Siang itu, hujan turun sangat deras, petir menggelegar tiada henti. Seorang ibu yang sudah tua, kira kira usianya sekitar 50 an ke atas, sedang berteduh di bawah pohon ,bersama dagangan pecelnya yang masih lumayan banyak.
Fatima nama ibu itu, dia adalah seorang janda miskin ,yang sudah lama ditinggal oleh suaminya 15 tahun yang lalu. Fatima tinggal bersama anak laki laki satu- satunya, bernama Amir, yang sekarang umurnya 14 tahun.
Walaupun hidupnya miskin, tetapi Fatima mampu menyekolahkan Amir ,sama seperti anak anak yang lain.
Fatima menekuni berjualan pecel, sejak Amir berumur 8 tahun, wanita itu berdagang berkeliling menawarkan pecel ke setiap rumah- rumah, sampai nanti ,dia tiba di pasar. Jadi untuk itu, dia berjalan kaki saat berdagang.
=====
Fatima melamun, memikirkan kejadian 3 hari yang lalu, ketika Amir, anaknya itu mengamuk, minta di belikan sepeda motor.
Fatima :" Nak, mana mungkin ibu bisa beliin kamu motor, sudah bisa makan sehari hari saja, ibu sudah sangat bersyukur." tuturnya pada anak semata wayangnya itu
PRANG...PYARR.
Suara piring yang di lempar dari atas meja. Membuat Fatima tersentak ,seketika memegangi dadanya.
Amir : " Belikan Amir motor..kalo tidak ...Amir tidak mau pulang.." , anak yang tidak takut durhaka itu ,membentak, dan memaksa sang ibu untuk membelikan motor.
Fatima : " Tapi Nak..dari mana ibu mendapatkan uangnya?" jawab wanita itu, dengan mulai mengeluarkan air mata.
Amir : " Bodo...Amir gak mau..pokoknya ibu harus beliin Amir motor."
Fatima hanya meratap sambil menatap anak semata wayangnya itu. Dalam hati, wanita setengah baya itu, beristigfar, melihat kelakuan buah hatinya seperti ini.
Amir : " Ibu!!" bentak Amir lagi, melihat ibunya nampak hanya diam saja.
Fatima : " Astauhfiruallah Nak,..jangan seperti itu,..." ucap Fatima, melerai anaknya, karena terlalu kasar padanya.
Amir. : " Bodo...pokoknya kalo gak di beliin, Amir gak mau tinggal di rumah ini lagi, titik." tegas Amir, kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah.
Fatima segera berlari mengejar anaknya , sambil berteriak.
" Nak..nak..tunggu nak..kembali....." air mata kepedihan mengalir begitu saja.
Fatima berjalan lemas sembari masuk, lalu di atas kursi kayu yang agak rapuh itu, dia duduk, sambil melamun mencari cara agar bisa mendapatkan uang banyak ,demi membelikan sepeda motor untuk anak semata wayangnya.
" Ya Tuhan...hamba serahkan semua kepadamu,..tapi hamba mohon..bantulah hamba keluar dari kesulitan ini..." doa Fatima dalam hati.
( flashback selesai)
***
Tak terasa, wanita setengah baya itu, sudah lama berada di bawah pohon, tapi hujan malah semakin deras. Bagaimana dia bisa pulang.
Di bukanya dompet kecil yang dia sisipkan di dalam kain yang di pake, dan itu baru mendapatkan uang 10 ribu rupiah, padahal Fatima sudah menarget untuk menabung setiap harinya, sebesar 100 ribu, agar dia bisa membelikan motor untuk Amir.
Fatima lantas menggeleng, merasa berdosa, karena menjadi kurang bersyukur, hanya demi tekad itu.
Itu bukan kebiasaannya, tapi..sungguh..wanita itu merasa sangat tak berdaya.
***
Hujan akhirnya berhenti, tapi wanita itu memilih tinggal lebih lama dibawah pohon, sebab Fatima tidak berani pulang. Dia tidak ingin Amir marah kepadanya, karena tidak mendapatkan uang.
Hingga malam tiba, Fatima memutuskan untuk pulang, berharap anaknya sudah tidur. Wanita itu berjalan dalam kegelapan malam, tubuhnya merasa lemas, dan kepalanya merasa pusing. Fatima berhenti sebentar, sambil beristigfar menahan rasa yang tak karuan itu.
Sebuah mobil melintas, dan sang sopir tidak melihat keberadaannya yang sedang berdiri di tepi jalan, sehingga mobil itu menabraknya ,dan Fatima jatuh ke sungai kemudian terbawa arus.
***
Fatima merasa sadar dan membuka matanya. Pemandangan yang indah dan asri, sungai sungai dengan air yang jernih, mengalir, dan di dalamnya nampak ikan yang besar besar. Pohon buah buahan berbuah lebat, dan dapat di jangkau tangannya ,bila ingin memetik buah tersebut. Hati Fatima merasa nyaman tinggal disini.
" Tempat apa ini,..ya Tuhan..sungguh engkau maha pengasih..." gumannya dengan senang dan tersenyum.
" Selamat datang ibu...saya adalah pelayan ibu di sini,.." sambut 3 orang wanita yang sangat cantik, wajah mereka bercahaya.
" Kalian siapa...dan kenapa kalian mau melayaniku..aku....." fatima bingung, ingin berbicara apa, dia benar benar seakan berada dalam alam yang berbeda.
" Ibu pantas menerima pelayanan dari kami..karena ibu termasuk orang yang sudah di pilihkan oleh Raja kami."
Fatima menjadi bengong, dan semakin bertambah penasaran. Tapi dalam hatinya dia juga tidak memungkiri, bahwa dia juga merasa nyaman tinggal di tempat ini.
Fatima tersenyum..apakah ini adalah surga...Maha besar Tuhan atas segala kuasanya. Bathin dia terus bersyukur tiada henti.
Hingga sebuah suara terdengar olehnya, dan suara itu begitu akrab ditelinganya.
" Ibu..huhuhu..ibu...bangun ibu..., ibu...ibu..bangun...maafkan Amir bu..ibu..ibu..."
Fatima tersentak, dan beristigfar.
" Astagfiruallah..Amir...Amir..anakku....". Fatima bangun dari duduknya dan segera mencari Amir..
Datanglah tiga pelayan cantiknya, mereka tersenyum dan menyapa...
" Ibu...kami akan selalu menyambut dan melayanimu selamanya di alam ini, tapi kami tidak bisa memaksakan pilihanmu.."
" Apa maksud kalian..." balas Fatima ,tidak mengerti dengan ucapan salah satu pelayan cantiknya. Pelayan itu hanya tersenyum..seolah menantikan keputusan darinya. Fatima semakin bingung.
" Bangun..bu..hu..hu..Amir tidak punya siapa siapa selain ibu, Amir sayang sama ibu..bangun bu..Amir berjanji, tidak lagi minta sepeda motor, Amir mau nurut sama ibu..bu..bangun bu...!"
Fatima tersenyum mendengar rintihan anaknya, itu memanggilnya. Dia adalah buah hatinya, dia adalah harta satu satunya di dunia ini. Dengan adanya Amir, Fatima semangat berjalan hingga beribu ribu kilometer, demi mencari uang untuk menafkahi buah hatinya itu. Fatima rela waktu tidurnya berkurang, demi mencukupi kebutuhan mereka. Fatima juga kuat menghadapi segala ujian hidup, untuk selalu bersabar ,hanya untuk anaknya seorang.
" Anakku Amir..engkau adalah kebahagian ibu...Amir sayang...ibu ingin menjadikanmu orang yang kuat, kelak dalam menghadapi hidupmu."
" Tolong Tuhan..berikan hamba kesempatan ..semua itu demi anakku.
***
Fatima terbangun, dan segera di peluk oleh Amir.
" Ibu..alhamdulillah..ibu masih selamat..ibu..maafkan Amir..Amir akan jadi anak yang patuh dan menyanyangi ibu..."
***
tamat
semoga bisa di jadikan bahan renungan ya..