Firza bertemu dengan'nya' lagi di kafe, gadis yang setiap sore selalu hadir dan tidak pernah absen untuk datang ke kafe walaupun hanya sekedar memesan minuman lalu pergi. Firza terus menatap matanya yang indah dan menenangkan itu.
Sayang sekali, Firza hanya bisa menatap bola mata indah tersebut hanya dari kejauhan, sering juga Firza melihat si gadis tengah tersenyum, dan hal tersebut membuat si gadis terlihat sangat manis dan cantik.
"Hei, berapa lama lagi kau akan menatap gadis itu terus," ucap salah satu teman kerjanya yang menyidukku memandangi gadis itu.
Firza menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hampir semua teman kerjanya mengetahui bahwa Firza menyukai gadis tersebut. Namun, Firza selalu takut untuk mengungkapkan perasaannya. Dasar.
"Jika kau suka kejar saja dan dapatkan dia," lanjutnya sambil menepuk bahu Firza, membuat si waiter tersebut hanya mengangguk. Nyatanya sampai sekarang dirinya masih ragu untuk menyatakan perasaannya.
"Nih antarkan ini ke meja gadis itu dia memesan ini tadi," ucap temannya itu sambil memberikan pesanan tersebut pada Firza yang langsung di terimanya.
Kemudian pemuda tersebut beranjak pergi menuju meja gadis itu. Firza tau nama gadis itu, karena dirinya pernah tidak sengaja mendengar seorang teman gadia tersebut menceletukkan namanya yaitu Salwa.
"Permisi ini pesanan anda nona," ucap Firza ramah.
"Ah iya, terima kasih.. Firza?" jawab gadis itu sambil membaca nametag milik Firza sedangkan cowok itu hanya tersenyum simpul, padahal di dalam hatinya sudah meronta-ronta.
Apakah ini yang dinamakan orang yang sedang jatuh cinta? Terasa menggelikan dan sangat bodoh. Tapi aneh, Firza menyukai perasaan ini.
"Baik saya permisi dulu nona," ucapnya sambil tersenyum lalu pergi. Namun, saat ia pergi gadis tersebut malah memanggilnya. Firzapun langsung menghentikan langkahnya.
"Tunggu dulu," tahan Salwa membuat Firza menoleh.
"Iya? Apakah pesanannya ada yang kurang?" tanya Firza dengan ramah, dan hanya di balas gelengan oleh Salwa.
Firza tidak bisa menghadapi situasi ini sekarang karena si gadis tersebut tersenyum, dan senyuman itu hanya untuknya. Perlu kalian ketahui lagi.
Hanya. Untuk. Firza.
Salwa lalu menuliskan sesuatu dalam kertas kecil lalu melipatnya dengan rapi. Setelah itu Salwa kembali menatap Firza sambil terswnyum dengan tangan yang memberikan sebuah kertas lipatan tersebut.
"Ini untuk kamu, tolong di bacanya saat aku pergi ya," lanjutnya sambil memberi sebuah kertas pada Firza.
Sedangkan pemuda itu hanya menurut dan mengangguk. Gadis itu tersenyum menatap kepergian Firza lalu melanjutkan kegiatannya.
Beberapa saat kemudian setelah kafe tersebut sudah di bersiap untuk tutup Firza langsung membaca isi kertas tersebut. Seperti kata si gadis, saat ia pergi baru boleh di baca dan Firza pun membacanya saat gadis itu pergi. Lebih tepatnya saat sudah tutup kafe nya.
Ternyata itu adalah surat. Surat tersebut berisi ajakan dari si gadis agar bertemu dengannya di sebuah taman bunga. Firza tidak tentunya tidak dapat menyembunyikan senyumannya.
Salah satu teman Firza yang penasaran itu pun sedikit mengintip ke arah isi kertas kecil yang di genggam oleh Firza. Lalu tersenyum menggoda ke arah Firza.
"Ciee di ajak ketemuan," goda temannya itu membuat Firza menatap temannya itu datar.
"Hehehe, yaudah sana ketemuan ini kan udah jam pulang," lanjutnya membuat Firza mengangguk lalu mengganti bajunya.
"Aku pulang dulu," ucapnya lalu pergi.
Sesuai dengan janjinya, Firza datang ke sebuah taman bunga di pinggir kota. Pemuda tersebut celingukan, seperti anak ayam yang kehilangan induknya.
"Hei, Disini!" seru Salwa membuat Firza yang awalnya celingukan lasung tersenyum dan berjalan ke arah si gadis.
"Hai," sapa Firza dengan sedikit kaku membuat Salwa hanya terkekeh.
"Eh kamu dateng ternyata kukira tidak," ucap gadis itu membuat Firza tersenyum.
"Sebelumnya kenalkan namaku Salwa," ucapnya sambil mengadahkan tangan. Firza mengangguk dan membalas salaman tersebut. Walau sebenarnya dirinya sudah tau nama dari si gadis.
"Namaku, Firza," Salwa hanya mengangguk dengan senyuman manisnya. Astaga, bisa-bisa Firza diabetes karena senyuman manis dari si gadis.
"Kenapa kamu ingin kita ketemuan disini," matanya menatap mata Salwa yang indah itu. Entah kenapa dia jadi di mabukkan oleh mata milik seorang gadis di depannya ini.
"S-sebenarnya aku.... menyukaimu, Firza."
Ucap Salwa sambil menunduk malu dan memainkan jarinya dengan memelankan suara di kata terakhir. Namun Firza masih dapat mendengarnya, dirinya agak terkejut karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Firza dengan cepat menetralkan ekspresinya, meskipun begitu dirinya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang membuncah. Firza langsung menggenggam jemari si gadis dan menatap mata indah yang selalu ia suka.
"Aku juga suka sama kamu, suka sekali."
Mendengar hal tersebut Salwa menjadi terkejut. Ternyata Firza juga merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan selama ini.
Sebenarnya selama ini Salwa hanya alasan ingin membeli makanan dan minuman di kafe. Padahal tujuan awalnya hanya untuk memandangi wajah tampan pemuda yang berada di depannya.
"Kalau begitu, kita pacaran?" tanya si gadis.
Firza tersenyum seraya menatap mata indah terswbut bahkan genggaman tangannya seperti tidak dapat di lepas. Ia terus menggenggam tangan mungil milik Salwa dengan erat.
"Kamu mau menjalani semua ini dengan perlahan dulu? Biarlah waktu yang menjawab."
Mendengar jawaban tersebut membuat Salwa tersenyum dan mengangguk dengan semangat, "Iya, aku mau."
Fin.
Makasih yang udah dateng buat membaca
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa!
(๑°꒵°๑)・*♡