Kau tau? sesuatu hal yang biasa bisa tercium adegan horor tingkat tinggi, dibumbui oleh aroma komedi akan bisa menjadikan fantasi yang murni :v.
[Naskah by➡️ 🍒 Ma Wati 🍒]
Pada suatu malam saat satu saudara berkumpul di ruangan tengah, terdengar suara alunan musik klasik ciptaan salah satu keluarga itu.
Preet...
Mereka saling pandang, entah suara apa itu? Tercium juga bau-bau yang menggelar di setiap hidung para penghuni di rumah itu.
"Iyaaaaaak!!! Siapa yang mengeluarkan gas beracun di sini!" ucap Wati anak kedua saat dirinya sudah hampir bengek dengan udara segar tersebut.
"Tau nih, busuk sekali mirip pantat Menik yang belum cebok," ucap Dewi anak pertama sudah berdiri dari tempat duduknya dengan hidung yang ia tutupi pake selaput lendir. Eh, salah ... dengan salah satu tangannya.
"Kampret! Aku diam bukan berarti aku juga yang mengeluarkannya," sahut Menik anak keempat membela diri.
"Cera... kau ya yang mengeluarkan udara beracun ini?" ucap Wati sambil nunjuk ke arah Cera.
Cera yang menunjuk mendongakkan kepalanya. "Aku diam juga bukan berarti ak-" ucapan Cera si anak bungsu terpotong saat mendengar suara anugerah itu keluar kembali.
Preeet... preet... brooot!
Seluruh orang yang ada di sana langsung mengarah ke arah sumber suara itu.
"Whidie... jadi kau yang-" Dewi menutup kembali hidung yang sudah mengeluarkan ingus lantaran bau yang menyengat tersebut sudah membuat hidung wanita itu bengek.
Whidie hanya cengengesan. "Hehehe, maaf aku ke WC dulu ya," ucap Whidie tanpa dosa lalu melesat secepat kobaran api unggun.
"Iyaaaaaak!!!" teriak yang lain serempak.
[Naskah by➡️ Coklat_enak (MK) 🍁]
Whidie terlihat berlari ke kamar mandi, sembari tangannya memegangi pantat. Karena berniat menyumbat lubang belakang, agar ampas yang sudah keluar dari celananya tidak terlalu banyak.
Tinggal lah empat bersaudara yang masih bergibah ria dengan santainya. Mereka tampak akrab sekali, karena hampir semua perilaku mereka sama-sama Savage!
Ketika anak kedua yaitu Wati, sedang menselonjorkan kaki, ia merasakan sedikit kehangatan pada tangannya. Wati juga sempat merasakan sensasi kehangatan pada tangan miliknya itu.
"Kyaaaaa ...!" teriak Cera secara histeris.
Dewi sang anak pertama yang mendengar jeritan 1 oktaf milik Cera pun, langsung menjejalinya dengan kain kafan yang selalu ia bawa sebagai jimat keberkahannya. "Mulut kau bisa diam tak? Kau menggagalkan acara ritual gibah kita, Cer!"
"Ta-tapi ... lihatlah dulu Kak Dew ...," ucap Cera sembari menuding ke arah tangan Wati.
"Hiyaaaaaaak ...!" Dewi menjerit dengan nada 5 oktafnya. Ia kaget karena tangan Wati yang tepat di sebelahnya itu, bermain-main memegang ampas yang berasal dari pantat Whidie.
Wati yang merasa telinganya bergoyang gara-gara teriakan Dewi, dengan jurus noda membandelnya dengan spontan langsung menutup mulut Dewi menggunakan tangan miliknya. Alhasil, ampas berak hangat yang sempat dirasakan oleh tangan Wati pun mengenai wajah sang kakak pertama.
[Naskah by➡️ Whidie Arista 🦋]
"Hiiyaaaaak... Wati kampret!!!"
Dewi mendorong Wati hingga pantatnya mencium lantai.
"Aduh Dewi, kenapa kamu mendorong ku. Kamu mencemari keseksianku ini, comberan!" gerutu Wati sembari bangkit.
Menik dan Cera hanya cekikikan seperti Kuntilandak kecebur got.
"Apa kamu ngetawain, mau juga sama aroma berak Whidie di tanganku ini?" Wati memelototi kedua Adiknya itu.
Seketika Adik keempat dan kelima nya itu, terdiam karena takut terkena aroma anugrah alam Whidie.
Terlihat Whidie, si biang keladi itu muncul dengan wajah leganya. Seperti dia habis mengeluarkan semua masalah di dalam perutnya.
"Kalian ko diem? Ayo kita lanjut gibahnya!" ucap Whidie dengan wajah tanpa dosa.
"Dewi, Kau bau," ucap Whide sembari menutup hidungnya.
"Wati, kamu juga. Hiyaaaakkk, kalian boker di sini," ucap Whidie.
"Heh kampret! Semua ini gara-gara kamu!" hardik Wati, sembari menunjukan tangannya yang nampak berwarna emas.
[Naskah by➡️ Dewi Tyasari]
Namun siapa sangka benda-benda coklat di tangan Wati tiba-tiba saja beterbangan ke arah Menik dan Cera. Alhasil wajah kedua gadis itu sekarang dipenuhi dengan balutan benda asing yang berbau. Ke-tiga saudaranya yang lain pun tertawa geli melihatnya.
"Ish... ish... ish! Kak Whidie nggak usah ketawa ngakak, tuh bokong Kakak belepotan gitu, ceboknya nggak bersih ya?... gara-gara kebiasaan dicebokin emak mulu!" tegur Menik, yang sontak membuat Whidie menengok bagian bokongnya.
Ngeeeeng.... Ngeeeng....
Tiba-tiba kelima saudara tersebut dikejutkan dengan suara menginging dari arah luar.
"Astaga! lihat!" Cera menunjuk keluar jendela. Di sana tampak banyak sekali lalat beterbangan.
"Hah bagaimana ini!" ujar Wati ketakutan, dan tidak sengaja mengigit tangannya sendiri yang dipenuhi sisa benda berwarna coklat.
"Apa mau kalian lalat-lalat jelek!!!" pekik Cera sembari berjalan ke depan jendela.
"Kami mencium bau tidak enak dari rumah ini, apa itu benar adanya?" salah satu lalat tiba-tiba bersuara dengan lantang.
[Naskah by ➡️ Sin Cera]
"Hah? Apa aku sudah gila?"gumam Cera sambil mengamati gerombolan lalat di hadapannya.
"Kau memang gila, Cera. Kamu baru menyadarinya," celetuk Wati.
"Tidak! Lalat-lalat itu berbicara!" seru Cera tak rela di katai gila oleh saudaranya.
"Hahaha... Kau pikir kita sedang syuting film narnia apa?" kata Whidie mengejek.
Tiba-tiba gerombolan lalat yang berada di luar, masuk ke rumah mereka melalui lubang ventilasi. Mereka segera menyerang kelima saudara yang penuh dengan tai di sekujur tubuhnya. Kelima saudara itu, berusaha menghindari lalat-lalat yang menyerang mereka hingga tai yang semula hanya ada di lantai dan tubuh mereka, malah jadi meluas ke seluruh ruangan.
Ariana, kucing betina yang berada di pojok ruangan menatap mereka datar. "Dasar anak-anak bodoh," gumamnya sambil melenggang keluar dengan tai yang masih tersisa di pantatnya.
—Tamat—
by: Black Shadow Savage