Tidak kah lelah terus seperti ini??!~
Jika menetap hanya akan membuat sia-sia, maka pergi adalah jawaban yang tepat~
Setelah raga ini pergi, jiwaku perlahan hilang, melupakan yang pernah terjadi, pada akhirnya memulai yang baru~
........
"Hay Leo!", ucapku kepada teman laki-laki ku.
Upss... sepertinya bukan sekedar teman saja, tapi dia adalah "My Boyfriend". yupss... sudah hampir dua tahun kami berpacaran. Kini usiaku menginjak 17 tahun begitu juga dengan dia, yang berarti kami masih bersekolah. Tepatnya di SMA Pelita. Namaku Elvirani Amanda, panggil saja El. dan pacarku bernama Leonardo Alfiansyah, panggil saja Leo.
Bukan coklat, sebuket bunga, atau puisi. Aku sangat ingat sekali saat dia mengungkapkan cinta padaku. Hal konyol yang tak pernah dilakukan seorang pria kepada pasangannya. Dia unik dan aku menyukainya. Saat itu aku sedang duduk di bangku taman sekolah. Tepatnya saat itu kami masih kelas 2 SMA. Saat di kelas 1 SMA, ia adalah teman sebangku ku dan aku sangat malas melihatnya. Bagaimana tidak? tak pernah sehari pun dia tidak membuatku naik darah. Sungguh pria menyebalkan. Walaupun kami sering berkelahi layaknya anak TK, kami tetap berteman baik dan menjadi dekat.
"ELL... KAU DIMANA BOCAH", teriaknya yang berpura-pura tidak melihat ku yang duduk di bangku taman.
"DASARR...LEO KAU BUTA ATAU BODOH HAA?? SUDAH JELAS KAU MELIHATKU DISINI!!", balasku teriak kesal.
"DIMANAA??! AKU TAK MELIHATMU!! APA KAU BERUBAH MENJADI MAKHLUK TAK KASAT MATA??! pftt", teriaknya lagi sambil menahan tawanya.
"TERSERAH KAU SAJA!!", ketus ku.
"wah wahh... ada yang ngambek nihh!!", ledeknya.
"hey pohon lihatlah ada yang sedang marah padaku!", ucapnya sambil mendongakkan kepalanya kearah pohon yang memayungi kami.
"Dasar pria aneh!", gumam ku.
aku hanya diam dengan wajah datar ku. Lalu dia duduk disebelah ku dan menatapku. Aku bisa merasakan itu, sehingga membuatku risih.
"kenapa menatap ku!!?", ketus ku.
"kenapa? tidak boleh?!", godanya sambil menyingkap helaian rambutku ke belakang telingaku.
"apa sih! gaje banget!", ketus ku lagi dan memalingkan wajahku.
"apa kau malu huh??", bisik nya tepat di telingaku.
Yang benar saja, saat itu entah mengapa aku salah tingkah terhadap perlakuannya yang seperti itu. Nafas nya benar-benar terasa di telingaku sehingga membuatku geli. Tak ingin merasa lebih malu, aku segera beranjak dari bangku.
"Tidak! siapa yang malu?! Biasa aja tuh!", ucapku ketus.
Di posisiku yang sudah bangkit dari bangku itu, aku melangkahkan kaki ku untuk pergi. Namun belum satu langkah pun, telapak tangan yang kekar dan hangat itu menggenggam tanganku yang mungil. Siapa lagi jika bukan Leo!
"mau kemana? disini saja. aku ingin memberimu sesuatu", ucapnya yang masih menggenggam tanganku.
Aku pun duduk kembali di bangku itu.
"apa? cepatlah!", ucapku tanpa melihat ke arahnya.
"hey, kau bicara denganku. tapi kenapa tak melihat ke arah ku?!", ucapnya lalu memegang dagu ku lembut dan memalingkan wajahku ke arahnya.
Sontak perasaan ku menjadi tak karuan. jantungku berdegup kencang. Saat menatap sepasang mata itu, ada tatapan lain yang sulit diartikan.
"pejamkan matamu sebentar!", pintanya.
aku pun memejamkan mataku tanpa ada rasa ragu.
"cepatlah! kau ingin apa sebenarnya?!", ucapku yang masih memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian, ia memintaku membuka mata perlahan. lalu aku menurutinya.
"apa ini?", tanyaku bingung.
"apa kau tak lihat? ini sudah jelas daun", ucapnya sambil memegang dua daun, dengan daun yang masih berwarna hijab di tangan kanannya dan daun yang sudah berwarna coklat dan kering di tangan kirinya.
"lalu untuk apa daun ini?", tanyaku semakin bingung.
"kau pilih lah! yang masih segar atau yang sudah kering?", ucapnya sambil menatap kedua daun itu.
"apa apaan ini? ini hadiah yang kau katakan?! memang pria aneh", ucapku sedikit kesal.
ku kira dia akan memberikan sesuatu yang istimewa, entah itu bunga atau coklat. Tetapi yang dia bawa dua daun yang entah maksudnya apa.
"hey dengarkan aku dulu! jika kau pilih hijau maka kau adalah daun dan aku pohonnya. kau akan terus tumbuh diranting ku. jika kau pilih coklat maka kau adalah daun yang akan pergi meninggalkanku", ucapnya sambil menatap mataku.
Aku terdiam sejenak. Mencerna kata-katanya itu. Entah mengapa jemariku ingin sekali menggapai daun hijau itu. Pada akhirnya aku memilih yang hijau.
"Apa kau benar-benar memilih itu?!", tanya leo dengan wajah serius.
"ya?!", ucapku sambil menganggukkan kepalaku.
"yeyyy....AKHIRNYA POHONKU AKAN TERUS DI TUMBUHI DAUN HIJAU", teriak nya senang sambil merentangkan tangannya dan melompat-lompat.
Aku hanya tersenyum melihatnya yang bahagia hatiku serasa damai dan ikut bahagia.
"Berjanjilah untuk tetap bersamaku", ucapnya menggenggam tanganku.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum lebar. Sejak hari itu kami resmi menjadi sepasang kekasih. Hari demi hari, bulan, bahkan tahun kami lalui bersama dengan suka duka. Banyak sekali kisah tentang aku dan dia. Tentang Pohon dan daun hijaunya.
Kini kami menginjak usia hampir 20 tahun. Kami berkuliah di fakultas yang sama. Kemana-mana pun selalu bersama, hingga teman kampusku bilang " kalian tu, kayak prangko sama kertas deh.. nempel terus!", seperti itulah yang mereka katakan. aku dan Leo hanya tersenyum mendengar itu.
Beberapa hari terakhir kulihat ada yang berubah dari sikapnya. Bahkan itu sangat jelas. Kami sedang makan di sebuah kafe sederhana dipinggiran kota. Leo terus saja fokus pada ponselnya, entah apa yang dia lihat disana.
"sayang, kenapa bermain ponsel terus?", tanya ku.
"tidak apa-apa, emangnya kenapa?", ucapnya yang masih fokus menatap layar ponselnya.
"tidak, aku hanya bertanya", ucapku lalu ingin beranjak pergi.
"mau kemana?", tanya leo sambil menatap ku.
"toilet", jawabku singkat.
Aku pun berjalan menuju toilet di kafe itu. Saat aku keluar dari toilet tak sengaja seseorang menabrak ku lumayan keras, namun untungnya aku tidak terjatuh begitupun orang tersebut.
"ahh...maaf saya tak sengaja", ucap gadis itu lalu membungkukkan badan nya sedikit.
"ya tak apa", ucapku lalu tersenyum.
"kalau begitu, saya permisi", ucapnya dan berlalu pergi.
Setelah itu, aku mencuci tanganku di wastafel dan menatap diri ku di depan cermin yang ada di sana.
"tak biasanya dia mengabaikan ku seperti itu", gumam ku.
"ada apa di ponsel itu, sampai-sampai pandangannya tak lepas dari sana?!", batin ku.
Selama ini aku dan Leo tidak pernah menutup privasi kami, namun sekarang ia menghindar saat aku ingin melihat ponselnya. Aku mencoba untuk percaya padanya meskipun ada sedikit rasa curiga terbesit di hatiku.
Aku pun kembali ke meja dimana kami sedang makan bersama tadi.
"lah... dimana Leo?", gumam ku bingung karena dia sudah tidak ada di tempat duduknya.
Aku pun menelusuri seisi kafe dengan bola mataku. Tepat di luar kafe aku melihat pria yang mirip dengan Leo. Dari pakaiannya, postur tubuhnya sama persis.
"Ah...itu pasti Leo! kenapa dia berdiri disana?", gumam ku.
Aku pun hendak berjalan keluar untuk memastikannya. Tiba-tiba datang seorang perempuan menghampirinya. Langkah ku pun terhenti.
"gadis itu?? kan yang menabrak ku di toilet?", gumam ku.
Aku semakin bingung apa yang sebenarnya terjadi. Saat aku ingin menghampiri mereka, mereka pun pergi menaiki mobil yang mungkin milik perempuan itu. Aku tak sempat mengejarnya dan aku memutuskan untuk pulang.
Selama di perjalanan aku mencoba menghubungi Leo. Telfon ku tak diangkatnya, jadi aku mengirimkan pesan chat kepadanya.
"Leo kau dimana? tiba-tiba kau menghilang, aku khawatir!", ketik ku pada chat itu.
Aku sengaja tidak menanyakan soal yang ku lihat tadi. Ku pikir, aku akan melihat apa yang ingin dia lakukan. Lima menit kemudian pesan ku baru dibalasnya.
"ahh..maaf sayang tadi tiba-tiba aku ada urusan mendadak di kampus. jadi aku pergi duluan. maaf karna tak sempat mengabari mu tadi", balasnya.
"ohh... baiklah, aku akan pulang jika begitu", balas ku lagi.
Selama dua minggu lebih ini dia selalu sulit untuk diajak bertemu dengan berbagai alasan. Aku benar-benar muak. Saat aku memergoki dia sedang bersama gadis itu, Leo menggenggam erat tangannya dan mengatakan "I Love You", lalu mengecup pucuk kepala gadis itu. Dadaku begitu sesak, rasanya hatiku tersayat oleh pisau yang teramat tajam. Menorehkan luka yang begitu dalam. Tak kuasa aku menahan air mataku hingga akhirnya tumpah.
"Leo sudah empat tahun kita menjalani hubungan ini! aku masih ingat kau mengatakan janji untuk bersama selamanya??! dimana janjimu leo!!! aku berusaha mempertahankan hubungan kita, tapi untuk apa jika pada akhirnya sia-sia??!", ucapku lirih bersama tangisanku.
"mungkin pergi adalah jalan terbaik! maaf jika aku belum bisa menjadi wanita yang baik untuk mu! semoga kau bahagia", ucapku lalu tersenyum pahit.
Tak banyak kata yang bisa ku ungkapkan. Seakan-akan bibirku membisu. Aku memutuskan untuk pergi jauh darinya. Pergi ke suatu tempat dimana aku bisa menghilangkan jejak ku agar tak lagi bertemu dengannya, melupakan semua yang pernah terjadi bersamanya walaupun itu sangatlah sulit bagiku. Tapi aku harus beralih dari masa lalu, dimana aku akan memulai yang baru.
"Tuhan... Takdir mu memang pahit, tapi ku yakin ini yang terbaik. Aku bersyukur engkau memberiku hati yang tegar dan ikhlas hingga saat ini aku masih menginjak bumi ini dan menatap langit yang indah ini. Semoga kami selalu bahagia meski bukan dalam kebersamaan", ucapku sambil tersenyum menatap langit malam yang indah.
......
"El...maafkan aku!", batin Leo tanpa sadar meneteskan air matanya, menatap langit malam bertabur bintang.
Meskipun berbeda tempat, El dan leo mantap langit yang sama. Bintang yang berkerlap kerlip bagaikan saksi perpisahan mereka. Cinta di dunia tak selamanya abadi. Aku, Elvirani Amanda telah pergi dari hadapanmu, jiwaku yang pernah lekat disimu telah hilang, dan kenangan indah itu perlahan terlupakan. Aku akan memulai yang baru tanpa dirimu, kenangan dulu, dan semua tentang mu.
~SELESAI~
Kita bisa saja memaafkan meskipun sulit, tapi untuk kembali dari awal itu tak mungkin karena kaca yang sudah kau pecahkan tak akan bisa kembali utuh seberapapun besar usahamu untuk menyatukannya begitupun dengan hati seseorang~
Kenangan indah memang sulit di lupa, tapi untuk apa diingat meskipun indah jika pada akhirnya membuat luka~