Cerpen ini berlatarkan di Prancis, kota Paris, taman Parc Monceau. Jika kalian belum pernah melihat taman Parc Monceau, kalian dapat ke bawah terlebih dahulu untuk melihat fotonya. Ehh aku juga belum lihat sih😂😂😂.
***
MUSIM GUGUR DI TENGAH HUJAN
By: Khairil Azmi.
Prancis, Paris, Parc Monceau 20:34pm.
***
Suara gemuruh petir menyambar membelah langit gelap kota Paris. Tepatnya di taman Parc Monceau yang sekarang tengah di hiasi oleh gemerlap cahaya, dari lampu-lampu yang menghiasi jalanan setapak di taman tersebut. Rintikan air hujan mulai turun membasahi bumi. Angin malam mulai berhembus kencang membuat daun-daun mapel yang berwarna keemasan itu, mulai terlepas dari dahannya.
Di sebuah jembatan melengkung yang terletak di tengah-tengah taman. Terlihat jelas seorang wanita cantik yang saat ini berdiri dengan payung sebagai pelindung diri dari guyuran air hujan, sebuah syal rajut yang melingkar rapi di lehernya, dan sebuah pakaian hangat beserta celana jeans panjang yang nampak pas di tubuh jenjangnya.
Wanita tersebut masih setia berdiri kala air hujan turun semakin derasnya. Namun, ia tak bergeming. Wanita itu senantiasa berdiri dengan terus menggenggam erat payung yang melindungi dirinya dari guyuran hujan tersebut.
Tak terasa tetesan air hujan mengundang air mata yang sedari tadi ia tahan keluar, 'kenapa dia belum datang?' batin wanita tersebut yang bernama Helena Stave bertanya.
Tangan kirinya bergerak menyeka air mata yang sudah mengalir secara perlahan dari pelupuk matanya, 'apakah aku terlalu berharap?' batinnya bertanya kembali dengan mulut sedikit terbuka.
Air hujan semakin deras mengguyur taman Parc Monceau, guguran daun mapel semakin memenuhi sebuah danau buatan yang ada tepat di hadapan wanita itu. Nampak jelas wajah Helen yang sudah memerah menahan isak tangis yang hendak keluar dari mulutnya.
Pasalnya dulu dua tahun yang lalu di tempat ini. Tepat di bulan Agustus dimana dengan awal musim gugur yang menjadi saksi, dan derasnya air hujan menerpa bumi, hidupnya berubah. Wanita itu tak mengira bahwa hidupnya yang monoton berubah menjadi lebih berwarna, hidupnya yang di penuhi kesedihan berubah menjadi penuh canda dan tawa, dan hidupnya yang kelam berubah menjadi hari yang takkan ia lupakan. Namun, satu tahun setelah itu, hidupnya kembali berubah.
Pengubah hidupnya meninggalkan dirinya tepat di bulan yang sama, dengan awal musim gugur yang menjadi saksi, dan derasnya hujan menjadi bukti. Seorang pria bernama Fernando Reyes yang telah mengubah hidupnya, meninggalkan dirinya kembali sendiri.
Helen kembali berteman dengan kesedihan, kepedihan, dan kehancuran disertai rasa sepi yang sangat menyayat hati. Namun, ia tak akan menyerah seperti yang dulu pernah wanita itu lakukan saat sebelum dirinya bertemu dengan Fernando. Sekarang ia bertekad akan terus menunggu pria itu kembali. Kembali padanya, kembali mengubah hidupnya, dan kembali memberikan senyum padanya.
Satu tahun telah berlalu setelah kepergian Fernando tanpa sepatah kata pun yang ia keluarkan. Pria itu meninggalkan Helen tanpa ada sepucuk surat yang ia tinggalkan. Dia pergi tanpa kabar, dan itu membuat Helen terlarut dalam harapan Fernando akan kembali menemui dirinya.
Sudah satu tahun kepergiannya, dan sudah satu tahun pula Helen menunggu dirinya di tempat yang sama. Tepatnya di taman tempat pertama mereka dulu bertemu. Taman Parc Monceau, awal mula kisah mereka di mulai.
***
2 year ego.
Perancis, Paris, Parc Monceau 25 Agustus 2018.
Sore hari yang di hiasi awan mendung yang menutupi cahaya matahari di sore hari ini. Terlihat semua pengunjung taman Parc Monceau tengah berlari berbondong-bondong meninggalkan area taman, untuk terhindar dari guyuran air hujan yang nampak akan turun sangat deras di sore hari ini.
Namun, tidak untuk seorang wanita cantik yang saat ini berdiri. Tepat di jembatan melengkung yang berada di tengah-tengah taman tersebut.
Dengan kupluk rajut yang bertengger rapi menutupi Surai blondenya, baju lengan panjang yang di hiasi syal rajut yang melingkar rapi di lehernya, dan celana jeans disertai sepatu boots wanita membuat Helena Stave nampak cantik saat ini.
Iya ... Wanita yang tengah berdiri tersebut bernama Helena Stave. Dia sekarang tengah menyinggung senyum saat matanya dengan jelas melihat seorang pria. Pria yang sedari tadi ia tunggu sekarang sudah datang, dengan kedua tangan ia sembunyikan di balik punggungnya.
"Hay gadis musim gugur," sapa pria yang bernama lengkap Fernando Reyes tersebut, dengan masih menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung.
Helen tersenyum, tangannya melambai menjawab sapaan dari Fernando, "Apa pria tampan ini membuat mu menunggu lama nona?" Tanya Fernando dengan tersenyum menggoda Helen.
Benar saja, wanita yang berusia 24 tahun lebih muda dari Fernando yang berusia 26 tahun tersebut tersenyum, "anda terlalu percaya diri tuan Reyes," ujar Helen dengan tersenyum.
"Seperti itulah keluarga Reyes, kami sangat percaya diri," sanggah Fernando dan membuat Helen melipat kedua tangan di dada.
"Sungguh? Kalau saya boleh tau, sepercaya diri apa keluarga Reyes pada dirinya sendiri?"
Mendengar itu Fernando langsung menekuk lutut di hadapan Helen. Tangannya yang sedari tadi bersembunyi di belakang punggung telah ia tarik ke hadapan Helen, "Kepercayaan diri ku seperti ini. Aku percaya kalau wanita musim gugur di hadapan ku ini akan menerima cintaku," ujar Fernando dengan kepercayaan diri yang sudah melekat di hatinya, "Helena Stave, will you be my girlfriend," ujarnya kembali bak orang melamar untuk menikah.
Seketika setelah perkataan tersebut, rintikan hujan mengguyur taman Parc Monceau, disertai hembusan angin yang membuat daun-daun mapel yang sudah berwarna keemasan terlepas dari dahannya.
"Sekali lagi, nona Helena Stave. Dengan awal musim gugur di tengah hujan ini menjadi saksi dan bukti, maukah kau menjadikan ku kekasih mu?"
"Yes ... I do," jawab Helen dengan tersenyum dan tanpa ia duga air mata bahagianya berderai mengikuti rintikan air hujan, "tapi ... Kenapa daun mapel?" tanya Helen bingung. Sembari mengambil daun mapel yang sudah mengering yang tersusun rapi menjadi sebuah buket daun yang indah.
"Karena, kamu adalah wanita musim gugur ku yang sangat aku cintai," ujar Fernando dan langsung membawa Helen masuk ke dalam pelukannya.
Paris, Parc Monceau, 23 Agustus 2018. Dengan awal musim gugur yang menjadi saksi, dan rintikan air hujan yang menjadi bukti. Bahwa di tempat ini, tepat di tengah-tengah taman Parc Monceau, kehidupan asmara mereka terjalin.
***
1 year later.
Perancis, Paris, Parc Monceau, 23 Agustus 2019.
Genap satu tahun hubungan penuh warna yang Fernando dan Helen jalani. Kembali ke tempat dimana hubungan asmara mereka terjalin. Satu tahun telah berlalu, dan sekarang terlihat Helen yang tengah di balut oleh gaun berwarna pink dengan Mike up tipis, disertai bunga yang berbentuk mahkota bertengger di kepalanya.
Tepat di tempat yang sama, dan dalam keadaan yang sama juga. Terlihat Helen tengah berdiri di sebuah jembatan melengkung, dengan tersenyum tengah menunggu sang pangeran mendatanginya. Suasana Parc Monceau yang nampak sepi tak membuat keteguhan hati wanita cantik tersebut untuk menunggu Fernando datang menemuinya.
Sudah dari satu jam yang lalu ia menunggu Fernando namun, yang di tunggu tak kunjung menampakan batang hidungnya. Semangat Helen tak pupus, biarpun langit semakin nampak mendung membuat dirinya terus bertahan menunggu sang pujaan hati datang.
Ia lagi-lagi tersenyum kala mengingat percakapannya dengan Fernando malam tadi, 'kau tunggu lah aku tepat di tempat yang sama dengan gaun berwarna putih,' Helen tersenyum kala mengingat yang di katakan Fernando.
Tak terasa sudah 4 jam Helen berdiri di tengah jembatan menunggu kedatangan Fernando. Namun, yang di tunggu belum juga nampak terlihat. Akankah dia membohongi Helen? Tidak Helen tak ingin berfikir seperti itu. Wanita itu terus menguatkan hati agar tak berfikir seperti itu. Dia tahu kalau Fernando tak mungkin membohonginya, dia selalu percaya Fernando akan datang menemuinya.
Langit semakin gelap buliran air hujan mulai turun dari langit menerpa taman Parc Monceau yang sudah sepi tanpa ada satupun pengunjung. Hanya Helen yang masih berdiri dengan gaun putih dan mahkota yang terbuat dari bunga yang sudah layu bertengger di kepalanya.
Gemuruh petir menyambar di tengah-twngah awan gelap yang menumpahkan air hujan yang semakin deras turun menimpa Helena yang masih berdiri tanpa bergeming. Seketika hembusan angin begitu kencang dan membuat daun-daun yang sudah berubah warna menjadi keemasan mulai berjatuhan.
"Apa dia membohongi ku?" pikir Helen dan ia langsung menepis pikiran tersebut, "tidak! Fernando bukan orang seperti itu. Dia tidak mungkin membohongi ku," sanggahnya dengan mencoba menolak kemungkinan-kemungkinan yang akan membuat semangat menunggunya pupus.
Malam semakin larut, air hujan tak hentinya mengguyur taman Parc Monceau tersebut. Helen masih menunggu Fernando namun, ia duduk dengan memeluk kedua kakinya untuk mengusir dinginnya malam ini.
"Sa...sa...sampai kapan pun a...a...aku ak...akan menunggu Fernan disini, di...dia pasti akan datang," kekeh Helen dengan semakin memeluk erat lututnya.
***
Back to the present
Prancis, Paris, Parc Monceau, 23 Agustus 2020
Helen kembali menyeka air matanya yang mengalir keluar dari pelupuk matanya. Ia masih berdiri di tempat yang sama, tempat Diaman awal kisah asmaranya bermula. Setiap sore hingga pagi menjelang, Helen selalu berdiri di tempat ini. Wanita itu tanpa lelah selalu menunggu Fernandonya kembali. Kembali bersamanya,dan menghabiskan waktu dengan penuh canda dan tawa di sini.
"Maaf! Apa anda nona Helena Stave?" Tanya seorang pria paruh baya dengan berpakaian serba hitam dan kacamata hitam yang bertengger rapi di hidungnya.
Helen yang merasa terpanggil langsung menoleh cepat ke asal suara tersebut, "be...benar, sa...saya Helen," jawab Helen dengan gugup.
"Syukurlah saya menemukan anda nona, saya sudah mencari anda satu tahun lamanya."
"A...ada apa anda mencari saya?" tanya Helen yang masih di serang kegugupan.
"Ini tentang tuan muda Reyes," ujar pria paruh baya tersebut dan membuat pegangan tangan Helen di payung terlepas, dan payung tersebut langsung di terbang terbawa angin, "anda tau bukan. Kalau hubungan anda dengan tuan muda sangat di tentang oleh keluarga Reyes?"
Seketika tubuh Helen menegang, lidahnya kelu untuk menjawab mengeluarkan kata iya, "satu tahun yang lalu. Tepat di hari tuan meminta anda menunggu, tuan mengalami kecelakaan dan-....,"
Dor! Dor! Dor!
Seketika tubuh Helen terkapar tak bernyawa saat tiga tembakan bersarang di dadanya. Sontak pria di hadapannya tersebut membulatkan mata terkejut. Perkataanya terhenti kala ia melihat wanita yang sangat di cintai oleh almarhum taun mudanya terkapar dengan darah yang sudah bercucuran.
Pria yang berpakaian serba hitam tersebut mengedarkan pandangannya mencari tahu siapa yang telah menembak Helen. Gerakannya terhenti kala ia berhasil menangkap dua sosok manusia berbeda jenis berjalan mendekat ke arah mereka. Lagi dan lagi, pria paruh baya tersebut membulatkan mata kala ia mengenali sosok yang menembak Helen iyalah tuan dan nyonya besar Reyes.
"Tu...tuan," sapanya dengan gugup.
Tuan besar Reyes tersenyum penuh kemenangan, "Jadi dia wanita yang membuat anak ku meninggal dalam kecelakaan," ucapnya dengan masih menatap benci pada mayat Helen yang masih mengeluarkan darah.
"Wanita hina dan kotor sepertinya pantas mati seperti ini, gara-gara dia anak ku meninggalkan ku!" teriak benci Nyonya besar Reyes dengan menunjuk mayat Helen, "seharusnya dia sadar diri akan statusnya. Jika saja dia mata terlebih dulu, mungkin Fernando akan hidup hari ini," ujar sendu Nyonya besar Reyes dengan terjatuh ke pelukan sang suami.
Dor! Dor! Dor!
Tiga tembakan kembali bersarang di tubuh tak bernyawa Helen, "matilah kau wanita kotor," ujar benci tuan besar Reyes, "Erland ... Telpon anak buah kita dan suruh mereka urus mayat busuk itu," perintah dingin tuan besar Reyes.
"Baik tuan," ujar Erland menurut patuh kepada pimpinan kelompok mafia tempat ia bernaung.
Dengan wajah tanpa dosanya tuan dan nyonya besar Reyes berlalu pergi meninggalkan Erland yang sudah bertekuk lutut, "Ini tidak mestinya terjadi pada wanita baik seperti dirimu nona, tapi anda telah mengusik keluarga berdarah dingin seperti mereka," ujarnya dengan menggelengkan kepala merasa iba, "tapi satu hal yang harus anda ketahui bawah. Saat tuan muda menghembuskan nafas terakhirnya. Dia hanya mengingat nama anda. Jika saja penyerangan itu tak terjadi, mungkin kalian berdua akan hidup bahagia hari itu," ujar Erland dan menaruh sebuah kotak kecil berwarna merah tepat di samping tubuh Helen.
Iya .. satu tahun yang lalu, sebenarnya Fernando hendak melamar Helena tepat di tempat ini. Namun kalian tahu bukan? Keluarga mafia pasti mempunyai banyak musuh, dan begitu juga dengan keluarga Reyes.
Tepat di hari itu, Fernando mendapatkan sebuah serangan yang membaut nyawanya menghilang, dan kematiannya di tutup rapat oleh keluarga besarnya. Itu sebabnya tepat di musim gugur di tengah derasnya Hujan, Fernando dan Helena meninggalkan dunia ini.
•
•
•
The And.
Bagaimana cerpen ku gays?
Tulis di kolom komentar tentang apa ya g anda rasakan setelah membaca cerita ini. Papay jangan lupa kepoin nopel ku di NT or Mt dengan judul "Cinta Anak Pembantu" dan kepoin cerita ku yang lain di Kbm app dengan judul "Pernikahan Panas Dengan Mr. Bule." See you follow Ig outhor "khairil_azmi78"😎😎