Kata kunci : Hotel, hantu, hujan yang dingin.
Malam itu, aku baru saja sampai di terminal. Bersama temanku Ramli. Baru pertama kalinya kami menginjakkan kaki di kota pelajar, Yogyakarta. Tujuan kami sendiri ke sini, untuk wisata edukasi.
"Ram! Udah malam nih, kita mau tidur dimana?"tanyaku yang sudah mulai mengantuk.
"Kita cari hotel aja! Kalau bisa yang sesuai budget lah, enggak mungkin kita tidur di pos ronda lagi!"usul Ramli.
"Ya udah. Terserah kamu aja Ram, aku udah capek banget nih!"kataku sambil menguap.
"Iya-iya!".
Aku dan Ramli menaiki bus, di dalamnya masih ada beberapa orang yang sepertinya baru pulang kerja.
Ramli mengajakku duduk di belakang, karena sudah mengantuk. Aku menutup kepalaku dengan tudung jaket dan bersandar di kaca bus. Bus pun mulai berjalan.
Di tengah lelapnya aku tidur, samar-samar aku mendengar Ramli sedang berbicara dengan seseorang.
"Serius! Bapak punya penginapan?!!"tanya Ramli antusias.
Aku terbangun,
"Kenapa Ram? Kok teriak-teriak?"tanyaku setengah sadar.
"Ini Yan! Bapak ini namanya Sugeng, katanya dia punya penginapan. Katanya kita bisa nginap di situ!"kata Ramli antusias.
"Oh, gitu ya?! Ya udahlah, yang penting ada tempat istirahat! Bilang sama bapak itu makasih!"kataku lanjut tertidur lagi. "Kalau udah sampai, bangunin aku ya!".
Ntah berapa lama di perjalanan, tahu-tahu bus pun berhenti.
"Rian! Udah sampai! Bangun!"kejut Ramli.
Aku terbangun, langsung aku menyandang tas untuk mengikuti Ramli turun.
Saat turun, aku mengucek mataku. Tampak penginapan itu seperti bekas Hotel Belanda. Mulai dari bentuk dan arsitekturnya percis sekali dengan bangunan kuno.
"Ini penginapannya??".
"Wah! Lumayan besar ya!"Ramli terpukau.
"Mari masuk! Saya antarkan langsung ke kamar!"ajak Pak Sugeng ramah.
Kami berdua mengikuti Pak Sugeng dari belakang,
"Pak, maaf nih kalau saya lancang! Bapak di sini tinggal sendirian?"tanyaku.
"Ah! Enggak kok, ada juga penghuni lain di kamar ini. Kenapa? Sepi ya?".
Aku mengangguk, sedangkan Ramli sibuk terpana dengan benda-benda kuno di penginapan itu.
"Nah! Ini kamarnya! Dan ini kunci kamarnya!"Pak Sugeng memberi kunci ke Ramli.
"Makasih banyak pak! Kalau begitu, berapa pak harga sewa kamarnya??"tanya Ramli.
"Enggak usah bayar! Kalian kan hanya satu malam di sini"ucap Pak Sugeng tersenyum.
"Waduh! Kami enggak enak pak jadinya!".
"Sudah! Nak Ramli dan nak Rian istirahat saja, kalau ada apa-apa panggil saya!".
"Ya udah pak, makasih lagi kalau begitu!"ucap Ramli.
"Iya! Saya tinggal dulu!"pamit pak Sugeng.
Ramli kemudian membuka pintu kamar itu, aku yang setengah mengantuk melihat ke arah samping kiri. Tampak ada seorang perempuan bergaun merah baru saja memasuki kamarnya.
"Oh penghuni sini!"ucapku dalam hati.
"Yan! Yuk, masuk!"ajak Ramli.
Aku mengangguk, lantas aku langsung berhambur ke atas kasur. Sudah sedari kemarin aku kangen kasur, di tambah lagi kasurnya empuk.
"Ih! Langsung tidur aja!"keluh Ramli yang sedang mengunci pintu.
Masa bodoh dengan Ramli, aku sudah mengantuk dan langsung terlelap begitu saja.
Malam itu, aku kebelet buang air kecil. Untung saja ada kamar mandi di kamar. Lantas aku bergegas menuju kamar mandi.
"Ah! Plong!"kataku lega.
Setelah cebok dan menyiram bekas pipisku, baru saja aku mau keluar dari kamar mandi. Aku melihat sebuah peti tergantung di atas lemari penyimpanan obat.
"Peti apa itu?"tanyaku penasaran.
Aku mengambil peti itu, dan melihat-lihatnya. Tampak peti ini usang dan berdebu. Pasti peti dari zaman Belanda dulu, pikirku saat itu.
"Eh? Kok bisa di buka?".
Aku melihat isi dalamnya, tampak ada kain pembungkus putih. Aku membuka ikatan tersebut dan rupanya..
"Ha? Kok ada perangkat shalat? Wah! Udah enggak betul ini! Masa di letakkan di tempat kayak gini sih?"kataku kesal.
Aku langsung menutup peti itu dan membawanya keluar,
"Apa-apaan sih ini! Pak Sugeng bagaimana sih?"dumelku kesal.
Aku mengeluarkan perangkat shalat pas di samping meja tidur sebelahku.
"Ram!!"panggilku.
"Hmm!"balas Ramli yang masih tidur.
"Bangun dulu!"kataku sambil mengguncang tubuh Ramli.
Ramli terbangun linglung, "Hmm? Apa? Baru juga aku tidur!!".
"Ini loh, masa Pak Sugeng letak perangkat shalat di kamar mandi! Kan enggak etis, gitu! Sedangkan kamar mandi aja tempat tinggal setan!"omelku kesal.
Ramli langsung tersentak, "Ha??".
"Perasaanku ada yang enggak beres dengan tempat ini! Sepi! Tadi aku lihat cuma satu orang aja yang ada di sini!".
"Siapa?"tanya Ramli.
"Itu perempuan, yang di kamar pojok!".
Ramli langsung melotot kaget, "Yan, mendingan kita tidur!".
"Kenapa?! Jangan nakutin dong!!".
"Di penginapan ini enggak ada cewek! Pak Sugeng yang bilang sendiri!"bisik Ramli.
Aku langsung menarik selimut, begitu juga dengan Ramli. Kami berdua ketakutan, sampai akhirnya kami tertidur.
Ntah sadar ataupun tidak, aku merasa ada sesuatu yang menjalar di kakiku. Makin lama, kakiku terasa ada yang melilit. Menjalar sampai pahaku, aku tidak bisa bergerak. Bahkan berteriak pun tidak bisa, aku melihat di sampingku, Ramli tidak ada.
Saat aku balik melihat ke arah depan, muncul sosok perempuan berlidah panjang. Tubuh bawahnya seperti ekor ular yang melilit kaki hingga bagian perutku.
Lidahku tiba-tiba sangat kelu untuk mengucap kalimat suci, bahkan ayat kursi pun tidak bisa terucap,
"A..a..allah!".
Perlahan tapi pasti, akhirnya lilitan itu melonggar. Aku pun tidak sadarkan diri.
"Mas! Mas! Bangun mas!".
Seseorang menepuk-nepuk pipiku, aku pun terbangun.
Tampak banyak kerumunan warga ada di dekatku, bukan sebuah hotel atau pun penginapan Belanda. Aku tiba-tiba saja sudah terbangun di atas kuburan.
"Mas, ngapain tidur di sini?"tanya salah seorang bapak.
"Ha? Saya enggak tahu pak! Semalam saya tidur di penginapan kok pak! Kenapa saya tiba-tiba di sini?"tanyaku kebingungan.
"Mas, berdua ya sama temannya?".
"Kok bapak tahu?".
"Teman mas, tadi tidur di atas pohon rambutan. Ada orang tadi yang jumpa!"ujar bapak itu.
Badanku mulai panas dingin, "teman saya dimana pak? Dia enggak apa-apa kan?".
"Alhamdulillah enggak apa-apa! Pasti mas nya ketemu dengan Pak Sugeng kan?"duga bapak itu.
Aku mengangguk,
"Syukur, mas nya bisa selamat dengan temannya. Waktu itu juga ada yang sama kayak masnya. Bedanya mereka ganjil. Satu teman mereka hilang. Pak Sugeng itu di kenal sakti, dia bersekutu dengan setan. Sampai sekarang, Pak Sugeng tidak jelas keberadaanya. Bahkan dulu, saat dia masih di kampung ini, anak istrinya di jadikan tumbal!"terang bapak itu.
"Pak! Saya malam tadi, buka peti isinya alat shalat. Terus saya bawa keluar kamar! Peti itu saya dapat di kamar mandi!".
Wajah bapak itu sedikit lega, "Alhamdulillah, untung kamu temukan peti itu!".
"Kenapa rupanya pak?".
"Pasalnya kelemahan Pak Sugeng itu, siapa saja yang menemukan peti itu maka semua ilmu sihir dan kesaktian Pak Sugeng lenyap. Bahkan bisa di bilang berbalik menjadi Pak Sugeng jadi tumbalnya!".
Aku lemas mendengar itu, untung saja aku dan Ramli selamat. Untung saja aku mengeluarkan peti itu, dan sempat juga aku melawan makhluk jadi-jadian milik Pak Sugeng itu dengan kalimat suci.
"Ya Allah, terimakasih atas pertolonganmu!"ucapku dalam hati.
TAMAT
(Silakan bagi yang mau mampir ke cerita horror ku yang baru saja tamat judulnya "Chat". Like, komen atau Vote juga boleh! Bagi yang mau, tidak di paksa ya!!!)