulitan menyembunyikan berisiknya degupan jantung ini.
"Hei, kenapa wajahmu memerah ?" Tanya Indira
"Aku hanya merasa kepanasan saja." Jawabku.
.
.
Waktu terus bergulir hingga tanpa terasa satu bulan lagi kami akan menghadapi ujian akhir. Dimana itu menjadi penentuan kelulusan atau harus mengulang.
Saat itu kami sedang melakukan praktikum. Dan entah bagaimana Aku mendapat tempat tepat disebelah Rehan Saputra.
Andai kalian tahu duduk dekat dengannya membuat tanganku berkeringat dingin. Debaran ini semakin berisik daripada biasanya. Aku tak bisa untuk sekedar menyapanya. Satu hal yang selalu terpatri dipikiranku. Aku takut ketahuan olehnya.
"Semoga kita sukses ya." Ujarnya.
Aku hanya menganggukan kepala. Demi apa. Yang kulakukan terus meruntuki kelakuanku.
Bagaimana jika ia beranggapan aku gadis berhati dingin, jutek dan sebagainya.
Ah, sudah sudahlah. Ayo Kahiyang fokus saja pada praktikummu sendiri.
Berhenti melirik ke arahnya terus.
"Apa ada sesuatu yang kau butuhkan, Kahiyang ?" Ujarnya saat mendapati aku melirik kearahnya. Ah, malunya.
"Tidak."
Dia tampak masa bodo lalu kembali fokus dengan praktikumnya sendiri.
Kahiyang bodoh.
.
.
Ah, Rahasiaku akhirnya terbongkar juga. Saat itu Aku, Indira dan Temia tengah duduk di atap sekolah.
"Kau menyukai Rehan, Kay ?" Pertanyaan yang keluar tanpa basa-basi itu membuatku begitu terkejut.
Aku bahkan tak bisa mengondisikan ekspresiku ini.
"Ah, benar ya." Temia melempar senyum kemenangan saat melihat wajahku yang begitu memerah.
"Sejak kapan ? Kenapa tak memberitahu kami ?"
"Jika kau memberitahu aku pasti membantumu agar bisa lebih dekat dengannya."
"Jangan membombardirku dengan pertanyaan." Kataku dengan wajah memerah.
"Baiklah. Sekarang ceritakan semuanya. " Indira mengalah.
Dan aku pun mulai menceritakan semuanya pada kedua sahabatku ini.
"Kumohon rahasiakan ini ya." Pintaku.
"Kau tak ingin lebih dekat dengannya ?" Tanya Temia.
"Untuk sekarang aku rasa begini saja cukup. Aku tak mau berharap lebih." Jawabku.
"Rehan jelas sekali tak tahu perasaanmu. Bagaimana jika kau lebih menunjukkan perasaanmu ?"
"Tidak. Aku sudah cukup senang dengan ia menyadari kemampuanku."
"Ah, Ayolah. Sebentar lagi kita lulus. Kalian belum tentu bertemu kembali. Setidaknya ungkapkan saja." Desak Indira.
Aku tak menjawabnya. Aku hanya tersenyum simpul.
Bagaimana aku bisa menyampaikan perasaanku? Sedang aku tahu ia tengah berfokus menggapai mimpinya.
"Aku tak mau berurusan dengan apapun yang mengganggu pendidikanku. Apalagi masalah percintaan. "Itulah yang Rehan katakan saat Ardi menanyakan kenapa dirinya masih sendiri.
.
.
Hingga tiba hari kelulusan. Aku masih selalu memperhatikannya. Perasaan ini berkembang jauh lebih dalam dari yang aku duga.
Di tengah kebahagiaan ini terbesit rasa sedih. Aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Karena yang ku tahu Rehan memilih melanjutkan sekolah di London. Sedangkan aku tetap disini.
.
.
.
.
Empat tahun berlalu.
Seperti tahun lalu, angkatan kami dengan rutin mengadakan reuni.
Hari itu aku kembali berjumpa dengannya. Dia tengah bercengkrama dengan teman-temannya. Dia tak banyak berubah. Masih tampan dan pendiam seperti yang aku ingat.
"Ayo kita kesana." Ajakan Indira aku cegah.
"Kenapa ?"
"Jangan kesana."
"Rehan Saputra?"
"Em."
Debaran ini.
Perasaan gugup ini.
Tangan yang berkeringat dingin ini.
Membuktikan bahwa
Aku masih terjerat
Oleh getaran yang sama.
Pada dia..... cinta pertamaku.
Fin