Warna putih, bau obat, dan juga lampu yang tidak begitu terang. Mataku melihatnya begitu tenang dan sayu, gelombang suara perlahan mengisi pendengaran telingaku.
Perlahan tapi pasti, aku menoleh ke kanan dimana ada seorang pria dan wanita tua di sisiku. Pria tua itu memanggil-manggil dokter hingga dokter itu pun tiba. Tak luput dari pengelihatan mataku bahwa wanita itu meneteskan air matanya ketika dokter memeriksaku.
"Syukurlah, akhirnya pasien bisa sadar." kata dokter itu kepada mereka.
Kedua orang paruh baya itu tersenyum haru dan lega, mereka pun menangis. Namun, yang kulihat saat mereka menangis bukanlah tangis bahagia. Melainkan ada sesuatu dibalik senyum yang dipaksakan itu.
"Nak.. Akhirnya kamu sadar juga," ujar wanita itu membelai puncak kepalaku.
Aku terdiam dan tidak bereaksi, lagipula... siapa mereka?
Melihat reaksiku saat ini, mereka menyadarinya. Si wanita paruh baya tersebut panik dan segera bertanya pada dokter.
"Dokter, ada apa dengan anak saya? Mengapa dia tidak merespon? Apa ada sesuatu yang salah?" kata-kata yang keluar dari mulutnya terdengar sangat panik, hingga si pria paruh baya harus menenangkannya.
Aku menatap atap ruangan putih ini dan mendengarkan penjelasan dari dokter meski tidak terlalu mengerti apa yang sedang dokter jelaskan.
"Begini, Tuan.. Nyonya.. Anak anda sepertinya mengalami sesuatu yang sedikit fatal akibat benturan keras di kepalanya, hingga beberapa bagian ingatannya hilang. Namun, hal tersebut tidak akan menyebabkan amnesia permanen. Ingatan tersebut akan kembali sedikit demi sedikit, tidak boleh dipaksakan atau hal itu akan berbahaya bagi fungsi saraf otaknya." jelas dokter.
Air mata kembali turun dari kelopak mata sang wanita, sedangkan si pria merasa sangat terpukul dengan penjelasan dokter.
Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan diriku, seperti mati rasa. Kedua kakiku tidak bisa bergerak, di leherku terdapat cervical collar, hidungku diberi pasokan oksigen lebih, beberapa kabel menempel di tubuhku, perban di kepalaku, dan tanganku yang sedang diberi infus. Serta.. aku tidak mengingat apa yang sudah terjadi pada diriku sampai seperti ini.
Benar-benar menyakitkan hidup dengan berbagai alat penopang hidup. Kepalaku mulai tidak fokus kembali, pendengaran telingaku seperti disumbat sesuatu sampai-sampai aku tidak bisa mendengarkan dengan baik apalagi yang sedang dibicaranan oleh mereka bertiga.
Tubuhku masih lemah, rasa lelah lebih cepat menyerang tubuhku dengan agresif. Sampai akhirnya aku kembali menutup mataku dan berada di sebuah tempat hitam dan putih. Tidak ada apapun disana, hanya aku.
•Beberapa jam kemudian.....
Mataku terbuka lagi dengan sayu dan lemas. Tenagaku hampir tidak ada, bahkan untuk bernapas saja sangat sulit. Kulihat disebelah kananku, ternyata pria dan wanita tadi masih berada di sampingku. Aku penasaran dengan keberadaan mereka, siapa mereka?
Melihatku terbangun, wanita itu segera menghampiriku dengan cemas. Dia tersenyum dan mengelus kepalaku lembut.
"Tidak apa-apa, semuanya akan baik-baik saja." katanya sambil tersenyum simpul.
Aku lagi-lagi tidak merespon ucapannya. Atau lebih tepatnya, aku tidak mengerti apa yang harus aku jawab. Sementara aku tidak mengerti apa maksud dari kalimatnya.
"Rikka.." ujarnya halus. "Itu nama kamu. Dan Kami adalah orang tuamu." ujarnya lagi bersilih ganti pandangan dengan si pria.
Pria tua itu ikut mengangkat suara, "Iya, Nak. Ini Papa Henry. Dan Mama Fera." katanya menambahkan kalimat wanita tadi.
Disini aku mulai sadar kalau namaku adalah Rikka, Papa ku bernama Henry dan Mama ku bernama Fera. Setidaknya aku tahu siapa namaku dan kedua orang tuaku, harus disyukuri.
Mulutmu terbuka ingin mengatakan sesuatu, "A.. A.. Ap.. pa ya.. yang..."
Cukup sampai disitu. Nafasku terengah-engah ketika mengucapkannya, seolah-olah oksigen di pari-paruku keluar sampai kosong tak terisi saat aku berbicara, padahal baru dua kata yang ku ucapkan. Namun, nafasku sudah terengah-engah.
"Sudah, Nak. Simpan tenagamu dan jangan banyak berbicara dulu, istirahatlah hingga pulih." kata Mama memberi saran.
Aku pun menuruti perintahnya, lagipula Mama benar. Aku harus beristirahat sebanyak mungkin agar cepat pulih. Otakku juga rasanya belum cukup kuat untuk berpikir terlalu banyak mengenai kondisiku sekarang.
Sekarang yang harus kulakukan sampai satu minggu ke depan adalah istirahat total sampai pulih. Tapi tidak, kupikir pulih kembali sampai total itu memakan waktu yang cukup lama. Mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi kondisiku akan membaik dari sekarang.
Setelah itu aku kembali menenangkan pikiranku. Papa pergi dari ruangan ku untuk membeli beberapa makanan supaya Mama makan. Mama menarik kursi dan duduk di sisiku, tangannya menggenggam tanganku.
Terasa begitu nyaman dan hangat. Aku menyukainya, itu membuatku terasa lebih baik. Sesekali Mama tersenyum simpul terhadapku, namun dia juga terkadang termenung menatapku.
Mungkin karena dia sangat khawatir dengan kondisiku ini, jadinya dia bersikap seperti itu. Tak lama, Papa kembali membawa bungkusan nasi di dalam kantong plastik putih.
"Fera, Makan dulu. Kamu belum makan dari pagi." Papa menyodorkan nasi bungkus itu pada Mama.
Mama mengambilnya dengan senang hati, "Makasih ya, Sayang."
Mama beralih duduk di sofa, kini Papa-lah yang duduk ditempat Mama sebelumnya. Aku ingin menoleh sepenuhnya, namun alat di leherku menahannya. Papa terdiam saat melihatku, dia tidak menunjukkan ekspresi senang, sedih, atau ekspresi apapun.
Aku juga tidak mengerti. Ruangan ku hening selama beberapa saat, yaitu saat Mama makan nasi bungkus pemberian dari Papa. Selang beberapa saat kemudian, Mama berdiri dan menghampiri Papa.
"Aku pulang dulu, ya, mau bawain baju ganti buat kamu. Kamu semalaman temani Rikka, 'kan?" kata Mama.
Papa hanya bisa terkekeh kecil, "Iya, ya sudah hati-hati dijalan." jawab papa, lalu mengecup pipi Mama sekilas.
Tak lupa Mama mengelus puncak kepalaku dan pergi dari ruangan ini. Rasa hening menyelimuti antara aku dan Papa. Tidak ada satu katapun keluar dari mulut kami, kami sama-sama terdiam dan berkutik di pikiran masing-masing.
Andai aku bisa mengatakan sesuatu, pasti aku akan mengatakannya. Karena suasana hening seperti ini membuatku sedikit cemas dengan Papa. Bisa jadi Papa sedang memikirkan kondisiku sekarang atau masalah lain yang mengganggunya.
"Rikka," panggil Papa pelan.
Aku menoleh sedikit dan melihat Papa. Mataku membola, tidak percaya melihat wajah Papa seperti itu. Ekspresi Papa sangat berbeda dengan Mama ketika melihat mataku terbuka pertama kalinya.
Papa tidak tersenyum, akan tetapi matanya menangis. Matanya tidak menatapku, tetapi memandang lurus ke arah jendela yang berada di sebelah kiri ku. Setetes demi setetes air matanya jatuh dan mengenai pergelangan tanganku.
Pria yang hebat. Apakah sedari kemarin menahan tangisnya di depan Mama?
Tak lama, Papa menyadarinya. Dia segera menghapus air matanya, setelah itu dia tersenyum kecil.
"Papa tidak ingin membuat Mama kamu lebih sedih hanya karena Papa ikut menangis kemarin," kata Papa. "Syukurlah.. Akhirnya kamu sadar juga, Rikka. Papa sangat khawatir." katanya lagi.
Tidak dapat dibendung lagi, air mata Papa kembali turun dan membasahi pergelangan tanganku. Aku tetap tidak percaya bahwa Papa juga sangat mengkhawatirkan aku.
"Papa minta maaf, selama ini Papa tidak bisa mengerti isi hati kamu, Nak. Papa memang egois, hingga akhirnya membuat kamu terbaring di tempat ini." tangan Papa teralih mengusap air matanya.
Hatiku sakit ketika melihat Papa dan Mamaku menangis karena aku. Aku kembali menatap atap ruanganku, disanalah aku mulai berpikir mengapa aku harus hidup dengan banyak alat seperti ini dan membuat kedua orang tuaku sedih. Lebih baik Tuhan mengambil nyawaku daripada seperti ini.
Aku cukup terkejut saat Papa mengangkat tanganku perlahan dan menggenggamnya. Dia kembali menangis tersedu-sedu, berulang kali dia meminta maaf atas penyesalannya selama ini.
Dia tersadar saat aku berada di dalam keadaan seperti ini, dia mengakui keegoisannya dirinya itu. Aku menjadi iba melihat Papa yang seperti ini, aku bahkan tidak ingat penyesalan apa yang telah dia lakukan dulu terhadapku.
Tangan kiri ku terangkat untuk mengusap kepalanya, seolah mengatakan semua baik-baik saja, seperti apa yang mama ucapkan sebelumnya.
Papa mulai kembali tenang, dia menaruh tanganku yang digenggam olehnya. Lalu, Papa menghapus air matanya.
"Maaf juga, ya, Papa terlihat menyedihkan di depan kamu." ujar Papa kemudian terkekeh kecil.
Jika saja aku bisa meresponnya dengan baik, mungkin aku bisa membuat lelucon tentangnya.
Papa menghela napas panjang, matanya tak lepas dari jendela yang memantulkan sinar merah matahari. Sekarang hari sudah memasuki senja, malam akan segera tiba dan menyelimuti bumi di beberapa bagian.
Kepala Papa tertunduk, "Mulai sekarang, Papa janji akan menjaga kamu dengan baik."
Aku tersenyum di dalam hati, Papa ternyata adalah sosok pria yang sangat rapuh. Aku sangat senang memiliki orang tua yang begitu peduli padaku. Setidaknya itulah yang bisa mensyukuri hidupku saat ini.
•Satu Tahun Kemudian.....
Kondisiku sudah pulih sepenuhnya, tinggal terapi berjalan untuk membuat aku berjalan lebih lancar lagi. Luka yang kudapatkan di sekujur tubuhku sudah sembuh dengan baik.
Baik Papa dan Mama merasa sangat senang atas pulihnya kondisiku ini. Beberapa bulan lalu, aku meminta permintaan kepada orang tuaku ketika aku sudah benar-benar pulih, mungkin aku akan memintanya hari ini.
"Pa, Ma. Aku mau menagih janji kalian waktu itu," kataku dengan senyum meriah.
Tanganku di belakang menyembunyikan sesuatu untuk dijadikan sebuah permintaanku.
Papa ikut tersenyum, "Iya, kamu mau apa memang?" jawabnya.
Mama menganggukkan kepalanya, kedua orang tuaku mulai penasaran. Aku juga tidak sabar meminta janji mereka.
"Tapi, Papa dan Mama harus jujur, ya?" kataku.
"Iya, Sayang." balas Mama.
Mendapatkan perjanjian serius dari mereka, aku mengeluarkan benda dari belakangku dan menunjukkannya.
Papa dan Mama terkejut bukan kepalang, ekspresi tercetak sangat jelas di wajah mereka berdua.
"Ini foto aku dengan Rian. Aku ingat Rian itu calon suamiku, tapi aku masih enggak ingat dia tinggal dimana sekarang. Apa aku sama Rian sudah menikah?" itulah pertanyaanku yang harus mereka jawab jujur.
Karena saat aku menemukan foto-fotoku bersama Rian, aku mulai mengingat dirinya. Akan tetapi, rasanya puzzle di kepalaku masih belum sempurna. Rasanya ada beberapa bagian yang terlewatkan, namun aku tidak mengingatnya.
Papa dan Mamaku tidak menjawab, mereka terdiam di tempatnya. Suasana di ruang tamu menjadi dingin dan hening. Aku yakin pasti mereka memiliki cerita yang tidak aku ingat sama sekali.
"Pa? Ma? Kenapa diam?" tanyaku sedikit gemetaran.
Firasat ku tentang cerita ini sangatlah tidak baik. Ada sesuatu yang besar sudah terjadi diantara aku dan Rian, orang tuaku pasti tahu sesuatu. Namun, mereka takut menceritakannya.
"PAPA! MAMA!" aku mulai membentak keduanya.
Tiba-tiba Papa berdiri dengan keras hingga bangkunya terjatuh.
"Rian..." ketika hendak Papa ingin melanjutkan, Mama sudah meneruskannya lebih dulu.
"...sudah meninggal." sambung Mama.
Aku membatu. Tak sengaja bingkai di tanganku terjatuh dan pecah. Pandanganku menjadi buram, tubuhku mendadak merosot ke lantai.
Papa dan Mama segera menghampiriku, tetapi aku tetap membatu.
"Rikka, maafin Papa dan Mama menyembunyikan tentang Rian selama ini. Kami tidak mau kam—"
"Bohong, 'kan?" balasku cepat memotong kalimat Papa.
Mama mulai berlinang air mata, dia menggeleng kecil. "Enggak, Rikka. Kita enggak bisa menolak kenyataan sebenarnya."
Jawaban dari Mama membuatku kecewa, pandanganku beralih pada Papa. Berharap mendapat kebenaran dari sana. Namun, Papa tidak menjawab pertanyaanku. Dia memilih mengalihkan pandangannya dariku.
Mataku mulai diisi air yang bersiap turun menjadi sebuah tangisan.
"Rikka, kamu ingat kan malam itu? Saat Rian melamar kamu di restoran?" ujar Mama.
Ah, benar. Rangkaian cerita tersusun di benakku. Kembali ke malam dimana saat itu Rian memang melamar diriku. Ketika itu aku merasa sangat bahagia, aku pun menerima lamaran romantisnya itu.
Semua orang bertepuk tangan dan memberikan selamat atas jadinya kami. Aku memeluk Rian dengan erat, Rian membalas pelukanku dengan bahagia.
Saat itulah, aku tersenyum tiada henti juga air mata membanjiri wajahku. Aku bahagia, namun jauh di dalam hatiku, terdapat setitik luka yang begitu terasa. Pikiranku mulai berpikir tidak jernih akibat lamaran romantis ini.
Dan malam itu aku dan Rian bersama di restoran, juga langsung membahas jadwal pernikahan kami.
Tepat saat restoran itu tutup, aku dan Rian segera pulang ke rumah. Rian mengantarku menggunakan motornya. Jalan raya sudah sepi pengendara karena jam sudah mulai larut malam.
Aku memeluk erat Rian, tidak percaya bahwa dia akan melamar dan membuatku tersipu didepan banyak orang. Tapi, aku bahagia bisa dilamar olehnya dan menuju kehidupan yang baru, begitulah pikirku.
Kami berhenti di lampu merah, aku berbincang dengan Rian soal rencana lamarannya. Ketika sedang asyik mendengarkan ceritanya, tiba-tiba mobil dari belakang melaju dengan sangat cepat dan menabrak kami.
Aku dan Rian terpental. Kepalaku mengenai trotoar jalanan, darah langsung mengucur dengan deras. Sementara Rian tertimpa oleh mobil tadi hingga dia kakinya terjepit oleh mobil tersebut.
Aku menjerit keras memanggil namanya berharap bahwa Rian baik-baik saja. Aku menyadari kalau tanki bensin mobil itu bocor, menyebabkan bensinnya tumpah.
Rian yang kakinya terjepit oleh mobil terus menariknya keluar, tetapi sia-sia. Hingga akhirnya dia pasrah. Tulang kakinya sudah patah, jadi membuatnya sulit bergerak bertenaga.
Mungkin memang disinilah akhirnya hubungan kami. Rian mengangkat kepalanya, dia tersenyum padaku. Aku ingin menyelamatkan Rian, aku masih ingin bersama Rian, aku belum bahagia bersama Rian, aku ingin lebih lama bersama Rian.
Sebelum terlambat, aku berteriak lantang bahwa aku sangat mencintainya. Rian pun membalas kalimatku, dia tetap mempertahankan senyumannya dan melambaikan tangannya.
Beberapa detik setelah itu, mobil itu meledak dengan keras. Api membakar jalanan dengan cepat dan tandas, membakar semua yang berada di sampingnya. Termasuk Rian.
Tubuhku membeku melihat kejadian tragis ini. Api yang menyulut membuat beberapa pengendara panik dan segera menghubungi pemadam kebakaran juga polisi.
Aku menjerit kesakitan. Bukan karena bocor di kepalaku, sakit di relung hatiku mengetahui fakta ini. Fakta tragis yang sudah menghancurkan hubunganku dengan Rian, calon suamiku. Aku terus menjerit melengking sampai-sampai pita suaraku hampir putus, air mataku juga terus mengucur deras.
Disaat itu aku hanya bisa merasakan sakitnya kehilangan Rian, laki-laki yang sangat aku cintai. Kini, sekarang aku benar-benar tidak akan lagi bertemu dengan Rian.
Aku tersadar akan ingatan itu. Aku tidak percaya bahwa Rian memang sudah tiada saat ini, kejadian itu memang sebuah kenyataan yang tidak bisa kusangkal.
Kalau saja kejadiannya berakhir seperti itu, akan lebih baik jika aku tidak mengingatnya. Seharusnya aku tidak bertanya kepada Papa dan Mama ku mengenai hal ini, biarlah menjadi kenangan yang tragis.
Aku pun menangis kembali ketika mengingat kejadian itu. Mama memelukku dengan lembut, juga Papa mengelus puncak kepalaku dengan halus.
Malam itu adalah malam dimana kenangan terakhir ku dengan Rian.