Langit tengah menumpahkan beban yang telah ia simpan selama ini, orang-orang sibuk mencari tempat berlindung.
Di sebuah kafe, terlihat seorang gadis tengah duduk sendiri, sambil meminum kopi untuk menghangatkan tubuh.
Tak lama seorang pemuda datang, rambutnya sedikit basah, mungkin terkena tetes hujan, didepan kafe.
Melihat atensi gadis yang ia cari, pemuda itu pun duduk dihadapan gadis yang dari tadi mengulas senyum.
"Kamu kehujanan?" Tanya gadis itu.
"Nggak kok, aku datang pake mobil, rambutku cuma basah sedikit kok" balas pemuda itu.
Senyum masih terlihat diwajah gadis itu, tapi siapa yang tahu isi hati seperti apa?
"Maaf, padahal aku yang ngajak ketemuan, tapi malah aku yang telat" ujar pemuda itu.
"Santai sih, aku ngerti kok, Diego kan lumayan sibuk" balas gadis itu sambil mengeluarkan laptop dari tasnya.
Hening, canggung, itulah keadaan yang menggambarkan suasana kedua insan ini, hingga akhirnya pelayan datang, dan menanyakan pesanan.
"Aku pesan cappucino aja deh, Binar pesan apa?"
"Aku...tambah lagi black coffee nya, sama chocolate cake aja deh" balas gadis bernama Binar itu, tanpa melepas pandangannya dari laptop yang baru saja ia hidupkan.
Selesai mencatat pesanan, pelayan itu pun pergi, suasana kembali canggung, tak ada yang berniat membuka pembicaraan.
Binar, menatap sendu layar laptopnya, dalam hati merutuki garis takdir yang benar-benar kejam.
Tapi tak ada yang bisa ia lakukan, siapapun tak bisa melawan takdir bukan?
Dalam diamnya, Diego sibuk memperhatikan atensi gadis cantik yang ada dihadapannya, kenapa harus jadi seperti ini? Perasaan membingungkan terus mengganggu pikiran pemuda berusaha 23 tahun ini, ia seorang dosen, tapi kenapa harus bingung dengan perasaan yang ada dihatinya?
"Ini pesanannya"
Tak sampai 15 menit menunggu, pelayan itu datang dengan pesanan milik Diego, dan Binar.
Binar sedikit menggeser laptopnya, lalu mulai memakan potongan chocolate cakenya.
Melihat itu, Diego menghela nafas lembut.
"Kamu nggak berubah ya, masih tetap suka kombinasi aneh itu" ujar Diego sambil menyesap cappucinonya.
Mendengar kata-kata Diego membuat Binar terkekeh kecil.
"Memangnya kenapa? Aku suka coklat, tapi aku juga suka kopi" balas Binar sambil meminum black coffee nya.
Manis, setelah itu pahit, Diego benar, inj memang kombinasi yang sedikit unik.
"Kita...benar-benar tidak berubah ya, aku tetap menjadi kopi, si pahit yang dibenci, dan kau tetap menjadi coklat, si manis yang di sukai" gumam Diego, cukup pelan, tapi Binar dapat dengan jelas mendengarnya.
"Siapa yang bilang kalau kopi selalu dibenci, kopi juga bisa menjadi kesukaan orang loh, contohnya aku" balas Binar, menyisakan chocolate cakenya setengah, dan kembali berkutat dengan laptopnya.
Mendengar balasan dari Binar membuat Diego sedikit kaget, tapi langsung ia tepis pikiran itu, tidak..tidak boleh seperti ini lagi.
Keheningan lagi-lagi melanda meja ini, hanya ada suara musik jazz dari cafe, suara langkah orang yang berlalulalang, serta suara hujan yang belum juga berhenti.
Apa hujan tahu isi hati kedua insan ini? Itu sebabnya ia terus jatuh, tanpa ingin berhenti.
"Binar"
Yang dipanggil hanya membalas dengan lirikan, lalu kembali menghadap ke laptopnya.
"Maaf"
(Maaf karena semuanya harus jadi seperti ini, maaf karena menghacurkan hatimu, maaf aku masih terus merepotkanmu, maaf karena aku masih membutuhkanmu, maaf dengan keegoisanku, maaf atas semua yang aku lakukan.)
Banyak yang ingin ia sampaikan, tapi ia tak sanggup mengatakannya, dan pada akhirnya hanya satu kata itu yang mampu terucap.
"Maaf untuk apa? Diego tidak bersalah kok" balas Binar.
Bohong jika hatinya tak sakit, bohong jika ia bisa fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan di laptopnya, karena pada kenyataannya, ia hanya berusaha mengalihkan padangan, kemanapun...asal bukan bertatapan dengan pemuda yang selalu ia cintai.
"Maaf" suaranya terdengar bergetar, ia menahan tangisnya, tak mungkin ia mengangis sekarang, bukankah harus seorang pria itu kuat? Tegar? Tapi kenapa sekarang ia benar-benar rapuh?
Binar menghela nafasnya pelan, ia tahu kemana topik ini akan dibawa, ia tahu, tapi ia tak ingin mendengarnya, setidaknya...ia belum siap mendengarnya.
"Tidak ada yang salah, Diego tidak salah, aku juga tidak salah, kita juga tidak bisa menyalahkan takdir, jadi berhenti mengatakan maaf, karena tidak ada yang salah, dan tidak ada yang perlu dimaafkan" ujar Binar yang akhirnya memutuskan untuk menatap iris hitam milik pemuda dihadapannya.
"Diego tau? Kisah yang tertulis dalam novel, dalam film, dalam dongeng, atau bahkan yang ada didalam lagu, semuanya tidak selalu berakhir dengan happily ever after, bukan?" Binar terus berbicara sambil menampilkan senyum terbaiknya, walau hanya sekadar senyum palsu.
"Semua kisah punya akhirnya masing-masing, entah itu good ending, atau bad ending, tapi yang pasti kita harus menerima ending itu" perlahan tapi pasti, suara Binar mulai terdengar bergetar.
"Bohong memang jika aku bilang, aku sudah menerima ending yang aku dapat, tapi aku masih berusaha, dan Diego... kamu juga harus berusaha menerima ending itu" senyumnya semakin dipaksa, matanya berkaca-kaca, tapi ia masih terus menahan air mata itu.
Diego tertegun, ia bingung harus mengatakan apa, semua yang Binar katakan...semua itu benar, mau tak mau Diego tetap harus menerimanya, ini pilihan yang telah ia buat, dan ia harus menerimanya.
"Dan, ngomong-ngomong, lihat ini? Bagaimana, bagus tidak? Dekorasinya sesuai kok untuk kalian berdua, Diego, dan Cindy sama-sama suka dekorasi yang simple seperti ini kan?" Tanya Binar sambil menunjukan layar laptopnya pada Diego.
Diego menatap layar laptop itu, disana terlihat contoh dekorasi untuk rencana pernikahan...Diego, dan Cindy.
Didominasi dengan warna putih, dan soft pink, sederhana, tapi terlihat modern,
Binar benar-benar pintar dalam bidang ini.
"Iya..bagus" puji Diego.
"Kalau begitu aku bakal bicarain ini sama teman-temanku, tenang, pernikahan kalian pasti bagus, gaun untuk Cindy juga udah aku siapkan, kue, catering, semuanya udah di urus kok" ujar Binar.
"Makasih, dan maaf,padahal aku yang mau menikah tapi malah kamu yang repot" gumam Diego.
Binar menutup laptopnya, dan memasukannya kembali ke tasnya, lalu ia kembali menatap Diego.
"Nggak masalah kok, aku senang bisa membantu" balas Binar sambil tersenyum lembut.
Diego hanya diam, rasanya ingin kembali ke masa lalu, dan memperbaiki semuanya, memperbaiki hubungannya, antara ia, dan Binar.
Andai waktu itu tidak terjadi kesalahpahaman, andai waktu itu Diego bisa mengontrol emosinya, andai ia mendengarkan penjelasan Binar, andai ia menahan binar, agar tidak pergi, andai ia melakukannya, maka yang tertulis disana bukanlah Diego&Cindy, tapi Diego&Binar.
"Oh iya, aku punya sesuatu untuk kamu, tolong diterima ya...
Binar menggantungkan kata-katanya, lalu mengeluarkan kotak berukuran sedang, dengan bungkus kado berwarna coklat, dengan hiasan pita berwarna gold.
"Aku tau masih belum, tapi aku mau ngucapin ini sekarang... selamat yaa atas pernikahan kalian" ujar Binar.
Diego masih diam, tak tahu lagi harus berkata, atau berbuat apa.
Ketika keduanya masih dilanda keheningan, pemuda tinggi datang menghampiri kedua insan itu.
Tanpa bersuara, ia melepas jaket yang ia pakai, dan memasangkannya ke bahu Binar.
Sedikit kaget, membuat Diego, dan Binar langsung menoleh ke arah sang pelaku.
"Ryan?" Gumam Diego pelan.
Ryan, sang pemuda tinggi, dengan rambut hitam khas Asia, dan iris abu-abu yang cocok dengan kulitnya yang putih, hanya menampilkan senyum lebar, ketika Binar, dan Diego terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba.
"Kamu minta jemput kan ? Maaf ya lama, agak macet soalnya" ujar Ryan sambil mengelus pucuk kepala milik satu-satunya gadis, diantara mereka bertiga.
"Iya, nggak masalah kok, aku duluan ya, Bye Diego" ujar Binar, sambil melambaikan tangannya kearah Diego.
"Oh iya kamu tunggu di mobil aja ya, ada yang mau aku omongin sama Diego, bentar aja kok, dan pesanan kamu tadi udah aku bayar kok" Ryan berbicara sambil menatap lembut Binar.
"Iya" balas Binar, lalu pergi.
Meninggalkan kedua pemuda yang masih menatap sinis satu sama lain.
"Kalau bukan permintaan Binar, gua nggak bakal mau ngebiarin dia ketemu sama lo lagi" ujar Ryan, yang kini sudah duduk di kursi yang tadinya ditempati oleh Binar.
Diego masih terdiam, ia tak bisa membalas perkataan, dan aura intimidasi dari sahabatnya ini.
"Gua, Alex, Reno, Diandra, kita berempat nggak nyangka kalo bakal jadi begini, dan lo bener-bener bikin kita kecewa" sambung Ryan.
"Lo tega, ngebiarin Binar hujan-hujan an cuma buat ngejelasin kesalahpahaman, yang ujung-ujungnya nggak lo dengerin, padahal kondisinya lagi down banget, kita beneran nggak ngerti sama jalan pikiran lo" Ryan terus berbicara, ia ingin mengeluarkan semua kekesalan yang ia pendam selama ini.
"3 tahun kalian pacaran, dan ini udah 1 tahun semenjak kalian putus, tapi gua masih heran, 3 tahun bro, tapi lo bertingkah seolah lo nggak tau tentang dia? Lo tau dia punya anemia berat, jangan kan lari dari rumah sakit ke cafe ini, berdiri 15 menit panas-panaskan aja di nggak sanggup, lo tau itu"
"Lo marah karena ngeliat dia jalan bareng cowok, dan lo nuduh dia macem-macem, tanpa berniat tau kebenaran, sepupunya bro, cowok itu sepupunya, lo putusin hubungan kalian secara sepihak, lo hancurin hatinya...padahal lo udah janji sama gua, klo lo bakal terus jaga dia"
"Well...jadi sekarang, gua minta sama lo, jangan ganggu tunangan gua lagi, urusin aja calon istri lo" ujar Ryan sambil menatap tajam Diego.
"Gua permisi"
Ryan pergi, meninggalkan Diego yang masih terdiam, dengan sejuta penyesalan dalam dirinya.
Diego menatap hadiah pemberian Binar, lalu membukanya, ia kaget ketika melihat isi hadiah itu.
2 buah jam, berwarna gold, nampaknya itu ada sebuah jam couple, tapi bukan itu yang Diego pikirkan, ia ingat jam ini, semasa ia masih bersama Binar, Diego sempat ingin membeli jam couple ini, tapi karena keperluan dadakan, ia harus batal membelinya.
Diego tersenyum pahit, mengingat kini ada wanita yang harus ia jaga, wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya kelak, ia benar-benar harus melupakan Binar.
Lagi pula bukankah itu adil? Binar kini bersama orang yang selalu mencintainya dengan tulus, orang mencintainya sejak lama, Binar sudah bersama Ryan, teman masa kecil, yang sekarang telah resmi menjadi tunangannya.
Adil...bukan?