"Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia…”
Setiap kali aku mendengar lantunan syairnya, aku selalu percaya bahwa ibu juga sangat menyayangiku…
“Saras…”
“Saras tunggu aku…” Seseorang berteriak di belakangku, saat itu hari mulai petang. Gerbang sekolah sudah disantap habis oleh anak-anak itu, mereka berlari menemui orangtua mereka yang sudah menunggu. Aku selalu melirik sambil sesekali menoleh ke belakang, berharap seseorang juga menjemputku pulang. Mereka mencium lengan ibunya setelah itu saling berpelukan. Kemudian semua lenyap begitu saja, tapi ingatanku masih saja membekas.
“Kapan ya ibu mau menjemputku pulang? seperti mereka! pasti sangat menyenangkan”
Seseorang menepuk pundakku…
“Sarassssss… Kamu ini tuli ya. Aku panggil dari tadi kamu tidak dengar juga. Melamun saja kamu ini, nanti kerasukan bagaimana?”
“Elin, kamu bikin kaget aja. Bukan kerasukan lagi tapi mati karena jantungku copot bagaimana?”
“Ah sudah-sudah, ayo kita pulang. Oh iya sar, aku dengar di berita. Katanya ada seorang ibu yang tega meracuni anaknya”
“Ada-ada aja, mana ada seorang ibu yang begitu. Sudah aku tidak mau dengar lagi”
“Ah iya deh..”
Dengan muka yang sedikit muram, elin terus berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Elin tahu bahwa aku tak pernah suka membicarakan hal semacam itu, tapi aku tak menafikkinya karena kenyataan itu memang ada. Sejak ibu meninggalkanku enam tahun yang lalu, ibu tak pernah lagi menemuiku. Bahkan sejak kejadian itu, ibu tak lagi menghubungiku. Aku sangat menyesal…
“Sar, kamu ini kan sahabatku. Aku ini juga sahabatmu bukan? apakah kamu tak mau mengatakan sesuatu hal yang sangat penting? jangan rahasiakan semuanya dariku sar” Katanya sambil terus menatapku.
“Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Tentu saja, sejak tiga tahun lalu hanya kamu yang mau berteman denganku. Sejak kita sama-sama sekolah di sini, sudah lama ya dan akhirnya sebentar lagi kita harus berpisah”
“Selama itu ya sar? selama itu juga kamu pendam semuanya. Fakta yang sebenarnya, aku ini bukan sahabatmu kan? tentu seorang sahabat akan menceritakan semuanya pada sahabatnya”
“Fakta apa maksudmu? tentu saja aku selalu menceritakan semuanya padamu”
“Sudahlah, aku pulang duluan sar.. Daaahhh”
Sambil melambaikan tangan, elin terus berlari menjauh. Aku tahu, ada air mata di sudut matanya.
“Assalamuallaikum”
“Wa’alaikumussalam, sudah pulang nak?”
“Sudah bunda”
“Sini sayang, kenapa mukanya seperti itu? saras sedang sedih ya?”
“Tidak bunda, saras cuma capek aja. Bunda sudah makan? Bagaimana keadaan bunda? sebaiknya bunda dirawat oleh suster, saras tidak bisa terus menemani bunda. Ayo kita ke rumah sakit”
“Tidak usah sayang, bunda baik-baik saja. Saras ganti baju dulu sana”
“Saras kekamar dulu ya bunda”
Sekeras apapun keinginanku, secemas apapun aku tetap saja tak bisa melawan perkataannya!
Bunda yang tengah terbaring menatapku seperti menerawang. Setiap apa yang terjadi, aku tak pernah menceritakannya pada bunda. Karena aku tak ingin membuatnya khawatir, tapi sepertinya aku tak pernah bisa menyembunyikannya seakan bunda selalu tahu apa yang kurasakan!
Malam seperti tanpa bintang…
Bintang yang hilang dalam diriku, aku tak bisa menyembunyikannya lagi. Kesedihan itu semuanya merenggut kebahagiaanku. “Bunda, aku selalu menyayangi bunda, tapi aku sangat merindukannya…” Batinku terus menangis, mengingat semua yang telah terjadi sebagai mimpi.
Beberapa tahun silam…
“Dasar, kamu itu anak yang tak berguna. Karena kamu, aku kehilangan uangku” Ia terus berteriak tanpa mempedulikanku yang sudah terbaring. Darah yang mengalir dari pelipis kepalaku membuat semuanya menjadi samar-samar.
“Sudah ka, sudah jangan marahi saras terus. Semua ini bukan kesalahannya. Lihat sekarang ia sedang terbaring di sana, saras membutuhkanmu”
“Aku tidak peduli dengannya”
Setelah itu, yang aku tahu. Aku sedang terbaring di sebuah bangsal rumah sakit, aku hanya melihat tante susan yang kini kupanggil bunda tengah tertidur duduk di sampingku.
“Tante susan, tante bangun…”
“Ah saras sudah sadar. Kamu baik-baik saja sayang, tante akan menjaga kamu di sini”
“Iya tante, aku tahu kalau aku baik-baik saja. Ibu di mana tante?”
“Ibu sedang bekerja, kan untuk saras juga”
“Ah iya, aku selalu menyusahkan ibu. Ibu pasti lelah bekerja, apalagi aku sedang sakit”
“Sudah jangan dipikirkan, sekarang saras harus segera sembuh. Sekarang saras makan dulu ya”
“Saras tidak mau makan tante, ibu bilang tidak perduli dengan saras. Saras dengar ibu teriak-teriak. Saras selalu buat ibu marah, ibu pasti benci saras”
“Sayang, tak ada seorang ibu yang membenci anaknya. Ibu perduli pada saras, kalau tidak mana mungkin saras tumbuh sebesar ini. Ibu marah karena sayang pada saras”
“Apa benar tante? saras juga sayang ibu”
“Tentu, sekarang saras makan ya”
Di balik bilik kamar…
“Mau berapa lama lagi anak itu dirawat di sini? nanti uangku habis, anak itu selalu membuatku sial. Cepat katakan pada pihak rumah sakit, aku ingin membawanya pulang sekarang”
“Saras itu anakmu ka, tega sekali kamu bilang tak perduli padanya. Bukannya kamu sendiri yang melakukan ini? kalau saja kamu tak memukul kepalanya dengan kotak kayu, saras tidak mungkin ada di sini. Biar aku yang bayar semuanya”
“Baguslah, untung dunia punya orang seperti kamu. Urus saja anak itu, bukannya kamu adalah dewa penolongnya”
“Aku ini sahabatmu ka, tentu saja aku sangat menyayangi saras. Dia permata yang harus kamu jaga”
“Uuuuuh berisik sekali”
Setelah beberapa hari sejak kejadian itu, aku baru menyadari bahwa aku hanya membuat kesedihan di hidupnya. Beberapa kali aku melihat ibu menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Aku memeluknya dari belakang “Ibu jangan menangis, saras nakal ya bu? maafkan saras bu” ibu mendorong tubuhku menjauh, sepertinya rasa kebencian ibu padaku amat sangat besar. tapi aku selalu menepisnya, tante susan selalu bilang “Ibu adalah bintang”. Setiap malam, saat bintang-bintang itu bersinar aku selalu membayangkan wajah ibu di sana. Di antara sinarnya, ibulah yang paling bersinar terang.
Beberapa kali ibu memukulku hanya karena aku selalu meminta ibu untuk menemaniku, membacakan dongeng saat tidur dan menjemputku saat pulang sekolah. Ibu bilang “Jangan banyak minta, aku kan sudah membesarkanmu. Jadi baik-baiklah denganku, jangan besar kepala. Ayahmu sudah tak ada, siapa yang akan bekerja mencari uang?” aku hanya menatap ibu, aku menangis saat itu. Tapi sekali lagi ibu memukulku. Aku yang saat itu masih kecil sangat mengerti bahwa ibu sangat lelah, membesarkanku seorang diri. Ayah meninggal saat aku berusia 3 tahun dan sejak saat itu ibu berbeda! Sudah lama sekali ibu mengabaikanku, kasih sayangnya hilang setelah kenyataan bahwa “Hidup ini memang pahit” semuanya menjadi berubah, aku bukan hanya kehilangan ayah tapi juga ibuku.
Saat ibu mengandung, ternyata ayah sudah punya istri lain di luar sana. Saat aku lahir, ayah tak menemani ibu karena ayah menemani istrinya yang lain yang baru saja melahirkan anak mereka. Usianya hanya berbeda beberapa hari denganku, ibu tak pernah menceritakannya padaku. Tiga tahun kemudian ayah mengalami kecelakaan lalu meninggal. Kisah ini kutahu setelah semuanya sudah terlambat.
Beberapa tahun ibu membesarkanku, tapi tak seperti mereka. Aku dibesarkan dengan penuh kebencian. Yang selalu menyayangiku adalah tante susan, tante susan sangat baik padaku!
Meskipun aku masih sangat kecil, tapi aku merasakan kasih sayangnya dan kebencian ibu.
Suatu hari aku pulang terlambat. Setelah pulang sekolah, aku menyusuri jalanan ibukota yang ramai. “Dek, sedang apa? mau beli bakso?” Kata bapak itu, “Tidak pak, aku ingin bekerja di sini. Apa aku bisa membantu bapak?”. “Ah, ada-ada saja. Memangnya usia kau berapa?”. “Aku masih kelas 3 SD pak, tolong aku ingin membantu ibuku mencari uang” Bapak itu hanya menatapku, kemudian berteriak keras. “Gila sekali ibumu, membiarkan anak sekecil ini bekerja. Sudah pulang saja, bukannya membantu tapi kau malah akan merepotkan”. Aku berlalu begitu saja, terus berjalan tanpa tujuan. Tapi aku ingin menangis, tanpa sengaja air mata keluar begitu saja.
Seseorang menepuk pundakku.
“Hei, kau sedang apa? aku hery, namamu siapa?”
“Namaku saras”
Ia menarikku dari jalan itu, tanpa aku sadari tadi aku sedang berdiri di tengah jalan. Hampir saja aku tertabrak mobil.
“Melamun di tengah jalan, apa yang sedang kau pikirkan? ayo, ceritakan padaku. Namamu saras kan!”
“Ia, tadi kenapa tidak langsung menarikku? kamu malah menanyakan namaku dulu, kalau aku tadi tertabrak bagaimana?”
“HAHAHAHA, harusnya kau berterima kasih dulu padaku. Itu kan supaya kau kaget, buktinya juga kau selamat kan”
“Ah iya iya, terimakasih hery”
Kemudian aku menceritakan semuanya. Hery mau membantuku, kebetulan ia juga seorang anak yatim. Setiap hari hery berjualan tisue di jalan, aku membantunya berjualan dan pulang malam hari. Karena asik bercerita dengan hery, aku melupakan waktu. Jam menunjukkan pukul 7, ibu pasti sudah pulang. Aku memang tak pernah tahu pekerjaan ibu, tapi aku tahu ibu pulang setelah matahari mulai tenggelam.
“Ke mana saja kamu? dasar anak tidak tahu diri, mana seragammu? kamu bolos sekolah lalu bermain ya” ibu terus berbicara tanpa membiarkan aku menjawabnya. Aku menyodorkan uang sepuluh ribu hasil kerja kerasku, semua itu untuknya. Tapi ibu memukulku hingga kulihat bayangan ibu dimana-mana. “Uang apa ini? kamu mencurinya untuk menyogokku ya. Uang segini itu tak ada artinya untukku, kalau kamu mau memberiku uang. Beri aku uang yang banyak” Kemudian aku tergeletak tak sadarkan diri. Kebetulan tante susan datang menengok!
“Lagi-lagi kamu memukulnya. Sadar ka, saras itu sudah tumbuh besar. Sampai kapan…”
“Sudah, jangan campuri lagi urusanku. Atau kamu bilang kamu menyayanginya kan! aku ini sahabatmu kan, kalau begitu kamu saja yang urus dia. Aku akan pergi untuk beberapa tahun, kalau kamu tidak mau biar saras ikut denganku dan kamu tidak akan lagi seperti dewa penolongnya”
“Tapi…”
“Putuskan, mau atau tidak?”
“Biar aku yang mengurusnya, biar aku yang tetap menyayanginya. Kau akan menyesal”
“Baiklah”
Ibu pergi begitu saja meninggalkanku, beberapa bulan kemudian ibu menelepon tante susan. Ibu tak mau bicara padaku, tante susan bilang “Ibu baik-baik saja. Ibu bilang saras harus belajar dengan rajin, buat ibu bangga”.
Setahun berlalu…
“Eh lihat itu, dia kan tidak punya ibu”
“Iya kasihan ya”
“Hei saras, ibumu membuangmu ya? ibumu kejam sekali. Hiiiih, aku sih tidak mau punya ibu seperti itu”
“Ibuku baik, dia sayang padaku” Lalu aku melemparkan vas bunga yang berada diatas meja guru dan mengenai kepalanya. Setelah itu semuanya menjadi ramai.
Saat malam, telepon rumah tante berbunyi. Itu dari ibu, tante susan menceritakan semuanya. Akhirnya setelah sekian lama, ibu mau bicara denganku.
“Hallo, ibu”
“Hei anak sial, kamu berbuat apa? kamu harus tahu, aku membencimu. Jangan harap aku akan menghubungimu lagi. Terus saja menyusahkanku, kamu memangnya mau jadi penjahat ya? kamu sama saja dengan bapakmu. Pembawa sial”
“Ibu, tapi mereka…” Ibu menutup teleponnya
Aku menangis kencang. Tante susan menenangkanku, tante susan selalu bilang semuanya baik-baik saja. “Tante, ibu marah padaku. Tante, ibu benci padaku” Aku berlari menuju kamar.
Tante mengejar, tapi aku mengunci pintunya. Tante terus berteriak “Saras sayang, buka pintunya”. Kali ini aku menjawabnya, perasaan yang selama ini kutepis. “Tante, tante jangan lagi bilang semuanya baik-baik saja. Aku tahu semuanya, ibu tak pernah menyayangiku. Ibu membenciku tante. Jangan lagi bohong padaku, aku benci tante”. “Saras sayang, maafkan tante nak. Tante tidak akan katakan itu lagi. Jangan benci tante saras”. “Pergi tante, pergi. Tante sama saja dengan ibu”. “Saras, tolong buka pintunya”. Aku membuka pintunya, tante memelukku. Tante menangis dan berkata “Lupakan ibumu, panggil tante bunda. Sekarang tantelah ibunya saras. Bunda susan, bundanya saras”. “Bunda… Aku benci ibu” Sejak saat itu, kami tak pernah lagi membicarakan ibu dan ibu tak pernah lagi menghubungi kami.
Hari-hari berjalan begitu saja. Aku juga sudah melupakannya. Aku sangat bahagia seakan tak pernah terjadi sesuatu yang pahit. Ingatan tentang ibu kukubur manis bersama kerinduannya. Tiba saat kelulusan, bunda mengajakku pindah keluar kota. Kami pindah meninggalkan jakarta ke kota yang sama sekali belum pernah kupijakki. Karawang, kata bunda aku akan menemukan sesuatu disana.
Setelah berkemas, akhirnya kami akan meninggalkan kenangan di sini. Selamat tinggal jakarta…
Tiga kali menggunakan angkutan umum, tiga jam menunggu akhirnya kami sampai juga di kota karawang. Tidak jauh beda dengan jakarta, bunda bilang kami akan tinggal di sebuah desa yang dikelilingi banyak sawah. Tapi yang kami temui malah banyaknya gedung bertingkat dan terik matahari yang menyengat. Bunda bilang, seiring berjalannya waktu semua akan berubah. “Semoga aku bisa membuka lembaran baru tanpa bayangan ibu”
Aku bersekolah di SMP negeri, awalnya aku tak mempunyai teman. Tapi seseorang datang padaku dan menawarkan senyumnya. Namanya elin, dia yang sekarang menjadi sahabatku. Tiga tahun aku bersahabat dengannya, aku sama sekali belum pernah datang ke rumahnya. Elin bilang ibunya bukan orang yang ramah, ibunya tak suka jika ada teman yang mengunjunginya.
Elin selalu menceritakan keburukan ibunya, sama seperti yang kualami dulu. Ibunya sering sekali memukulnya tanpa alasan yang jelas. Tapi aku selalu saja menolaknya menceritakan hal semacam itu, bukannya aku tak mempedulikannya. Aku hanya tak mau terbayang lagi sosok ibu. Elin adalah anak dari keluarga berada, tapi semua yang dipakai elin seperti tak layak dipakai. Seragamnya lusuh dan sepertinya sudah sangat sempit di tubuhnya. Buku tulis yang elin gunakan hanya buku-buku bekas. Aku menceritakan semuanya pada bunda. Lalu bunda membelikannya seragam baru, tapi hanya dipakai sekali kemudian ia memakai seragamnya lagi yang lama. “Ibuku menggunting seragamnya, ibu bilang tak boleh meminta apapun pada orang lain. Sudahlah saras, ibuku tak akan pernah suka”.
Setahun kemudian sikapnya berbeda. Elin tak lagi menceritakan soal ibunya. Elin dan aku lebih banyak meluangkan waktu untuk belajar. Kami sudah tidak lagi main bersama, aku disibukkan kegiatan organisasi di sekolah. Hingga suatu hari, aku menemukan elin tergeletak di depan pintu toilet sekolah. Kulihat ada sebuah luka lebam di sudut mata kirinya, aku berteriak berharap seseorang menolongku. Akhirnya elin dibawa ke ruang UKS, kebetulan aku boleh menjaga dan merawatnya karena aku bagian dari Palang Merah Remaja.
“Lin, sadarlah. Kamu kenapa?” aku terus membalurinya minyak kayuputih, elin setengah sadar.
“Saras, aku di mana?”
“Di ruang kesehatan, ada apa lin? ini luka apa?”
“Ah aku… Gak papa sar. Ini aku habis jatuh dan akhirnya lukanya jadi seperti ini”
“Benarkah? jadi ini bukan karena ibumu? lalu kenapa kamu pingsan tadi?”
“Tentu saja, ibuku sudah tidak lagi memukuliku. Walaupun begitu, itu karena aku yang salah. Aku hanya belum sarapan saja sar”
“Baiklah, aku akan belikan sarapan dulu untukmu”
Sepulang sekolah, aku menemui elin…
Aku tahu, semua yang dikatakannya adalah bohong. Elin tak bisa membohongiku dan menyembunyikan perasaannya.
“Hei, ayo ikut denganku”
“Ke mana? aku tidak bisa sar. Nanti ibu mencariku”
“Nanti malam aku tunggu di perempatan jalan, kamu mau datang atau tidak. Aku akan menunggu. Sampai bertemu nanti elin” aku berlari meninggalkannya. Elin hanya terus berteriak memanggilku.
“Saras tunggu…”
Malam harinya elin datang, aku yang sudah menunggunya buru-buru menyambar tangannya. Menariknya menuju tempat yang sudah kusiapkan.
Lilin-lilin yang mengitari tempat singgah kami menerangi tanpa malu. Kami duduk di sekelilingnya sambil ditemani suara malam, bintang-bintang bersinar terang. Kuputar lagu dari handphone bunda, kira-kira liriknya seperti ini “Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa…” bunda selalu menyanyikannya saat bunda tahu aku sedang bersedih. Sambil tertidur kami menatap ke arah langit, menggapai bintang.
“Kata bunda, ibu itu adalah bintang. Bintang yang paling bersinar. Aku ingin suatu hari nanti aku menjadi seperti bintang”
“Kamu sudah menjadi bintang, bintang di hatinya sar. Ibumu sangat baik padamu dan aku…”
“Semua yang terlihat belum tentu adalah nyata. Saras sayang elin, Tetap jadi sahabatku ya”
“Memang, ayo kita ambil bintang itu. Kita akan selalu bersama”
Bintang-bintang berkelap-kelip, kami menggapai bintang itu dan menyimpannya dalam hati. “Tetaplah di sini ibu” Lalu cahaya berkilauan. Warna kuning keemasan datang menghampiri kami. “Itu kunang-kunang, ayo kita tangkap” aku dan elin berputar-putar menangkapnya. Kami sangat bahagia, terlebih aku melihatnya. Melihat ibu di langit…
“Selamat ulang tahun elin”
“Waaah kamu ingat…”
“Tentu, ini untukmu (Sebuah kotak berwarna merah jambu)”
Setelah itu kami memutuskan untuk segera pulang…
“Aku tak perduli kau dari mana, sepertinya kau sudah bosan tinggal di sini”
“Tidak ibu, aku hanya…”
“Elinaaaaa… Aku sudah muak melihatmu. Jika bukan dendam untuk anakku, aku sudah membuangmu. Malam ini, kau tidur di luar”
“Tapi ibu, aku takut. Aku janji aku tidak akan nakal lagi”
“Sudah cepatlah, aku tidak perlu melemparmu keluar bukan. Jangan manja, anakku dulu juga seperti ini. Kau tahu? anakku menderita karenamu, kotak apa ini? kemarikan”
“Jangan ibu itu dari sahabatku”
Keesokan paginya aku tertidur pulas hingga waktu menunjukkan pukul 09:00 wib…
“Ibu, maafkan aku. Ibu kembalilah… Aku janji aku tak akan nakal lagi ibu. Jangan marah padaku, aku sayang ibu. Aku akan belajar terus dan bawa uang yang banyak untuk ibu”
“Ibu… Aku tidak salah, mereka menghina ibu. Aku tidak suka… Ibu jangan pergiii” Ibu mendorong tubuhku dan berlalu begitu saja.
“Saras, bangun sayang…”
“Bundaaa, aku mimpi ibu. Aku rindu ibu”
“Saras mau bertemu ibu?”
“Tidak… Saras benci ibu” Aku bergegas meninggalkan bunda. Saat itu aku hanya ingin sendiri.
Beberapa bulan terakhir, kesehatan bunda menurun. Bunda sudah tidak lagi bisa bekerja. Kami hanya tinggal berdua, ini semua salahku. Karena aku, bunda memutuskan untuk tidak menikah. Bunda membatalkan pernikahannya saat ayah meninggal. Kini aku satu-satunya keluarga bunda, orangtua bunda meninggal saat bunda masih kecil. Aku akhirnya memutuskan bekerja paruh waktu di sebuah rumah makan. Hari-hari kusibukkan dengan bekerja dan malamnya sibuk membereskan rumah yang sudah tak beraturan. Bunda kini terbaring di kamar tidurnya, bunda selalu menolak dibawa ke rumah sakit terlebih aku tak punya uang sama sekali.
Awalnya bunda masih bisa berbicara dan kami masih sempat bercerita. Kini bunda tak lagi membacakan dongeng untukku, karena sakitnya bunda semakin parah. Aku jadi jarang sekali bertemu elin, karena kami juga akhirnya berbeda kelas.
Hari-hari berjalan dengan cepat namun kondisi bunda masih saja seperti itu. Sudah setahun berlalu. Tiba saat kenaikan kelas, saat itu aku telah bertambah usia. Elin mengajakku ke suatu tempat, dimana dulu aku mengajak elin melihat bintang. Elin memberikanku sebuah hadiah “Kalung berbentuk bintang”. Seperti dulu, sambil menatap ke arah langit kuputar lagu itu. Serasa ibu sedang bersama kami.
Beberapa bulan kemudian bunda sembuh. Aku sangat bahagia, suatu keajaiban yang tuhan berikan. Aku menghabiskan banyak waktu bersama bunda.
“Ayo bunda, kejar aku dong”
“Curang, bunda kan tidak bisa berlari. Awas ya saras nakal”
“Hahahaha, bunda ayo duduk di sini”
Aku dan bunda duduk di tepi danau, sebelumnya aku sudah memetik bunga mawar. Aku memakaikannya di telinga bunda, bunda sangat cantik. Aku ingin suatu hari nanti bunda mau menikah dan bahagia. Mempunyai seorang anak yang lucu, yang saat itu menjadi adikku. Tapi aku tak bisa memaksakan keinginanku jika bunda tak menginginkannya. Bunda bilang “Dengan memiliki saras saja sudah cukup”.
Sekarang aku sudah kelas III, banyak kegiatan yang menyita waktu. Saat bersama bunda hanya pada malam hari, bunda kini menekuni bisnis menjahit. Setiap hari banyak sekali pesanan, tapi aku belum sempat membantu bunda. Pada malam itu bunda memberikan sebuah kebaya berwarna merah hasil jahitan tangannya sendiri. Aku sangat suka!
Karena kesibukkanku aku jadi jarang sekali memperhatikan bunda hingga suatu hari bunda terbaring lemah. Kejadian tahun lalu terulang lagi. Dokter bilang sel kanker yang pernah hinggap di tubuh bunda kambuh lagi, itu adalah kenyataan terburuk dalam hidupku. Mengapa bunda merahasiakan semua ini dariku! Hingga seminggu sebelum kelulusan, elin sepertinya marah padaku. Aku memang menyembunyikan sesuatu darinya, tapi aku sangat membutuhkan elin saat itu. Kondisi bunda semakin memburuk hingga harus dilarikan ke rumah sakit. Semua yang kelam dalam hidupku kembali mengusik. Aku sangat takut kehilangan bunda, aku ingin menceritakan semuanya pada elin. Terlebih aku sebenarnya sudah kehilangan bunda. Tak ada lagi tempat berbagi cerita, waktu kuhabiskan untuk merawat bunda.
Tiga hari sebelum kelulusan, elin mengirimkan surat padaku…
Untuk Saras Josoehandy…
Cerita apa yang belum kamu lunasi? aku masih menantinya, ingin sekali aku mendengar ceritamu. Tapi kita mempunyai hidup yang sulit untuk diceritakan, bahkan mungkin kita mempunyai cerita yang sama…
Saras… Percayalah aku menyayangimu.
Aku tak pernah marah padamu, aku sudah tak sanggup lagi bermimpi. Tetaplah berjalan, aku selalu di belakangmu. Namun waktu memisahkan, maaf aku belum bisa menemuimu lagi. Saat pulang sekolah kemarin itu, mungkin waktunya kamu menceritakan semuanya. Tapi kamu masih saja ingin menyembunyikannya. Aku berharap kita benar-benar bersahabat, tapi aku ini bukan sahabatmu…
Mungkin pertemuan kemarin adalah yang terakhir, kita bertemu lagi nanti ya! Maafkan aku jika aku juga menyembunyikan semuanya.
Jaga dirimu baik-baik…
Elina. J
Saat aku selesai membaca surat darinya, aku berniat mencarinya meskipun selama ini mungkin aku terlihat tak peduli. “Tunggu aku lin, aku juga sayang padamu” Setelah beberapa jam mencari alamat rumahnya tiba-tiba handphone bunda berbunyi…
“Hallo”
“Apa? saya akan segera ke sana”
Setibanya di rumah sakit…
Aku tak mempunyai keberanian untuk melihatnya. Kenyataan bahwa bunda pergi secepat ini!
Di bawah langit yang redup, aku duduk di samping tanah yang masih basah. Aku merasakan kehadiran bunda… Menatap batu nisan, nama bunda tertera disana. Kutitipkan do’a pada hujan yang menemaniku saat itu, menghapus air mata dan duka. Tak sekalipun kulihat elin di sana, seharusnya elin sudah tahu berita kematian bunda sebab teman sekolahku pun datang kepemakamannya.
Setelah itu, aku tak lagi mencari elin. Sudah kuputuskan sejak dulu, aku akan kembali ke jakarta dan bekerja di sana. Aku tak berniat melanjutkan sekolah ke tingkat akhir. Ternyata pindah ke sini pun tak menghapus ingatanku tentang ibu. Rumah bunda yang dijual dahulu, aku merindukannya. Saat kembali ke jakarta, aku akan mencari uang yang banyak dan membeli kembali rumah itu.
Saat hari kelulusan…
Bunda tak hadir di sana, kulihat semua anak hadir bersama orangtuanya. Aku menggunakan kebaya merah yang bunda buatkan dulu. Warnanya masih cantik dengan hiasan bunga dibagian dada sebelah kiri, rambutku digelung berhiaskan benda berwarna putih mengkilau dan kalung berbentuk bintang yang bersinar terang. Saat pembacaan puisi yang seharusnya dibacakan elin, tak juga kulihat elin. Hingga sesuatu yang terjadi membuat semua orang ramai membicarakannya. Kabar dari elin membuyarkan semua ingatanku. Belum habis kesedihanku, elin sahabatku yang malang dilarikan ke rumah sakit akibat diracuni ibunya.
“Aku sudah lelah bu, aku ingin bertemu mama”
“elin sayang lelah? ibu juga. Hahahaha, elin mau makan? ini enak, tidak seperti biasanya. Nasinya tidak basi dan ini bukan tulang, ini daging yang enak”
“Sampai kapan ibu mau memaafkanku? ini sudah 4 tahun sejak ibu datang dan menghancurkan semuanya. Kembalikan mamaku bu”
“Elina mau mama? elin makan dulu, sudah 2 hari elin belum makan. Ibu kasihan, elin juga pasti tidurnya tidak enak. Di sini banyak tikus ya, ibu janji setelah ini semuanya berakhir”
Aku berlari ke ruang UGD, dokter melarangku untuk masuk menemui elin. Linangan air mata merusak wajahku, kebaya yang kugunakan sudah tidak cantik lagi. Semuanya tak beraturan! dokter keluar bersamaan dengan mayat elin, semuanya sudah terlambat. Kain putih yang menutupi tubuh elin, elin tak menyingkirkannya. Tubuhnya dingin dan kaku.
Lagi-lagi semuanya terasa seperti mimpi. Tiba-tiba dokter datang memberikan surat yang elin titipkan padanya sebelum pergi. Aku membukanya sebelum pemakaman dilangsungkan.
Untuk Saras Josoehandy…
Maaf seharusnya aku membicarakan ini langsung padamu. Sepertinya akhir-akhir ini kamu sibuk sekali, sampai waktu memisahkan kita. Kudengar bundamu masuk ke rumah sakit, maaf aku tak bisa menemanimu. Mungkin seminggu ini aku tak masuk sekolah karena ibu mengurungku di dalam gudang. Jangan marah pada ibu, aku yang nakal. Surat yang kuselipkan di pintu rumahmu waktu itu, aku menyempatkannya karena berhasil lolos dari ibu tapi ibu menemukanku dan menyuruhku untuk menjauhimu. Ibu tak membencimu, ia hanya takut aku melukaimu…
Kisah yang akan kuceritakan…
Empat tahun lalu, kupu-kupu hidup bahagia bersama ibu dan ayahnya. Kemudian ibu kunang-kunang datang dan merebut semuanya. Kebenciannya terhadap kupu-kupu teramat dalam hingga membunuh ibu dan ayahnya, kemudian kupu-kupu hidup sendiri dan ibu kunang-kunang menemaninya. Setiap hari, kupu-kupu hidup menderita. Ibu kunang-kunang menceritakan bahwa ia juga ibu dari kupu-kupu yang telah lama dibuang. Akhirnya mereka hidup bersama, tapi ibu kunang-kunang selalu menyiksanya. Kupu-kupu menjadi sedih. Suatu hari kupu-kupu bertemu kunang-kunang yang cantik, mereka akhirnya berteman. Sinar kunang-kunang yang indah membuat kupu-kupu juga bersinar terang. Kupu-kupu adalah aku dan kunang-kunang itu bernama SARAS josoehandy…
Aku dan saras akhirnya bersahabat, kami satu kelas. Hanya saras yang mau berteman denganku. Kami bersahabat cukup lama hingga kusadari nama belakang kami sama. Namaku disingkat menjadi Elina J karena ibu yang menyuruhnya. Hingga suatu hari aku meminta bunda susan menceritakan semua tentangnya. Dan benar, saras adalah adikku. Adikku yang manis, maafkan aku yang menyembunyikan semua darinya. Aku tak berani mengatakan padanya, aku takut sarasku membenci kakak yang sudah merebut kebahagiaannya.
Saras, aku akhirnya mengerti mengapa ibu memperlakukanku dengan buruk. Ini semua demi kamu, ibu bilang saras juga pernah menderita seperti ini. Ini semua salahku, andai saja mama tak menikah dengan ayah yang ternyata sudah menikahi ibu. Tepat saat hari kelulusan adalah hari kelahiranku dan seminggu setelahnya adalah hari kelahiranmu, masih ingat? setiap tahun kita merayakannya dengan saling menatap bintang, semoga kita masih bisa melihat bintang dihari itu. Melihat mama…
Tiga tahun sejak kita lahir, ayah lebih memilih menghabiskan waktunya di karawang bersama aku dan mama. Hingga suatu hari ayah pergi ke jakarta untuk menceraikan ibu, kenyataannya ayah tak kembali karena ibu mensabotase mobilnya hingga terjadilah kecelakaan yang menyebabkan ayah meninggal. Tapi ibu datang dan mengatakan ayah menceraikan mama, mama sangat terpukul dan akhirnya menikah lagi. Ini semua salahku, maafkan aku saras…
Semoga kamu tidak membenci kakakmu ini. Aku rela membayar semuanya untuk menebus kesalahanku. Pasti selama ini, saras menderita ya? Kenapa kamu tak pernah menceritakan semuanya? aku hanya ingin tahu, apa kamu membenciku? tapi aku ini memang bukan sahabatmu…
Jika nanti aku telah tiada, jaga dirimu baik-baik. AKU SAYANG KAMU adikku yang manis…
Elina. J
Aku memakamkannya di samping makam bunda. Aku masih menatap batu nisannya…
Elina Josoehandy Binti Josoehandy
Lahir 2002
Wafat 2017
Kehilangan orang-orang yang kusayangi adalah hal yang paling menyedihkan dalam hidupku.
“Ka elina… Tak seharusnya ibu melakukan ini pada kita. Seharusnya kita bahagia bersama-sama, ibu memilih jalan hidup yang salah. Aku tahu ibu sangat menyayangiku, aku percaya pada bunda. Maafkan aku, ini semua bukan salah kakak juga bukan salah ibu. Aku sayang kalian. Aku tak membenci kakak, maaf aku tak menceritakannya karena aku begitu sangat merindukan ibu. Mengapa kalian pergi sebelum aku berhasil membahagiakan kalian”
Keesokan harinya aku mendatangi kantor polisi yang menahan ibuku…
“Permisi pak, saya ingin bertemu dengan pelaku pembunuhan anak kemarin. Beliau bernama Erika moela”
Pihak kepolisian menyatakan bahwa ibuku mengalami masalah kejiwaan. Ibuku dipindahkan ke rumah sakit jiwa di jakarta. Keputusanku untuk pindah ke jakarta semakin bulat.
Aku mendatangi makam bunda dan ka elina…
“Bunda, kakak… Maafkan aku, aku meninggalkan kalian di sini. Aku harus menjaga ibuku. Doaku selalu menyertai kalian”
Aku akhirnya kembali ke jakarta. Dengan sisa uang tabunganku. Setelah beberapa hari mencari kosan, akhirnya aku menemukannya. Meskipun kosannya sangat kecil dan murah, tapi aku sangat senang karena dekat dengan rumah bunda dulu. Aku lupa jika hari itu adalah hari kelahiranku, malam datang lagi bersama bintang. Aku menatapnya, di sana ada ayah, ibu, bunda, kakak dan aku. Kami tertawa bersama.
Setelah itu, uangku mulai menipis
Beberapa bulan kemudian…
Sambil bekerja aku menulis sebuah novel berjudul “Bintang Di hatiku”. Sudah beberapa hari setelah novel itu terbit, datang seorang produser menawarkan agar novel yang kubuat dijadikan sebuah film. Beliau bernama… “Hery pradiyo”
“Saras Josoehandy”
“Setelah membaca novelmu, aku tambah yakin bahwa kau adalah orang yang kucari selama ini. Kau adalah saras teman kecilku, apa kau betul-betul melupakanku?”
Dia adalah hery, anak laki-laki yang dulu sudah membantuku. Karena terpukul atas kepergian ibu, aku jadi melupakannya. Berkat kegigihannya, akhirnya hery sukses menjadi produser film di jakarta.
“Aku selalu menunggumu di bawah jembatan dimana dulu kau menceritakan semuanya. Aku tak pernah melupakanmu, walau hanya sekali kita bertemu”
“Maaf, aku…”
“Sudahlah, aku tahu semuanya lewat novelmu. Ayo ikut denganku”
Hery terus menarik tanganku menjauhi beranda rumah. Hanya dengan berjalan kaki, kami sampai di sebuah rumah.
“Rumah bunda”
“Iya, aku membelinya kemarin saat kutahu ini rumah bundamu”
Aku bergegas masuk ke dalamnya, air mata mengucur dari balik mataku. Meskipun tampak berbeda, semua kenangannya masih sama. Tertata rapi pada tempatnya. Dering handphone peninggalan bunda berbunyi, kali ini nada deringnya adalah lagu yang sering bunda nyanyikan saat aku sedang sedih.
Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa…
Hanya memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia…
Kulihat bayangan bunda tersenyum padaku, saat kulihat layar “Ibuuuuuuuuuu…”
“Hery aku harus pergi menemui ibuku…”
Aku berlari meninggalkan hery, selama di jakarta aku hanya 2 kali menemui ibu! karena sibuk bekerja di sebuah toko mainan.
“Heiii, biarkan aku yang mengantarmu”
Setibanya di rumah sakit, aku melihatnya. Senyuman itu…
“Jadi itu ibumu?”
“Iya, bintang di hatiku…”
the end😊♥️