Dinda meletakkan sepeda usang di tempat parkir sekolahnya. Hari ini adalah jadwal piketnya, alasan terbaik mengapa dia berangkat pagi-pagi sekali.
Dinda berlari menuju kelasnya. Namun,
langkah kakinya berhenti ketika siluet seorang laki-laki berada di dalam kelas. Gadis itu mengintip dari balik jendela, dia lupa jika Ali juga piket hari senin. Dinda merasa ragu untuk memsuki kelas hingga dia menunggu Ali selesai membersihkan bagiannya.
Dinda itu tipikal gadis pendiam yang tak punya teman tetap di kelas. Dia juga menjaga jarak dengan laki-laki karena mereka selalu mengejeknya.
Namun, Muhammad Ali Devino--murid pindahan 3 bulan yang lalu. Siswa nakal dengan penampilan urak-urakan yang memiliki IQ tinggi dan selalu mendapat peringkat satu hingga mampu menggeser Dinda menjadi peringkat ke-2.
Ali selalu menjahili anak perempuan di kelasnya, tapi tidak dengan Dinda. Seolah perempuan itu tidak pernah ada di kelas sepuluh IPS 2, tapi itu hanyalah pendapatnya saja.
Melihat laki-laki itu keluar dari kelas, Dinda pun segera memasuki kelasnya. Dia meraih sapu dan mulai membersihkan barisan yang belum disapu oleh Ali. Gadis itu menggeser satu persatu kursi lalu menyapunya dan menata kembali setelah selesai dibersihkan.
Dinda tersenyum menatap papan tulis putih yang telah bersih dan berganti tanggal. Dulu gadis itu harus membawa kursi agar bisa mengganti tanggal papan tulis karena tinggi badannya tak sampai. Padahal jadwal piketnya semua laki-laki kecuali dirinya, tapi tetap saja tidak ada yang mau melakukannya. Bahkan dulu dia yang menyapu seluruh kelas sendirian di saat jadwal piketnya, tapi setelah ditambah oleh kehadiran Ali, Dinda tidak perlu susah-susah membawa kursi untuk mengganti tanggal di papan tulis dan setidaknya dia tidak piket kelas sendiri.
Selesai membersihkan kelas, gadis itu kembali duduk di kelas menunggu jam pelajaran di mulai. Teman-temannya datang, eh ralat hanyalah orang yang datang disaat butuh.
"Gimana Yul, motor kamu kemarin? Udah dibenerin?"
"Udah, kemarin dibawa ke bengkel. Oh iya nanti pulang bareng, ya?"
"Iya, tenang aja."
Seperti biasa, Dinda hanyalah menjadi pendengar disaat teman-temannya mulai berceloteh. Tidak ada yang mau mengajaknya ngobrol jika bukan tentang hal pelajaran, tapi Dinda memaklumi itu. Dia memilih menyibukkan diri dengan mengerjakan soal di bukunya.
"Rajin banget, Din?" tanya Dessy, wanita dengan mulut cempreng yang duduk di depannya.
"Iya."
"Oh iya, punya kamu nomer tujuh apa jawabannya?" sudah dia duga, ujung - ujungnya pasti menanyakan jawaban.
Dinda meletakkan bulpointnya, "Aku belum jawab yang itu ...."
"Ouh."
"Des! PR-mu udah selesai?" tanya Dio.
"Belum, kenapa emang?"
"Mau nirun, bohong pasti!"
"Nirun Dinda sana, dia kan yang paling pinter!" celetuk Anik membuat gadis yang merasa namanya disebut mendongak.
"Ogah, bocah sombong kek gitu mana mau," gumaman Dio yang masih bisa didengar oleh Dinda bahkan beberapa teman sekelasnya yang sukses membuat hati Dinda terluka, kenapa semua orang di kelas itu membencinya? Bahkan jika ada yang bersikap baik, di belakang pasti membicarakannya.
Seperti biasa gadis itu seolah menulikan telinga, semua ucapan yang terasa nylekit itu tak pernah dia balas. Sekali lagi Adinda hanyalah gadis pendiam. Dan siapa yang bisa gadis itu harapkan untuk membelannya? Tidak ada.
......
Bel istirahat berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas. Sementara Dinda, gadis itu selalu keluar yang paling akhir. Meski begitu, hari ini ada yang lebih akhir lagi.
Seorang laki-laki dengan baju putih yang telah dikeluarkan, siapa lagi jika bukan Ali. Laki-laki itu tertidur sejak jam pelajaran tadi, untung saja guru yang mengajar mereka sudah tua, sehingga sulit untuk menyadari keberadaan Ali yang berada di pojok belakang.
"Hoaam ... " Mendengar Laki-laki itu mulai terbangun, Dinda buru-buru keluar dari kelas. Gadis itu hanya takut Ali akan membullinya seperti teman-teman yang lain. Dinda memegangi dadanya, merasakan jantungnya yang menggila sehabis berlari.
Orang bilang teman yang tidak akan menusuk dari belakang adalah laki-laki. Apakah seorang Adinda Muhaningsih pernah punya teman laki-laki? Jawabannya ya.
Gadis itu dulu pernah punya. Di saat dia berumur 7 tahun, Dinda pernah memiliki seseorang yang pernah menjadi temannya. Seseorang yang pergi setelah menyelamatkannya. Bahkan meski orang itu ada di dekatnya, gadis itu yakin orangnya telah lupa.
Dinda melanjutkan langkah menuju perpustakaan, setidaknya di sana dia dapat bertemu teman-teman yang berbaik hati mau mengajaknya bicara meski dari kelas lain.
Tiba-tiba saja gadis bertubuh gemuk tanpa sengaja menabraknya hingga tubuh kecil Dinda terpental ke belakang menubruk seseorang. Menyadari siapa yang ada di belakang Dinda, gadis bertubuh gemuk itu segera berlari tanpa berniat menolongnya.
Seorang laki-laki dengan baju olahraga memandang sengit wanita yang terjatuh di depannya. "Lo punya mat--" ucapannya terhenti saat melihat siapa yang terjatuh. Dia-- ia Angga, salah satu dari sekian siswa yang membenci Adinda.
"Elo rupanya," Dinda menunduk tidak berani menatap wajah itu. Gadis itu hendak berlari, tapi Angga mencengkram kuat lengannya.Dinda berusaha menahan rasa sakit di lengannya, tapi justru membuat Angga tertawa bersama kedua temannya.
"Sakit? Rasain!" Angga memanggil pacarnya. Gadis dengan rambut pendek itu mengampiri mereka.
"Ada apa Sayang?" tanyanya.
"Mana gunting kamu? Aku pinjem." Gadis berambut pendek itu menyerahkan gunting yang sengaja dia bawa karena di kelasnya sedang ada tugas prakarya.
"Pegangin dia!" perintah Angga pada kedua temannya, sedangkan pacarnya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Angga sambil bersedekap.
"Ma-mau ngapain?" Dinda mulai ketakutan. Tubuh gadis itu bercucuran keringat.
"Potong rambut elo!" ucapnya tepat di samping telinga. Gadis itu menggeleng kuat, Dinda menyukai rambut panjangnya, dan itu satu-satunya hal yang mengingatkan dia bahwa dirinya pernah punya seorang teman.
Rambutnya jangan dipotong ya, aku suka rambut kamu yang panjang
Kenapa? tapi rambut kamu pendek?
Ha ha ha, laki - laki itu rambutnya emang pendek, Din....
Memori itu terus berputar di otaknya membuat gadis itu makin berontak.
Bruk!
Tiba-tiba Angga jatuh tersungkur, seorang laki-laki menarik Dinda hingga menjauh dari tempat itu. Wajahnya tidak terlihat karena laki-laki itu berdiri di depan membelaknginya.
Dinda menurut, mungkin saja laki-laki itu ingin menolongnya, begitulah pikiran gadis itu.
Laki-laki itu membawanya masuk ke UKS dan mengucilkan mereka di dalamnya, membuat Dinda seketika merasa panik.
"Ka-kamu mau apa?" ucapnya gagap, kedua jantungnya makin berpacu. Laki-laki itu mulai berbalik dan sukses membuat gadis itu terkejut.
"Al-Ali?" Laki-laki itu Ali, murid nakal yang tidak pernah mengganggunya atau mengajaknya berbicara, satu-satunya siswa yang memiliki otak encer di kelas.
Ali diam, raut wajahnya menyiratkan kemarahan yang justru membuat Dinda sukses menjatuhkan air matanya.
Gadis itu menunduk malu, malu setiap hari menunjukkan ketidakberdayaannya di sekolah, malu menunjukkan betapa tidak sosialnya di sekolah, malu dengan segala keterdiamannya meski setiap hari dia di bully, entahlah Dinda merasa sangat pecundangpecundang di hadapan teman kecilnya.
Laki-laki itu mendekat ke arahnya, memperpendek jarak mereka. Dinda sama sekali tidak bergerak. Gadis itu hanya pasrah oleh apa yang akan dilakukan teman kecilnya, ralat mantan teman kecilnya, karena dia yakin Ali sudah lupa dengannya.
Gadis itu tertegun, Ali mengelus rambutnya dengan lembut, lalu menarik tubuh Dinda ke pelukannya membuat gadis itu menangis.
"Ini saatnya ... keluarin semuanya, semua rasa sakit yang mereka berikan," ucapnya sambil mengelus punggung gadis itu.
Hingga beberapa saat gadis itu berhenti menangis, tapi semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ali.
Aku tidak ingin bangun jika ini hanyalah mimpi!
"Ini bukan mimpi bodoh!" suara bariton diikuti oleh tawa kecil setelahnya berhasil membuat Dinda tersadar jika itu bukanlah mimpi.
Gadis itu mendongak menatap wajah Ali dari jarak yang dekat. Dia meraba setiap inci wajah itu, wajah yang sangat dia rindukan dengan kehadirannya. Wajah yang dulu menggemaskan kini berganti dengan postur tubuh tinggi dan rupa yang sungguh indah dipandang.
Dinda dan Ali memang satu kelas, bahkan sudah dua bulan Ali pindah ke sekolahnya. Tidak satu haripun mereka pernah berbicara.
Ali yang notabennya anak nakal, tapi juga kesayangan para guru karena prestasinya, serta fans perempuan yang tak sedikit. Banyak siswi yang menyukainya, tapi tidak secara terang-terangan karena Ali bukanlah tipe laki-laki yang suka pada gadis yang mengejarnya.
"Rindu," terdengar lirih bahkan nyaris tak terdengar, satu kata yang membuat Aili terkekeh. Laki-laki itu menjauhkan tubuhnya lalu sedikit menarik lengan Dinda.
"Sakit?" tanyanya melihat gadis itu meringis saat Ali menarik lengannya. Ia berjalan mengitari Dinda menuju ke arah laci kecil. Ia mengambil kotak P3 K lalu menyuruh Dinda untuk duduk di brankar.
"Mau apa?"
"Aku obatin." Ali mulai membuka tutup saleb dan perlahan mengoleskan salebnya pada lengan gadis itu.
"Sekali-kali harus berani lawan, jangan cuma diem. Diem nggak akan pernah nyelesain masalah," ucap Ali disela-sela mengoleskan salebnya.
"Nggak bisa ... " perlahan air mata itu turun lagi. Ali selesai mengobati lengan Dinda lalu memasukkan kembali kotak itu ke dalam laci.
"Gadis cengeng," ucap Ali sambil menghapus air mata Dinda.
"Biarin," gadis itu menatap ke arah lain.
"Ngambek, gitu aja ngambek!" cibir ia itu tahu Dinda tidak bisa mengeluarkan emosinya jika bersama teman - teman sekelasnya.
"Maunya diapain biar nggak ngambek?" kata-kata yang dulu biasa Ali tanyakan jika gadis itu kesal. Tapi rasanya kata itu jadi ambigu untuk mereka yang sekarang.
Gadis itu hanya menggeleng, Ali tak habis pikir, bagaimana bisa Adinda yang dulunya ceria, sewaktu remaja menjadi gadis yang pendiam seperti ini?
"Ya udah .... "
"Jangan pergi!" Dinda menahan lengan Ali yang hendak beranjak membuat Ali kembali duduk.
"Kita masih teman, kan?" tanya gadis itu.
"Iya, kamu temanku." Gadis itu tersenyum, bukan senyum tipis biasa, tapi senyuman lebar yang memperlihatkan deretan gigi rapihnya.
"Mau lebih juga boleh."
END
Pesan moral :
Teman sejati akan selalu ada meski telah lekang oleh waktu, karena dia yang peduli tak harus berkata 'Aku peduli' tapi cukup dilihat dari tindakannya saja.
______________________________________