Dara, seorang gadis berusia tiga belas tahun yang gemar menabung. Dia selalu menyisihkan sebagian uang jajan yang diberikan ibunya untuk dikumpulkan di dalam dompet kesayangannya.
"Dara, ini uang saku kamu hari ini ya?" ujar Ibunya saat memberikan uang berwarna ungu dan warna kuning kecoklatan masing-masing selembar, sebelum Dara berangkat ke sekolah.
"Iya, makasih ya Bu? Dara berangkat sekolah dulu. Assalamu'alaikum" pamit Dara sembari mencium punggung tangan Ibunya.
"Wa'alaikum salam, hati-hati ya Nak?" pesan Ibunya.
"Iya Bu" sahut Dara kemudian mulai menginjak pedal sepedanya dan dikayuh menuju sekolah.
Dara juga termasuk salah satu siswi yang cemerlang di kelasnya. Dia selalu bersaing dengan temannya yang juga pintar untuk meraih peringkat terbaik.
Saat jam istirahat, Dara beserta temannya yang bernama Siska menuju kantin untuk membeli makanan guna mengganjal perut mereka yang mulai menagih jatah.
"Kamu mau beli apa Ra?" tanya Siska pada Dara saat tiba di kantin dan hendak memesan makanan.
"Hmmm ... Siomay deh sama es teh tawar" sahut Dara.
"Itu aja Neng? Cemilan sama kue-kue basah banyak tuh, masih komplit. Kalo istirahat kedua udah abis biasanya" ujar Mang Akin si pemilik kantin menawarkan dagangannya.
"Ya udah deh Mang, sama pastelnya dua buat nanti siang,hehe.." sahut Dara dengan santai.
"Dua doang Neng? Masih banyak tuh, dua mah ngga cukup, hehe.." ledek Mang Akin.
"Ya-elah Mang, emang ngga cukup sih pastel dua doang tapi duit saya yang ngga cukup kalo buat beli banyak-banyak. Mamang mau ngasih gratis tiga lagi?" timpal Dara.
"Wah kalo gratis segitu sih Mamang rugi atuh Neng.. ,hehe.." seloroh Mang Akin.
"Tuh kaaan... Ya udah dua aja, jangan protes terus" ujar Dara sambil manyun.
"Iya-iya.. galak banget sih Neng? hehehe.." timpal Mang Akin sembari tersenyum meledek Dara.
"Emang kamu dikasih uang sakunya berapa Ra?" tanya Siska.
"Lima belas ribu" sahut Dara.
"Oh, masih bisa beli pastel satu lagi dong Ra? Kok bilangnya ngga cukup?" protes Siska.
"Aku kan mau sisain buat ditabung uangnya, masa mau dihabisin buat jajan semua?" timpal Dara.
"Kamu rajin nabung ya Ra? mulai kapan kamu nabung?"
"Dari aku masih SD kelas tiga. Ibuku selalu ajarin aku supaya uang jajan jangan dihabisin semuanya buat jajan, tapi dikumpulin sebagian terus masukin kotak sedekah sebagian lagi"
"Keren! Aku juga mau mulai nabung dan sedekah kayak kamu ah Ra!" ujar Siska antusias.
"Sip! Awalnya mungkin berat karena udah biasa jajan banyak tapi nanti juga terbiasa kok, yang penting niat" timpal Dara menyemangati temannya.
😨😨😨
Sepulang sekolah dan setelah tiba di rumah..
"Assalamu'alaikum Bu" ucap Dara sebelum memasuki rumah sembari melepaskan sepatunya.
"Wa'alaikum salam.. Jangan lupa cuci tangan dan kaki dulu ya Ra" sahut Ibunya dari dalam.
"Beres Bu"
Dara meletakkan sepatu di atas rak lalu meletakkan tasnya di atas meja belajar, kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan kakinya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Makan dulu Ra" ujar Ibunya saat melihat Dara sudah berganti pakaian.
"Iya Bu, sebentar. Dara mau taruh uang dulu"
Dara menghampiri tasnya untuk mengambil uang jajan yang ia sisihkan tadi kemudian beranjak masuk ke dalam kamarnya menuju lemari pakaian, dimana dompet kesayangannya tersimpan.
Namun tak lama kemudian terdengar suara Dara yang berteriak dari dalam kamarnya. Ibunya yang sedang menyiapkan makan siang pun sontak terkejut.
"IBU...!!!" jerit Dara.
Ibunya tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar Dara.
"Ada apa Ra??" seru Ibunya dengan panik.
"Bu, uangku mana?? Kenapa dompetku kosong?!" pekik Dara tak kalah panik.
"Memang kamu taruh dimana?" Ibunya balik bertanya sembari melihat dompet Dara yang kosong melompong.
"Di dompet ini, aku kan biasa taruh uang di sini. Dompetnya aku taruh di laci lemari yang dikunci. Kunci lacinya kan Ibu suruh aku simpen sendiri, jadi aku taruh di tas sekolah" papar Dara panjang lebar.
Ibunya terdiam, tampak jelas raut wajahnya yang keheranan.
"Memang uang kamu di dompet itu ada berapa Ra?" tanya Ibunya.
"Delapan ratus ribu. Gimana nih, masa uangku ilang sih Bu?" sahut Dara yang mulai meneteskan air mata.
"Coba dicari lagi, barangkali tercecer" perintah Ibunya yang ikut sibuk mencari di sela-sela tumpukan pakaian Dara di lemari.
"Tapi dompetnya tertutup Bu, masa bisa tercecer?" sergah Dara.
"Udah cari aja, siapa tau kamu yang lupa" sahut Ibunya.
Dara pun akhirnya menurut dan ikut sibuk mencari dengan tetap menggenggam dompet kosongnya, karena sisa uang jajannya hari itu tidak jadi dia masukkan ke dalam dompet tapi dia taruh di saku baju.
"Ngga ada Bu...!!" ujar Dara nyaris putus asa.
Ibunya menghela nafas dalam, dia pun keheranan dan bertanya-tanya. Dara tak menyalahkan Ibunya karena memang Ibunya sama sekali tak ikut campur dengan uang tabungan anaknya itu.
Bahkan jumlah dan dimana terakhir kunci laci lemari itu Dara simpan saja dia sama sekali tak tahu.
"Kamu yakin ga lupa naruh atau mungkin dompet itu dibawa kemana-mana terus kamu ga tau kalo isinya jatuh, atau malah dicuri orang??" tegas Ibunya.
"Dara yakin banget Bu, Dara ga pernah bawa dompet ini kemana-mana. Pasti Dara taruh di laci lemari ini kok! Malah kunci lacinya Dara taruh di tas" ujar Dara penuh keyakinan.
"Hmm... Ya udah, kamu ikhlasin aja Ra. Mudah-mudahan bisa ketemu lagi uangnya kalo memang masih rejeki kamu" saran Ibunya membesarkan hati Dara.
"Tapi kan udah banyak Bu, sayang dong?" rengek Dara.
"Ya emang sayang sih, tapi mau gimana lagi? Udah, kamu mulai nabung dari awal lagi aja. Hari ini masih ada sisa uang jajan kan?"
"Masih, ini" sahut Dara seraya mengeluarkan lipatan uang kertas dari saku bajunya.
"Ya udah, uang itu kamu simpen aja di dompet. Taruh lagi di laci, tapi kamu harus yakin ga salah naruh ya?" perintah Ibunya.
Dara mengangguk lalu membuka dompet kosong yangs sedari tadi digenggamnya dengan kondisi resleting tertutup rapat.
Dara kembali terkejut saat membuka dompetnya, kali ini disertai keringat dingin dan mata yang terbelalak.
"Kenapa lagi Ra??" tanya Ibunya yang ikut terkejut.
"I - ini... Uangnya....ada Bu!!" seru Dara tak percaya.
"Masa??" sahut Ibunya penasaran sembari melihat ke dalam dompet Dara.
Ternyata benar, deretan uang kertas berwarna merah muda itu berjajar rapi di dalam dompet Dara. Hal aneh itu sontak menggugah logika mereka supaya cepat berpikir secara logis.
Sayangnya tak semua hal bisa dipecahkan secara nalar, seperti keanehan yang baru saja dialami dengan mata kepala mereka sendiri.
Namun bagi Dara dan Ibunya, kejadian itu cukup sebagai pengalaman hidup mereka saja. Tak ingin dibesar-besarkan apalagi sampai membuat nyali menciut. Yang penting, uang Dara sudah kembali.
S E L E S A I