# Seorang wanita yang kuat, tahu bagaimana menjaga hidupnya, bahkan dengan air mata di matanya, ia masih berhasil mengatakan " saya baik baik saja " sambil tersenyum. #
Dia ... seorang wanita penuh impian.
Dia .... seorang wanita berani meraih mimpi sejak usia dini.
Berawal dari sebuah keyakinan dan tekad seorang anak perempuan.
Dialah Ningsih, seorang bungsu dari keluarga lengkap yang tinggal di sebuah kampung kecil bernama mulaki. Mayoritas penduduk desa ini adalah nelayan, dan rata rata penduduk dengan pendapatan rendah atau miskin.
Hal yang tidak bisa di pungkiri adalah adat.
Sudah menjadi adat di kampung mulaki, anak perempuan hanya boleh di rumah, tidak boleh sekolah, dan akhirnya harus menikah di usia belia.
Warga di kampung tersebut, mempunyai pandangan, bahwasanya kodrat wanita pada akhirnya harus melayani suami sehingga tidak perlu bersusah payah sekolah.
Sedangkan anak laki lakinya diusahakan bersekolah, karena dianggap perlu untuk mencari nafkah keluarga nantinya.
Disinilah Ningsih, terjebak di pedalaman kampung, hanya ayah, ibu dan kakak lelakinya saja yang menemani kesehariannya berada di rumah.
Pagi itu, ketika si kakak hendak pergi kesekolah, Ningsih hanya bisa mengintip dibalik kusen jendela dapur. Ada rasa yang aneh ketika sang kakak hendak pergi sekolah. Diapun tak mengerti.
Hal yang sangat membuatnya gembira, saat si kakak pulang kerumah, dia pasti menceritakan hal hal yang di laluinya masa di sekolah.
Ningsih selalu mendengar semuanya dengan antusias.
Kakaknya orang yang sangat baik, dan orang pertama yang mengetahui bakat Ningsih.
Namanya Arman, ia dengan senang hati selalu mengajari Ningsih pelajaran yang Arman dapatkan di sekolah.
" Ningsih, aku punya PR mengarang bahasa indonesia, maukah kamu membantuku membuatnya?" tanya Arman.
" Benarkah kak, apa boleh ?" jawab Ningsih tak sabar.
" Iya ", jawab Arman singkat sambil mengelus lembut pucuk kepala adik satu satunya.
Untuk pertama kalinya Ningsih belajar menulis,
si kakak mengajari dengan telaten secara diam diam, tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka.
Ningsih sangat beruntung mempunyai kakak sebaik Arman.
Sejak saat itu, tanpa Ningsih sadari, dia jadi sering menulis, tentang apa saja yang dilihat, bahkan banyak tulisan yang Ningsih anggap tidak terlalu penting.
Sampai suatu ketika, Arman membaca tulisan tulisan Ningsih yang disimpan di bawah baju di lemari.
" Ningsih, ini kamu yang buat?".
" Iya, kak Arman, ma-af ....aku....aku..." jawab ningsih terbata karena takut akan dianggap hal yang tidak wajar.
" Dik, aku tahu ada sesuatu di dalam dirimu,
sejak awal, kamu memang anak perempuan yang berbeda dari anak anak di kampung kita ini, boleh aku tanya sesuatu dik?".
" Apa itu kak?".
" Apa cita citamu saat ini?".
Sejenak suasana hening, tidak ada kata kata, Ningsih hanya bergeming mendengar pertanyaan yang di lontarkan kakaknya.
" Apa sebenarnya impian mu, dik? jawablah tidak usah ragu", tanya kakaknya lagi.
" Aku ........ sebenarnya, aku tidak yakin kak, apakah boleh aku mempunyai mimpi? Aku tidak tahu, teman teman anak perempuan lainnya tidak pernah membicarakan mimpinya. Mereka hanya bercerita tentang suami mereka kelak, kehidupan yang memang harus mereka jalani nantinya".
Jawab Ningsih lugas, tidak terasa buliran air bening menetes di pipinya yang mungil.
" Ningsih.... setiap orang boleh memiliki mimpi dan harus memilikinya. Ketika kamu mempunyai impian, kamu akan punya tujuan hidup. Aku mengerti dengan keadaan ini, memang sulit dengan keterbatasan dan segala ketidakmungkinan, tapi ketahuilah dik....mimpi itu bisa membuat keterbatasan menjadi kebebasan untuk melangkah dan ketidakmungkinan bisa menjadi kemungkinan yang tak terduga. Yakinlah dengan mimpimu, Aku lihat kamu mempunyai bakat menjadi seorang penulis", Arman meyakinkan Ningsih.
Ningsih hanya semakin terisak dengan penuturan sang kakak, Ningsih tidak pernah mendengar perkataan seperti itu sebelumya, bahkan dari kedua orang tuanya sekalipun, yang membuat Ningsih semakin terguncang adalah kata terakhir Arman.
#######
Selang beberapa hari sejak peristiwa itu, Ningsih sering melamun, memikirkan masa depannya kelak, dia tidak mau hidupnya berakhir sama dengan anak anak perempuan lain di kampung ini.
Menikah di usia belia dan hanya mengurus rumah tangga tanpa ada cita cita yang lain. Ningsih berandai andai menjadi sesuatu, sesuatu yang berbeda dari anak seusianya.
Siang ini Ningsih pamit pada Ibu, ingin berkeliling kampung, Si Ibu kaget ketika anaknya yang jarang keluar rumah tiba tiba ingin keluar untuk berkeliling pula.
Dengan alasan ingin menikmati suasana kampung dan sedikit bujukan, akhirnya si Ibu mengijinkan.
Beruntung siang ini bapak belum pulang kerja, kalau tidak, mungkin hanya menjadi rencana saja tanpa ijin beliau.
Siang ini begitu terik, tak kuhiraukan panas matahari, langkah demi langkah ku jejaki sudut sudut kampung. Langkah kakiku berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan, kulihat sebuah kotak hitam berukuran kecil, sedang memperlihatkan hiruk pikuk orang dan jalanan besar di suatu tempat. Akupun tak mengerti, tetapi kudengar orang menyebutnya televisi.
Kulihat dengan saksama tontonan di depanku, tampak kendaraan aneh yang tidak pernah kulihat bentuknya melintas di jalan mulus, dan sesekali terlihat bangunan tinggi, gedung gedung pencakar langit.
Aku terpana dan melongo melihat semua yang di tampilkan, sederet tulisan berjalan di layar tersebut,
tertulis " Lalu lintas kota Jakarta ".
Kata kata itu sangat asing menurutku, tetapi yang jelas kuingat, suasana yang terlihat di layar kaca tersebut membekas dalam ingatan dan membuatku bermimpi untuk pergi kesana,
" Mungkinkah aku ?" batinku.
Setelah terpikat pada apa yang kulihat, aku segera pulang dengan semangat, tak sabar rasanya ingin menceritakan semua pada kakak.
" Kak Arman..", aku memanggilnya tak sabar.
" Darimana saja kamu dik?" Kak Arman menelisik wajahku.
Kuceritakan panjang lebar apa saja yang aku lihat hari ini, dan bertanya tentang tulisan yang kubaca di layar televisi.
" Kak, maksud tulisan, lalu lintas kota jakarta itu apa?", tanyaku dengan penuh penasaran.
" Jakarta itu nama ibu kota negara Indonesia, negara kita, disana pusat kota besar dik, lalu lintas jakarta berarti suasana di jalan besar jakarta tempat melintas berbagai macam kendaraan". Terang kak Arman panjang lebar.
" Kak, aku ingin sekali kesana", sambil berbinar Ningsih menatap lekat kakaknya.
" Kelak, jika kamu berusaha, semua akan menjadi mungkin adikku, berkeliling dunia, mengelilingi kota asing yang belum pernah kita kunjungi. Tak kusangka ternyata adik kecilku ini mempunyai impian yang besar", kata Arman sambil mengelus elus kepala Ningsih.
#######
Hujan berkelebat dengan hebatnya, angin berhembus semakin kencang, terdengar sesekali suara petir bergemuruh, menambah suasana mencekam di senja sore ini.
Hari ini, tidak biasanya kakak terlambat pulang dari sekolah, padahal di luar sana, hari semakin gelap ditambah suasana hujan yang tak kunjung reda menghiasi senja. Tapi, aku tidak mau berpikiran yang tidak tidak, mungkin saja kakak berteduh di suatu tempat, menunggu redanya hujan yang di sertai gemuruh petir.
Kulihat Ibu dan Bapak sibuk dengan aktifitasnya masing masing, kakak yang belum pulang juga membuatku semakin khawatir.
" Pak, kakak belum pulang sekolah, sebentar lagi malam".
" Mungkin kakakmu ada urusan penting, tidak apa apa, jangan kuatir, dia kan anak laki laki".
Bapakku terlihat sangat sibuk dengan jaring jaring yang meliliti tangannya. Karena dihiraukan, aku berpaling ke arah Ibu dan berbicara padanya.
" Buk, kak Arman belum pulang juga, mungkin terjadi sesuatu dengannya".
" Tidak akan terjadi sesuatu dengan kakakmu Ning, sudahlah jangan berpikir yang tidak tidak". Ibu pun sama bereaksi seperti Bapak.
Toookkkk.......Tooookkkkk.....Tokkk
Terdengar ketukan pintu yang tidak sabar, kami semua tersentak kaget.
Bapak membukakan pintu, Ningsih dan ibunya mengikuti di belakang.
" Anakmu....Anakmu si Arman, Arman....", kata tetangga sebelah dengan nafas terengah engah.
" Kenapa anakku, Arman belum pulang sampai sekarang, dimana anak itu?" Bapak mulai kuatir.
" Anakmu kecelakaan! sekarang di bawa ke mantri". Pak udin akhirnya memberitahukan maksud kedatangannya.
Tanpa mengulur waktu, kami segera menyusul, melihat keadaan kak Arman.
Ningsih terhenyak lemas, melihat sang kakak yang di balut perban putih bercak merah, tampak darah segar masih mengalir.
" Kak......", Ucapku kaku, air mata sudah tumpah membasahi pipi.
Tak kuasa melihat kak Arman dengan keadaan seperti ini.
" Ningsih, kakak mungkin tidak bisa membahagiakan kamu, Ibu dan Bapak. Tapi, aku tahu kamu bisa dik, kamu anak yang pintar dan berbakat", kata kakak pelan sambil sesekali menyatukan gigi atas dan bawah untuk menahan rasa sakit. Deraian air mata tak dapat kubendung.
" Kakak sudah tidak kuat lagi Ningsih, kakak mohon kamu harus bisa meraih cita citamu".
Kata terakhir yang kakak ucapkan untukku selama lamanya, tawa dan senyumnya tidak akan pernah kulihat lagi.
#########
Usai pemakaman, kata kata kak Arman terngiang ngiang di benak Ningsih, sejak Arman meninggal, Ningsih tidak berbicara pada siapapun termasuk
bapak dan ibunya.
Ningsih termangu sambil menopang dagu di atas meja kecil tempatnya dan kak Arman selalu belajar.
Tanpa sadar Ningsih menarik secarik kertas dan menuliskan kalimat demi kalimat. Dituangkan impiannya dalam bentuk tulisan.
Aku ingin menjadi sesuatu, aku ingin meraih mimpi mimpiku, aku ingin membahagiakan orang orang yang kusayangi, aku ingin sekolah, aku ingin ke Jakarta, aku ingin menjadi sarjana, aku harus menjadi penulis hebat. _ Ningsih_
Keyakinan Ningsih untuk mewujudkan semua itu semakin kuat dan memberikan keberanian dalam diri untuk bisa terlepas dari adat kampung.
Ningsih memberanikan diri mengungkapkan kemauannya pada bapak dan ibu.Berharap mereka mendukung keinginan Anaknya yang semata wayang. Ningsih tidak mau nasibnya seperti anak perempuan lainnya di kampung ini. Tidak memiliki pendidikan, hanya melayani suami, menunjukkan kelemahan kita sebagai perempuan, atau seperti sang ibu yang kadang dipukul bapak karena tidak beres mengurusi kebutuhannya.Dengan berani Ningsih utarakan maksud dan tujuannya secara halus dan hati hati.
" Ibu, bapak, Ningsih ingin sekali pergi ke Jakarta.
Ningsih ingin sekali mencapai cita cita, izinkanlah anakmu ini pergi".
" Ningsih, apa apaan kamu, anak perempuan mau pergi merantau jauh-jauh. Untuk apa kamu meraih cita-cita, tidak ada gunanya anak perempuan sepertimu, nantinya hanya melayani suami.
Lagipula bisa apa kamu nanti disana?, sekolah pun tak pernah, belajar baca tulis apalagi, pasti hal seperti itu tidak kamu pikirkan". Jelas bapak dengan nada yang semakin meninggi.
Aku melihat ke arah Ibu, tapi beliau diam saja, tidak berani berkomentar.
" Pak, aku bisa baca dan tulis, kak Arman yang mengajariku, izinkanlah aku, berikanlah aku kesempatan, aku mohon pak". Ningsih memohon kepada Bapaknya dengan seluruh daya upaya, agar si bapak mengizinkannya.
" Apa kamu yakin Ningsih? kamu tidak tahu betapa kerasnya kehidupan diluar sana. Bapak hanya kuatir terjadi apa-apa denganmu. Tapi kamu, sama keras kepalanya seperti kakakmu dan bapak.
Bapak tau dari dulu sebenarnya kamu anak perempuan yang berani. Apa cita-citamu Ningsih?".
" Ningsih mau jadi seorang sarjana dan penulis berbakat", deraian air mata tak sanggup lagi Ningsih bendung, Ningsih menangis sejadi-jadinya.
Selama Ningsih menangis, semuanya hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Sampai akhirnya sang bapak dan ibu saling bertatapan dan bapak mulai angkat bicara.
Sambil menghela nafas, bapak pun berkata" Jika memang kamu sudah yakin dan bertekad, raihlah masa depanmu, bapak dan ibu akan menunggu Ningsih disini".
Ningsih memeluk bapak dan ibunya bersamaan.
Keesokan harinya, Ningsih segera menyiapkan apa saja yang harus di bawanya sebagai bekal perjalanan ke jakarta.
Ningsih akan berangkat tiga hari kemudian setelah semuanya dipersiapkan dengan baik. Tak disangka, Ningsih mendapat sambutan baik dari para tetangga kampungnya. Kabar dirinya yang akan berangkat ke kota tersebar luas dan banyak pula yang mendukung keputusannya.
Silih berganti para tetangga berdatangan kerumah, kadang sekedar memberi ucapan selamat ataupun memberikan bekal perjalanan.
Awalnya mereka kaget mendengar keberangkatanku ke kota, namun di satu sisi mereka juga merasa bangga, anak perempuan kampung seperti dirinya berani untuk meraih cita cita. Sahabat dan teman temanku memberikan semangat untuk Ningsih, mereka juga ingin seperti Ningsih, dan mengatakan bahwa anak anaknya kelak, harus bisa mendapat pendidikan tidak peduli laki laki ataupun perempuan.
Sebenarnya, bagi mayoritas warga kampung Mulaki, berpendidikan tinggi ( apalagi sampai pergi ke kota ) adalah bukan suatu keharusan melainkan hal yang tabu. Karena logikanya mengumpulkan rupiah dan menikah merupakan hal yang utama.
Namun, Ningsih dapat membuktikan, jalan pikiran dan pandangan itu salah, salah besar.
Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama.
Dan ada banyak peluang diluar sana, asalkan kita mau berusaha.
Termasuk Ningsih, wanita inspiratif membangun perubahan di kampungnya. Ningsih melesatkan anak panahnya ke langit nan jauh disana, dia tak mau menyerah dengan keadaan. Bagaikan Srikandi, Ningsih melesat maju dan menarik busur nya dengan kencang agar impiannya terwujud.
Ningsih sudah berhasil merubah pandangan orang orang kampungnya, Yang mana setiap orang berhak mempunyai cita cita dan mempunyai kesempatan untuk meraihnya.
Tamat.....
Semoga kehidupan kita bisa saling bermanfaat antar sesama.
Semangat semuanya kakak readers dan authors.
💪💪💪
Mohon dukungannya 🤗