Jika semua bisa diputar kembali, ingin rasanya pergi bersamanya tanpa harus sendirian pada akhirnya~
Dia disini bersamamu, tak bisakah kau rasakan?~
Sungguh??~
.........
"Huftt lelah sekali!", ucap Tya sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur dengan pelan.
Tya... nama yang bagus. Tepat sekali untuk seorang gadis berparas cantik dan anggun. Pemilik nama lengkap Chintya Elvetha ini merupakan seorang mahasiswi di salah satu universitas ternama di kota X. Ia tinggal di sebuah asrama sederhana.
Seusai jam penutup kegiatannya dikampus, Tya kembali ke asramanya. kini ia merebahkan raganya yang dibaluti lelah dan pegal itu di kasur empuk miliknya. Saking lelahnya, ia pun mulai memejamkan matanya dan terlelap.
"Tya, kau pasti sangat lelah bukan? tidurlah dengan nyenyak, aku selalu bersamamu disini." ucap seorang gadis lalu tersenyum.
Suara itu... terdengar samar. Wajahnya yang tak bisa dilihat jelas. Senyuman itu?, "Siapa??", batin Tya. Sosok gadis itu menjauh dan pada akhirnya tak nampak lagi.
"hosh..hoshh....", nafasnya memburu.
Tya terbangun dan ternyata hanya mimpi. Tetapi baginya seperti nyata. Sosok gadis itu, senyumnya sangat lekat di memori Tya. meski wajahnya samar, ia masih mengenalnya.
"n..na... Nadine??", gumamnya.
"deg..deg..deg..", jantungnya berdegup kencang.
Tya menjelajahi seisi ruang kamarnya dengan bola mata coklatnya. Mencari-cari sesuatu, namun tak ditemukan.
Nadine, dengan nama lengkap Nadine Amelie. Pemilik nama ini merupakan sahabat satu-satunya yang dimiliki Tya setelah sekian lamanya ia hidup hanya sebatang kara. Orang tuanya entah dimana. Masih hidup atau tidak pun ia tak mengetahuinya. Sungguh malang nasib gadis ini. Tapi Tya tetap semangat menjalani hidupnya, walau sebenarnya ia sangat rapuh. Persahabatannya dengan Nadine sungguh tak bisa hanya diartikan lewat kata. Keduanya bagaikan sepasang sepatu yang tak bisa dipisahkan. Namun sayangnya dua tahun yang lalu tepatnya saat mereka mendekati kelulusan SMA, Nadine telah tiada. Penyebab kematiannya masih belum jelas. Entah mengapa pihak yang bersangkutan berhenti menyelidiki kematian sahabatnya itu.
Selama dua tahun silam hanya tanda tanya tanpa sepatah jawaban yang didapat Tya tentang kematian sahabatnya. Beberapa petunjuk ditemukan namun hingga saat ini petunjuk itu hanyalah petunjuk tanpa mengungkapkan kebenarannya.
"Nadine, aku merindukanmu", ucap Tya tanpa sadar meneteskan air matanya.
Kenangan demi kenangan yang tertoreh di lembaran hidup Tya bersama sahabatnya itu mulai berputar kembali dipikirannya.
"belum ku temukan, tapi aku berjanji akan mengungkapkan kebenarannya.", batin Tya yang kini pipinya telah basah dibanjiri air matanya.
Keesokan harinya Tya beraktivitas seperti biasanya. Tentu saja ia dipadati oleh jadwal kuliahnya dan seusai dari kampus ia langsung mencari kebenaran kematian sahabatnya.
"Apa yang harus kulakukan?! ayolah Tya kau selalu mempunyai cara untuk menyelesaikan masalah!", batin Tya yang sedang mondar-mandir di depan cermin kamarnya.
"Apa aku harus meminta bantuan polisi lagi?!", pikirnya.
"ahh..tidak! itu tak akan membantu, selama dua tahun silam saja mereka tak menemukan apapun!", ucapnya.
"lalu bagaimana?!", tanyanya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba Tya mengingat kembali kejadian dimana ia melihat mayat sahabatnya. Tak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Dokter pun bilang tak ada luka dalam pada dirinya. Lalu apa yang terjadi dengannya? ini sangat aneh.
Hari demi hari berlalu, masih tetap sama. Tak ada kemajuan tentang kematian sahabatnya. Tya tak putus asa. masih dengan tekad nya.
"Tya kau dipanggil tim dosen pembimbing keruangannya", ucap salah seorang mahasiswi yang merupakan teman sekelas Tya.
"i..iya, terimakasih", ucap Tya singkat.
Selama kuliahnya Tya tak mempunyai sahabat atau teman yang benar-benar dekat dengannya. Lantas ia sudah mencoba untuk berteman tapi tak ada yang tulus seperti Nadine. Sejak saat itu ia lebih memilih untuk menutup dirinya.
Tya berjalan melewati lorong, dan menaiki tangga di ujung lorong. Sampailah di depan ruangan yang berpintu kaca. Di dalam sana sudah ada dua orang pria dengan celana katun dan jas hitam serta dalaman kemeja putih. Tak lupa dasi hitam bergaris dongker terpasang rapih di kerah kemejanya, namun pria satunya tidak mengenakan dasi. dan seorang wanita mengenakan rok hitam selutut dan baju kemeja lengan panjang. Yang tak lain mereka merupakan tim dosen pembimbing.
"ceklek", suara pintu terbuka.
"masuklah", ucap salah satu pak dosen dengan nada suara yang dingin.
Ruangan yang sunyi dengan aura dingin dari dosen-dosen itu membuat suasana semakin mencekam. Tya hanya berdiri diam di depan meja dosen.
"Tik,tok,tik,tok..", suara detik jam memenuhi ruangan.
"emm...ada apa ibu dan bapak memanggil saya?", tanya Tya dengan hati-hati.
ketiga Dosen tersebut memutar kursi yang ia duduki sedari tadi hingga menghadap ke Tya.
"duduklah", ucap Bu dosen dingin.
Tya pun duduk di kursi yang sudah tersedia di depan dosen itu. Keringat bercucuran. Entah mengapa suasananya begitu tidak nyaman.
"deg,deg,deg..", jantung Tya sedikit memompa lebih cepat sehingga ia bisa merasakannya.
"Tya.. apa kau baik-baik saja?", ucap Bu dosen.
"i..iya bu saya baik-baik saja. apa ada yang salah dengan diri saya?", tanya Tya sedikit gugup.
"ada yang harus kami bicarakan serius denganmu", ucap Bu dosen tegas.
"glek..", Tya merasakan ia kesulitan menelan saliva nya.
"se..serius?? soal apa Bu, pak?", tanya Tya yang bertambah gugup.
Dosen yang memperhatikan Tya tahu bahwa ia sedang gugup. Tentu saja terlihat jelas dari nada bicara Tya yang sedikit terbata-bata.
"jangan gugup seperti itu. ini soal nilai mu. sebentar lagi kau akan lulus, tapi revisi skripsimu belum selesai juga. apa yang membuatmu lama sekali menyelesaikannya? sedangkan teman yang lain sudah menyerahkan revisinya", jelas salah satu pak dosen.
Tya hanya menunduk. memang benar akhir-akhir ini dia hanya fokus untuk mencari kebenaran kematian sahabatnya sehingga ia lalai dengan tugas kampusnya. Setelah dua puluh menit berlalu dengan lontaran kata yang panjang dari dosen, Tya pun dipersilahkan keluar untuk segera menyelesaikan revisi skripsinya dan untuk memenuhi syarat ujian dan wisuda.
"huftt, lelahnya! rasanya aku ingin mati saja. belum selesai masalah kematian Nadine, sekarang aku harus secepatnya menyelesaikan skripsiku!", ucap Tya sambil meraup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dengan lemas.
"ayolah Tya , mana dirimu yang tak pernah mengeluh dan pantang menyerah?!", batin nya.
"mungkin butuh istirahat sejenak. lebih baik aku tidur", gumam Tya.
Tya pun tidur tanpa mengganti pakaian yang ia kenakan ke kampus tadi. Tak bergeming sedikit pun. Betapa lelahnya ia hari ini.
"maafkan aku telah meninggalkanmu. Aku percaya kau adalah Tya ku yang tegar. Jangan hiraukan tentang aku, fokuslah pada cita-cita mu.", ucap seorang gadis dengan senyuman yang sama di mimpinya beberapa hari lalu.
"Na..Nadine, kau disini? aku akan menepati janjiku.", ucap Tya dan berjalan menghampiri sosok gadis itu yang tidak lain adalah Nadine.
Nadine hanya tersenyum, sambil merentangkan tangannya. Tya memeluk Nadine dengan erat dan menumapahkan tangis kerinduannya.
"Tya, dengarkan aku. jangan menangis lagi, dimana Tya ku yang kuat?? jadilah dirimu yang tegar! aku akan selalu di sisimu", ucap Nadin dengan senyum manis terukir dibibir mungil nya itu.
Tya hanya diam. Tak tahu apa yang harus diucapkannya. Hanya menatap mata sayu itu dan senyuman itu.
"kenapa diam saja?? kembalilah... lihat diary yang pernah aku berikan padamu, ini sudah saatnya", ucap Nadine lalu menggenggam erat tangan Tya, tak lupa senyuman itu. Senyuman yang selalu memberi kehangatan dalam diri Tya.
Nadine pun mulai menjauh pergi di antara kabut putih yang tebal itu.
"NADINEE....!!!!", teriak Tya.
Sontak Tya terbangun dari tidurnya yang lelap.
"mimpi itu lagi? Nadine...", gumam Tya.
Ia beranjak dari tidurnya, dan menghampiri meja belajarnya. Dibukanya laci paling bawah. Dengan tangan bergetar Ia memberanikan dirinya mengambil diary itu. Genggaman erat diary itu oleh tangannya yang bergetar. Diusapnya cover paling depan yang sedikit berdebu.
Tya mendudukkan dirinya di kursi belajarnya dan membuka perlahan diary itu. Lembaran demi lembaran di bacanya.
"Hai, mungkin ini waktu yang tepat kau mengetahuinya. Aku sudah tahu, pasti kau tak akan membuka diary ini setelah aku pergi. Karena aku tahu kau tak punya keberanian untuk itu. Dari awal aku sudah katakan, "simpanlah kapanpun kau siap bacalah!", kini kau sedang membacanya, aku tahu kau pasti membacanya meski butuh waktu untuk itu. (halaman 1)"
"Aku sebenarnya ingin menceritakan ini padamu, tapi aku takut kau khawatir. Jadi aku lebih memilih menuliskannya untukmu. Ku pikir di waktu yang tepat nanti kau akan mengetahuinya. sejak seminggu lalu aku mengalami sesuatu yang aneh di kamar kost ku. Ada banyak bercak darah di dinding kamar saat aku pulang dari sekolah, namun itu semuanya hilang saat aku mengedipkan mataku. Ku pikir itu ilusi ku karena kelelahan. Tapi itu terus berulang di minggu selanjutnya. (halaman 2 / 2015)".
"selama satu tahun itu aku mengalami hal-hal aneh di kamar ku. Entah apa yang terjadi padaku. Aku berusaha menyembunyikannya darimu. Tak ada yang mengetahui ini. (halaman 3/2015)".
Tanpa disadari tetesan air bening jatuh membasahi salah satu lembaran buku diary yang Tya pegang. Terus mengalir membasahi pipinya yang putih itu.
"mengapa?!! mengapa kau tak mengatakan padaku dari awal??!", ucap Tya sedikit teriak dengan isak tangisnya.
Tya terus membaca hingga lembaran paling akhir. Tertulis "Aku pergi karena dia membunuhku tanpa bekas, dia adalah pria penghuni kamarku(Nadine)". tulisan itu terukir oleh darah, terlihat jelas sekali. Tya pun terkejut ketika membaca lembar itu. Rasa sakit yang tak pernah diundang tiba-tiba masuk begitu saja menorehkan luka yang dalam. Bersaut dengan isak an tangisnya, Tya memeluk erat diary itu.
"deg,deg,deg...hosh..hoshh", detak jantung dan nafasnya tidak teratur.
"Maaf Nadine!!! aku terlambat!!!", ucapnya lirih bersama tangisnya.
"Sudah jangan menangis, Ayo mana Tya ku yang kuat?! mana Tya ku yang kuat... manatiakuyangkuat....", suara itu bersaut saut ditelinga Tya.
Tya menarik nafas panjang, menenangkan dirinya.
"yaa... aku Tya yang tegar dan kuat! aku harus mengikhlaskan mereka, aku harus semangat menjalani hidupku, dan membuat mereka bangga!!", ucap Tya yang mulai tenang.
Setelah beberapa minggu Tya sibuk menyelesaikan revisi skripsinya, akhirnya hari yang dinantikan pun tiba. Di ruangan yang megah, dengan kursi yang tersusun rapih, semua mahasiswa/mahasiswi yang hadir dengan senyuman bangga mereka, ditemani orang tua disisi mereka tak kalah bangganya.
"huftt, andai...ada mereka di sisiku, aku pasti akan sangat bahagia", batin Tya.
"Aku masih disini bersamamu dan tak akan pernah pergi lagi, walau kau tak bisa melihatku, aku selalu melihat mu disini. Aku bangga padamu!", batin Nadine sambil tersenyum.
"Aku yakin! ibu, ayah, Nadine... dimana pun kalian sekarang, pasti kalian melihatku disini dengan bangga! terimakasih karena selalu ada", batin Tya lalu tersenyum.
~SELESAI~
Terkadang takdir tak selalu baik, tapi yakinlah dengan ikhlas semuanya akan baik-baik saja. Meskipun raga tak lagi berjumpa, sosok dia yang selalu ada bersamamu akan tetap di sisimu.
Ketika kita tak seberuntung orang lain yang mempunyai segalanya, ingatlah... orang lain belum tentu se tegar kita dalam menjalani hidupnya!