Seorang anak kecil sedang berjongkok di depan semua minimarket dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Gadis kecil itu seperti sedang menunggu seseorang untuk menjemputnya. Namun hingga jam menunjukkan pukul tujuh malam masih tidak ada seseorang datang. Penjaga minimarket sedari tadi memperhatikan anak kecil tersebut, lalu berjalan menghampirinya.
"Apakah kamu sedang menunggu orang tua mu?" tanya petugas tersebut.
"Ibuku berkata bahwa dia hanya pergi untuk sebentar saja. Ibu bilang hanya akan pergi untuk membeli sesuatu di pasar" jawab anak kecil tersebut.
petugas minimarket itu pun hanya bisa tersenyum sembari memberikan sebungkus roti coklat dengan susu coklat u***. lalu mengelus kepala gadis tersebut. "kalau kamu sudah lelah menunggunya masuklah kedalam toko, dan aku akan membawa mu bersamaku ke rumah ku, lalu besok aku akan membawa mu kembali ke sini untuk menuggu ibu mu" setelah mengatakan hal tersebut wanita yang sudah berusia hampir empat puluh tahun memasuki minimarket lalu kembali melakukan tugasnya.
setelah menunggu ibunya datang, gadis kecil tersebut memakan makanan yang diberikan oleh wanita tersebut.
"Ibu apakah ibu akan datang menjemput ku?" lirihnya. "Ibu tidak sedang membuang ku kan." tanyanya pada diri sendiri.
menunggu ketidakpastian, dan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan jam kerja wanita paruh baya tersebut selesai. Dia berjalan keluar dari toko, lalu menguncinya. karena anak kecil tersebut tidak masuk kedalam toko, wanita paru baya tersebut berpikir bahwa anak kecil itu pasti telah pergi. Namun tebakannya salah. Anak kecil itu masih ada di sudut minimarket dan sudah tertidur lelap.
wanita itu mengeluarkan hapenya lalu menghubungi seseorang. "Hallo ibu" jawab seorang pria di seberang sana.
"Zo, kamu lagi di rumah? bapak kamu mana? tanya wanita itu
"Bapak belum pulang bu, kenapa? ibu udah mau pulang?"
"ibu udah pulang, motor ada di rumahkan. jemput ibu sekarang ya" pinta wanti itu kepada putranya Enzo.
"ya udah, ibu tunggu sebentar ya, Enzo jalan sekarang"
"Hati-hati nak. oh'ya jangan lupa kamu bawakan jaket kamu satu ya, soalnya ibu butuh" setelah mengatakannya wanita itu mematikan panggilan suaranya.
tidak menuggu lama, hanya lima belas menit saja, Enzo sudah tiba di depan minimarket tempat wanita itu, Sarah ibunya.
saat hendak menghampiri ibunya, Enzo kaget dengan sosok anak kecil yang berusia sepuluh tahunan sedang tertidur beralaskan paha ibunya. Enzo berjalan dan menghampiri ibunya.
"Dia siapa bu" tanya Enzo penuh selidik kepada gadis kecil itu.
"Ibu juga nggak tau dia siapa nak. tapi dari tadi siang dia hanya menangis di depan sini. katanya sih sedang menunggu ibunya. tapi sampai sekarang ibunya juga tidak kunjung datang"
Enzo yang mendengarkan penjelasan ibunya hanya membentuk huruf O di mulutnya. namun saat ibu nya membangunkan wanita tersebut Enzo kembali bertanya
"Ibu mau ngapain?"
"Ibu mau bangunin dia lah, masa kita tinggalin dia sendiri sini".
mendengarkan penjelasan ibunya Enzo hanya bisa menundukkan kepala.
Sesampai dirumahnya, Enzo membaringkan tubuh gadis itu di kamarnya. karena tidak mungkin gadis itu tidur dikamar orang tuanya kan.
setelah kepulangan suaminya Bagas, Sarah menceritakan semua tentang kejadian yang terjadi kepada gadis kecil itu, dan meminta izin agar gadis kecil yang belum mereka ketahui namanya siapa untuk tinggal bersama dengan mereka, sampai menunggu orang tuanya datang menjemput dia kembali. dan Bagas memberikan izin tersebut.
**
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tepat hari ini sembilan maret dua ribu dua ribu dua puluh gadis kecil yang tadinya hanya bisa menangisi dan menunggu orang tuanya didepan minimarket genap berusia tujuh belas tahun. dan selama itu juga ibu yang dia rindukan, ibu yang dia selalu tunggu, dan ibu yang selalu ditangisi setiap malam tidak kunjung datang.
"Selamat pagi Zahrah" sapa Bagas.
"Pagi Ayah" Zahrah menghampiri pria yang sudah merawatnya tujuh tahun terakhir ini dan sudah memberikan kepada Zahrah kasih sayang yang dia tidak bisa dapatkan dari orang tua yang tega membuangnya. Lalu memeluk erat Bagas
"Ibu mana yah" Lanjut Zahrah
Bagas lepaskan pelukannya lalu memberikan kecupan di kening Zahrah. "bentar lagi ibu kamu sama abang kamu sampai"
"Dari mana yah? ini kan masih pagi ibu pergi kemana? "
"udah kamu duduk aja, nanti juga kamu tau" jawab Bagas.
Dan benar saja, tidak lama menunggu akhirnya Sarah yang sudah di anggap sebagai ibunya menghampirinya dengan sebuah kue coklat yang bertuliskan /Selamat uang tahun putri ibu, Zahrah/ dan dua lilin angka 17. Melihat kedatangan ibu dan abangnya yang selama ini ada bersama dengan dirinya melewati masa sulit, air mata tidak bisa dibendung lagi, dan mengalir membasahi pipinya.
Zahrah berlari menghampiri Sarah lalu memeluk ibunya itu sambil menangis.
"Ibu ingat ulang tahun Zahrah?"
"Kalau nggak ingat nggak mungkin beliin kamu kue ini" Jawab Enzo lalu memberikan sentilan ke kening Zahrah. "Awas ini kue jatuh, habis duit gue beliin cuman mau beliin kue ini" lanjut Enzo.
Lalu Enzo mengambil kue tersebut dari tangan Ibunya, agar ibunya dapat membalas pelukan Zahrah dengan bebas. dan alasan satu lagi agar uang yang dia keluarkan untuk membeli kue tersebut tidak sia-sia.
"selamat ulang tahun putri ibu satu-satunya" lalu memberikan kecupan di kening dan di kedua pipi Zahrah.
Zahrah yang masih menangis hanya bisa membalas dengan memeluk ibunya kembali.
"abang nggak di peluk nih" goda Enzo
"Zahrah akhirnya melepaskan pelukannya dari Sarah laku berjalan menghampiri Enzo lalu memeluk tubuh Enzo. ini adalah kali pertamanya mereka berpelukan setelah mereka sudah dewasa.
Enzo melepaskan pelukannya lalu memberikan kecupan di kening Zahrah. Kedua orang tuanya, Bagas dan Sarah melihat hal tersebut tersenyum bahagia melihat kedua anak mereka. Walaupun Zahrah bukan darah daging mereka.
--
Zahrah saat ini masih tetap merindukan Ibunya. Dan ingin menanyakan alasan mengapa ibunya membuangnya. Namun pertanyaan itu akan dia simpan waktunya akan datang mempertemukan dirinya dengan Ibu yang membuangnya. Zahrah tetap sesekali kembali ke minimarket dulu yang saat ini sudah beralih fungsi menjadi sebuah restoran. Dan duduk di dalam restoran sambil menungguNya. Namun saat ini dia tetap menjalani kehidupan keseharian menjadi putri dari Bapak Bagus, Ibu Sarah dan adik kesayangan dari Enzo.