"Aku Lune. Pindahan dari Oxford."
Pagi yang terik itu, aku datang sebagai murid pindahan. Sejujurnya aku pindahan dari London. Namun, aku tahu murid-murid di sini punya kesan buruk tentang 'orang' London. Jadi, sekalian saja aku berbohong agar tidak dicibir.
Cerita itu kudengar bermula dari suatu kejadian besar yang terjadi secara beruntun. Tidak begitu jelas, namun yang kutahu dikatakan bahwa dulu ada seorang siswa dari London yang melanggar 'aturan' di sini.
Entah aturan apa yang mengakibatkannya menjadi kejadian besar hingga dianggap tabu untuk diceritakan.
Sekarangpun aku tidak berani bertanya sedikitpun tentang masalah ini. Aku hanya harus terus menyembunyikan kebenaran ini sampai kelulusanku.
….
Di hari-hari berikutnya, seseorang mulai mengajakku bicara. Hingga yang lainnya juga ikut mengajakku bermain bersama. Terasa seru, tapi ada satu rasa bersalah atas kebohongan yang kulakukan ini.
Dalam batinku aku bertanya-tanya. Apakah mereka akan tetap memperlakukanku begini walaupun aku adalah pindahan dari London? Bolehkah aku berharap begitu?
Ah, sudahlah. Yang penting kujalani saja dulu.
Seminggu, dua minggu, tiga minggu, dan minggu-minggu berikutnya berlanjut seperti biasa.
Sebuah hari di mana aku tidak tahu sesuatu akan terjadi telah tiba.
Hari ini, aku menemukan sesuatu yang aneh di perpustakaan. Ketika melihat buku tahunan sekolah, ada sebuah kertas tua yang terselip di antara beberapa halaman.
Aku meraihnya lalu membaca sebuah kalimat singkat.
"Kepada Sang Mitos: kematian bagi semua orang yang pernah mengenalku"
Dengan heran, aku menuju ke meja penjaga perpustakaan.
Dan aku langsung menanyakannya.
"Permisi, aku tadi menemukan kertas aneh. Di sini dituliskan tentang mitos…", belum selesai berbicara namun sang guru penjaga perpustakaan itu mendadak menyelaku.
"Apa kau mengatakan 'Mitos'?!!", ia menatapku dengan wajah terkejut luar biasa. Bisa kupastikan ada sesuatu yang tidak beres tentang hal ini. Akhirnya kuurungkan niatku dan menyembunyikan kertas itu perlahan di belakangku.
Sejak hari itu, penjaga perpustakaan tampaknya menjadi semakin sering mengawasiku. Dimanapun.
Bahkan jika aku pergi ke toilet, tiba-tiba ia bisa saja berpapasan denganku. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar bahwa dia mengawasiku.
….
SEBULAN KEMUDIAN
Pagi ini terjadi sesuatu yang aneh.
Saat berganti ke pelajaran Sastra, kami diantar menuju perpustakaan untuk memilih buku. Namun, seorang guru mengatakan bahwa guru penjaga perpustakaan itu menghilang dari kemarin. Dan ketika tiba di perpustakaan, ruangan yang awalnya tertata rapi itu telah berubah berantakan. Dipenuhi buku yang beserakan.
Satu-satunya buku yang tetap tertata pada tempatnya adalah buku tahunan sekolah yang sebelumnya pernah kubaca. Aku merinding memandang ruangan suram itu. Apalagi mendengar sahutan teriakan murid lain yang menatap ke arah buku tahunan itu.
Dan sebuah hal yang baru kami sadari menambah tingkat ketegangan di dalam ruangan itu.
Seluruh murid dan guru yang juga melihat ke ruangan perpustakaan menjerit dengan suara lengkingan mengerikan setelah melihat darah kental di lantai.
Perlahan-lahan darah merah itu mengalir mendekat dari arah tumpukan buku. Aku dan siswa lain berlari keluar dengan menggebu-gebu. Beberapa siswa jatuh terdorong dan terinjak tanpa ada yang menolong. Semua yang terdengar kini hanya jeritan. Jeritan menakutkan.
…..
Polisi segera tiba dan memeriksa lokasi. Sedangkan para murid diamankan ke kelas masing-masing.
Aku yang ketakutan tak bisa menahan kebingungan ini. Akhirnya kuputuskan untuk ke toilet.
Setibanya di toilet, aku teringat bagaimana setiap kali penjaga perpustakaan itu berpapasan denganku.
Ekspresinya. Kata-katanya. Dan pandangannya.
Mengerikan.
…
Duk!
Aku terkejut. Sebuah bunyi membangunkanku dari lamunanku. Dengan ketakutan, aku bergegas keluar dari toilet itu. Rasanya hawa sekolah ini jadi agak...menakutkan. Berbeda dengan pertama kali kepindahanku.
"Apa ini ada hubungannya dengan kertas itu?"
Tiba-tiba saja mulutku berbicara di luar kendali. Aku terdiam lama.
Bagaimana jika ada yang mendengar?!, batinku panik. Kuperiksa sekelilingku, namun semuanya hanya udara kosong.
"...."
Entah hanya khayalan atau memang benar barusan ada sebuah bayangan di balik pintu toilet? Padahal saat di toilet semua biliknya kosong.
Dalam diamku, kualihkan lagi pandanganku ke arah pintu toilet sambil berharap bahwa aku salah.
Tapi kenyataannya berkata tidak. Seseorang benar-benar berdiri di balik pintu toilet. Ia memandangku, aku bisa melihat matanya tertuju padaku.
Dengan sebuah isyarat jari, ia memanggilku.
Tak tahu apa yang terjadi padaku, begitu melihatnya kakiku berjalan dengan sendirinya. Aku seperti terlena dalam panggilan itu.
Akhirnya kami berhadapan. Bisa kulihat jelas orang di depanku ini. Seorang anak laki-laki seumuranku dengan seragam biru gelap usang yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Pupil matanya sangat besar dan gelap. Ditambah lagi rambut hitamnya yang berantakan dan menutupi dahinya, benar-benar aura yang kelam.
Laki-laki itu kemudian mengangkat tangannya dan membelai rambutku.
"Kamu tahu aku", katanya.
Jantungku berdetak tak karuan. Tapi bukan karena dibelai, melainkan karena aura orang ini mengingatkanku pada sebuah kepingan memori yang mungkin pernah terjadi. Tapi memori yang mana?
…
"Maaf, aku tidak tahu siapa kau..", kutepis tangan kasar itu dari kepalaku. Aku merasa agak jahat sekarang.
"...."
Hening mengisi suasana itu. Laki-laki itu bahkan tak menggerakkan bibirnya. Pupilnya masih terpaku padaku. Aku merasa muak terus dipelototin seperti ini.
"Aku harus pergi", ujarku sambil mengayunkan langkah untuk berbalik. Untungnya dia tidak menghentikanku ataupun mengikutiku. Matanya masih saja menatapku dari tempatnya berdiri.
Orang aneh, pikirku.
Dari tempatku berjalan, seseorang tengah berdiri di depan perpustakaan. Bisa kulihat, orang itu sepertinya menungguku. Jadi, kuhampiri saja.
"Lune, darimana kau?", ternyata itu Merrien, salah satu teman sekelasku.
"Toilet..", jawabku singkat. Sejujurnya aku masih hanyut dalam pikiranku tentang laki-laki tadi.
"Kau bicara dengan seseorang di sana?", entah perasaanku saja atau dia sedang menatapku dengan wajah tidak suka. Aku benci suasana ini. Jadi, aku berbohong padanya.
"Tidak, tidak ada siapa-siapa di sana.." , aku menepuk pundaknya sambil tertawa.
"Ayo kembali ke kelas!", sambungku.
"Tapi semua orang sudah pulang"
Deg! Aku berhenti berjalan lalu memandang Merrien. Apa?
"Apa..?", ucapku.
"Polisi masih mau menyelidiki perpustakaan, jadi kita pulang lebih cepat. Dan lagi…"
Ia berhenti sejenak.
"Kita diliburkan selama beberapa hari sampai penyelidikan ini selesai..", tukasnya dengan tegas.
Selama beberapa detik, Merrien tiba-tiba saja menatap ke toilet tempatku berdiri tadi. Sebuah kecurigaan tentang sekolah mendadak terbesit di kepalaku.
Pertanyaan terpentingnya adalah apa arti kalimat yang tertulis di kertas itu?
Belum ada jawaban yang tersusun di otakku. Tapi aku pasti akan menemukannya sendiri.
….
Di malam itu, aku mendadak terbangun dari tidurku. Aku baru saja memimpikan sesuatu. Bisa kurasakan betapa mengerikannya mimpi itu.
Aku melihat ke arah jam dindingku, masih pukul 03.05. Tanpa menyambung tidurku akhirnya kuputuskan untuk mengingat setiap alur dari mimpi itu.
Ya, ya, sedikit demi sedikit semuanya agak jelas.
Di dalam mimpi ini aku melihat laki-laki tadi. Aku melihat kejadian saat aku berpapasan lagi dengan penjaga perpustakaan di toilet. Dan lebih anehnya lagi, laki-laki itu sedang mengintip dari balik pintu toilet. Tapi dia bukannya memandangku. Ia jelas-jelas menatap tajam ke penjaga perpustakaan itu. Ada sesuatu yang menyerupai asap hitam bergelung di belakang laki-laki itu. Sesuatu yang sangat gelap, hingga tak terlihat pemandangan di belakangnya.
Mengingat itu membuatku membayangkan pupil besar hitam pekatnya.
Bagiku, ia terlihat seperti hewan buas. Tenang dan gelap.
Aku terus menciptakan spekulasi-spekulasi aneh malam itu. Lelah sama sekali tidak kurasakan lagi. Pikiranku hanya berfokus pada kecurigaan sekolah itu.
Dengan keputusasaan yang besar, berikutnya kuputuskan untuk menanyai anak laki-laki yang menemuiku di toilet itu. Ya, tekadku benar-benar sudah bulat.
----
Pagi ini, sisa semangatku kukerahkan untuk berkeliling di sekitar toilet. Sudah lebih dari 10 menit aku mengawasi di toilet ini. Namun, belum ada juga tanda-tanda kehadiran laki-laki itu.
Untungnya hari ini libur, jadi tidak akan ada yang memergokiku kan?, batinku tenang.
Aku menunggu lagi, berusaha mencari-cari tanda kemunculan seseorang dari toilet. Lalu sebuah suara muncul.
"Kamu mencariku?", anak laki-laki itu mendadak muncul di hadapanku dalam keadaan melayang.
Sudah kuduga dia bukan manusia.
"Eh, aku ingin menanyakan sesuatu padamu..", ucapku tergagap. Keringat dingin perlahan-lahan mengalir di pelipisku.
Dia masih memandangku dengan diam, tapi pupilnya mengecil sedikit demi sedikit. Aku hanya bisa menahan keterkejutanku akan hal itu.
"Kau ingin tahu apa arti tulisan itu?", kata-kata itu terlontar dari mulutnya dengan nada tajam. Aku menepis semua rasa raguku padanya, dan dengan keingintahuan yang menggebu-gebu akhirnya aku mengiyakan satu kalimat itu.
Dia akhirnya mengalihkan pandangannya dariku. Tidak ada senyum atau perasaan lain yang terukir di wajah pucat itu.
"Aku akan menceritakan padamu sebuah kisah yang terjadi jauh dari hari ini", ia mengangkat wajahnya dan memandang ke langit pagi yang mulai mendung.
…
"Dulu sekali, aku adalah 'teman tak terlihat' dari seorang anak yang keluarganya tinggal di sekitar sini. Dia manis, lucu dan sangat ceria setiap kali bermain denganku. Semakin bertambah umurnya, ia semakin sering berbicara denganku. Tidak ada pembicaraan yang begitu spesial. Tapi semuanya terasa nyaman dan menyenangkan jika dibicarakan bersamanya. Dia benar-benar anak yang bersinar dalam gelap dan suramnya kehidupan setelah kematianku. Bisa dibilang, dia satu-satunya manusia yang pernah berbicara denganku. Aku senang, walau tak menyampaikan padanya tentang keadaanku yang sebenarnya".
Bibirnya bergetar pelan. Aku terheran-heran sambil memperhatikannya dengan tenang, sambil berharap ia melanjutkannya.
"Setiap malam, anak itu selalu menggambar. Setiap batangan krayon yang tergeletak di lantai selalu menjadi medianya untuk menyampaikan betapa berharganya aku di matanya. Dia mulai menggambarku, lalu sesekali menunjukkan gambaran itu kepada orang tuanya".
"Tapi, mereka justru tidak suka dengan hal itu. Segala hal yang diceritakan oleh anak itu pada orang tuanya hanya dianggap omong kosong. Sejak itu, orang tuanya mulai tidak nyaman berada di rumah ini. Mereka berkemas dan pindah ke kota besar. Sebuah kota dengan pemandangan suram di tiap harinya".
Nada bicaranya berubah rendah. Aku tak sabaran, lalu menyelanya.
"Apakah sudah selesai?", tidak tega rasanya jika mengatakan bahwa ceritanya tidak jelas.
"Belum"
"Oh, oke", aku kembali hening untuk mendengar kelanjutannya.
…
"Setelah kepergian anak itu, aku kembali ke sekolah ini dan memenjarakan jiwaku di kegelapan toilet. Setiap murid-murid yang mempunyai niat jahat kubunuh tanpa ampun. Mereka yang hendak mencelakai orang lain kubunuh saat itu juga. Rasanya tidak akan puas jika tidak melihat manusia-manusia keji itu menerima balasannya. Jadi, yang saat itu kulakukan hanyalah membunuh.."
Kulitku menjadi dingin beradu dengan sejuknya udara pagi ini. Aku membeku mendengar kata-kata itu.
Namun, laki-laki itu itu tampaknya tidak peduli. Ia lalu melanjutkan dengan santai.
"Di masa-masa kegelapan itu, aku malah bertemu dengan seseorang. Seseorang yang jelas pernah kulihat sebelumnya di keluarga gadis kecil itu. Kakak dari anak itu. Dia kembali ke desa ini untuk bersekolah di sini. Namanya adalah.."
"Albert…"
Sepasang mata miliknya mendarat tepat di pandanganku. Pupilnya sangat besar, hingga hampir menutupi seluruh permukaan matanya. Aku merasakan dinginnya udara yang berhembus darinya. Bisa kupastikan bahwa segala yang terjadi ini adalah sesuatu yang saling terhubung. Bahkan nama yang baru saja ia sebut tadi. Tidak terasa asing..
"Eh, maaf. Aku..aku harus pergi sekarang"
Kali aku benar-benar menegaskan suaraku. Dan tanpa menunggu lagi jawabannya, kakiku buru-buru melangkah.
Sama seperti sebelumnya, dia hanya memperhatikanku dari jauh. Diam dan dingin.
Aku semakin mempercepat langkahku dan akhirnya tiba di luar tanpa bertemu seorangpun. Dalam hatiku, ada perasaan was-was yang besar saat bersama laki-laki tadi. Dan, oh iya! Aku lupa menanyakan namanya, batinku sambil menjitak sendiri kepalaku. Rasanya aku terlalu ceroboh akhir-akhir ini. Aku terkekeh dalam hati.
Selanjutnya, aku menunggu Ayah menjemputku di depan sekolah itu. Untunglah beliau datang dengan cepat.
"Kau ngapain saja di sekolah? Bukankah kalian libur?", Ayah langsung mengajukan pertanyaan itu setelah aku masuk ke dalam mobil.
"Aku hanya bertemu temanku untuk menanyakan tugas sekolah", gumamku dengan bibir bergetar. Semoga saja aku tidak dicurigai. Tapi untunglah Ayah tidak lagi menanyakan hal lain sesudahnya. Batinku agak lega, karena sejak awal beliau terus menengok ke arahku, layaknya curiga.
Mobil kami terus melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kering desa ini. Aku bosan dan terus memantau pemandangan dengan wajah kusut.
"Semua jalanannya ternyata masih sama.."
Eh, tiba-tiba Ayah menggumam pelan. Walau tak terlalu jelas, tapi telingaku dapat menangkap jelas kata-katanya.
"Ayah sebelumnya pernah ke sini??", aku berbalik secepat kilat lalu memandangnya.
"Oh, saat kau masih kecil kita dulunya tinggal di sini. Lagipula, kau lahir di desa ini.."
Bagai sebuah hantaman, pikiranku terjungkir balik oleh ucapan beliau. Kenapa aku tidak mengingat apa-apa? Tidak ada yang melekat di otakku selama ini. Aduh, cerobohnya!
Dengan buru-buru, aku meminta Ayah untuk berbalik ke sekolah. Rasanya aneh sekali, seperti menemukan potongan puzzle yang hilang sejenak.
Andai aku boleh bertanya lagi padanya, apakah aku boleh tahu..
Siapa gadis kecil itu?
…………….
"Aku kembali!", teriakanku bergaung di sudut toilet itu. Detak jantungku bahkan terdengar cepat, menyaingi rasa gugupku.
Syut!
Sebuah bayangan melintas tepat di depanku, lalu mendorongku ke dinding yang terasa dingin.
"Oh, ternyata datang lagi?"
Laki-laki tadi menatapku dengan sorot mata yang sama dengan sebelumnya. Tajam dan suram. Ia mundur sedikit lalu mulai berbicara.
"Ada apa? Kau ingin mendengarkan kelanjutan kisah yang kuceritakan padamu itu?", ia merendahkan nadanya tetapi sama sekali tidak tersenyum.
"Bu..bukan itu. Aku ingin bertanya padamu. Aku ingin kau menjawab dengan jelas…"
"Tanya saja…", balasnya cepat.
"Apa..gadis kecil yang kau maksud itu adalah aku?"
Mematung. Semuanya kembali ke keadaan seperti pertemuan pertamaku dengannya. Pupilnya mengecil dengan cepat, menampilkan sebuah titik kuning terang di tengahnya. Aku semakin gemetaran, terlebih lagi situasi ini mengalir begitu saja tanpa kusadari. Ya, keheningan.
"Sepertinya kau belum paham", ia melayang perlahan tepat di depanku.
"Aku akan melanjutkan kisahku..", ujarnya pelan.
Dan sekali lagi, aku mendengarkan dengan perasaan waspada. Tapi alunan suaranya membuatku tidak bisa berhenti mendengarkan hingga kisahnya berakhir.
"Bertahun-tahun setelah kepindahan keluarga itu, Albert ditinggalkan sendirian di desa ini. Orang tuanya tidak menyayanginya layaknya adiknya. Karena bagi mereka, dia membawa sial sejak lahir.
Saat pertama kali bertemu dengannya, aku ingin mengajaknya bicara, tapi aku lebih memilih untuk memperhatikannya dari jauh. Dia tidak seperti anak-anak lain yang ceria, justru auranya sangat gelap. Ia adalah keterbalikan dari adiknya. Tidak disayangi, suram dan dingin, kehidupan yang sangat susah dan juga kesedihan terdalam".
Aku terdiam dalam kisah ini, sebuah cahaya baru saja terbuka di hatiku. Tapi hanya setitik kecil.
"Suatu hari, dendam yang bertumpuk selama bertahun-tahun itu akhirnya tidak dapat ia tahan. Kegilaan, marah dan sedih membuatnya sangat frustasi. Akhirnya, ia mendengar rumor tentangku, Sang Mitos Gelap sekolah.
Di hari yang sama, ia menulis sebuah surat dan meletakkannya di lantai toilet. Dalam surat itu, ia memohonku untuk membalas segala dendam yang selama ini ia simpan dalam hatinya. Aku melihat itu sebagai hal yang buruk. Dendamnya sudah menutupi sisi kemanusiaannya. Akhirnya aku membalas surat itu dan mengatakan bahwa aku berjanji untuk memberikannya sebuah permintaan. Dan ketika menuliskan janji itu, aku tidak bisa menghindar lagi".
Kali ini sinar tatapan laki-laki itu berubah. Ada kelembutan yang terpancar. Sayangnya, ada kesedihan pula terlihat jelas dalam pupil hitam itu.
"Akhirnya, surat kedua muncul. Permintaannya adalah, kematian bagi setiap orang yang pernah mengenalnya".
Kakiku mendadak bergetar mendengarnya. Siapapun yang mengenalnya?!, gumamku dalam hati. Jelas-jelas ia juga menginginkan kematian keluarganya, dan juga adiknya.
Aku terpaku diam. Semilir angin bahkan tidak bisa menenangkan rasa takut ini. Namun, laki-laki itu kembali berbicara sebelum aku sempat menenangkan perasaanku. Tapi suaranya mulai berubah dari sebelumnya. Sekarang nadanya terasa sangat dalam dan serak.
"Aku sudah berjanji, dan akhirnya janji itu harus kulakukan. Walaupun harus membunuh satu-satunya orang terpenting bagiku. Setiap kematian mereka terjadi beruntun dan sangat cepat. Hingga akhirnya, janji itu terlunaskan.
Tapi aku melihat ketidakpuasan dari Albert. Dia menjadi gila setelah pembunuhan massal itu. Dendam yang ingin ia balaskan, seberapapun banyaknya yang terbalas tetap saja itu tidak akan mengisi kekosongan di hatinya. Sebuah lubang besar yang menjatuhkannya ke dalam penyesalan terdalam.
Ia lalu tidak kuat menanggung kemenangan balas dendamnya sendirian. Dan seminggu kemudian, ia melompat dari tebing.
Mendengar kematian massal penduduk dan keluarganya membuat orang-orang ketakutan terhadap sekolah ini. Tetapi aku menghapus ingatan mereka semua, dan menunggu seseorang datang kembali".
….
Aku mendengarkan akhir dari cerita itu dengan wajah pucat. Mataku terasa panas dan sakit. Sepertinya sedikit lagi air mataku akan keluar. Namun, bukan karena sedih. Tapi rasanya semua itu lebih menuntun perasaanku pada rasa takut.
Laki-laki itu lalu memandangku dengan lembut, sinar matahari yang semakin terik lalu memancar di antara dinding-dinding toilet. Memperjelas sosok di depanku ini dengan cahaya terang. Cahaya itu memantul di matanya yang hitam.
"Walaupun aku telah membunuhnya demi janji kakaknya, tetapi Takdir mengirimkannya kembali kepadaku. Jiwanya bereinkarnasi kembali menjadi sosok yang sama persis dengannya".
Aku tertegun dan dengan penasaran kembali bertanya.
"Siapa reinkarnasi gadis itu?"
"Kau, Lune"
…
Semburat cahaya menerangi wajahnya dan membuatku berada pada perasaan nostalgia. Keping-keping memori itu menyatu dengan sendirinya dan memberi gambaran kepadaku tentang kebahagiaan yang kudapatkan di kehidupan sebelumnya. Sangat jelas dan menyedihkan.
"Jadi,...kertas itu--"
"Itu adalah surat yang ditulis oleh Albert. Tersimpan di sana sebagai peringatan balas dendam yang ia inginkan. Surat itu sudah kukutuk. Tidak ada yang bisa melihatnya selain orang yang terbunuh dalam balas dendamnya "
Aku merinding dengan kata-kata itu. Namun, sebuah ingatan terlintas begitu saja di otakku.
"Lalu bagaimana dengan penjaga perpustakaan itu?", bagai ditarik kembali pada kenyataan, aku kembali gemetaran.
"Dalam ingatan setiap orang di sini, aku adalah Sang Mitos yang pernah membunuh penduduk atas kesalahan seorang pemuda dari London. Jadi, mereka tidak akan memberitahu kisah suram sekolah dan desa ini kepada orang lain. Jika ketahuan, tentu saja mereka hanya akan melakukan langkah terakhir"
"Apa itu?", aku bergumam heran.
"Membunuh orang itu"
Glek! Rasanya semua yang keluar dari mulutnya tidak terdengar menyenangkan, batinku.
"Penjaga perpustakaan itu ingin membunuhku?!", aku terkejut karena terlambat menyadarinya.
"Yah, itu cara paling mudah. Tapi aku tidak akan membiarkannya membunuh orang yang telah kutunggu selama ini. Jadi, dialah yang pertama kubunuh.."
Rasanya ingin muntah. Suasana tajam apa ini?! Bahkan menatap mata hitam di depanku ini saja sudah mengingatkanku pada kata 'bunuh' lagi. Otakku berputar-putar tanpa arah, membuatku larut lagi dalam rasa lelah ini.
"Tapi, keadaan perpustakaan saat itu.."
"Oh, itu hanya pengalihan. Aku ingin bertemu secara pribadi denganmu. Dengan membuat semuanya kelihatan mencurigakan, kau pasti akan sangat penasaran dan tidak bisa mengendalikan keingintahuanmu untuk menyelidiki. Di kehidupan sebelumnya juga begitu"
Ia menatapku lembut dan menaikkan sudut bibirnya dengan angkuh.
Sekarang aku mengerti semua hubungan ini. Sejak awal ini pasti adalah takdir. Takdir yang membawa kita semua melalui jalan yang penuh darah, melewati kesedihan dan kesengsaraan. Pada akhirnya ini membawa kita semua pada hasil yang terbaik bagi hidup kita, walau bukan dengan cara terbaik.
--------------------------
Suara angin berbisik pelan membawa kembali sisa-sisa memori dari masa laluku. Potongan-potongan yang terlupakan perlahan muncul dan bersatu di dalamku.
Kebersamaan yang dulu kualami dengan laki-laki ini, bahkan setiap ucapan yang kami bicarakan kembali teringat. Perasaan hangat dan nostalgia mengalir di seluruh kulit. Terasa menyenangkan.
"Yah, ini takdir"
{END}