Inilah takdir yang harus di terima oleh anak mu zul.., dengan kesediaan mu menimba ilmu di hutan terlarang ini maka kelak anak perempuanmu juga akan kembali ke tempat ini.
mata itu belum sempat mengedipkan kedua kelopak yang menggantung di wajah paruh baya seorang nenek di pedalaman hutan sumatra.
di gelap malam yang begitu pekat zulkarnain seorang panglima perang kerajaan srijaya menimba ilmu beladiri khas pedalaman dengan penuh keberanian.
"aku tidak akan berhenti di tengah-tengah perjuanganku bahkan setelah sejauh ini"
"Aaaaghh....."
"raja? anda tidak apa-apa?"
"hhhhh air!"
"baiklah aku akan mengambilkannya untukmu...,"
"istriku... biarkan pelayan yang mengabilnnya kau temani aku di sini"
"apakah gerangan yang membuat raja begitu khawatir hingga begitu sering memimpikan hal-hal buruk?"
"aku kembali memimpikan dirinya.., wanita tua yang telah mengajariku beladiri di hutan terlarang".
"aku tidak ingin anak ku menyambangi tempat bahaya itu"
"lantas apa yang harus kita perbuat?"
"bukankah dirinya begitu lemah? untuk menyambangi tempat se belantara itu, aku tidak ingin dirinya menyesal karena telah lahir di dunia ini. aku harus kembali dan mencoba jalan lain!"
"haih... membosankan apakah ini cerita jaman-jaman yang kuno itu? tak menarik sama sekali"
(rina, seorang mahasiswi fakultas ekonomi yang sangat anti dengan semua yang berbau mistis dan tidak masuk akal)
"heh anak agnois..., klo nggak masuk di benak kamu ya taruh kembali aja ke rak kan selesai?"
(reno seorang mahasiswa jurusan seni dengan sifat bawaan yang tidak ingin mempersulit bagian-bagian otaknya dengan hal-hal sepele)
"wah ati-ati kalo ngomong ya.., gw masih percaya tuhan dan bukti-bukti keberadaanya, jangan sembarangan kalo ngomong!!"
"syussssttttt!!!!"
(semua orang di dalam perpustakaan memberikan isyarat pada dua orang sahabat yang selalu bersaing ketat dalam masalah pemahaman akan sesuatu meski berbeda fakultas)
"hhhh, sorry-sorry ada yang lagi kejepit kakinya sorry-sorry..., maaf semuanya!!"(melangkahkan kaki setelah menyenggol hidung sahabatnya tersebut dengan jarinya)
"ren... lo mau nggak temenin gw makan di kantin gw laper banget"
"uh me too, im so starving, yah sekali-kali lah traktirin kita, gw bakal sangat menerima dengan senang hati"
"ok, ya kali' lo mau traktirin gw mungkin kita dah jadian"
"uh..., sejak kapan nih si agnois pakek bahasa kode"
"gw gak bakal temenin lo lagi kalo lo pakek terus itu istilah buat panggil nama gw,"
"uh.... kode apa lagi nih??"
"kode keras"(singkat rina dengan perawakan yang sedikit gemuk dan tidak begitu tinggi berjalan meninggalkan reno)
"eh.. jadi nggak nih?!!!?"
"gak mau ya udah!!!"
Mereka pun menuju kantin kampus srijaya yang sangat terkenal dengan menu mie celornya, dengan suasana yang begitu bersih dan sejuk sangat memberikan hasrat untuk berlama-lama bagi para mahasiswa di tengah teriknya suasana kampus srijaya.
"hey..., ren, rin kalian ke sini nggak ngajak-ngajak?"
"yah gituh, tadinya pengen ngajakin tapi laper pakek banget tiara jadi kelupaan deh kamunya heum"(reno melebaikan suaranya)
"yah, kirain kamu belum keluar, aku jadinya terpaksa pergi dengan mahkluk satu ini".
(rina menikmati es boba yang sejak tadi ada di hadapanya)
"tiara kamu nggak kambuh lagi kan?"
"em entah lah, aku pun berharap setiap hari bisa bernafas lega, tanpa mengi'(asma)"
"unch unch, kita harusnya mencari udara segar setelah semester ini berakhir untuk paru-paru kamu!!!"
"wah..., cocok!!! daki gunung kita!!!!"
(reno begitu bersemangat"
"just for ciwi-ciwi aja lah, ngapain ngajak lu ren!!"
"dassar lu rin..., liatin aja, gw juga bisa ndaki gunung tanpa harus pusing ada ato nggaknnya lo!!".
ya kan pak indra...,!!" ujar reno menepuk pundak OB kantin yang selalu membuat kantin begitu bersih dan di balas senyuman olehnya.
"eng? kamu juga baca buku ini? kerajaan srijaya,
kalau nggak salah ini buku juga menceritakan panglima perang yang sempat menjadi raja kan...?!"
"wah kamu selain seni juga suka bahasan seperti ini ya ra'..., beda ma sampingmu yang sukanya sesukanya aja hihihi"
"sudah ku bilang aku nggak suka model kode-kodean kamu"
"dah, dah, kalian tuh cocok kok, jadian aja jadian, nanti juga akan ada titik temu dari prespektif kalian berdua".
(....)(reno)
(...)(rina)
"ini lah takdir dari darah turunan buyut ku entah apa yang membuatku selalu terpacu kembali mempercayai hal itu, karena setiap kali kesempatan itu muncul aku merasakan ada hal yang tak ingin berlalu".
"gunung dempo sebuah gunung dengan hamparan kebun teh begitu sejuk nan indah ini nih, yang perlu kita datangin di liburan kali ini".
"eng..., gunung dempo yah."
"aku sih ngikut aja, cuma yakin kita mau kesana dengan bertiga aja?"
"o enggak donk, kita hanya butuh satu orang lagi untuk menjadi berlima"
"what?"(rina)
"berempat ren?"(lirih tiara)
"em.., ya., kan ... rina di itung ...Aaaaa aduh... sakit!!! sakit!!!(di cubit tanpa sempat menyelesaikan perkataanya)
"aku mau mau ikut sama kalian , kira-kira boleh enggak?"
"euh bbboleh-bboleh banget lah rob boleh banget kok, aku juga seneng kalo kamu ikut"
"ini nih yang nggak aku suka dari kamu..., bisa-bisanya langsung tertarik sama sahabat aku,"
(reno sewot)
"ih, emangnya kita punya komitmen apa sampai kamu khawatir sebelum mencoba?"
"hhhhh"(reno)
tiara dan robert hanya terkekeh melihat tingkah kedua sahabat mereka saat pertemuan terakhir mereka sebelum melakukan pendakian gunung dempo.
Hingga hari di mana pendakian tersebut di mulai, mereka mempersiapkan semua hal yang berkaitan dengan pendakian, dari tenda kompor bekal hingga partikel terkecilnya, termasuk tiara yang sudah mempunyai firasat yang begitu jauh setelah mendengar kata gunung dempo yang akan menjadi destinasi pendakian mereka.
"tiara.., nenek hanya menyampaikan pantangan dari buyutmu jangan pernah menatap mahluk yang tak perlu kamu lihat"
"bila nanti kamulah yang menepati janji buyutmu itu, lepaskanlah seseorang yang sudah menunggumu dari jauh untuk mengalahkan makhluk itu".
"aku mungkin tak pernah tahu akulah yang akan menepati janji itu atau bukan, yang pasti hari ini dengan semua perlengkapan dan pusaka yang di beri nenek tak akan aku sia-siakan jika memang akulah yang menemuinya"
"kau sudah melewati batas wahai anak muda.., kau sudah melampaui pantangan yang ku berikan".
"aku tidak punya pilihan lain, aku tidak ingin anakku menyambangi tempat ini, jadi ku putuskan untuk membunuh mahluk itu sekarang"
"hhhhhhh kau ingin membunuhnya sekarang? (ujar wanita tua yang dahulu menjadi guru zulkarnain)
Dengan tatapan hampir tak percaya zulkarnain yang sudah begitu lama berguru dengan nenek tersebut terbelalak dengan sesosok ular besar yang menatapnya tajam, bahkan dengan ukuranya yang begitu tak masuk di akal manusia membuat kaki zulkarnain tak mampu berdiri dan terjatuh.
"Huaah.... buku ini sudah berapa abad, bahkan ceritanya semakin tak masuk di akal, seperti anggapan tokoh utamanya di dalam buku ini"
"hei kamu tuh baca buku seperti itu sudah ku bilang tidak cocok untuk mu, hal-hal yang semacam itu akan bertolak belakang dengan pemikirannmu yang selalu menolak mistis, sudah lah tak perlu di baca lagi!"
"hhhhh, suatu hal yang pernah ada dan pernah terjadi itu bukan lah hal yang tidak masuk akal, tapi hanya saja kita tidak pernah mengalami hal tersebut, atau dengan perubahan zaman yang kita alami hal tersebut menjadi suatu yang sangat aneh".
(rina dan reno hanya meneguk liur mendengar kata-kata tiara yang sepertinya mempercayai penggalan cerita dari buku yang di baca rina)
"yah sepertinya aku harus mengikuti saran reno untuk tidak kembali membaca buku ini".
Akhirnya setelah beberapa lama mereka beristirahat kali ini mereka melanjutkan perjalanan di saat matahari yang mulai gelap, bahkan rute yang mereka lalui akan memakan waktu empat hari bila berjalan dengan cepat.
"kamu datang..., untuk menepati janji lelurmu"
bisikan-demi bisikan berulang-ulang membisik di telinga tiara, namun karena begitu lirihnya hingga teman-temanya tidak mendengar, meski dengan jelas ia merasakan bahwa dirinya di awasi oleh sesuatu yang ada di tempat lain.
"aku tidak yakin ada makhluk mitologi yang dapat berbicara, atau apalah itu yang pasti aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
dengan langkah yang penuh siaga tiara merasakan kegelisahan yang lebih di antara teman-temanya bahkan lebih dari rasa takut yang di rasakan rina dan reno,
"tolong!!!!!!"
"tolong!!!!!!"
"tolong!!!!!"
"em.. guys?!"(rina)
"gw juga denger (reno)
"udah, ada baiknya kita terus berjalan karena suara tersebut sepertinya ada di arah depan".
ujar robert yang memungkiri bahwa arah suara tersebut jelas-jelas ada di belakang mereka.
"tunggu' (mengeluarkan pusaka dan kini menggenggam erat di tangan kanan)
"udah lah, kita jalan aja, jangan ambil resiko di tempat seperti ini"(lirih rina di depan)
"atau kita bisa menunggu dan memastikan di sini"
"ok kita pastikan di sini dan lihat suara itu melintas di sini atau tidak, sementara kita bersembunyi di sini".(robert)
"huhhhh,...., huft.., huhhhh"
Mereka yang baru saja melihat sosok seseorang yang bersimbah darah dengan bau amis khas darah yang keluar dari tubuh laki-laki tersebut hanya mampu menahan nafas dan berharap mereka tida di temukan atau di lukai,
mang'..., nak kemane mamang tu...? (kak mau kemana ?)
"nak belahi ade ulah besak nak ngejah!!(mau lari ada ular besar mau ngejar)
Tiba-tiba tiara dengan logat khas pedalaman menanyai sosok tersebut tanpa ragu, dengan memunculkan dirinya dari semak-semak, dengan senjata parang pusaka khas yang dimiliki keluarganya turun temurun.
"keluargeku keturunan raja sri indra tapi lah berape keturunan kami dek(tidak) mampu menghabisi RA' (ular besar)"
"ooo. ok.., aku nak cube mbantu mamang cuman tarokkan lah tombak itu di tanah dulu( aku mau coba bantu kakak tapi taruh dulu tombak itu di tanah dulu).
robert, rina, dan reno hanya menggigit jari dan mandi keringat dingin menyaksikan apa yang terjadi di depan mereka.
dengan tiba-tiba desisan ular besar terdengar jelas menandakan kehadiran ular besar yaitu ra' berada di sekitar mereka tepat di belakang tiara.
"jangan lihat jangan lihat wajahnya!!!!"
Namun kata-kata tiara tak di hiraukan oleh pemuda tersebut dan menatap bola mata besar yang menatap tajam ke arahnya sebelum saat tubuhnya di sambar oleh ular tersebut bahkan membuat tubuh tiara terpental karena tubuh ular tersebut.
ketiga temanya pun tak luput dari kecemasan setelah beberapa bagian tubuh dari pemuda tersebut terpental ke arah mereka.
"kau hanya ku kasihani sejatinya tak kan ada perlindungan meski kau tidak melihat wujudku, dan teman-temanmu akan menjadi santapanku berikutnya, sebelum fajar akan ku pastikan nyawa mereka akan ku renggut satu demi satu"
lirih suara yang kembali seolah berbicara dengan tiara yang kini merasakan getaran yang dahsyat di kakinya meski belum melihat sosok tersebut secara langsung.
Mengetahui kedatanganya belum cukup untuk menghabisi mahluk tersebut dan di tambah kehadiran teman-temanya yang menjadi titik lemah terbesar tiara sadar bahwa pilihan terakhir yang harus ia tempuh adalah kembali mendatangi tempat ini sendirian. dan ia dengan cepat mengajak teman-temanya berlari menyusuri jalur turun yang sudah mereka daki dengan rasa gugup yang terus membayang dari lenyapnya nyawa seseorang oleh sosok besar nan menyeramkan.