Tepat pada tgl 12 Februari, sekelompok mahasiswa mengadakan liburan ke hutan. Mereka adalah Erwin, Hange, Levi, Mikasa, Armin, Annie, Jean, Sasha, Connie, Historia, Reiner, Ymir, Bertholdt, dan Marco, tanpa mengetahui hutan yang mereka datangi adalah hutan terlarang.
Para warga sudah memperingati mereka agar mengurungkan niat untuk masuk ke dalam hutan tersebut, akan tetapi sekelompok mahasiswa itu mengabaikan.
Konon seseorang yang menginjakkan kaki mereka di hutan tersebut, tidak akan pernah kembali lagi. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di dalam sana.
"Apanya yang hutan terlarang? Malahan hutan ini terlihat begitu indah," kata Jean.
"Mereka terlalu percaya dengan mitos," Kata Erwin.
"Wuaaa, apakah aku bisa bereksperimen di sini? Kira-kira apakah ada hewan langkah yang bisa kuuji coba?" kata Hange yang sudah tidak tahan lagi.
"Senior Hange memang maniak eksperimen," kata Armin.
Sebagian dari mereka sudah mendirikan kemah.
"Hei! Sasha? Kenapa kau sudah memakan daging untuk makan malam kita semua?" kata Connie.
"Aku hanya mengambil sedikit, jika kehabisan, kita bisa memburu hewan di sini," kata Sasha.
Setelah semua kemah sudah berdiri dan beberapa perlengkapan sudah diatur, kelompok mahasiswa itu pun mulai menyusuri hutan.
"Aku benar-benar ragu kalau hutan ini memang terlarang," kata Ymir.
"Ya, mana ada hutan terlarang yang isinya menakjubkan seperti ini?" tatap Marco.
"Cantiknya," kata Mikasa.
Beberapa tempat sudah mereka lalui, sesekali mereka mengambil gambar.
Erwin, Marco dan Mikasa mencatat keadaan hutan itu. Reiner, Bertholdt, Annie dan Historia, meneliti beberapa tumbuhan. Sedangkan sisanya bermain perang air.
"Levi! Ayo ikut bersama kami!" teriak Hange mengajak.
"Itu merepotkan, aku akan berjalan-jalan di sekitar," kata Levi.
Sambil menyusuri hutan, tanpa sengaja Levi melihat sebuah rubah yang tergeletak di tanah. Ia pun menghampirinya. Dilihatnya sebelah mata rubah itu berbeda yang disertai bekas luka.
"Apakah dia sudah mati?" tangannya terulur untuk memeriksa.
Spontan rubah itu terbangun dan langsung menerkam tangan Levi.
"Akh!"
Entah kenapa, Levi merasakan tekanan yang begitu kuat setelah ia menatap rubah itu.
"Hei, tidak apa-apa,"
Rubah yang menggeram tadi spontan menjadi tenang saat Levi mengelusnya, hingga rubah itu pun melepaskan gigitannya.
Levi lalu merobek pakaiannya dan membalut tangannya. Tepat saat itu, rubah tadi menghilang, membuat Levi kembali ke tepi sungai. Namun, tanpa sengaja, ia terdiam, kepalanya menoleh ke arah samping.
DEG!
Sebuah patung besar yang berwajah manusia tiba-tiba saja ada di sana.
"Eh? Kupikir tidak ada patung tadi di sini?"
Mendengar suara teriakan salah satu temannya, ia memilih pergi. Tanpa sadar mulut patung itu terbuka, tampak sosok lelaki berdiri dengan bekas luka mata di bagian kiri menatap kepergian Levi.
"Sepertinya kita harus kembali sebelum hari menjadi gelap," kata Erwin.
Mereka pun kembali menuju kemah melalui jalanan yang mereka beri tanda tadi.
Malam telah tiba...
"Kita sudah berjalan sejak tadi tapi kenapa tidak sampai-sampai?" tanya Armin.
"Aku memasang tanda dengan benar kok," Kata Reiner.
"Kita berjalan mengikuti tandanya sejak tadi tapi kenapa kita seolah-olah sudah melaluinya beberapa kali?" kata Mikasa.
"Aku mulai takut, jangan-jangan hutan ini memang terlarang," kata Historia.
"Peluk aku saja," kata Reiner.
Ymir langsung menjitak kepalanya.
"Jangan ambil kesempatan! Historia lebih baik memelukku,"
"Haaaa, suasana seperti ini membuatku bergairah," kata Hange.
"Senior Hange, kita ini lagi serius," kata Connie.
"Perutku sudah lapar, aku tidak pernah memakan daging sejak tadi," kata Sasha.
"Sepertinya aku melihat sesuatu, itu pasti kemah kita, ayo!" kata Bertholdt.
Mereka tertegun karena kembali ke tepi sungai yang mereka kunjungi tadi.
"Kenapa kita malah kembali ke sini?" tatap Annie.
"Oee, Reiner? Apa kau sungguh memasang tandanya dengan benar?" tanya Jean.
"Tentu saja, kalian melihatku sendiri memasang tandanya!" Kata Reiner membela diri.
Tak ingin berdebat, mereka kembali masuk ke hutan. Sekali, dua kali, mereka tetap kembali ke tepi sungai membuat mereka mulai merasa tidak nyaman.
"Sudah hampir pukul 12 tengah malam," tatap Marco ke jam tangannya.
"Haaa, aku sangat lelah, bisakah kita beristirahat sebentar," kata Mikasa.
Berselang detik, Sasha tiba-tiba mencium bau daging.
"Eh? Daging! Ini bau daging!"
"Dari jarak sejauh ini, kau benar-benar bisa menciumnnya? Lalu kenapa aku tidak?" tanya Hange.
"Ah! Kenapa aku sampai lupa? Kenapa kita tidak menggunakan indra penciuman Sasha agar kembali ke kemah?" tanya Armin.
Sasha segera berlari mencari bau tersebut sambil diikuti yang lainnya.
"Itu di-" kata Sasha terpotong
DEG!!
Semuanya tertegun, karena malah melihat puluhan mayat tergantung dan tergeletak dengan keadaan yang mengenaskan.
"AHHHHHH!!" jerit Historia.
"Daging yang dicium Sasha ternyata..." kata Connie membengkap mulutnya merasa mual.
Hange tercengang begitupun dengan Erwin dan Levi.
"Tapi, beberapa saat yang lalu, kita tidak melihat tumpukan mayat seperti ini?" tatap Erwin.
Dingin, gemetar, rasa takut telah menguasai kelompok mahasiswa itu. Tiba-tiba Sasha berjalan melewati tumpukan mayat.
"Sasha! Apa yang kau lakukan?!" teriak Ymir.
"Daging? Daging? Aku ingin daging," kata Sasha terhipnotis.
Tampak sebuah daging lezat di atas batu. Tepat saat Sasha meraihnya, sebuah akar dari tanah menjulang ke arahnya.
"SASHAAAA!"
Kelompok mahasiswa itu langsung kabur, Erwin dan Levi terpaku.
"Erwin! Levi! Cepat pergi dari sini!" tarik Hange.
•Tepi Sungai•
Semuanya terengah-engah.
"Sasha, hikss, hikss," tangis Connie dan yang lainnya.
"Eh? Levi tidak ada, tapi aku tidak pernah melepaskan genggamanku," kata Hange mencari ke segala arah.
"Jangan-jangan dia tertinggal," kata Erwin.
"Aku tidak ingin kembali ke dalam hutan itu lagi," kata Historia memeluk Ymir.
"Kalau begitu, Armin, Jean, Marco dan Mikasa ikut denganku mencari Levi, sedangkan Hange dan yang lainnya menunggu di sini," kata Erwin.
Levi berusaha melepaskan kakinya yang tersangkut ranting akar.
"Aku terjatuh tapi mereka tidak menyadariku,"
SREEK SREEK
"Erwin? Hange? Apakah itu kalian?" tatap Levi.
Suara itu semakin mendekat membuat Levi berjaga-jaga. Seseorang muncul dari balik semak. Sosok lelaki berambut gondrong dengan bekas luka mata di bagian kiri.
"Kau sepertinya dalam masalah?" tanya sosok lelaki itu.
"Um, ya, kakiku tersangkut, dan teman-temanku meninggalkanku, bisakah kau membantuku?"
Sosok lelaki itu tersenyum, dengan sekali jentikan jari, akar itu sudah hilang membuat Levi terbelalak.
"Kau yang melakukannya?"
"Kalau iya, kenapa?"
"Aku hanya sedikit terkejut, terima kasih, ah, kau terlihat seperti sudah lama di hutan ini, bisakah kau menuntunku agar kembali kepada teman-temanku?" pinta Levi.
"Tentu,"
Keduanya menyusuri jalan.
"Ada yang ingin aku tanyakan, entah kenapa sejak sore tadi kami berniat pulang, tapi malah kembali ke tepi sungai, lalu setelah itu kami melihat puluhan mayat bergelantungan dan tergeletak di tanah dengan keadaan yang mengenaskan, apakah benar karena hutan ini terlarang?" tanya Levi.
"Sepertinya kau bercanda, tidak mungkin ada puluhan mayat yang tewas dalam keadaan mengerikan di sini," kata sosok lelaki itu.
Levi langsung melontarkan tatapan tajam ke arah sosok lelaki itu.
"Temanku baru saja tewas beberapa saat yang lalu dan kau menganggapnya bercanda?"
Sosok lelaki itu terbelalak hingga akhirnya tersenyum.
"Namaku Eren,"
"Le-"
Belum sempat Levi menyebut namanya, seseorang sudah meneriaki namanya.
"LEVI! SENIOR LEVI!!"
Hal itu membuat Levi bergegas meninggalkan Eren.
"Hee, Levi, ya?" tatap Eren.
Pandangannya langsung berubah karena seseorang yang meneriaki nama Levi tadi.
Erwin dan yang lainnya bertemu dengan Levi.
"Syukurlah, kau tidak kenapa-kenapa," kata Erwin.
"Senior Levi, sebaiknya kita segera kembali ke tepi sungai," kata Jean.
Keenam orang itu hendak kembali, tapi sesuatu malah menarik kaki Mikasa.
"Mikasa!" teriak Armin memegang tangannya.
Yang lain ikut membantu Armin hingga mereka saling tarik menarik. Mikasa melotot, saat itu juga bagian perut hingga kakinya terpisah dari tubuhnya.
"AHHHHH!!" jerit Armin melepaskan Mikasa.
Jean merasa sesuatu yang kental terjatuh ke pipinya, membuat kepalanya mendongak ke atas.
DEG!
"M-Marco dan Senior Erwin..."
Levi dan Armin ikut mendongak ke atas. Mata mereka membulat besar melihat Marco dan Erwin tergantung dengan kondisi yang mengenaskan.
"Hutan ini terkutuk, kita harus kembali!" kata Jean.
•Tepi Sungai•
Jean, Armin dan Levi tiba dengan nafas tersengal.
"Kenapa hanya ada kalian bertiga? Di mana Erwin, Mikasa dan Marco?" tatap Hange.
"M-Mereka telah terbunuh," kata Jean gemetar.
Spontan semua tertegun.
"Apakah kita akan terbunuh satu-satu? Hikss, tidak aku tidak ingin mati di sini, aku harus keluar dari hutan terkutuk ini!" teriak Historia berlari.
Ymir, Reiner dan Bertholdt ikut menyusul.
"Tidak! Jangan kembali ke dalam hutan!" teriak Armin.
Namun, karena terlanjur, mau tidak mau mereka ikut masuk ke dalam hutan.
"Historia! Tunggu!" teriak Ymir, Reiner dan Bertholdt yang mengejar.
BUGH!
"AHHHHHHHHH!"
Hange, Levi, Armin, Jean, Annie dan Connie yang mengejar, tersentak saat mendengar teriakan itu.
"Cepat!" Kata Hange.
Levi terhenti karena melihat patung yang berwajah manusia itu lagi, membuatnya memilih menghampiri patung itu.
"Ya Tuhan," tatap Jean melihat tubuh Historia, Ymir dan Bertholdt terpotong².
"Reiner? Aku tidak melihat Reiner," kata Hange.
"Senior Levi juga tidak ada," kata Connie.
Reiner dengan rasa takut berlari secepat mungkin.
BUGH!
Ia tanpa sengaja menabrak seseorang. Reiner mendongakkan kepala melihat Eren.
"Kau teman Levi?"
"Kau mengenal Senior Levi? Kalau begitu tolong aku, bawa aku pergi dari hutan terkutuk ini!"
Eren menyipitkan mata.
"Hutan terkutuk?"
Mata Reiner membulat besar melihat Eren berubah menjadi titan.
"Hhaa! Lepaskan aku!" teriak Reiner saat dirinya diangkat.
Titan Eren membuka mulutnya dan mengunyah Reiner di dalam mulutnya.
Di sisi lain, Hange dkk membagi 2 regu untuk mencari Reiner dan Levi.
"Patung ini kenapa muncul lagi?" tatap Levi.
"Senior Levi! Senior Levi!" teriak Jean bersama Armin dan Connie.
"Reiner!" teriak Hange bersama Annie.
"Re-"
Tiba-tiba, Eren muncul di hadapan kedua wanita itu.
"Siapa kau?" tatap Hange.
"Aku sedang mencari Levi," kata Eren.
"Kau mengenal Levi? Kau siapanya?" tanya Annie.
"Aku..."
Berselang detik, Eren sudah ada di belakang Hange dan Annie.
DEG!
Kedua wanita itu tidak berkutit setelah kedua tangan Eren menembus jantung mereka.
"K-Kau..." tatap Hange.
Eren melepaskan tangannya dan kedua wanita itu terjatuh.
"Adalah milik Levi dan Levi adalah milikku," kata Eren menghilang seketika.
"Hei, aku ingin buang air kecil dulu," kata Connie.
"Jangan jauh-jauh," kata Jean.
Armin dan Jean menoleh saat mendengar teriakan Connie membuat keduanya mencari asal suara tadi.
"C-CC-Connie?" kata Jean terpaku melihat tubuh Connie terpisah menjadi beberapa bagian.
Tak jauh dari sana, keduanya melihat sosok lelaki berdiri menatap mereka. Berselang detik, sosok itu menghilang membuat Armin dan Jean mencari-cari.
"A-Armin? Kita sudah mencarinya ke se galah arah," Kata Jean.
"K-Kecuali di bagian atas," kata Armin.
Dengan perlahan, keduanya mendongak ke atas. Tampak sosok Eren yang menyeringai sebelum menjatuhkan puluhan kayu runcing.
"Jangan khawatir, aku yang akan menjaga Levi," kata Eren.
"S-Senior Levi?"
BUGH!
Dalam keadaan berdiri, puluhan kayu runcing itu telah terjatuh menghujani Armin dan Jean.
Eren tersenyum melihat Levi berdiri di depan patung besar berwajah manusia itu.
"Levi?"
Levi menoleh melihat Eren berjalan mendekatinya.
"Eren? Kau adalah rubah yang menggigitku tadi dan yang membunuh mereka semua, 'kan?"
Mata Eren membulat besar.
"Kenapa kau melakukannya? Kau membunuh semua orang yang menginjakkan kakinya di hutan ini karena itulah, hutan ini dianggap terlarang, padahal tidak,"
"Eren?"
Terukir senyuman menyeringai di bibir Eren.
"Karena aku menyukaimu Levi,"
"Kau tidak akan bisa keluar dari hutan ini, begitupun orang-orang yang tidak bisa memasukinya lagi,"
Mulut patung itu kemudian terbuka. Tangan Eren terulur mengajak Levi masuk. Karena dirinya, Levi memilih menebus kematian teman-temannya dengan ikut masuk kedalam mulut patung itu.
Eren dan Levi saling bertatapan dengan benang dari mulut gua itu yang melilit mereka.
"Happy Valentine, Levi,"