"Iya, Clara ayo main di kelas!"
"mama aku ke kelas dulu ya"
"Iya sayang belajar yang rajin"
"dada mama I Love You"
"I Love You To sayang"
Sekarang aku akan pergi ke kantor, aku tidak ingin memikirkan mas lagi.
~~~~
"Selamat Pagi Bu Lisa" salam dari sekretaris pribadi Lisa yang selalu membantu pekerjaan kantornya
"Selamat pagi juga Pak Arqa" Jawabku dengan senyuman menyembunyikan perasaan kecewa dan hancur ku karena masalah rumah tangga yang berantakan
"Hari ini ada rapat dengan klaen dari perusahaan kosmetik bu"
"Di adakan sekitar jam 10 nanti"
"oh iya aku akan datang"
"Pak Arqa saya minta tolong mengecek data data laporan ini ya kalo udah selesai berikan kepada saya"
"baik bu secepatnya akan saya berikan"
Aku tidak bisa fokus bekerja konsentrasiku hilang, kepalaku mulai pusing, data data ini belum aku selesaikan
"Bu Lisa anda kenapa?"
"Ibu sakit saya antar ke rumah sakit ya bu?"
"ti-tidak usah pak saya cuman tidak enak badan"
"hanya karena kelelahan butuh istirahat saja"
"Lebih baik Ibu pulang istirahat di rumah bu"
"biar saya yang menyelesaikan data data ini!"
"Rapat nanti bisa di batalkan, klaen pasti bisa mengerti kondisi kesehatan ibu"
"Iya pak saya istirahat di rumah saja"
"Terimakasih pak Arqa"
"Tidak apa apa bu itu sudah tugas saya sebagai sekretaris pribadi ibu"
Pak Arqa adalah orang yang baik, ramah, dan suka bersedekah aku takjub dengan akhlak nya yang terpuji, Aku pernah berharap mas Ardan bisa seperti Pak Arqa tapi mas malah selingkuh di belakangku, aku adalah istri sah nya ibu dari anaknya!, dia anggap aku ini apa di hidupnya, aku-aku sangat sedih. Tak terasa aku mengemudi mobil sambil menangis, air mataku tidak bisa di bendung lagi dan terus mengalir ke pipiku
"Aku enggak sanggup mas... Aku udah enggak sanggup hidup bersama kamu lagi"
"hiks... hiks... hiks..."
"Aku mau minta cerai sama Mas Ardan!!"
"Kamu tega!!" Aku berteriak teriak di dalam mobil.
"Aku enggak bisa jujur sama Diva aku akan beritahu dia jika dia sudah besar dan bisa mengerti masalah kehidupan ini"
"Diva masih kecil, ia baru berumur 8 tahun"
"Seharusnya dia masih merasakan manisnya kasih sayang dari kedua orang tuanya tapi- mas Ardan sudah tidak memperdulikannya lagi"
"Malangnya nasib mu Anak ku sayang"
Aku mengemudi sambil menangis terisak - isak menuju rumah. Sampai rumah aku menghapus air mataku dengan mencuci muka di kamar mandi.
Wajahku sembab merah karena terus menangis
"Udah jangan nangis lagi Lisa kamu harus kuat" Batinku ingin melupakan Mas Ardan tidak ada yang mendukungku lagi Mama sama Papa di Bandung, aku belum menceritakan kelakuan Mas Ardan sama orang tuaku.
"Sekarang udah hampir jam 10 aku akan menjemput Diva sendiri"
Biasanya Diva di jemput oleh supir rumahku memang tugas yang kuberikan pada pak supir adalah menjemput Diva dari sekolah kalo aku ada keperluan dan sesekali mengantarku berangkat ke kantor.
Aku kembali merias wajahku agar tidak terlalu terlihat sembab lagi.
Sampai di sekolah Diva, aku menunggu kelas selesai sambil berbincang bincang dengan ibu ibu teman temannya Diva.
"Mama... Mama.."
"Eh sayang udah pulang"
"sebelum pulang ke rumah ke taman bermain dulu yuk, kita main"
"yey asik ayo mah"
Diva sangat senang aku enggak mau mengganggu kesenangannya.
"Ehm..Sayang ini udah sore ayo pulang langsung mandi"
"besok main ke sini lagi"
"baik mah"
"Mah tadi di sekolah aku dapat nilai 100 sendiri di kelas matematika, bu guru memujiku"
"Wah..anak mama memang sangat pintar"
"nanti di rumah mama akan masakin makanan kesukaan Diva"
"Hore"
Diva terus menceritakan hal hal menarik yang terjadi di kelasnya sepanjang perjalanan Lisa hanya menjawab seadanya.
"Diva mandi dulu sama Bi Idah ya mama mau ke kamar lihat Email dari kantor"
"Iya mah"
"Bibi Ayo mandi?"
"Iya non gelis"
Aku bersyukur Diva masih bisa bahagia.
"Aku mau lihat Email ada masukan data datakah dari Pak Arqa"
"ternyata ada"
"Bu Lisa saya sudah menyelesaikan data data yang perlu di isi tadi besok di kantor akan saya berikan ke ibu jika kondisi ibu sudah membaik dan bisa datang ke kantor. Sekian terimakasih bu"
"Aku sudah cukup tenang aku akan ke kantor besok"
"Sekarang aku akan memasak untuk Diva, khusus untuk Diva"
~~~~
Di Kantor Ruangan Meneger Lisa
"Ini bu data data yang kemarin"
"Saya akan kembali ke tempat untuk memeriksa perkembangan proyek"
"Terimakasih banyak pak Arqa"
Entah kenapa pagi hari jika di kantor memandang wajah pak Arqa aku menjadi kembali bersemangat, Aku terpesona dengan ketampanannya juga dengan kerja kerasnya,gadis yang memilikinya pasti akan sangat beruntung memiliki dia dalam hidupnya.
Aku sering tidak sengaja memandangnya terus dari balik pintu kaca saat dia sedang fokus bekerja jika dia tahu aku langsung malu.
"Bu..Bu Lisa?"
"Eh Eh iya ada apa pak" mengusap muka karena melamun
"Ibu kenapa melamun, ibu masih sakitkah?"
"Enggak pak, Pak Arqa ke tempat bapak aja"
"Saya sudah paham dengan penjelasan dari Pak Arqa"
"Baik Bu"
~~~~
"Waktunya pulang nih"
"Eh pak Arqa kemana ya kok enggak ada di tempatnya?"
"Mungkin udah pulang duluan"
"Aku nungguin pak supir di luar saja walaupun masih hujan, ehm enggak papa ah"
( 15 Menit kemudian )
"Lama banget ya belum datang?"
"Permisi, bu Lisa!"
"Eh loh pak Arqa, Pak Arqa belum pulang?"
"Saya belum pulang bu dari tadi, ini baru mau pulang tapi lihat ibu duduk di sini"
"nunggu supirnya datang ya bu kalo masih lama bareng sama saya saja ya bu ini sudah larut malam juga hujan enggak baik perempuan nungguin di luar"
"haduh, saya enggak enak pak ikut bapak"
"enggak papa bu naik mobil saya, jangan sungkan"
"nanti istri bapak tahu jadi salah sangka pak"
"Saya belum menikah bu"
"Hah..Pak Arqa belum punya istri?" Aku sangat kaget mendengar pernyataan pak Arqa, Cowok sehebat dia masih lajang?
"Iya bu belum dapat jodohnya" tutur pak Arqa dengan senyum dan sedikit tertawa.
"jadi ibu bareng saya kan?"
"Ya udah pak saya ikut, Terimakasih banyak pak"
kami langsung menuju parkiran saat hujan sudah sedikit mereda, Pak Arqa membuka pintu mobil belakang meminta aku masuk aku sedikit canggung dengan perilaku pak Arqa
"enggak usah bukain pintu juga pak ini mobil bapak saya jadi enggak enak"
"enggak papa bu"
"Ibu adalah atasan saya, jadi sudah tugas saya sebagai sekertaris juga" lanjut pak Arqa sambil melangkah membuka pintu mobil bagian depan
"tapi pak saya maunya kalo kita di luar jam kerja bapak manggil saya Lisa saja ya pak kita kan masih hampir seumuran" Perkataan ku membuat pak Arqa heran dan berbalik ke belakang memandang ku
"jangan bu enggak sopan kayak gitu"
"Plis pak kan masih tua bapak 2 tahun juga sama saya"
"saya 24 bapak 26 umurnya ya pak, saya juga mau sopan sama bapak"
"Eh ya udah bu saya turutin permintaan ibu"
"Terimakasih lagi pak"
Aku senang dengan jawaban pak Arqa jadi aku tersenyum dan melupakan masalah dengan mas Ardan jika dekat dengan mas Arqa.
"Sudah sampai bu"
"Oh iya Arqa"
"Arqa tadi kamu baru janji loh sama aku panggilnya apa?"
"Eh iya maksud saya Lisa"
" ehm.. pinter Arqa" Tak sadar aku mengelus rambut hitam mengkilat Arqa aku menjadi malu wajah Arqa juga memerah menahan malu
"Mama...mama..mama udah pulang"
"Iya sayang"
"Itu siapa mah"
"Ini om Arqa sekertaris mama, kamu panggilnya om Arqa ya"
"Ayo sapa omnya"
"Halo om Arqa"
"halo juga adek manis, nama adek siapa?"
"nama aku Diva Felivta om"
"ohh umur adek berapa tahun"
"Aku umur 8 tahun om"
"Adek masih kecil belajar yang rajin ya"
"Masuk ke rumah dulu yuk Arqa Diva enggak ada temannya nih"
"aku langsung pulang aja Lisa enggak enak sama suamimu"
"Om ayo temani Diva main dulu Diva enggak ada teman ya om" minta Diva sambil memelas
"Papa sudah lama belum pulang jadi enggak bisa main" mata Diva mulai berkaca kaca
"Eh adek manis jangan nangis nanti udah enggak cantik loh"
"ya udah om main sebentar sama Diva"
"yey! ayo masuk om" Diva menggenggam dan menarik tangan Arqa menuju pintu masuk
"iya adek" Arqa tidak berdaya memenuhi permintaan Diva anak kecil yang masih belum tahu apa apa karena melihat ia senang bahagia.
Lisa hanya terkekeh melihat Arqa tidak berdaya menghadapi Diva yang mempunyai trik jitu agar permintaannya di turuti yaitu menangis.
"Diva, Arqa aku mandi dulu ya kalian mainan aja di sini"
"Bi Idah tolong buatin minuman ya untuk mas Arqa"
"siap nyonya"
"enggak usah repot repot Bi Idah"
"enggak papa pak, bapak pasti lelah juga habis kerja"Bi Idah berjalan menuju dapur untuk membuatkan minum.
Lisa ke kamar dan langsung mandi
"Kenapa aku senang Arqa mau main sama Diva ya"
"perasaan ini aneh sekali?".
Setelah mandi dan ganti baju aku menuju ruang tamu, aku melihat Diva dan Arqa sedang asik bermain, dan aku langsung menghampiri mereka
"wah asik sekali nih, mama ikutan main boleh"
"iya mah ayo"
Arqa terpana dengan kecantikan Lisa setelah mandi dan memakai baju rumahan bukan setelan kantor ia tampak cantik alami dengan hijab yang selalu menutupi kepalanya bahkan saat sedang bekerja di kantor, sayangnya ia sudah memiliki suami.
"Lisa kamu tetap cantik loh kalo pakai baju rumahan"
"masa sih ah kamu bisa aja"
"iya bener beruntung deh suami kamu punya istri soleha kayak kamu"
Lisa tertawa karena pujian dari Arqa
"Makasih Arqa"
Tapi nyatanya suamiku malah selingkuh di belakangku Arqa mungkin dia enggak suka dengan penampilanku.
Batinku sedih di hadapan Arqa aku tersenyum manis dan tertawa hanya untuk Arqa dan Diva
mereka tidak tahu masalah hubunganku dengan Mas Ardan, biarlah mereka enggak tahu.
~~~~
Waktu berlalu sangat cepat sekarang sudah jam 10 malam Arqa pamit untuk pulang
"udah jam 10 malam om pulang dulu ya Diva"
"Jangan om...om jangan pulang" Diva merengek tidak mau di tinggal
"Diva ini udah malam Om nya mau pulang Diva juga harus tidur ya besok kan sekolah"
"mainnya besok lagi ya sama om"
"Besok om janji ke sini lagi ya" Diva mengangkat jari telunjuknya ke Arqa supaya Arqa tidak berbohong.
"Insyaallah ya dek besok om datang lagi"
"enggak, Diva maunya om udah janji"
"iya deh besok om datang lagi, Diva jangan nakal ya sama mama jadi anak yang pinter ya"
"baik om dan om jangan lupa janjinya ya?"
"iya oke, om pamit"
"Dada Diva"
"Dada om"
kami melihat Arqa pulang dari depan pintu
"udah sayang ayo masuk"
"iya mah"
"Bi temani Diva tidur ya saya masih ada kerjaan kantor"
"baik nyonya"
"Sekarang waktunya ngisi berkas"
~~~~
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari Lisa di kagetkan dengan suara klakson mobil yang masuk menuju parkiran.
"Hah, siapa itu jangan-jangan mas Ardan, aku harus menemui dia"
"Lisa... Lisa..." Teriak mas Ardan setelah membanting pintu masuk
"Mau apa lagi kamu mas? Hah?"
"bukannya kamu udah bahagia, senang senang sama selingkuhan kamu itu?"
"Aku kesini mau minta maaf sama kamu, tolong maafin aku, aku khilaf"
"Mas!! aku sudah muak sama kamu"
"kamu enggak pernah lagi pulang dan kamu udah selingkuh di belakang aku, tapi kamu masih berani pulang ke rumah ini!!"
"Kamu udah enggak ingat lagi sama Diva dia itu anak kamu! darah daging kamu juga!!"
"Kamu enggak peduli-in kami lagi!!"
"Tolong Lisa maafin aku"
"is enggak aku enggak mau!!"
"lepasin tangan aku!!"
"Lisa aku udah baik baik loh nanti aku malah pakai cara kasar!"
"UDAH MAS CUKUP, AKU MAU KITA CERAI"
( Plakk... ) Mas Ardan menampar wajah Lisa
"Emangnya kamu bisa hidup tanpa aku? Hah?Malah minta cerai"
"Aku sanggup hidup tanpa kamu mas, aku udah punya pekerjaan dari dulu! Aku bisa hidup sendiri sama Diva"
"aku bisa bahagia hidup sendiri sama Diva"
Karena pertengkaran yang bersuara sangat keras dan berisik memecah keheningan malam itu membuat Diva terbangun dan tidak bisa tidur lagi.
"Bi itu suara mama sama papa!"
"papa udah pulang?"
"Kenapa mama sama papa bertengkar?"
"Udah non kita di sini saja, non Diva tidur lagi ya"
"Enggak Bi Idah aku mau ketemu sama papa!" Diva langsung berlari menuju ruang tamu
"Non...non..jangan"
Bi Idah mencoba mengejar Diva yang berlari sangat cepat tapi tidak berhasil karena sudah tidak sanggup lagi berlari.
"Non jangan lari-lari nanti jatuh!"
Diva menghiraukan perkataan Bi Idah, dan sampai di ruang tamu tempat orang tuanya bertengkar
"Udah mas aku mau kamu pergi dari sini! Pergi!!"
"Dasar Istri enggak guna!!" Mas Ardan mengangkat tangannya mau memukul Lisa tapi Diva berteriak.
"Papa!! Papa!!"
kedua orang tuanya menoleh ke arah Diva
"Diva...Diva sayang kenapa Diva enggak tidur?"
Lisa menghampiri anak semata wayangnya itu dengan menangis dan wajahnya memar merah karena di pukul oleh suaminya.
Diva yang melihat wajah mamanya yang memar langsung sedih.
"Papa, kenapa papa memukul mama apa salah mama?"
"Papa yang enggak pernah pulang dan enggak pernah sama kita lagi! Papa kemana?"
"Sayang sayang papa enggak kemana mana kok Diva jangan nangis"Mas Ardan menghampiri Diva
"enggak...enggak! aku enggak mau sama Papa lagi!!"
"Papa Jahat!!"
"Aku enggak mau bertemu sama papa lagi! papa udah menyakiti mama!!"
"Sayang dengerin penjelasan papa dulu"
"enggak aku enggak mau" Diva bersembunyi di balik tubuh mamanya takut dengan papa
"Lihat mas ini semua karena kamu, kamu udah enggak mikirin Diva dia udah benci sama kamu"
"Diva dan aku udah enggak mau Ketemu sama kamu lagi jadi, Aku minta kita cerai"
"pergi kamu dari sini!!" Lisa mendorong Ardan menuju pintu dan langsung mengunci pintu
"Lisa...Lisa tolong kasih aku kesempatan lagi ketemu Diva! Lisa!!"
"Sial.."
Lisa sudah tidak menghiraukan perkataan Mantan Suaminya itu dia mengajak Diva ke kamar supaya tidur dan dapat menenangkan diri, dengan di bantu Bi Idah Diva tertidur, Bi Idah juga membantu Lisa menenangkan diri setelah menangis terisak isak karena perilaku suami yang ia cintai dulu, sekarang sudah tidak lagi.
"sudah nyonya jangan nangis lagi ikhlasin saja, mungkin nyonya akan mendapatkan laki laki yang lebih baik dari tuan"
"Iya Bi aku cuman masih tidak menyangka akan ada hari seperti ini, hiks...hiks..."
"udah nyonya tidur saja agar tidak mengingat kejadian tadi"
"Iya Bi Idah"
~~~~
Keesokan harinya aku masih sangat lesu dan sedih, aku juga tidak bersemangat pergi ke kantor tapi Arqa berusaha untuk terus menghiburku dan mau mendengar semua curhatan aku tentang kejadian selama ini, Dia mau untuk terus menemaniku dan aku juga jadi lebih merasa nyaman berada di dekatnya.
Aku merasa lebih Aman dalam Dekapannya yang menenangkan, Jadi aku dapat fokus lagi untuk bekerja.