Sugalinem. Anaknya bapak Sugali. Bromocorah kelas kambing, beda tipis tingkatannya dari versinya bang Iwan. Dan sampai sekarangpun, Ia tak tahu letak perbedaannya. Waktu itu emaknya hanya mengangguk pasrah. Air ketubannya pecah. Sedangkan Bapaknya teriak- teriak Sugali, Gali, Ali. Tak bermaksud menyakiti emaknya, Ia pun lahir.
"Sugali anakku sudah lahir! Gali sudah lahir! Ali anakku sudah lahir!"
Sungguh menggelikan polah Bapaknya. Berguling- guling, tak menganggap makian dunia terhadapnya ada. Bapaknya mulai tertarik pada kata insyaf. Suratan tangannya berada dalam genggaman Sugali.
Sugali lah takdir Bapaknya. Tanpa niat melawan, pun ketika kedua tangannya terbelenggu borgol polisi. Hidup Bapaknya yang arahnya keliru, mengacuhkan dan terus menyerang batasan hukum, waktunya berhenti. Atau terhenti? Tak beda.
Sugalinem. Sugali yang perempuan.
Emaknya menyambutnya ramah. Juga bahagia. Karena Ia? Karena Bapaknya masuk bui tuk kesekian kalinya? Atau, ada lelaki parlente mengambil mereka berdua dari rumah bidan tetangganya? Karena lelaki parlente itu membawa mereka berdua dengan mobil mewahnya pergi dari lingkungan kumuhnya yang semrawut?
Lelaki parlente yang membawa empat tukang pukul mengaku sahabat Bapaknya. Mengaku akan menjaga mereka sampai Bapaknya bebas. Mengaku akan memberi mereka makan. Mengaku baik.
Emaknya bisa apa?
Tinggal bersama lelaki parlente itu, Emaknya beralih pekerjaan. Bagi Emaknya, ada sedikit kesulitan. Tak cukup hanya mengatakan 'Ia tak mau lagi'. Emaknya harus berkali- kali menolak. Dan semuanya berakhir dengan ancaman. Kau atau anakmu nanti sebagai gantinya. Pilihan sulit.
Seandainya suaminya tidak teler malam itu, kedatangan lelaki parlente itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Emaknya ingin jadi Ibu rumah tangga yang baik. Dan suaminya mewujudkan itu. Suaminya sudah menjadikan hidup dan kehidupannya lebih baik. Tidak lagi bergelimang dosa. Suaminya, suami yang baik. Walau dunia mengutuknya, menyebutnya sampah. Suaminya bukan sampah. Karena bersama suaminya lah, keajaiban cinta itu ada. Dialah Sugalinem.
Sebetulnya buruk. Menyampaikan tanpa sungkan, kebaikannya sepatah goresan tangan. Hanya permukaan. Awalan. Berlanjut keburukan sikap dan perilaku. Berujung kepatuhan penuh. Walau kadang masih buatnya melawan. Segala kebahagiannya pasti akan lenyap, berucap lelaki parlente itu berkehendak.
"Kau atau putri kecilmu. Silakan pilih."
Sugalinem menggantikan dirinya? Celaka. Lenyapkan saja dirinya. Jangan ganggu putrinya. Lelaki parlente itu hanya tertawa. Bukan sekarang. Tapi nanti. Dia bakal kusiapkan buat orang spesial. Tenang saja.
Emaknya meraih tangan Sugalinem kecil. "Lelap sekali tidurmu, nak. Engkau tidak tahu, ada yang ingin merusak masa depanmu. Emak harus apa? Emak bingung, nak. Engkau terlalu sayang pada lelaki itu. Padahal lelaki itu bukan bapakmu. Lelaki itu ingin menghancurkan Bapakmu. Menghancurkan kita, nak. Apa yang harus emak lakukan? Apa?"
Buatmu cacat?
***
Sugalinem remaja. Mengguratkan garis takdir sejak kecil, lelaki parlente itu mulai khawatir. Lelaki parlente itu mulai merasa jantungnya hampir mendekati garis kematian saat menemukan Sugalinem remaja menangis. Tangisan sederhana. Alasannya pun sederhana. Remaja pria idamannya ternyata telah punya kekasih.
"Dia sudah mendapatkan ciuman pertamaku, Papa. Dia milikku. Harusnya jadi milikku."
"Nyawa remaja itu ada di tanganmu. Dia milikmu. Atau bukan milik siapa pun. Papa pastikan itu."
Hari memang jahat. Waktu tak suka mengintip kematian. Waktu meminta hari menjadi laku walau bukan sebagai pemeran utama. Lelaki parlente lah lakonnya. Tunggal. Menentukan waktu dan hari nyawa remaja pria itu melayang ternyata susah- susah gampang. Yang gampangnya adalah, lelaki parlente itu terlalu kuat untuk remaja pria milik Sugalinem.
Mungkin remaja pria itu sudah menjadi mayat di jalan tol sana bersama kekasihnya. Orang bayaran lelaki parlente itu memberitahunya via telepon bersama video berdurasi singkat tempat dan mayat remaja pria itu berada, sebelum orang suruhan itu kabur ke luar Jawa. Dan susahnya adalah Sugalinem remaja bersikap terlalu naif dalam urusan asmara.
"Papi, aku mau mati saja."
"Kenapa?"
"Cinta pertamaku mati. Aku ingin menemaninya di surga sana, Papi. Dia pasti senang."
"Ngawur kamu. Memangnya kamu yakin cinta pertamamu itu bakal masuk surga?"
"Tapi katanya, aku tak boleh menghianati cintaku, Papi. Aku berdosa. Aku yang bakal masuk neraka. Aku takut neraka, Papi."
"Kata siapa?"
"Mbak Mirna."
"Kamu percaya Papi atau mbak Mirna?"
"...Papi."
"Bagus. Itu baru anak baik. Sekarang singkirkan gelas dan kaleng pembersih lantai itu dari tanganmu, sayang. Benda- benda itu kotor."
"Aku hampir mati, Papi."
"Syukurlah tidak, sayang. Dan, bukankah lebih tepat bila orang lain yang meminumnya, yang lebih pantas?"
"Siapa, Papi?"
"... bukan siapa- siapa."
***
Mati terbakar sajalah lelaki parlente itu. Menjalani takdir sebagai orang cacat bukanlah maunya. Namun sejak malam naas itu, hidupnya berubah.
"Suamiku, apa aku salah? Mencoba mengakhiri kehidupan putri kecil kita sebelum menjadi santapan para lelaki jahat kelak."
Andai lelaki parlente itu tidak mengacaukan segalanya...
"Tak mungkin memaksa. Jadilah berani. Semesta ini menakdirkanmu dan putrimu sebagai objek pelampiasan nafsu para lelaki kaya. Nikmati saja. Meski kamu menikah, darah wanita penghibur mu tetaplah kental."
"Kurang ajar kau! Orang tidak tahu diuntung! Suamiku salah sudah percaya padamu!"
"Mir, untuk apa hanya melayani satu lelaki dalam hidupmu gratis? Tubuhmu itu sumber uang. Manfaatkan. Jangan jadi wanita bodoh. Seharusnya kamu senang sudah banyak uang sekarang. Semua itu karena aku."
Takdir? Bukan. Lelaki parlente itu yang menciptakan takdirnya. Dia tak bisa menolak. Tak ada pilihan. Terpaksa.
"Ketika masih ada mas Gali, kau tak berani macam- macam. Memandang kurang ajar padaku pun tidak. Hidupmu dulu tergantung pada mas Gali, sadar diri tidak kau! Dasar penghianat!"
"Sekarang siapa yang bergantung dengan siapa? Hadapi kenyataan. Dan jangan buang- buang waktu, Mir. Uang. Waktu adalah uang."
Terlanjur. Dia hanya bisa berharap putri kecilnya itu masih percaya padanya. Hanya bisa berharap segala pemberian lelaki parlente itu tak lagi diminta kembali.
Dia tak kuasa menghentikan langkah lelaki parlente itu mengambil putri kecilnya dari kehidupannya. Lelaki parlente itu, dengan begitu lihai mengatakan pada putri kecilnya bahwa dia adalah perempuan gila. Bahwa dia hendak membunuh putri kecilnya. Bahwa dia tak pantas jadi Ibunya.
Putri kecilnya tak membutuhkannya lagu. Sedihnya Tiara terkira. Dan masih menyimpan sesal, kenapa. tak dia bunuh saja dulu, sehingga tak banyak kehilangan. Seperti sekarang.
Sugalinem tak musti ada. Seharusnya.
***
Sua dua suara berita tertulis dalam koran
tentang seorang lelaki yang sering keluar masuk bui
jadi buronan polisi.
"Sayangnya lelaki bernama Sugali suamimu itu akan membusuk dalam bui."
"Kau bukan Tuhan." Perempuan itu kembali bersuara lirik
"Berhentilah bernyanyi. Suaramu seperti kaset kusut."
"Sugalinem. Bagaimana keadaannya?" Tempelengan lelaki itu buatnya diam dalam nyanyian, "Kenapa kau melarangnya menemui lagi? Kau tak berhak. Aku Ibunya."
"Seorang Ibu yang selalu berusaha membunuhnya?Ingat, namanya Alina sekarang. Dia tumbuh menjadi remaja cantik. Kau harusnya bangga. Dan dia akan kupersiapkan jadi pelacur kelas tinggi. Simpanan para pejabat."
"Demi Tuhan. Kalau sampai ayahnya tahu kau lakukan itu padanya... mati kau!"
"Bukankah lebih baik dia bermanfaat daripada harus mati muda di tanganmu."
"Sudah cukup kau buat aku cacat. Kau jebak suamiku hingga masuk penjara. Jangan kau hancurkan juga putri kecilku! Bunuh saja aku!"
"Bunuh kau bukan ide yang buruk." Lelaki parlente itu meraih kaleng pembersih lantai yang pernah Sugalinem genggam di kamar mandi, "Bagaimana kalau kau gantikan putri kecilmu itu untuk minum ini?"
"Sugalinem?"
"Kau perempuan busuk. Menyuruh putrimu sendiri meminumnya. Kau yang tak pantas jadi Ibunya."
"Sugalinem belum..."
"Kau saja."
"Aaaaghrrr!!!"
***
Perempuan itu mati. Akhirnya. Oleh tangannya sendiri. Ia masih menyimpan sesal. Harusnya tak begini. Harusnya perempuan itu masih hidup. Tapi perempuan itu nekad. Awalnya hanya ingin menakuti. Apa daya. Ia tak berdaya.
Sejujurnya Ia tak ingin perempuan itu pergi. Namun maut tak mau menunggu. Selang beberapa menit mulut perempuan itu mengeluarkan busa, tubuh mengejang hebat, mata terbelalak, lalu mati.
Secepat kelebatan angin. Nyawa semudah kertas terbang. Langsung terbawa arus pusaran entah ke mana.
Perempuan selalu sarat hasrat hidup. Sebergairahnya akan kehidupan. Sensualitasnya adalah sumber keberhidupan lelaki.
Dan perempuan itu adalah hidupnya.
Lelaki parlente itu ingat sewaktu mereka berdua muda dulu. Ia bermain gitar. Perempuan itu bernyanyi. Suaranya paling indah di dunia. Mereka berdua lewati hari diantara hiruk pikuknya dari satu bis kota ke bis kota lainnya. Mencari receh demi receh. Tak tahu hari esok jadi apa, Ia hanya ingin mereka tetap berdua.
Perpisahan hanya menunggu gilirannya. Saat waktu mengangguk, perempuan itu tetap berlalu. Meninggalkannya. Dahulu, perempuan itu memilih malam sebagai hidupnya. Seperti Sinai, seorang tokoh wanita dalam sebuah cerpen roman. Keduanya pun berakhir sama. Mati. Oleh orang yang menyayanginya.
Rasa menyayanginya makin tak terkendali. Apalagi ketika perempuan itu menjelma jadi perempuan bertubuh indah. Pun keberadaan perempuan itu sulit Ia cari. Bukan lagi di jalan, melainkan diantara hotel berbintang lima seputaran Jakarta.
Ada jarak yang terlampau jauh. Ia benci itu.
Berlaku orang baik itu ternyata sulit. Ia memutuskan, jadi jahat pun tak apa. Asal perempuan itu dapat teraih kembali.
Ternyata merepotkan. Sedikit. Perempuan itu tak ingin Ia dekati lagi.
"Kenapa?" tanyanya kaget. Campur sedih. Sesak dadanya. "Aku udah punya cukup uang untuk menidurimu. Bahkan, kalaupun kau ingin banyak uang, aku punya."
"Jangan paksa aku." Perempuan itu terus menghindar.
"Kenapa Mir?"
" Karena... kau adalah orang dari masa lalu yang sangat ingin aku hindari."
Ia pun mulai belajar membenci. Terutama perempuan itu. Sederhana.
Ia mengerti apa makna itu.
***
Papi duduk di tempat tidur kayu jatinya ketika putrinya masuk. Papa tersenyum lebar. Bidadari kecilnya ini tak pernah membuatnya bosan.
Botol anggur kualitas bagus tergeletak tak jauh dari kakinya, tak mampu terjangkau lagi olehnya. Pusing. Setengah kabur pikirannya, Papi tetap merentangkan tangan.
"Pap, aku buatkan kopi spesial, nih."
"Hmmm... Aline, sejak kapan kamu masuk dapur?"
"Sejak kematian- kematian itu datang, Pap. Melakukan sesuatu, memakan sesuatu, membuatku tak terlalu memikirkannya lagi."
"Itu bagus, sayang."
"Tapi aku tambah gendut, Pap."
Papi tertawa lebar, "Aline, gendut pun tetap putri cantik Papi kan. Lagipula Papi suka cara kamu menangani masalah kamu itu."
"Papi benar. Selalu benar."
"Ketakutan harus dilawan, sayang."
"Tapi sepertinya Papi gak bisa minum kopi buatanku ya... Papi lagi mabuk..."
"Tak masalah, Aline. Papi bisa seruput sedikit, kok. Kemarikan kopinya, sayang."
***
Aku Sugalinem, Papi. Bukan Aline.
-Tamat-
Candu_21 (10032022)
#