Aku miskin.
Tapi tidak saat segalanya ada. Materi ada. Berlimpah. Bukankah itu alat bukti bahwa kau munafik?
Dari ujung rambut ini, sudah berapa ribuan kali peralatan kecantikan khususnya menyetubuhi. Akar. Batang. Tiap helai. Tiap gerai. Tiap lambaian. Semuanya buatan. Kalaupun ada kulit tercipta, pasti sudah aku coba. Kemudaan ada obsesi. Ingin abadi. Terus. Dan rambut adalah simbol keabadian. Menurutku. Manusia tanpa rambut, atau paling tidak wanita tanpa rambut... Apa artinya wanita?
Tuhan. Aku adalah wanita yang paling berterima kasih pada mu. Setidaknya aku punya rambut. Aku kaya bukan? Bukan seperti para wanita diluar sana yang berlomba mengejar kepalsuan. Padahal mereka tak berambut. Mereka ingin seperti aku. Kenapa rambut jadi obsesi?
Kalaupun tidak, kenapa mereka semua memandangiku seperti itu? Helai ku mereka ambil diam diam. Satu helai. Dua helai. Tiga helai. Seperti kolektor. Menyimpannya. Sampai aku pun tak tahu beradaannya.
Tuhan. Mereka ambil rambut ku, kekasihmu ini. Semakin banyak. Tuhan, tolong cegah mereka. Potong tangan jahat mereka. Jangan biarkan jemari kotor itu menyentuh helai an rambut ini. Tuhan, tolong aku. Jangan biarkan aku miskin.
Tuhan, kenapa diam?
***
Aku buta.
Tidak. Aku tidak buta. Mataku bagus. Cantik. Bulat. Aku masih mampu lihat semua. Lihat keberwarnaan hidup yang makin samar. Makin redup. Keindahan yang surut pelan. Apa aku buta? Tidak. Semuanya yang buta. Keindahan itu yang buta. Keindahan itu yang tak pantas memperlihatkan dirinya ke manusia macam aku. Aku hanya mencumbunya tiap saat. Tiap waktu. Tanpa kedip, bahkan terpejam. Sampai keindahan itu marah. Sampai meratap. Hentikan! Jangan cumbu aku dengan hasrat gila mu? Habis warna aku! Kamu tak pantas habisi aku dengan mata itu!
apa aku salah?
Kamu indah. Keindahan yang indah. Semua wanita pasti memburu mu. Jadikan mu miliknya.
Hai, keindahan yang tak ingin siapapun memiliki mu... Jangan jadi pusat dunia ku kalau kau tak ingin musnah! Jangan jadikan dirimu pusat mata ku! Jangan jadikan aku alasan dirimu yang ingin musnah! Bila ingin menyingkir, cepatlah.
Warna hitam putih abu- abu pun indah! Bergantilah. Jangan terus berdiri di sana, berpura- pura teraniaya dengan sikap mu yang memamerkan diri. Menghilanglah. Warna- warni mu yang indah lebih indah bila kau tidak merasa indah. Berikan kesempatan pada hitam putih abu buat dirinya indah. Mereka juga ingin berlaga di depan mata ini.
Jangan serakah!
***
Aku, tanpa kulit?
Entah apa yang ada dalam benak para wanita saat kulit kesayangan mereka terkikis. Waktu demi waktu, kulit ini bahkan tak berteriak kesakitan saat tiga manusia baru terlahir dan ambil sebagian dirinya. Andai pun aku tak punya kulit, aku ikhlas buat tiga manusia ini. Tuhan kekasihku... aku baik bukan?
Aku pun tak pernah minta sepeser pun pengganti kulit ini. Melihat mereka tumbuh, dengan kulitku jadi tempat bertumbuhnya, aku senang. Aku tak protes. Aku hanya ingin, ingin yang tak terucap, jaga kulitku.
Lalu dari ketiganya ada yang ingin mengukir kulitku dengan tato kotor gambar bunga malam, tak aku izinkan. Dia tetap kotori kulitku dengan bunga malam. Aku bersihkan dengan air panas. Kulitku tak boleh kotor. Lebih baik rusak. Dia masuk rumah sakit. Operasi kulit. Berteriak ke orang- orang sana, aku ingin membunuhnya.
Tuhan, kekasihku... apa aku salah?
***
Dia, jadikan aku lumpuh.
Aku tak ingin jadi pembenci. Aku tak ingin punya beban. Benci itu beban. Aku tak suka itu. Tapi, aku harus punya rasa apa selain benci saat dia coba buat bunuh aku?
Sejak operasi kulit, kulitku rusak. Dia rusak. Dia jadi jahat. Dia kulitku, tapi beda. Kulitku mendua. Tapi rasa jahat kulit keduaku, aku rasakan itu. Gatal. Gatal itu akan menggila saat ia berada dekat. Mengelilingiku, mengawasiku. Aku tahu tanda itu. Seperti saat ini...
"Mom, sebenci itukah mom lihat aku pakai tato?"
"Iya."
"Hanya tato, mom."
"Itu dosa."
"Dosa mana, tato atau percobaan pembunuhan yang mom lakukan pada ku?"
"Kulit itu punya mom, Toni. Bukan milikmu."
"Mom... mom gila."
Tuhan... salahkah aku mengatur kulitku sendiri?
***
Aku, bertulang batu.
Saat muda apa saja ku lakukan. Pun melewati norma adat, kuterabas tanpa kata. Kebablasan. Tuhan, saat itu kau tak ada dalam hati ku. Hatiku batu. Batu dari Mu.
Ujian hidup pernah sebagus datang, memanaskan sombongku. Susah bersiap, tak punya soalan. Beban apa? Apa perduliku. Jangan pertanyakan apa, siapa, kenapa.
Waktunya sudah selesai.
Paham. Sekarang masanya istirahat. Sangat susah menyukai kegilaan yang berdarah daging, bukankah tulang ini sampai membangunkan setan?
Bertahan hidup. Secara berpasangan, tersesat. Semua aneh terlihat. Asing. Memakai kekuatan tulang batu juga punya siasat.
***
Nafasku, berhembus satu demi satu.
Pelan. Sangat pelan. Dan berat. Kenapa benda panjang mirip ular ini menikam hidungku? Sakit. Hidungku sakit. Seperti ada cucukan paku tertanam di daging. Perih.
"Kenapa aku?"
"Mom, tenang yah. Dokter Surya udah datang."
Surya.
Sosok lelaki berpakaian putih. Berambut putih. Berkeriput sana sini. Dengan stetoskop di tangannya, membungkuk, memeriksa sesuatu.
Surya.
Kekasih lama ku. Memeriksa aku. Memeriksa apa?
Nafasku, satu satu. Berat. Ada batu mengganjal di sana.
"Pergi... Aku mau nafasku. Jangan ambil..." Kenapa aku tak rasakan apapun. Aku panik, "Kembalikan nafasku..."
"Mom... Sadar, Mom..."
Surya memandangi kepanikanku. Dia hanya tersenyum. Dia hanya menggengam kulit keriput ku erat. Senyum yang kembalikan kesadaranku.
Surya.
Dia tahu. Aku tahu. Waktu itu akan segera tiba.
"Aku iri padamu, Jen."
"Kau memang pantas iri."
"Dia sepertinya lebih mencintaimu ketimbang aku." Katanya lirih, "Tapi kita dulu cocok kan, cantik dan tampan. Sepasang suami istri yang serasi."
Surya hampir benar.
" Andai dulu tak ada perselingkuhan... mungkin aku tak temukan kekasih yang lebih baik, Dok."
"Mom..."
"Aku akan segera menemui kekasihku, kau tau itu kan... "
"Aku tahu."
Surya benar. Dia tahu itu.
-Tamat-
Candu_21(11032022)