Masa SMA menjadi masa paling indah bagi sebagian orang, pada masa ini seorang bisa menemukan cinta pertama, kencan pertama dan segala macan hal yang baru pertama kali di rasakan. Tak jarang sebagian orang menilai bahwa masa SMA adalah fase terbaik hidup mereka karna kenangan yang terukir sepanjang waktu ini.
Ya, bisa di bilang Clara Rathavit adalah salah satunya gadis cantik yang kini sudah berusia 27 tahun itu pernah merasakan fase terbaik dalam hidupnya pada masa SMA, ia menemukan cinta pertamanya pada masa itu.
Pembawa cinta pertama itu bernama Mean Phiravich si kapten basket pemikat hati yang di kenal baik di mata semua murid maupun guru pada masa sekolah dulu, pemuda tampan itu berhasil memikat Clara sejak kelas 10 sikap baiknya pada semua orang mampu mencairkan hati Clara yang beku. Dia membuat Clara jatuh sejatuh-jatuhnya hingga membuat Clara tak bisa berpaling pada sosok Perth Tanapon sahabat yang selalu ada untuknya.
Hari itu menjadi hari paling tak terlupakan oleh Clara saat itu ia sedang duduk sendiri di halte bus menunggu hujan reda, tadinya Clara hendak pulang sekolah naik bus tapi karna hujan ia pun tidak bisa pulang tepat waktu. Bus yang di nanti pun tak kunjung datang hal ini semakin membuatnya terlambat sampai rumah.
Gadis itu sedikit merutuk dalam hati karna lupa membawa payung padahal sang ibu sudah mewanti-wanti sejak pagi, tak hanya itu Clara juga lupa membawa jaket alhasil ia kedinginan sekarang.
Berulang kali gadis cantik itu menggosok-gosokkan kedua tangannya berharap mendapat kehangatan, kepalanya sibuk menoleh ke kanan dan ke kiri berharap Bus yang ia tunggu segera datang sungguh Clara membenci keadaannya sekarang ia benci kehujanan dan kedinginan.
Tiba-tiba Clara terkasiap pelan saat seseorang yang entah datang dari mana menyodorkan jaket padanya, Clara menoleh dan terkejut saat mendapati siapa gerangan yang menawarkan jaket itu.
"Mean?!"
"Pakailah jaket ku! Sepertinya kau kedinginan" Mean menyengir dengan gaya khasnya.
Clara menggeleng "Tidak perlu ini kan jaket mu, nanti kalau ______"
"Tidak apa-apa aku laki-laki, kulit ku lebih tebal dari kulit mu aku tak akan kedinginan tanpa jaket"
"Eh?" Clara tampak ragu "Kau yakin?"
Mean berdecak, tanpa aba-aba pemuda itu memakaikan jaketnya ke tubuh Clara yang sudah menggigil kedinginan.
Clara melotot terkejut jantungnya berdegup kencang tanpa di komando, pipi pualamnya bahkan memerah karna malu.
Mean tersenyum, tersenyum yang begitu tulus dan manis membuat wajahnya semakin terlihat tampan.
"Kalau begitu aku duluan ya, Clara sampai jumpa!"
Belum sempat Clara pulih dari keterkejutannya atas perlakuan Mean pemuda itu sudah lebih dulu berlari pergi meninggalkan halte bus, meninggalkan Clara berteman dengan debaran jantungnya yang menggila.
Clara akhirnya tersadar hanya berselang beberapa detik setelah kepergian Mean, gadis itu seketika merutuki dirinya sendiri padahal ia belum berterima kasih pada Mean tapi pemuda tampan itu sudah lebih dulu pergi.
Clara hanya bisa menghela napas lesu sepertinya ia baru bisa berterima kasih pada Mean saat mengembalikan jaket yang memeluk tubuhnya.
Mengingat hal itu seketika Clara tersenyum ia merasa gembira karna itu artinya kesempatannya untuk bertemu Mean di lain waktu akan semakin besar.
****************
" Mean, untuk apa kau kesini? Dari mana kau tau rumah ku?"
Clara begitu terkejut saat menemukan sosok Mean di depan rumahnya, tadi ia sempat mendengar suara bel pintu maka dari itu ia bergegas membukanya karna bibi Nam sedang memasak makan malam di dapur.
Yang di tanya berkerut heran mendengar pertanyaan itu " Jadi..... ini rumah mu?" Tanya nya balik.
Clara semakin bingung "Iya, ini rumah ku kau tidak tau?"
"Mean, kau sudah datang?"
Suara feminim itu membuat Plan dan Mean menoleh ke asal suara Clara terheran-heran saat melihat Lisa berjalan ke arah mereka di sertai senyum lebarnya, batinnya bertanya bagaimana bisa sepupunya mengenal Mean? Padahal selama ini Lisa tinggal di New York bersama orang tuanya, gadis itu sedang berada di Thailand untuk berlibur.
"Kalian saling kenal?" Clara bertanya dengan nada heran saat melihat Lisa merangkul Mean cukup mesra, oh sepertinya Clara cemburu sekarang.
Sambil terkekeh pelan Lisa menjawab " Dia ini kekasih ku Clara, yang ku ceritakan pada mu itu"
Clara melotot terkejut "Jadi kekasih mu itu.... Mean?"
Lisa tersenyum malu-malu lalu mengangguk pelan begitu pun Mean yang tersenyum canggung di sampingnya.
Clara mencelos dalam hati ia benar-benar tak menyangka kalau Mean dan Lisa berpacaran, semalam Lisa memang bercerita soal cucu tetangga di New York yang kini menjadi kekasihnya. Lisa bilang anak laki-laki itu sejak kecil suka menganggunya jika sedang berkunjung kerumah sang nenek, baru beberapa bulan yang lalu anak laki-laki itu menyatakan perasaannya pada Lisa. Sepupunya itu sempat bercerita kalau kekasihnya tersebut satu sekolah dengan Clara tapi ia tidak mau mengungkap identitasnya, Lisa ingin menjadikannya kejutan bagi Clara.
Dan kini Clara pun benar-benar terkejut mendapatkan fakta tersebut tak hanya terkejut ia pun merasa cemburu dan patah hati karna kesempatannya untuk mendapatkan hati Mean kandas di tengah jalan bahkan sebelum ia sempat berusaha.
****************
"Kau masih memikirkan dia?"
Pertanyaan Perth seketika membuat Clara tersadar dari ingatan masa lalunya, gadis cantik itu mengalihkan pandangan dari jalanan Thailand yang menjadi pusat atensinya beberapa saat lalu kepada sang sahabat yang baru saja mendaratkan pantat di seberang tempat duduk.
Clara mengerutkan dahinya "Dia siapa?" Tanya nya tak mengerti.
Perth mengulas senyum tipis sambil menggeleng pelan "Lupakan saja"
Clara hanya mendengus pelan lalu menyeruput minumannya Perth masih setia memperhatikan Clara lekat, Pria yang berprofesi sebagai jaksa itu baru memesan makanan dan minum pada pelayan saat Clara kembali mengangkat kepalanya.
"Jadi..... bagaimana persiapan pertunangan mu?" Clara bertanya.
Senyum tipis yang tergambar di wajah Perth langsung sirna mendengar pertanyaan itu, ia tampak kikuk sambil menjawab "Pertunangan ku...... batal"
Clara hampir menyemburkan minumannya karna terkejut, gadis itu mendelik tak percaya.
"Seriously?"
Perth menghembuskan napas lesu "Aku dan Yena sudah sepakat membatalkan pertunangan kami Clara, kami tidak bisa melanjutkan nya"
"Tapi ken _____" Clara tiba-tiba terkasiap pelan, semakin lama tatapannya memicing pada sang sahabat yang enggan menghujamkan netra kelam pada dirinya.
"Perth, jangan bilang ini ada hubungannya dengan ku?" Nada bicara Clara terdengar tajam.
Perth tak kunjung menjawab pertanyaan Clara pria itu hanya terus menundukkan kepala, enggan menampakkan wajah tampannya pada gadis yang menatap tajam padanya.
Muak menanti jawaban yang rasanya sudah bisa di tebak dari sikap sang sahabat Clara pun bangkit dari kenyamanan kursi sambil berdecak kesal, menghentakkan kaki penuh amarah meninggalkan Perth yang kini mulai memanggil namanya dan mengejar raganya.
Tangan Perth terulur meraih tangan Clara yang bebas, Clara sempat menyentak tangan pria itu tapi Perth tak gentar.
"Clara, dengarkan aku dulu" Sentak Perth dengan nada tinggi kali ini Clara bergeming tidak mengelak seperti biasanya, namun tatapan matanya masih sama tajam seperti tadi.
Perth mengatur napasnya yang tadi sempat memburu "Bukan aku yang mengakhiri hubungan kami Clara, tapi Yena yang ______ "
"Tapi alasan utamanya aku kan? Yena lelah karna dia merasa kau masih terus mengharapkan ku setalah sekian lama, benarkan?
"Clara, itu tidak ______"
"Jangan bohong Perth! kau pikir aku tidak merasakannya? Aku juga tau kalau kau masih ______"
"Kau benar Clara! Aku masih mencintai mu sama seperti bertahun-tahun yang lalu, itu sebabnya aku masih belum bisa menerima kehadiran Yena dalam hidup ku!"
Clara membeku pertanyaan Perth secara langsung membuatnya tak mampu berkutik sungguh mendengar Perth bicara seperti itu membuat hatinya terasa nyeri, ia merasa tercubit selama ini Clara mengira bahwa Perth telah move on dari cinta monyet terhadap dirinya mengingat mesranya hubungan pria itu dengan Yena. Rupanya ia salah besar.
"Clara..... " Perth menyentuh kedua bahu Clara berusaha membuat gadis itu mau menatapnya, ia baru akan bicara tapi Clara sudah lebih dulu menyentak kasar tangannya hingga tubuh mereka kembali berjarak.
"Maaf sudah menjadi penyebab kandasnya hubungan kalian, lebih baik sekarang kita tidak usah berteman lagi"
Clara berbalik dan hendak pergi tapi niatnya segera pupus tatkala Perth sudah lebih dulu meraih bahu sempitnya mendekapnya erat ke dada, Perth memeluknya dari belakang.
Clara membelalak terkejut tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain diam dan mendengarkan perkatan Perth dengan seksama, Clara mengepalkan tangan kuat sambil memejamkan matanya menahan desakan air mata yang siap keluar kapan saja dari hazelnya.
"Kau jahat Clara, kau selalu berlaku tak adil pada ku" Nada bicara Perth terdengar getir saat mengawalinya, tawa getir ia loloskan pada detik berikutnya "Kau selalu menyuruh ku untuk move on tapi kau sendiri tidak pernah move on dari Meankan?"
"Perth, kau _____"
"Diam dan dengarkan dulu keluh kesah ku Clara"
Clara bungkam, gadis itu terpaksa membiarkan Perth tetap memeluk erat tubuhnya.
Perth menghela napas pelan sebelum kembali melanjutkan "Sejak dulu perasaan mu pada Mean tidak pernah berubah hati mu terus mengukir namanya, padahal dia juga tak pernah melihat ke arah mu kan? Hatinya masih saja tertuju pada Lisa bahkan setelah kejadian itu _____"
"Cukup Perth _______"
"Kau masih mencintainya sampai sekarang kau masih saja melihat ke arahnya padahal ia melihat ke arah lain, kau masih saja bertahan padahal kau tau rasanya menyakitkan lalu kenapa aku tidak boleh berada di posisi mu? Kenapa selalu mendorong ku untuk bangkit sementara kau sendiri bersikukuh untuk bertahan ______"
"Aku tidak pernah berusaha untuk bertahan Perth!" Clara kini membalikkan badannya air matanya sudah tumpah sejak Perth melancarkan kalimatnya tadi "Asal kau tau saja aku selalu mencoba melupakan perasaan ku pada Mean, aku sudah mencoba sekuat tenaga tapi tidak bisa hati ku terus saja tertuju padanya tanpa di komando _______"
"Begitu juga dengan ku Clara! Aku merasakan apa yang kau rasakan aku merasakan sakit yang menjadi kesakitan mu selama ini! Maka dari itu jangan pernah meyuruh ku untuk move on kalau kau saja tidak bisa melakukannya"
Clara hendak membuka mulutnya tapi sedetik kemudian ia urungkan gadis itu hanya mampu menatap lawan bicaranya dalam diam, sungguh Clara sejujurnya juga bingung ingin berkata apa lagi.
Clara masih terisak pelan saat ia mulai beringsut pada Perth, sahabatnya itu terkejut saat tiba-tiba Clara mengulurkan kedua tangannya guna memeluk tubuh tegapnya.
"Maafkan aku Perth, maaf atas rasa sakit yang kau alami selama ini"
Giliran Perth yang tidak mampu menimpali perkataan Clara, ia hanya bisa menelan rasa kecewa yang sejak tadi bercokol di hatinya sambil memejamkan mata erat, enggan membalas pelukan sang sahabat.
****************
selama ini Clara sering berandai-andai bagaimana jika? Mean yang berada di posisinya, bagaimana jika pria itulah yang mencintainya secara sepihak? Bagaimana jika dialah yang terus mencintainya sementara ia mencintai yang lain? Bagaimana jika Mean yang terluka karna dirinya?
Bagimana jika......
Ya, Pada akhirnya semua berakhir dengan pertanyaan yang sama Bagaimana jika.
Namun semuanya hanya sebatas pengandaian yang tetap tidak bisa menjadi kenyataan.
Senyata sosok menyedihkan yang sedang Clara tatap saat ini pemandangan seorang pria yang sedang menangisi kepergian sang calon istri dua tahun yang lalu akibat kecelakaan, rasa bersalah sang pria kepada wanitanya muncul karna saat kecelakaan itu terjadi ialah yang berada di balik kemudi naas sang calon istri langsung meregang nyawa di tempat sementara ia hanya mendapat luka di sekujur tubuh.
Akan tetapi luka yang membekas di relung terdalam hati pria itu jauh lebih besar, rasa cintanya yang berlebih pada calon istrinya membuat rasa bersalah yang ia rasa juga ikut membesar. Sampai pada akhirnya menyebabkan pria itu terkena gangguan jiwa akibat belum bisa menerima kenyataan bahwa calon istrinya sudah tiada menyebabkan harus di rawat di rumah sakit jiwa tempat Clara berpijak kini.
Pria itu adalah Mean, pria bodoh yang hingga saat ini masih di cintai Clara setengah mati.
#Jangan lupa mampir ke cerita aku ia 🙂