Di hutan yang lembab, dedaunan yang dipenuhi bulir embun. Udara sejuk akan memeluk siapapun yang ditelannya.
Setangkai bunga yang tumbuh di bawah pohon Pinus kecil yang hampir layu, mulai membuka kuncup nya. Seorang gadis kecil tengah jongkok menanti kuncup bunga mekar dengan sempurna.
"Aku ingin melihatmu ... apa kau sangat cantik?" Ucap gadis bernama Aine itu dengan wajah tersenyum.
Sesaat menunggu sang bunga membuka kuncup, Aine kembali berdiri. Tangannya mulai meraba kayu yang menjadi penuntun jalannya.
"Apa nenek akan memarahiku? Aku jadi terlambat pulang karna menunggu Pak angsa bertelur." Aine terus berjalan dengan mengayun pelan kayu kecil yang ia genggam di tangan kanannya.
*****
Hari mulai gelap, para peri malam serta binatang malam kecil mulai bernyanyi menyambut rembulan.
Sebuah gubuk kayu dengan halaman yang dipenuhi bunga bermacam warna, menarik perhatian kunang-kunang untuk menari.
Aine berdiri tegak di depan pintu rumah kecilnya. Dia merasa takut jika saja nenek marah padanya karna pulang terlambat.
kriieeettt ...!!!
Pelan dan perlahan, Aine mulai melangkah ke dalam. Dia tidak merasa neneknya di sekitar. Aine berjalan mendekat ke kamar tempat dia dan sang nenek tidur.
Aine begitu lega saat meraba dan merasakan bahwa neneknya sudah tertidur pulas. Segera saja Aine meletakkan tongkat kayu miliknya di atas meja kecil dan segera berbaring di samping nenek tercinta.
"Selamat malam, Nenek ..." Dikecupnya sekali pipi sang nenek dan memeluknya dengan hangat.
*****
Citcit ... cuit ... citcit ... cuit ...
Burung Pipit mulai mengetuk pagi dengan nyanyiannya. Lebah madu mulai bekerja mencari sari lezat dari bunga yang indah.
Asap putih mulai keluar dari cerobong asap rumah kecil Aine.
"Cu ...! Bawakan Nenek segelas air ...," pinta sang nenek yang berbaring di ranjang.
"Iya Nek ...! Sebentar Aine ambilkan!"
Sudah setengah tahun berlalu, nenek gadis kecil itu mengalami kelumpuhan setelah kakinya di gigit oleh ular beracun saat ingin mengambil air di sungai Fay. Saat itu, Aine mengalami sakit keras hingga hampir merenggut nyawanya.
Sang nenek berusaha mencari obat untuk menyembuhkan Aine. Dia mendapat saran dari penghuni hutan untuk mengambil air sungai Fay abadi yang di jaga oleh peri Asrai si peri air.
Namun, sungguh disayangkan, Keinginan sang nenek terhenti saat mengetahui bahwa sungai itu telah di kuasai oleh seekor ular raksasa yang bernama Goro.
Tapi sang nenek tak menyerah, dia tetap bersikukuh untuk mengambil air abadi itu walau harus kehilangan nyawanya. Dan terjadilah hal demikian, sang nenek lumpuh dan tak dapat lagi bergerak seumur hidupnya.
*****
"Ini air nya, Nek ...!" Aine mengulurkan segelas air putih hangat untuk sang nenek.
Aine tersenyum ringan kearah sang nenek. Walau tak dapat melihat wajah dan keadaan sang nenek, Aine sangat tau bahwa neneknya sangat kesakitan.
Bisa ular raksasa itu, masih ada dalam aliran darah nenek. Namun, itu takkan membuat sang nenek kehilangan nyawa dengan cepat, karna Aine punya penawar nya, walau hanya untuk menghentikan aliran racun sekitar satu sampai dua jam.
Aine sungguh gelisah, dia ingin sang nenek kembali sehat seperti sediakala.
Aine meraba dan mengambil botol bening kecil yang berisi pil kecil yang menjadi penawar racun. Sekali dia menggerakkan botol itu untuk mengetahui berapa pil yang tersisa.
Sekitar dua pil lagi yang ada di dalam botol. "Nek ... Aine mau mengambil pil penawar lagi ke rumah Tuan Owl, ya! Nenek istirahat saja. Aine akan segera kembali."
Aine segera bergegas mengambil tudung biru kecil dan tongkat kayunya. Aine memakai tudung kecil itu di kepalanya dan mengikat kedua ujung tudung itu di bawah dagu.
Selesai bersiap, dia langsung menuju ke rumah Tuan Owl.
*****
Tok ... Tok ... Tok ...!
Aine mengetuk pelan pintu kayu berbentuk setengah lingkaran. Bentuk rumah Tuan Owl sangat unik. Rumah yang terbuat dari ranting dan akar pohon serta rajutan ilalang kering yang menjadi pengikatnya.
"Tuan Owl ...! Aku datang ingin mengambil obat ...!" seru Aine di depan pintu.
BAM! BRUKKK! BRAKK!!! PRANG!!!!
Aine mematung mendengar suara gaduh yang berasal dari dalam rumah Tuan Owl.
"Tuan Owl ...!!! Anda tidak apa-apa?!" tanya Aine merasa khawatir.
"Ehem! Tidak! Aku baik-baik saja ... masuk lah!" seru Tuan Owl dari balik pintu rumahnya.
"Baik ...!" sahut Aine dan segera masuk ke dalam.
Seekor burung hantu besar, memakai kaca mata bulat, memakai jas lab putih, duduk dengan tenang di atas sebuah kursi kayu.
Aine segera memberitahu tujuannya datang, "Tuan Owl, saya ingin mengambil obat penawar racun untuk nenek saya."
"Baiklah, tunggu sebentar!" Tuan Owl segera mengambil pilnya.
*****
Beberapa saat kemudian ...
"Ambilah ...!" Tuan Owl mengulurkan botol kaca kecil berisi pil penawar kepada Aine.
"Terimakasih, Tuan! Ini bayarannya." Aine meletakkan sekeping logam perak di atas meja.
"Gadis kecil ...! Bagaimana keadaan nenek mu sekarang? Dia baik-baik saja?" Tanya Tuan Owl.
Aine langsung menghentikan langkahnya. "Iya ...! Nenek baik-baik saja untuk saat ini." sahut Aine terus terang.
"Bagus kalau begitu!" putus Tuan Owl sembari menganggukkan kepalanya sekali.
"Kalau begitu ... saya permisi, Tuan!" Aine pun segera kembali ke rumahnya.
*****
"Nenek ...! Aine pulang ...!" seru Aine saat sampai di rumahnya.
Tidak jauh jarak rumah Tuan Owl dan rumah Aine, hanya sekitar sepuluh menit berjalan cepat.
Aine segera menemui sang nenek di kamar.
"Nek ...?" panggil Aine.
Tidak ada jawaban dari sang nenek.
DEG!
Aine begitu terkejut saat memegang tubuh sang nenek yang dingin seperti es.
Aine segera mengecek nadi sang nenek. Hati Aine lega merasakan nadi sang nenek masih berdenyut, tapi sangat pelan.
Tubuh sang nenek berubah membiru.
"Nek ...! Nenek tidak apa-apa kan?!!" Aine mulai khawatir saat mendengar suara deru nafas nenek yang berat dan tak beraturan.
Tak menunggu lama, Aine segera keluar untuk meminta bantuan pada Tuan Owl.
Walau buta, Aine masih memiliki insting dan jugak mata batin yang kuat dalam melihat keadaan. Dengan cepat, Aine berlari melewati pohon, dan semak belukar menuju ke rumah Tuan Owl.
TOK! TOK! TOK!!!
"Tuan ...!!! Tuan ...!!! Tolong Nenek saya, Tuan ...!"
TOK! TOK! TOK!!!
"TUAN...!!!"
CEKLEK!
Tuan Owl muncul dari balik pintu, "Ada apa? Kenapa kau terlihat pucat?!" tanya Tuan Owl heran.
"Tuan ...! Ikutlah dengan saya ...! Tolong Nenek saya ... dia sepertinya dalam keadaan buruk sekarang! Ayo Tuan ...!" Aine menarik tangan atau lebih tepatnya sayap Tuan Owl dan berlari bersama nya.
*****
Sesampai di rumah Aine, Tuan Owl segera memeriksa keadaan sang nenek yang terlihat sangat tidak baik.
"Ba-bagaiman ... keadaannya, Tuan?!" tanya Aine dengan wajah yang begitu cemas.
Tuan Owl menghela nafasnya, "Keadaan Nenek mu ... sangat tidak baik. Seluruh racun yang terserap ke dalam darahnya kini telah menyebar ke seluruh sarafnya." jelas Tuan Owl.
Aine mengernyitkan keningnya, "Sa-saya tidak paham dengan apa yang Tuan katakan, tapi saya ingin tau, apa nenek saya akan baik-baik saja?"
"Gadis kecil, aku tidak bisa menjaminnya ... sekarang tubuh nenekmu sudah membiru, bahkan nafasnya juga sudah tidak teratur." jelas Tuan Owl.
"Apa pil ini ... bisa membatu?!" tanya Aine berharap banyak dengan jawaban Tuan Owl.
"Pil itu sudah tidak bisa membantu lagi." kata Tuan Owl yang seketika membuat Aine meneteskan air mata dari mata kecilnya.
"Tapi ... sepertinya ada satu obat yang bisa membuat nenekmu sembuh total. Itu pun sangat mustahil kau bisa mendapatkannya." putus Tuan Owl dengan kecewa.
"Apa itu Tuan! Katakan saja padaku Tuan ...! Aku pasti akan menemukan obat itu berapapun biayanya!" Tekat Aine dengan tegas.
"Itu sangat mustahil, kau tidak akan sanggup mengambilnya." jelas Tuan Owl kembali.
Aine semakin dipacu emosi, "Tuan! saya mohon katakan lah ...! Saya mohon, Tuan ...!"
Tuan Owl menghela nafasnya panjang mendengar tekat Aine.
"Obat itu adalah air sungai Fay," kata Tuan Owl.
Aine tersentak mendengar itu. Itu benar-benar sangat mustahil untuk dilakukan. Ular raksasa itu pasti akan segera menelannya hidup-hidup jika dia berani mendekat, pikir Aine.
Tapi, Aine tak ingin kehilangan sosok orang yang sangat dicintainya itu.
"Tuan ... saya akan mengambil air sungai itu!" putus Aine yang membuat Tuan Owl tertegun.
"Tapi itu sangat berbahaya, gadis kecil!" Potong Tuan Owl dengan tegas.
Aine tak menjawab lagi, dia hanya menatap Tuan Owl dengar tatapan penuh tekat. Melihat sorotan mata itu, Tuan Owl hanya bisa menghela nafasnya.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji, tidak akan melakukan hal gegabah yang akan mencelakaimu ...! kau mengerti?!" Tekan Tuan Owl pada Aine yang mengangguki nya dengan cepat.
*****
Beberapa saat kemudian ...
Tuan Owl memberikan sebuah kantung kecil berwarna hitam kepada Aine. Katanya, isi di dalam kantong itu, akan membantu Aine lolos dari ular raksasa tersebut.
Aine belum tau apa isinya, Karna Tuan Owl meminta Aine untuk membuka itu saat dia sudah berjarak sekitar tiga meter dengan ular raksasa itu.
"Nek ... Aine pergi dulu, Aine berjanji akan menyelamatkan Nenek ... apapun yang terjadi!" ucap Aine dengan teguh.
Dikecup sekali kening sang nenek dan langsung menemui Tuan Owl yang menunggu di depan pintu.
"Tuan, tolong jagalah nenek saya sampai saya kembali. Saya pasti akan membalas Budi, Tuan." kata Aine penuh tekat.
Tuan Owl menghela nafasnya sekali, "Baiklah, tapi ingat! Waktumu hanya sampai matahari tenggelam. Jika saat waktu habis kau belum kembali dan membawa air itu, maka Nenek mu tidak akan bisa tertolong. Kau mengerti?!" jelas Tuan Owl yang diikuti anggukan dari Aine.
Aine segera bergegas menuju hutan Pavo, tempat peri Parva tinggal.
*****
Aine tidak bisa berjalan cepat dengan keadaan dirinya yang tidak bisa melihat. Sangat berbahaya sekali bagi seorang gadis kecil seperti Aine masuk ke dalam hutan tak terjamah itu.
Saat mulai memasuki pertengahan hutan Pavo, Aine mendengar sebuah siulan yang begitu merdu. Aine tanpa sadar mengikuti suara siulan itu. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat pipi kanannya terasa sangat dingin.
Aine meraba tangannya di pipi untuk mencaritahu apa itu. Sebuah benda kecil elastis dan mengeliat di tangan nya.
Seketika Aine merasa geli dan jijik mengetahui ulat bulu kecil yang mempel di tangannya itu.
"Ahkk ...!!!" jerit Aine melempar ulat itu.
Tiba-tiba suara siulan tadi terdengar sangat jelas.
"Hei ...! Bocah! Sedang apa kau di sini" Suara kecil dan nyaring itu membuat telinga Aine terasa geli.
"Si-siapa yang bicara?!" Aina mencoba tetap tenang.
"Hah! Kau tidak tau siapa aku?! Hahaha ... Aku adalah penjaga hutan ini ...! Aku sangat kuat dan perkasa! Kau harus takut pada ku!" kata peri kecil itu dengan sok angkuhnya.
Aine begitu tertegun, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Tuan Owl, bahwa peri hutan Parva akan menemui siapapun yang datang ke hutannya dengan berbicara angkuh.
"Kau ... adalah peri Parva bukan?! Aku senang bisa bertemu dengan mu!" Tukas Aine dengan senyuman puas.
Parva yang melihat mangsanya tidak takut langsung merasa jengkel. "Hemp! Katakan! kau mau kemana?" tanya Parva dengan wajah kesal.
"Apa ... kau mau membantuku?!" ucap Aine tidak percaya.
"Jangan banyak tanya! Katakan! Aku tidak mau si burung hantu tua itu mengurungku lagi! Cepat katakan! Hmph!" Gerutu Peri Parva dengan sangat kesal.
"A-aku ingin pergi ke sungai Fay. Aku harus mengambil air sungai itu untuk mengobati Nenek ku." Papar Aine dengan wajah yang sendu. Dia menggenggam kayu yang dipegangnya dengan erat karna emosi.
"Emmm .... Terserah padamu, tapi aku tidak ingin bertanggung jawab jika kau kenapa-napa." putus Parva dengan acuh.
"Ikuti saja siulan ku, aku tidak ingin menunggu! berjalanlah dengan cepat!" tukas Parva membuat Aine merasa tertekan.
"Ba-baik ...!" Aine segera mengikuti siulan Parva.
*****
Parva menghentikan siulannya, dan terbang mendekat ke wajah Aine.
"Kita sudah sampai, sekitar empat meter lagi kau akan bertemu dengan Ular raksasa itu. Tugasku sudah selesai ... Aku pergi dulu, aku ada kencan dengan putri katak, Semoga kau tidak dimakan!" Parva menepuk pundak Aine dengan tangan kecilnya dan segera terbang menjauh.
Aine menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan dengan pelan.
"Terimakasih, peri Parva. Aku pasti akan baik-baik saja!" Teguh Aine dalam hatinya.
Aine mulai melangkah mendekati sang ular raksasa yang bernama Goro itu.
Saat jaraknya sudah dekat dengan Ular tersebut, Aine segera mengambil kantong kecil itu dari sakunya.
Aine tidak bisa melihat seberapa besar dan menyeramkan ular raksasa itu. Dia hanya tau kalau ular itu berada tepat di depannya.
Ular raksasa itu bangun dari tidurnya saat melihat ada manusia yang berdiri di depannya.
"Tu-Tuan ular ... biarkan aku mengambil sedikit air sungai itu! Aku harus menolong Nenek ku! Kumohon!" ucap Aine dengan tubuh yang mulai gemetar.
Ular itu sama sekali tak mendengar ucapan dan permohonan Aine padanya. Ular raksasa itu langsung menyerang Aine. Hampir saja Aine di telan oleh ular tersebut. Namun, Aine dengan cepat melemparkan isi kantong kecil itu kearah sang ular.
Dia melakukan itu bukan karna tau kalau ular raksasa itu akan menyerang, tapi Tuan Owl mengatakan, jika setelah dia bertanya dalam sepuluh detik ular itu tidak menjawab, maka lempar kantung kecil itu padanya.
Isi dari kantong itu hanya pasir putih. Namun, dalam beberapa detik, ular raksasa itu tiba-tiba saja menjerit kesakitan.
Api besar membakar ular raksasa itu hingga menyisakan debu yang berterbangan.
Dan tiba-tiba saja ... Sebuah cahaya yang amat terang keluar dari dalam sungai. Aine hanya bisa merasakan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya.
"Ahhhhh ....!!! Aku bebas ...!!!" Ucap makhluk kecil bersayap indah yang keluar dari dasar sungai Fay.
"Ah! Gadis kecil yang imut ...! Apa kau yang sudah menyelamatkanku?!" Tanya nya.
"Bu-bukan ... a-aku tidak melakukan apa-apa!" Aine menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kiri dan ke kanan.
"Wahhh ...!!! Aku sangat bahagia ...! Kau sudah menolongku! Katakan! Apa yang kau inginkan dariku?!" Ucap peri kecil yang bernama Asrai itu dengan berputar-putar ria di depan wajah Aine.
"Aku ... aku hanya ingin sedikit air sungai Fay untuk menyembuhkan Nenekku. Apa boleh?!" Pinta Aine dengan wajah penuh harap.
"Hohoho ... tentu saja sangat boleh ...! tapi sepertinya aku saja yang ke rumahmu, bagimana?!" Aine sedikit bingung dengan ucapan Peri Asrai.
"Tapi ... aku hanya butuh air sungai ini ...," ucap Aine.
"Sudah ...! kita sudah sampai di depan rumah mu!" kata Peri Asrai yang membuat Aine ternganga tidak percaya.
"Ya-yang benar saja ...! Kau tidak bohong kan?!" Aine masih tidak percaya.
"Gadis kecil! Kau sudah kembali?!" suara Tuan Owl yang keluar dari balik pintu.
"Tuan Owl?!" Aine benar-benar bingung.
"Hei ... jangan diam di situ, ayo cepat masuk! keadaan wanita tua di dalam sudah sangat buruk. Matahari juga akan segera tenggelam!" jelas Tuan Owl yang membuat Aine segera masuk.
"Peri ...! Ayo masuklah ...!" ajak Aine.
*****
"Ini sangat buruk sekali ...!" ucap peri Asrai saat melihat keadaan sang nenek.
"Bisakah ... kau menolong Nenek ku?!" tanya Aine berharap.
"Tentu! Tunggu sebentar ..." ucap sang peri.
Cahaya yang begitu terang dan dingin, keluar dari tubuh sang nenek. Dan dalam beberapa detik, sang nenek sudah kembali membuka mata.
"Selesai!" ucap peri Asrai.
"Nenek ... baik-baik saja kan?!" tanya Aine berharap bisa melihat keadaan sang nenek.
Peri Asrai terbang mendekati wajah Aine. Dia mengusapkan kedua tangannya ke masing-masing kelopak mata Aine.
"Aine ... bukalah matamu!" pinta sang peri kecil itu.
Aine mematung di tempat, saat dia dengan jelas bisa melihat cahaya dunia yang indah.
"A-aku ... aku ... bisa melihat sesuatu ...!" ucap Aine dengan wajah tidak percaya.
"Sekarang ... kau bisa melihat nenek mu dengan matamu sendiri." Kata peri Asrai.
"Nenek ... itu nenek ...?!" ucap Aine dengan terbata-bata saat melihat wajah tua yang terduduk di atas ranjang.
"Iya, nak ... ini nenek, kemari lah ..." pinta sang nenek dengan suara yang parau.
Dengan air mata yang berlinang, Aine memeluk sang nenek dengan erat.
"Semua berkat kalian, terimakasih ... semuanya ... aku sangat bahagia!"
🧚
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kita hanya perlu berusaha dan mensyukuri nya. Maka, semua jawaban akan kita temukan.
TAMAT🧚
note: Ini agak panjang, maklum buat dongeng sebelum tidur💋
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA 💋