Akan kulampaui apa yang telah dijanjikan. Aku akan terus bertarung tanpa berpaling lagi.
=•=•=
Di tengah gelapnya malam, terlihat seorang wanita sedang melawan sesuatu.
"KALI INI, AKU TAK AKAN MELEPASKANMU, CLUDEUS!" teriak wanita itu dengan suara lantang. Dia adalah Yuki Kobayashi, seorang ibu rumah tangga yang memiliki kemampuan tak biasa. Bu Yuki adalah seorang pemburu iblis. Meski itu terdengar tidak masuk akal, akan tetapi, hal itu benar adanya.
Beberapa hari terakhir, iblis-iblis jahat mulai memasuki pemukiman warga. Bukan hanya merusak rumah-rumah, mereka juga membantai hampir seluruh keluarga di desa ini.
Maka dari itu, Yuki pun memberanikan diri untuk menerobos ke kastil tempat bos para iblis berada. Bos iblis itu adalah Cludeus, dengan badan separuh manusia dan separuh ular, dia bisa membunuh manusia biasa hanya dengan menjentikan jarinya. Namun, siapa tau? Bu Yuki memiliki kemampuan luar biasa.
"I-ibu ...," lirih seseorang dari belakang Bu Yuki.
Bu Yuki pun berbalik dan melihat ke arah sumber suara. "HAH?!" Dia terkejut saat melihat seorang anak perempuan yang kira-kira masih berusia 5 tahun, berjalan mendekatinya.
"ANAKKU, JANGAN MENDEKAT!" Bu Yuki memperingatkan gadis mungil tersebut agar tidak mendekat. Anak itu adalah Ai Kobayashi, yang tak lain dan tak bukan adalah anak tunggal Bu Yuki.
"Hahaha ... ternyata anakmu juga di sini? Fufufu ... baguslah kalau begitu. Dia akan menyaksikan bagaimana ibunya meregang nyawa di sini," ucap Cludeus sembari tertawa kecil.
Bu Yuki menyeringai dan mengeratkan pegangan pedangnya. "Itu tak mungkin terjadi. RASAKAN INI ...!" Bu Yuki berlari dengan pedang yang diselimuti oleh air, ke arah Cludeus.
"HAH? Ternyata kau juga bisa mengendalikan elemen air? Hah ... merepotkan saja. Baiklah, terpaksa harus kulakukan!" Cludeus memutar-mutar tangannya seraya mengucapkan mantra. Tak lama setelah itu, muncullah aura-aura hitam pekat di balik Cludeus. "Fufufu ... rasakan ini!" Seberkas cahaya dilepaskan oleh Cludeus ke arah badan Bu Yuki.
"UGHHH!" Sinar itu menembus badannya. Alhasil, Bu Yuki pun tumbang dan tak bisa berkutik lagi.
"IBU ...!" teriak Yuki sambil berlari menghampiri ibunya. "Ibu ...." Yuki memeluk ibunya dengan derai air mata kesedihan yang mengalir.
"Ai, pergilah sekarang juga ...," bisik Bu Yuki dengan nada pelan.
"Tidak, Bu. Ayo pulang bersama!" tolak Ai kekeh.
Bu Yuki tak bisa menahan tangisnya. Namun, dia masih berusaha untuk terlihat tegar di mata Ai. "Ai, pergilah ... sebelum—" Ketika hendak menyelesaikan kalimatnya, tanpa diduga, Cludeus melepaskan satu serangan lagi kepada Bu Yuki.
"HAH?!" Beruntungnya, Bu Yuki masih bisa menahan serangan itu dengan perisainya.
"Ai ... pergilah. Ibu akan baik-baik saja. Saat kau sudah besar nanti, maka kau harus bisa melindungi semua orang, ya?" pinta Bu Yuki dengan tangan memegang kedua bahu kecil Ai.
"Ibu ...." Ai masih menangis sesegukan. "Ba-baiklah." Namun, pada akhirnya, Ai menuruti permintaan ibunya. Dia berlari keluar dari kastil. Sementara Bu Yuki memandanginya dengan tatapan sendu. 'Ini adalah janji kita, Ai,' batin Bu Yuki.
"Fufufu ... drama yang sangat mengharukan, tapi, lawanmu masih belum mati tau!" Cludeus menguatkan serangannya, hingga membuat perisai Bu Yuki pecah. "AAARGHHH!" jeritan kesakitan wanita itu menggema di seluruh bagian kastil.
Ai yang tengah berlari pun langsung berhenti seketika. Dia berbalik dan memandangi kastilnya. "I ... bu ...," ucapnya sekali lagi.
=•= 10 Tahun Kemudian =•=
Kini, Ai telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja periang dan pantang menyerah. Setiap pagi, dia selalu berlatih beladiri bersama seorang guru. Sekarang, Ai sudah bisa menguasai teknik pedang sama seperti mendiang ibunya.
"Bagus, Ai! Kemampuanmu berkembang dengan sangat pesat. Aku bangga padamu!" puji Ryuji Nakamura—guru beladiri Ai.
Senyuman bahagia terlukis di wajah Ai. "Woaaa ... terimakasih, Sensei!" Ai membungkukan badannya untuk berterimakasih.
"Iya, sama-sama ...," ungkap Ryuji.
Ai mengubah posisi badannya menjadi tegak lagi. 'Malam ini, aku akan menyerang kastil Cludeus. Aku akan membalaskan dendam ibuku!' pilir Ai sambil menatap langit biru dengan awan-awan putih yang bergerak.
Malam harinya, ketika semua orang sedang tertidur, Ai berjalan sendirian menuju kastil Cludeus. Saat sudah sampai, Ai melihat ada dua iblis dengan tubuh yang sangat besar, sedang menjaga pintu gerbang kastil.
"Hah ... akan memakan waktu cukup lama jika aku melawan mereka. Hmm ... AH ITU DIA!" Sepertinya, Ai mendapatkan ide agar bisa menerobos masuk tanpa harus ketahuan. Dia mengambil batu berukuran sedang yang ada di dekatnya dan lalu melemparnya.
"SIAPA ITU?!" Atensi kedua iblis itu, tertarik kepada batu yang dilempar oleh Ai. Iblis-iblis tersebut berlari mendekati sumber suara. Sementara itu, Ai memanfaatkan peluang ini dan masuk ke dalam kastil. "Hah ... berhasil," ucap Ai lega. Dia bergegas masuk ke dalam ruangan tempat Cludeus berada.
BRAK!
Ai membuka pintunya dengan kasar.
"HEI, SIAPA YANG BERANI MASUK KE DALAM RUANGANKU TANPA PERMISI SEPERTI INI? HAH? Tunggu dulu ... kau manusia?" tanya Cludeus keheranan.
"Benar, aku adalah manusia, dan aku akan membunuhmu sekarang juga!" Ai bersiap untuk mengeluarkan pedangnya.
"He? Ah, aku baru mengingatmu. Ternyata kau adalah anak si Yuki itu bukan? Pftt ... HAHAHAHA ... pantas saja aku merasa tidak asing begini. Fufufu ... mau apa kau kesini? Apa kau ingin bernasib sama seperti ibumu? HAHAHA ...," ejek Cludeus dengan tawa terbahak-bahak.
Ai hanya tersenyum miring, seraya berkata, "Bukankah sudah kubilang, bahwa aku akan membunuhmu?"
Cludeus yang melihat Ai merespon dengan sangat santai pun mendadak langsung berubah menjadi serius. "Tck, baiklah jika memang itu maumu. Maka aku akan meladenimu!" Cludeus menjentikan jarinya untuk menutup pintu.
Ai mengeluarkan pedangnya, bersiap untuk menyerang. "RASAKAN INI!" Ai melesat secepat kilat ke arah Cludeus. Namun, sayangny, Cludeus berhasil mengelak dengan sempurna.
"Hahaha ... bagus ... sangat bagus ... Baiklah, kita akan serius." Cludeus melepaskan pukulan tepat di perut Ai, hingga membuat gadis itu terpelanting ke belakang.
"Eeghh ...." Ai masih belum menyerah, dia bangkit dan memasang kuda-kuda menyerang. "HATTT ...!" Dia berteriak dan maju menyerang sekali lagi. Namun, serangan Ai tidak berhasil mengenai Cludeus lagi. Tak peduli, sudah berapa kali Ai mencoba, akan tetapi hasilnya tetap sama saja.
Meskipun badannya telah terluka parah, tetapi Ai masih belum menyerah. "Tidak ... aku tidak a-akan menyerah begitu saja. Ai, tenangkan dirimu ...," ucap Ai pada dirinya sendiri.
"HEI! KENAPA DIAM SAJA? OH, APAKAH ANAK INI SUDAH MENYERAH? FUFUFU ...," ejek Cludeus lagi.
"Ai, tenangkan dirimu ...." Ai menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "HAH? BERHASIL!" Ai mendongakan kepalanya dan menatap Cludeus. Dia berdiri sekali lagi.
"SEKARANG, AKU BENAR-BENAR AKAN MENGALAHKANMU!" ungkap Ai. Pada saat yang bersamaan, pedang Ai tiba-tiba diselimuti oleh air. Begitu juga dengan tubuhnya.
"WUJUD KEDUA : ELEMEN AIR!" Ai berlari menuju tempat Cludeus berada.
"He? Kau juga bisa menguasai elemen air? Cih, kau ini memang ingin merepotkanku saja, sama seperti ibumu." Cludeus hendak mengeluarkan mantranya. Namun, tanpa diduga, Ai memotong tangan kanan iblis ular tersebut.
"Hehh ... aku berhasil ...," lirih Ai sambil tersenyum miring.
"BA-BAGAIMANA BISA? HEHHH ... KAU MEMANG INGIN MENCARI MATI!" Tiba-tiba, iblis-iblis pengikut Cludeus, masuk ke dalam ruangan. Jumlah mereka tak terhitung banyaknya. Sementara itu, Cludeus memilih untuk memulihkan diri. Dia memasang perisai bulat dan melayang-layang di udara.
Ai mengacungkan pedangnya dan menyerang salah satu iblis. "APA?!" Namun, anehnya, pedang air Ai tidak bisa menembus tubuh iblis itu.
"RAWRR ...!" Iblis itu melompat, hendak menangkap Ai. Namun, beruntung, Ai berhasil menghindari serangannya.
'Ba-bagaimana ini? Ibu, aku pasti akan kalah ...,' pikir Ai khawatir.
"Ibu ... aku ingin memegang pedang seperti ibu!" Tiba-tiba suara cempreng anak kecil, terdengar di telinga Ai.
Ai terkejut saat melihat gambaran ibunya sedang bersama dia yang masih kecil.
Bu Yuki duduk bersimpuh dan membelai rambut hitam terurai Ai. "Boleh, tapi nanti jika kau sudah dewasa, ya, Ai?" Gambaran kejadian itu mulai meredup dan akhirnya menghilang.
Kali ini, gambaran pertarungan antara Bu Yuki dan Cludeus saat itu, muncul dan menggantikan gambaran tadi. "Ai ... pergilah. Ibu akan baik-baik saja. Saat kau sudah besar nanti, maka kau harus bisa melindungi semua orang, ya?" ucap Bu Yuki. 'Ini adalah janji kita ....'
Tiba-tiba, Ai merasakan kekuatan yang amat sangat besar. "Hehh ...." Pedang airnya berubah menjadi api. "Wujud ketiga : Elemen Api!" Tubuh Ai diselimuti oleh api, begitu juga dengan pedangnya.
"HARGGGGHH!" Dia melesat dengan cepat dan menebas seluruh iblis itu dengan sangat mudah. Setelag semua telah tumbang, Ai menatap Cludeus yang masih memulihkan kondisi tubuhnya di udara. Tanpa basa-basi, Ai langsung melompat dan menyerangnya.
Sebuah tebasan pedang, menghujam perisai Cludeus dengan sangat kencang. Ai berhasil memecah perisai Cludeus.
"Ti-tidak mungkin!" Mata Cludeus membelalak tak percaya.
Serangan Ai tidak berhenti hanya sampai situ saja. Kali ini, pedang apinya menghujam lebih keras lagi ke arag perut bagian samping Cludeus.
"A-aakhh ...," rintihan kesakitan Cludeus terdengar.
"AKAN KULAMPAI APA YANG TELAH DIJANJIKAN, AKU AKAN TERUS BERTARUNG TANPA BERPALING LAGI!" Ai menebas perut Cludeus hingga membuat tubuh manusia dan ularnya terpisah menjadi dua.
"ARGHHH!" Cludeus menjerit sekencang-kencangnya.
"HAAHH ...." Ai menghela napas dengan kasar.
-Tamat-