Lisa seorang pekerja keras, dia menjadi tulang punggung keluarganya dikarenakan suaminya yang pengangguran yang kerjaannya hanya menghamburkan uang. Sedangkan ibunya sedang sakit karena ditinggalkan suaminya bersama wanita lain.
" Ma, Lisa berangkat kerja dulu. Nanti kalau mama butuh sesuatu bilang saja sama mas Ridwan." Ucap Lisa sambil berjongkok dipinggir kasur dekat mamanya dan memegang tangannya. Mamanya hanya diam menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.
Lisa bangkit lalu berjalan ke luar kamar. Terlihat suaminya (Ridwan) sedang menyantap makanan yang dibuat Lisa tadi.
" Mas, nanti kalau mama butuh sesuatu tolong ambilkan" ucap Lisa.
" Hmm" hanya dibalas deheman oleh Ridwan.
" Jangan dibiarkan seperti kemarin, sampai mama pingsan karena kelaparan" ucap Lisa lagi.
" Ck iya-iya, cepat pergi sana! Ganggu orang lagi makan saja" jawab Ridwan sedikit membentak.
" Terimakasih mas, aku titip mama. Assalamualaikum" pamit Lisa.
" Tunggu, minta uang" ucap Ridwan.
" Kemarin sudah saya berikan uang sekarang sudah minta lagi. Aku tidak mau memberikan, ibu butuh obat dan aku butuh uang untuk sampai ke tempat kerjaku. Harusnya mas bisa berhemat." Ucap Lisa lalu hendak pergi namun tangannya ditarik oleh suaminya sehingga dia terjatuh.
BRUK
" Shhh aduh" ringis Lisa. Tas yang Lisa bawa dirampas oleh suaminya lalu diambilah semua uang yang dia punya.
" Mas jangan, nanti bagaimana beli obat untuk ibu" Lisa mencoba untuk merebut kembali namun sia-sia.
" Ya kamu cari lagi, dimintai uang pelit amat" ucap Ridwan ketus.
" Tap.." ucap Lisa terputus.
" Ahh sudah diam, pergi sana cari uang" ucap Ridwan lalu duduk kembali melanjutkan sarapannya.
Lisa perlahan berjalan keluar rumah. Dia tidak bisa menaiki angkutan umum untuk menuju ke tempat kerjanya karena uangnya sudah habis diambil suaminya.
" Hufh semangat Lisa. Mama membutuhkanmu" ucap Lisa sambil tersenyum dan terus melanjutkan jalannya. Untunglah saat Lisa sudah sampai di rumah makan dia tidak terlambat.
" Lisa.." panggil teman kerjanya.
" Ehh Luna, ada apa?" Tanya Lisa.
" Enggak ada apa-apa, ayo masuk" ajak temannya.
"Hmm"
Mereka bersama-sama melanglah masuk.Lisa segera bergegas untuk melayani pelanggan yang terus berdatangan.Dia mencatat pesanan pelanggan kemudian mengantarkan pesanannya jika sudah siap.
" Lisa meja nomor 25 sudah siap" ucap salah satu juru masak.
" Iya" jawab Lisa.Lalu ia mengambil makanan itu dan mengantarkannya ke meja pelanggan.
" Silahkan dinikmati" ucap Lisa sopan.
" Iya , terimakasih" jawab pelanggan itu.
" Sama-sama" ucap Lisa sambil tersenyum. Lalu kembali menunggu pesanan yang sudah siap untuk diantar. Tiba-tiba ada keributan di luar, seseorang mencoba untuk memasuki ruangan.
" Siapa yang bertengkar di luar?" Tanya Lisa pada dirinya sendiri, karena dia berada cukup jauh dari pintu masuk sehingga tidak terlalu jelas.
" Lisa...Lisa" panggil temannya sedikit berteriak sambil berlari ke arahnya.
" Iya, ada apa? Kenapa kamu lari-lari?" Tanya Lisa.
" Itu..hosh itu suamimu hosh" ucap temannya dengan nafas yang tidak teratur.
" Iya ada apa dengan suamiku?" Tanya Lisa yang sedikit bingung.
" Suamimu berada di luar sedang ribut" ucap temannya yang berhasil menata nafasnya.
Tanpa pikir panjang Lisa langsung berlari ke luar. Dia mendapati suaminya yang sedang mabuk berusaha untuk masuk dan ada beberapa orang menahannya.
" Mas, sedang apa kamu kemari? Mama sendirian di rumah cepat kembali" ucap Lisa.
" Aki minta uang" jawab Ridwan.
" Tadi pagi sudah aku berikan, kenapa sekarang minta lagi?" tanya Lisa dengan suara kesal.
" Uangnya sudah habis, sekarang aku minta lagi" jawab Ridwan lagi.
" Mas, aku belum gajian dan uangku sudah kamu ambil semua sekarang aku tidak mempunyai uang" ucap Lisa.
" Kalau begitu berikan handphone mu biar aku jual" ucap Ridwan tanpa pikir panjang.
" Bisakah kamu menunggu sampai aku mendapatkan gajiku. Tidak mungkin aku memberikan handphone ku padamu." Lisa sudah bingung dengan tingkah suaminya itu.
" Tidak bisa, aku butuh sekarang. Kalau kamu tidak memberikan aku masuk dan mengobrak-abrik tempat ini." Ucap Ridwan menggebu-gebu.
" Jangan, baiklah aku akan mengambilnya" ucap Lisa langsung lari menuju tempat handphone nya berada. Semua mata tertuju padanya terlihat bahwa ada yang terganggu akan keributan yang sedang terjadi.
" Kalau aku jadi dia sudah aku ceraikan" ucap orang satu.
" Ganggu saja, tidak punya sopan santun" ucap orang dua.
" Suami macam apa dia minta uang sama istrinya" ucap orang tiga dan masih banya lagi yang membicarakannya. Namun Lisa tidak menghiraukan, dia harus cepat mengatasi kekacauan yang terjadi.
" Ini mas, segera balik ke rumah kasihan mama sendiri. Hari ini aku akan lembur jadi aku pulang malam" ucap Lisa.
" Nah kalau beginikan aku tidak usah mencari keributan" ucap Ridwan tanpa mengindahkan perkataan Lisa lalu pergi dengan sempoyongan karena masih dalam keadaan mabuk.
" Hufh" Lisa menghela nafas kemudian kembali masuk. Luna menghampiri Lisa yang baru saja masuk.
" Lisa kamu di panggil sama bos keruangannya tapi setelah jam kerja selesai"
" Kenapa?" Tanya Lisa.
" Tidak tau, hmm kenapa kamu tidak berpisah saja sama suami kamu. Dia sudah keterlaluan bisa-bisa dia merenggut kebahagiaan kamu" ucap temannya.
" Aku masih berharap kalau dia bisa berubah" jawab Lisa.
" Kamu terlalu baik padanya.jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kamu berhak marah padanya dan jangan takut, walau kamu perempuan kamu harus kuat karena kamu mempunyai hak untuk bahagia juga" ucap Luna sambil tersenyum.
" Iya terimakasih, kalau begitu ayo kita lanjutkan bekerja" ucap Lisa lalu melanjutkan pekerjaannya.
***
Hari sudah malam, Lisa berjalan pulang menuju rumahnya dengan tidak bersemangatnya. Melihat itu Luna bertanya tentang apa yang terjadi.
" Lisa apa yang diucapkan bos padamu " tanya Luna yang tau kalau Lisa sudah bertemu bosnya.
" Aku dipecat tapi untunglah aku dikasih uang pesangon" ucap Lisa lesu.
" Haa kenapa? Apa karena keributan tadi?" Tanya Luna.
" Iya, aku juga menyadari kalau mas Ridwan sudah berkali-kali membuat rusuh di tempat kerjaku. Bahkan dulu aku dipecat di tempat kerjaku karena ulahnya juga" ucap lisa.
" Sabar ya, kamu harus bangga pada dirimu karena kamu sudah bisa melewati semua itu hingga detik ini. Belum tentu orang lain bisa setegar kamu" Luna menyemangati Lisa.
" Iya terimakasih" ucap Lisa.
" Iya, kalau begitu aku pergi karena jalan kita sudah berbeda" ucap Luna.
" Iya, hati-hati " ucap Lisa sambil tersenyum.
" Siap ratu" ucap Luna. Lalu Lisa melanjutkan jalannya, dia sedang berfikir dimana lagi dia bisa mendapatkan pekerjaan lagi.
" Hufhh di mana besok aku mencari pekerjaan baru" guman Lisa. Tiba-tiba ada seseorang yang berlari ke arahnya.
"Lisa..Lisa, cepat kamu pulang! tadi suamimu terlihat marah dan aku mendengar teriakan ibumu. Aku tidak berani memasuki rumahmu" ucap orang itu yang ternyata tetangganya.
" Terimakasih" ucap Lisa langsung lari menuju rumahnya.
Sampai disana terlihat rumah yang sepi dan tidak ada pencahayaan. Lisa perlahan memasuki rumah dan menghidupkan lampu.
Ceklek
" Mas..mama, kalian dimana?" Tanya Lisa. Lisa berinisiatif untuk memasuki kamar mamanya.
Lisa membuka pintu kamar mamanya namun hanya ada kegelapan yang dia lihat.Lisa perlahan masuk dengan ragu lalu menghidupkan lampu.
Betapa terkejutnya dia melihat mamanya yang bersimbah darah dengan kepala yang hancur sebelah dengan mata yang hampir keluar dan terlihat beberapa luka pukul. Sedangkan Ridwan hanya diam duduk sambil memandang kearah mayat mamanya.
" MAMA...hiks hiks mama" teriak Lisa yang tidak berani menyentuh mamanya karena tidak kuat melihat itu semua.
" Mas kamu apakan mama? Jawab" bentak Lisa.
" Diam, jangan sampai kamu aku bunuh juga" ucap Ridwan meninggi.
" Hiks kamu akan aku laporkan ke polisi hiks.." Lisa hendak melangkah keluar mencari pertolongan namun dihentikan oleh Ridwan.
" Mau kemana kamu? Kamu pikir bisa pergi dari sini semudah itu hahaha" ucap Ridwan lalu mendorong Lisa kelantai.
" Auu..shh kamu pembunuh, kamu pembunuh mas hiks..hiks" ucap Lisa sambil menangis.
"Iya kamu benar, Mamu kamu pantas untuk mati. Dia hanya menyusahkan dan menghabiskan uang" ucap Ridwan. Lisa mencoba berdiri lalu mendorong tubuh Ridwan hingga jatuh.
Brukk
" Kurang ajar kamu" teriak Ridwan.
Lisa hendak berlari namun dia terjatuh kembali karena kakinya ditarik Ridwan. Lisa terpojok dia sudah gemetaran, Ridwan perlahan mendekatinya sambil membawa palu.
" Ternyata kamu tidak bisa dikasihani" ucap Ridwan terus berjalan ke arah Lisa.
" Mas, jangan lakukan. Aku ini istrimu" teriak Lisa. Namun tidak ditanggapi oleh Ridwan.
Lisa melihat ada sebatang kayu yang sepertinya habis digunakan untuk memukul mamanya. Lisa mengambil kayu itu dan dipukulkan ke kepalanya Ridwan dengan keras.
" Kamu berani memukul saya" bentak Ridwan sambil memegangi kepalanya.
" Iya saya berani" ucap Lisa membentak.
Karena terasa belum cukup Lisa memukul kembali di bagian tengkuk. Ridwan pingsan Lisa langsung berlari ke luar, namun dugaannya salah suaminya hanya berpura-pura pingsan sehingga tanpa dia duga Ridwan memukul punggung Lisa hingga tersungkur.
" Aaaaa.." teriak Lisa.
" Hahaha kamu mencoba kabur?, tidak bisa" ucap Ridwan.
" Jangan mas, aku mohon hiks..hiks" Lisa memohon.
"Mmm aku akan memoles wajahmu sedikit." Ucap Ridwan lalu menaruh palu dan mengambil belati. Lisa menendang perut Ridwan namun tenaganya tidak cukup kuat.
" Wihh tendanganmu hanya terasa menggelitik" ucap ridwan meledek. Perlahan Ridwan menyayat wajah Lisa tidak panjang namun dalam.
" Mas, hentikan sakit hiks" Lisa menangsi menahan semua itu.
" Teruslah teriak aku suka itu haha" Ridwan semakin menggila. Darah segar mengalir dari pipi lisa.
" Mmm karena aku sudah lelah mari kita akhiri semua ini" ucap Ridwan lalu mengarahkan belatinya ke leher Lisa.
" Jangan mas cukup hiks" ucap Lisa memohon. Perlahan belati itu menggores kulit Lisa.
" Hiks kumohon jangan hiks" Lisa terus memohon tapi tidak diindahkan oleh Ridwan.Namun tiba-tiba suara pintu terbuka.
BRAKK
" Jangan bergerak"ternyata itu polisi yang datang. Ridwan melepas belati yang ada ditangannya dia mencoba kabur, namun terlambat kakinya sudah di tembak oleh pihak kepolisian karena mencoba kabur. Lalu Ridwan dibawa polisi.
" Lisa.." teriak Luna berlari kearahnya.
" Luna hiks..hiks Mama hiks Mama" tangis Lisa pecah.
" Kamu harus iklas Lis, biar Mama kamu tenang disana. Yaampun luka kamu Lisa" Luna sangat terkejut setelah menyadarinya.
" Mama hisk terimakasih sudah menyelamatkan aku" ucap Lisa.
" Iya sama-sama, sabar ya semoga Mama kamu tenang di alamnya" Luna memeluk lisa.
" Amin, hisk Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Lisa
" tadi aku mendengar ada yang berteriak memanggil namamu lalu aku berbalik dan melihat kamu sudah berlari dengan terburu-buru. Aku mendekati orang itu dan dia menceritakan semuanya, aku langsung melapor polisi karena takutnya terjadi sesuatu yang fatal dan ternyata dugaan ku benar." Jawab Luna. Lalu terlihat mayat Mama Lisa dibawa keluar, merekapun mengikutinya.
💃SELESAI💃