Setelah aku berhenti kerja di sebuah pabrik elektro, selama tiga bulan menganggur terasa sangat bingung dan bosan. Aku coba berpikir bagaimana mencari pekerjaan yang lain, namun semuanya sulit di jaman sekarang tanpa ada kenalan orang dalam yang dekat. Beberapa teman telah aku hubungi, diantara mereka ada yang memberiku pekerjaan, yaitu menjadi pedagang sandal keliling. Aku terima tawaran dari Roni, dia adalah anak bos sandal yang terkenal di daerahnya. Tepatnya di kota Tasik Malaya. Roni lah yang kini mengurus cabang pendistribusian barang pabrik milik ayahnya nya di bogor.
Besoknya, aku mulai berangkat menuju kontrakan Roni di bogor tepatnya di daerah bojong gede. Aku mengenal dia memang sudah lama, dia adalah salah sahabat baikku waktu SMP, saat Roni dan keluarganya pernah tinggal di Bekasi.
Sesampainya disana, Roni menyambutku dengan gembira. Kami pun mengobrol cukup lama, dan pada puncak percakapan itu Roni menegaskan keseriusanku kembali untuk menjadi pedagang sandal keliling.
"Lu yakin, mau jualan kaya gini? soalnya gua juga ga enak sama lu, Bro. Jualan keliling kaya gini tuh capek, nguji mental kesabaran juga. Tapi kalo emang lagi ada rejeki hasilnya cukup lumayan lah dalam sehari juga," tutur Roni.
Aku sempat masih berpikir, karena aku masih belum punya pengalaman dagang. Tapi ini waktu yang tepat untuk menjelajahi usaha baru. Dengan keyakinan yang kuat, aku siap menjalani pekerjaan baru ini.
"Oke, Bro. Gua nyoba aja dulu, mudah-mudahan aja gua bisa nyaman dagang keliling kaya gini. Yah, untung-untung gua bisa bantu ngeluarin barang-barang pabrik bokap lu!" ucapku penuh semangat.
"Ya udah, besok lu bisa mulai jualan. Untuk pertama lu jangan jauh-jauh dulu kelilingnya, sekitar daerah bojong gede sini aja!" sahut Roni.
Esok paginya. Aku mulai pergi berjualan sandal keliling dengan membawa tas gamblok besar berisi beberapa lusin sandal kalep dan karet dengan model kekinian. Untuk size nya tersedia lengkap segala usia. Pada awalnya aku masih ragu-ragu untuk menawarkan barang dagangan dari rumah kerumah warga, tapi demi kelancaran aku bertekad bahwa aku harus bisa menguasai usaha seperti ini. Mulutku mulai berteriak lantang untuk menarik perhatian orang-orang.
"Sendal ... sendal yeuh! Sendal pak ... Sendal bu! hayu di pilih, jajan awet yeuh!"
Ternyata jualan keliling seperti ini tidak lah mudah. Selain lelah berjalan, disitu kesabaran pun mulai teruji, aku coba terus bertahan. Beberapa kali aku istirahat di Masjid dan pos ronda setiap kali kecapekan berjalan kaki. Sampai hari sudah semakin siang, terik mentari pun seolah membakar kulit. Aku tetap terus berjalan sambil berteriak menawarkan barang yang aku pegang beberapa sample sandal di tangan.
Tak terasa aku sudah berjalan sangat jauh, sampai aku masuk kesebuah perkampungan yang terletak di bawah bukit. Kampung itu masih rimbun dan alami, kebanyakan yang aku temui adalah wanita yang sebagian besar berkerudung.
Kadang aku merasa malu saat di perhatikan gadis-gadis muda yang memperhatikanku berjalan sambil berteriak. Tapi aku coba cuek, tetap fokus berjualan menawari satu persatu orang-orang yang ada di kampung. Akhirnya ada seorang ibu-ibu paruh baya memanggilku.
"Kang kadieu, aya sendal budak teu?"
Aku mulai bergairah, akhirnya ada penglaris yang mau membeli. Aku menghampiri ibu-ibu tadi yang memanggil lalu kuletakan tas di teras rumahnya, aku buka beberapa model sendal anak-anak agar dia bebas memilih.
"Yang ini berapa harganya, kang?" tanya harga ibu itu.
"Yang itu harganya dua puluh lima ribu, bu!"
Ibu itu merasa keberatan dengan harga yang aku pasang, ia coba menawar.
"Lima belas ribu aja ya, kang!"
Aku masih berpikir, tapi sebagai penglaris aku lepas harga meski untungnya sedikit.
"Hayu, mangga, bu. Silahkan ambil!"
Ibu itu lalu mengambil satu pasang sandal untuk anak perempuannya, setelah ia membayar, ibu itu menyuruhku untuk beristirahat sebentar.
"Kang istirahat aja dulu disini, capek kan!"
"Oh, iya. Terima kasih, bu!"
Ibu itu lalu masuk kedalam rumahnya dan kembali keluar membawakan aku air minum.
"Duh bu, jangan repot-repot!"
"ah, gapapa, kang ... cuma air putih doang ko."
Ibu itu kemudian menanyakan tempat tinggalku sampai status. Aku berterus terang mengatakan apa adanya.
"ooh, jadi akang ini masih bujangan? Ko mau sih jualan keliling kaya gini, sayang kan masih muda, masih banyak pekerjaan yang pantas buat seumuran anak muda seperti kamu!"
"iya sih, bu. Tapi kerjaan sekarang tuh sulit harus kenal dekat sama orang dalem pabriknya!"
Setengah jam aku ngobrol sama ibu itu, lalu aku mempertanyakan tentang rahasia kampung tersebut.
"Bu, ko disini kebanyakan perempuan sih warganya, emang para lelakinya pada kemana? Tadi saya liat sekalinya ada lelaki pasti orang lelaki yang sudah tua?"
Ibu itu sejenak termenung berwajah sedikit pilu, perlahan ia mau menceritakan tentang rahasia misteri kampung tersebut.
"Disini kebanyakan janda, juga para istri-istri yang di duakan, semua lelaki yang ada disini dan anak-anak mudanya pada merantau ke kota!"
Mendengar penjelasan singkat dari ibu itu, hatiku langsung terenyuh, seolah mereka telah lama membutuhkan keadilan, si ibu itu kembali menyambung perkataannya.
"Kadang untuk menambah biaya hidup dan menyekolahkan anak-anak, kami semua berkebun dan hasilnya di jual kepasar ... sedangkan untuk para gadis remaja mereka menjadi kuli jahit dirumah sanggar milik orang kota!"
sedikit aku sudah menyimpulkan dalam hati, bahwa kehidupan perempuan di kampung ini sangat prihatin. Mereka harus terpaksa jadi seorang ayah untuk anak-anaknya.
Ternyata aku hanya bisa bertahan empat bulan menjadi pedagang sandal keliling, karena leader pabrik yang dulu pernah aku bekerja menghubungi aku untuk kembali bekerja.
Selama empat bulan itu aku mendapat pengalaman yang berharga, sebuah petualangan yang mengesankan selama menjadi (si akang sendal). Terbesit di benakku tentang kampung perempuan itu, aku bertekad ingin membantu mengubah kehidupan mereka agar lebih baik dan di hargai sebagai wanita, aku lalu mengirimkan tulisan cerpen ini kepada staf bupati bogor, akhirnya hati mereka bisa tergerak untuk mengespose kampung tersebut. Kini, hak-hak perempuan yang ada disitu dapat di penuhi, bahkan kini derajat mereka semakin di hargai, tidak ada lagi istri-istri yang di madu, tidak ada lagi perempuan yang menjadi seorang ayah dan para gadis remaja semakin leluasa meraih cita-cita mereka.
sebuah ungkapan untuk kaum hawa.
"kelahiran seorang perempuan adalah senyuman asa bagi bumi, dan kematian seorang perempuan adalah kehilangan satu tiang pancang baginya"
hargai, cintai dan sayangi wanita, lihatlah dia dengan kepedulian bukan dengan nafsu semata:-).