Cerita ini diambil dari Kisah Nyata!
Mohon dibaca dengan segenap jiwa dan raga😊
♡♡♡♡♡
Banyak anak banyak rejeki. Itulah semboyan yang dianut orang sejak dulu.
Ya, mempunyai lima orang anak membuat kedua orang tua Risa harus bekerja keras membanting tulang untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka sekeluarga.
Risa adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Dia merupakah anak yang sedikit pendiam jika diluar rumah, jarang bergaul dengan teman sebayanya yang lain. Dia lebih memilih untuk berdiam diri dirumah untuk belajar ketimbang harus bermain atau kluyuran tidak jelas. Dia ingin membuktikan kepada orangtua dan saudara-saudaranya jika dia layak diperjuangkan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Karena hanya dia yang mampu bersekolah paling tinggi diantara keempat kakaknya yang hanya bisa menamatkan sekolah hingga Sekolah Menengah Pertama saja. Bukan karena keempat kakaknya bodoh, tapi lagi-lagi karena keadaan ekonomi yang membuat orangtuanya menyerah sampai dijenjang itu saja.
Risa saja bisa sampai berhasil lulus SMK dengan penuh perjuangan. Setelah para kakaknya bekerja, jadi bisa sedikit-sedikit membantu biaya sekolah Risa. Jadi dia tidak ingin mengecewakan perjuangan yang telah dilakukan oleh kedua orangtua juga semua saudaranya. Dan terbukti, dia bisa lulus dengan hasil yang baik dan memuaskan.
Kini semua kakaknya sudah menikah, dan hidup sederhana dengan pasangan hidup mereka masing-masing. Hanya tinggal Risa seorang saja yang masih tinggal bersama kedua orangtuanya. Satu tahun setelah menamatkan sekolahnya, Risa memutuskan untuk ikut penyaluran tenaga kerja dari sekolahnya ke negara tetangga, Malaysia. Memang berat pada awalnya untuk mengambil keputusan seperti itu, ia takut harus meninggalkan kedua orangtuanya sendirian. Tapi tekadnya lebih besar dari rasa takutnya, ia ingin membahagiakan kedua orangtuanya yang sudah bersusah payah merawat, membesarkan dan menyekolahkannya hingga saat ini.
Dia ingin kedua orangtuanya tak perlu bekerja berat lagi, ia ingin masa tua orangtuanya terjamin. Bahkan ia juga ingin bisa memberangkatkan haji kedua orangtuanya. Sungguh niat yang mulia Risa, semoga Allah SWT mengabulkan keinginanmu. Amin🤲.
Maka dari itu, ia membulatkan tekad untuk segera berangkat ke negara Upin Ipin dan Bobiboy.
Kedua orangtua dan semua saudaranya hanya bisa memberikan doa dan restu mereka untuk Risa, saat Risa meminta izin untuk bekerja di Luar Negara, menjadi Pahlawan Devisa. Sebenarnya berat juga bagi ayah, ibu dan saudara-saudaranya untuk melepaskan keberangkatan Risa yang notabene anak paling kecil, seorang adik kecil dari dua kakak laki-laki dan dua kakak perempuannya. Tapi mereka bisa apa jika itu sudah menjadi keputusan dari Risa sendiri. Toh dia juga sudah berumur 18 tahun pada waktu itu, yang artinya dia sudah bisa mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya.
Setelah semua persiapan dirasa cukup, ia segera berangkat dengan mobil jemputan dari sekolahnya dengan ikuti oleh ayah ibunya menggunakan sepeda motor dari belakang. Saudara-saudaranya tidak ada yang ikut mengantar, mereka hanya datang pada hari sebelumnya untuk melakukan perpisahan kepada sang adik tercinta. Karena mereka merasa tidak sanggup jika harus melihat langsung keberangkatan sang adik kecil yang sangat mereka sayangi. Didalam mobil sudah ada beberapa temannya yang juga diantar oleh orangtua mereka masing-masing menggunakan sepeda motor juga.
Sampailah mereka ditempat pelatihan kerja Risa, ayah dan ibunya pamit untuk pulang.
"Bapak sama ibuk pulang ya Ris! Jaga diri baik-baik disana. Sholat lima waktunya jangan sampai lupa." Pesan bapak.
"Telpon, atau video call kalo sudah sampe ya? Doa kami selalu menyertaimu, selalu tawakkal, ikhtiar. ." Lanjut ibu yang tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya karena sudah terlebih dulu enangis.
"Iya Pak, Buk. Risa akan selalu mengingat semua pesan kalian. Risa akan selalu mengirim pesan kepada kalian." Ujar Risa berusaha menahan air matanya.
Risa dan kedua orangtuanya berpelukan. Air mata yang sedari tadi berusaha ditahannya, luruh begitu saja dari kedua matanya tanpa izin. Kenapa begitu sakit, begitu sedih rasanya, membayangkan dua tahun tak dapat berjumpa dengan orang yang kita sayangi. Tapi Risa segera menepis segala rasa itu, ia susah memantabkan hati. Semua ini demi kebaikan mereka juga untuk kedepannya, begitu pikirnya.
Setelah satu bulan berada ditempat pelatihan kerja. Sekarang saatnya Risa terbang menuju Kuala Lumpur, Malaysia. Sebelum berangkat Risa menyempatkan diri untuk berfoto di Bandara dan mengirimkannya pada ibu juga kedua kakak perempuannya. Mereka tersenyum menerima foto dari sang adik, dan memberikan semangat untuk adiknya agar tidak merasa gugup menghadapi penerbangan pertamanya. Yang bahkan kedua kakaknya itu saja belum pernah merasakannya. Dan benar, Risa jadi merasa lebih rilex setelah mendapatkan semangat dari anggota keluarga.
Sesampainya disana Risa segera menghubungi ibunya. Sang ibu merasa senang karena anaknya sudah sampai ditujuan dengan selamat. Hari demi hari dilalui Risa dengan penuh semangat dan perjuangan. Jauh dari keliarga, berjuang sendiri, merasakan kerasnya hidup, mengahadapi masalah yang ada sendirian. Untung saja disana juga ada teman sekolahnya jadi ia tak begitu merasa sendiri di Negara yang asing baginya. Risa juga selalu video call dengan orangtua juga saudara-saudarinya saat dia sempat.
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari. Dan hari pun berlalu berganti bulan, bulan demi bulan dilalui dengan selalu mengirimkan kabar lewat pesan WA, telpon juga video call. Lumayan untuk sedikit mengobati rasa rindu pada keluarga dan Tanah Air.
Tak terasa sudah hampir dua tahun Risa bekerja di Kuala Lumpur, sebentar lagi ia akan kembali memijakkan kaki di Tanah Air tercinta, Indonesia. Ia sudah sangat bahagia membayangkan bisa berkumpul lagi dengan kudua orangtuanya. Bertemu semua kakaknya yang kini menjadi berjumlah delapan orang karena semuanya sudah menikah, dan keponakan-keponakan yang lucu-lucu. Bahkan, ia sudah membeli beberapa barang juga sebagai oleh-oleh ketika dia pulang nanti.
Tapi semua itu ternyata hanya terjadi di angannya saja. Karena tiba-tiba ada berita menggemparkan tentang adanya wabah virus yang berbahaya yang menyebabkan dilarangnya orang untuk bepergian. Hostel tempat tinggalnya ditutup, hanya boleh keluar saat kerja saja. Setelah itu cukup berdiam diri dikamar masing-masing. Jangankan untuk keluar masuk Negara, untuk keluar rumah saja tidak boleh, keamanan diperketat di banyak Negara. Bandara juga ditutup, pesawat tidak boleh beroperasi.
Pupus sudah harapannya untuk bisa segera kembali ke rumah.
"Maaf ya buk, Risa belum bisa pulang tahun ini. Karena keadaan bumi yang sedang tidak baik, semua dilanda wabah penyakit covid-19, jadi tidak ada yang boleh pulang dulu." Ucapnya sedih disela-sela telpon dengan orangtuanya.
"Ngak apa-apa Ndok! Ibuk tau, keadaannya memang sedang gawat. Yang penting tetap selalu jaga kesehatan. Taati protokol kesehatan yang ada, makan teratur, istirahatnya juga ya." Nasehat sang ibu.
Ia pun terpaksa memperpanjang masa kontrak kerjanya untuk satu tahun kedepan lagi, atau menunggu sampai keadaan membaik.
Semoga wabah corona segera berlalu, agar kamu bisa kembali berkumpul dengan keluarga ya Ris! Semangat terus kerjanya, jaga kesehatan, jangan lupa cuci tangan pakai sabun serta selalu menjaga jarak. Itulah protocol kesehatan agar terhindar dari virus yang membahayakan nyawa itu.
♡♡♡♡♡
Dan semoga kita semua senantiasa dilindungi oleh Allah SWT, agar terhindar dari Virus Corona. Amin, Amin ya Robbal alamin🤲🤲
Sekian dan Terimakasih
Hafsa Juliya