"Huuufh ... huufh ..." Aku meniup debu tebal yang menempel pada sebuah buku diary usang yang kutemukan di bawah ranjang kakakku.
Ku buka perlahan sampul buku yang telah sedikit rusak dan termakan usia. Ku baca lembar demi lembar kertas tua nan usang yang saking lamanya buku itu mengatup, tinta yang membentuk huruf per huruf itu pun mulai membekas pada kertas yang lainnya.
'Dear diary, 28 Februari 2014. Bulan ini tabunganku terkumpul 250 ribu rupiah. Setelah berhari-hari aku menyimpan uang saku-ku, akhirnya tabunganku cukup untuk membeli beberapa buku bacaan dan alat tulis. Aku akan membelinya besok saat pulang sekolah.'
Aku pun lanjut membuka lembar berikutnya.
'5 April 2014. Senangnya, hari ini aku mendapat beberapa buku bacaan bekas dari teman-temanku. Aku bisa menambah koleksi untuk melaksanakan ambisiku. Semoga saja akan berhasil.'
Aku membuka setiap lembar kertas yang telah penuh dengan goresan pena kakak. Membacanya saja membuatku berderai air mata. Aku melihat betapa semangatnya ia selama ini mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk membeli buku dan alat tulis. Namun yang tak aku mengerti, semuanya masih berjajar Rapi di dalam rak meja belajar miliknya yang memang dibiarkan saja.
Aku terus membaca lembar demi lembar kertas yang menjadi saksi bisu keinginan kakak, hingga aku sampai pada lembar terakhir isi diary itu yang menyatakan,
'1 Agustus 2017. Aku mencatat sejaran panjang dalam hidupku untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah yang ingin ku abdikan untuk mereka si kecil jalanan. Aku ingin mereka juga memiliki bekal ilmu pengetahuan. Aku ingin mereka juga memiliki apa itu yang namanya cita-cita. Aku ingin menghapus pandangan mereka bahwa kelak setelah berumur 8 tahun mereka akan menjadi pengamen jalanan, atau hanya seorang pedangan tissu kecil yang berkeliling ketika lampu merah menyala. Aku ingin mereka berambisi bahwa ketika besar nanti mereka akan menjadi seorang yang sukses. Huh, tapi apalah daya, ini adalah ke-3 kalinya dalam 1 bulan terakhir aku mendapat penolakan keras dari orang tua mereka. Orang tua yang seharusnya memenuhi kebutuhan pendidikan mereka, malah menganggap pengajaranku yang cuma-cuma ini hanya akan membuang waktu si kecil untuk mencari uang. Tuhan, sudah mulia keinginanku untuk memberi waktu belajar gratis kepada mereka walau hanya di bawah jembatan saja, tapi mengapa sebesar ini tantangannya? aku ingin melihat si kecil jalanan juga mendapat pendidikan yang layak. Aku ingin mereka juga berkembang layaknya orang-orang yang lain. Jika ada yang bertanya mengapa aku terlalu berambisi seperti ini aku akan menjawab, karena adikku. Ya, karena Rista adikku yang ibu adopsi dari pengemis di jalanan yang membawanya panas-panasan, ternyata dia sangat pintar. Selalu menjadi juara pertama di kelasnya. Dan aku yakin, di luar sana banyak anak-anak jalanan yang juga sepintar Rista dan layak mendapatkan pendidikan. Aku harus tetap berjuang!'
"Apa? aku bukan anak kandung Ibu dan Ayah? Rista yang dimaksud aku kan?" ujarku penuh ketidak percayaan pada apa yang ditulis kakak.
Aku menangis sejadi-jadinya membaca isi diary terakhir kakak yang mengatakan kebenaran tentang diriku. Bukan kebenaran yang membuatku sakit, tapi mengingat betapa baik dan tulusnya mereka selama ini menyayangiku hingga aku tak merasa bahwa aku sebenarnya bukanlah anak kandung Ayah dan Ibu.
Ibu dan Ayah menghampiriku yang menangis bersimpuh di kamar kakak. Mereka terus bertanya mengapa, namun bibirku bergetar serasa tak dapat berbicara. Ku berikan lembar terakhir isi diary kakak hingga mereka membacanya sendiri.
"Rista, maafkan Ayah sama Ibu ya Nak. Kita tidak pernah memberitahu hal ini padamu. Tapi percayalah, kami menyayangimu sama seperti kami menyayangi Zoya," ucap ayah sembari mengusap surai rambutku.
"Iya Nak, kamu jangan marah ya sama kami. Kami sayang sekali sama Rista." Ibu mendekat dan memeluk tubuhku yang masih bergetar karena tangis.
"Iya, Rista percaya. Rista juga sayang Ayah, Ibu, sama kak Zoya." Aku memeluk Ibu dan ayah. Keharuan menghampiri kami saat itu. Aku bersyukur walapun aku bukanlah anak kandung mereka, namun mereka tetap menyayangiku dan tak pernah membandingkanku dengan kak Zoya.
~~
Sejak Hari ini, aku memutuskan setelah selesai bekerja di Rumah Sakit, aku akan pergi menemui anak-anak jalanan untuk mengajak mereka belajar.
Hari pertama, 7 juni 2020
Aku bergegas dari rumah membawa ransel besar yang di dalamnya berisi sejumlah buku dan alat tulis serta beberapa buku bacaan untuk belajar membaca dan buku berhitung untuk belajar matematika.
Terik matahari sore tak menyurutkan kobaran semangku. Aku hanya mengingat betapa semangatnya kakak selama 3 tahun mengumpulkan semua ini demi mereka, sekarang akulah yang akan melanjutkan cita-citanya.
Aku sampai di sebuah lampu merah dan kulihat banyak sekali anak-anak kecil yang berdiri di sebelah pengendara dengan membawa alat musik seadanya dan menyanyi lagu yang mereka bisa. Aku juga melihat mereka yang menggosokkan semir pada sepatu seseorang yang sedang berdiri di trotoar jalan. Sungguh pemandangan ini sangat membuat perih batinku.
Kucoba menghampiri salah satu dari mereka dan membujuknya untuk ikut bersamaku.
"Dek, lagi apa ?" Aku menghampiri seorang anak yang kukihat sedang menyemir sepatu barusan.
"Lagi semir sepatu. Kakak mau semir sepatu? murah kok cuma 5 ribu aja," ucapnya polos menawarkan jasa padaku.
"Iya, kakak mau nyemir sepatu tapi adek mau ngak belajar sama kakak? nanti uang semirnya kakak tambahin," ucapku coba membujuknya.
"Oke deh kak." Anak itu pun setuju.
Aku bertanya pada Adit, bocah penyemir sepatu itu dimana tempat yang nyaman dan teduh di sini. Benar saja, dia membawaku ke bawah jembatan di pinggiran sungai. Sama seperti pengalaman kakak yang Ia tulis dalam diarynya. Aku dan Adit menggelar tikar kain disana. Ku keluarkan buku membaca serta berhitung yang sudah kubawa dalam tas, dan aku mulai mengajari Adit.
Sebenarnya aku ingin mengajak lebih banyak anak, tapi untuk permulaan saja tak apa jika harus mengajarkan seorang anak saja, pikirku.
"Nah, gimana seru gak belajarnya?" tanyaku pada Adit.
"Iya kak. Kapan kakak ngajar lagi?" tanya adit padaku
"Besok kakak kesini lagi, kamu ajak teman-teman yang lain ya. Oh ya, nih uang buat kamu." Aku memberikan 2 lembar uang 10 ribu rupiah pada Adit.
"Tapi kan aku belum nyemir sepatu kakak," ujarnya dengan wajah polos.
"Ngak papa. Itu tanda terima kasih kakak karena kamu sudah mau belajar sama kakak."
"Oke kak." Adit berlari kegirangan menggenggam uang yang tak seberapa itu.
Akhirnya, misi hari pertama lancar. Semoga seterusnya akan seperti ini Ya Allah, batinku.
~~
Hari kedua, ketiga dang seterusnya selalu lancar walau hingga 3 bulan terakhir muridku tak lebih dari 4 orang saja, termasuk Adit yang selalu hadir dalam pelajaran.
Hingga pada 19 September 2020 beberapa warga yang terdiri dari para bapak-bpak dan ibu-ibu mereka berkerumun dan mendatangi tempat ku ketika sedang mengajar anak-anak.
"5 + 4 berapa anak-anak?" Saat itu aku sedang mengajar ke empat muridku yang selalu hadir untuk belajar. Namun tiba-tiba terdengar suara riuh yang membuyarkan konsentrasi kami semua.
"Hey, apa-apaan ini! seenaknya menghasut anak-anak kami untuk tidak bekerja." teriak seorang ibu-ibu yang kala itu terlihat sangat marah.
"Tidak ... tidak seperti itu. Saya hanya mengajak mereka belajar saja." Aku panik ketika seorang diri menghadapi puluhan massa yang mengepungku. Keempat murid ku pun telah diraih paksa dalam genggaman orang tua mereka.
"Hallah, alasan saja!" Mereka mulai memporak porandakan tikar dan buku-buku yang berserakan dibawah. Tak tanggung-tanggung mereka melemparnya secara sembarang hingga beberapa buku dan alat tulis pun terjatuh ke dalam sungai.
Aku hanya bisa menangis sambil memohon saat melihat barang yang telah dikumpulkan kakak dengan susah payah telah dibuang dan tidak dihargai oleh mereka. Mereka dengan beringas mengeluarkan seluruh isi tas ku dan berniat membuangnya. Namun tiba-tiba...
"Hey, ada apa ini?" Seorang pemuda berseragam Satpol PP menghampiri kami. Saat itu aku merasa terselamatkan, karena dia pasti mendukungku.
"Pak, tolong jelaskan pada mereka. Aku hanya mengajar anak-anak mereka dengan gratis, tapi mereka membuang hampir semua buku-buku yang dikumpulkan kakakku. Tolong jelaskan pada mereka bahwa pendidikan itu sangat penting bagi anak-anak." Aku memohon dengan bersimpuh di deoan kakinya. Aku membuang rasa malu dan gengsiku sebagai seorang perawat di rumah sakit. Aku hanya ingin kembali mengajar mereka seperti keinginan kakakku.
"Siapa yang membuang buku mbak ini tadi? jawab siapa? kalian pikir anak kalian tidak butuh belajar? kalian memperkerjakan anak kecil dibawah umur termasuk tindak kejahatan! Lebih baik sekarang periksalah mobil patroli kami, mungkin saja ada anak kalian yang terjaring razia disana." Ucap Bagas, nama laki-laki itu. Ketegasannya mampu membungkam mulut orang-orang yang tadi hampir menghajarku. Mereka pun pergi dan berlari menuju mobil patroli untuk mengecek apakah ada anak mereka yang terjaring razia.
"Mbak, gak papa? mari saya bantu." Dia membantu mengumpulkan beberapa sisa buku dan alat tulis yang berserakan di tanah karena terlempar.
"Makasih pak," ucapku di sela isak tangis yang masih tersisa.
"Mbak juga ikut saya ya ke kantor, untuk memberi keterangan pada atasan saya. Siapa tau dengan menyampaikan aspirasi mbak, kami dapat membantu perjuangan mulia mbak ini walau hanya sekedar memberi pengertian kepada orang tua anak-anak jalanan di sini. Sehingga mereka tak mengacaukan proses belajar mengajar yang mbak lakukan." Ketegasan yang awalnya membuat hatiku ikut menciut, seketika berubah menjadi untaian kata-kata halus dan sopan yang membuatku sangat bersyukur bertemu orang ini.
"Baiklah Pak." Aku segera berjalan mengikuti langkah Bagas sang petugas Satpol PP yang membantuku tadi.
Aku melihat warga yang mendemo ku barusan mereka juga diboyong menuju mobil patroli karena anak-anak mereka yang terkena razia. Aku pun turut menaiki mobil patroli yang tentunya berbeda dengan mereka.
Sampai di kantor tim Satpol PP, kami semua diberi arahan dan penjelasan. Kemudian Bagas berbisik pada atasannya yang merupakan seorang pria paruh baya seumuran ayahku, kemudian sang atasan memanggilku untuk maju ke depan.
Saat itulah, atasan Bagas mengatakan akan menindak tegas warga yang berani mengacaukan proses belajar mengajarku. Bahkan Beliau tak segan akan meluncurkan anak buahnya sewaktu-waktu untuk memantau tempat belajar kami. Dan mewajibkan setiap anak untuk mengikuti proses belajar mengajar yang kulaksanakan.
Walau ini setengah gertakan, tapi aku bersyukur. Akhirnya para orang tua anak jalanan itu mau memberi kesempatan padaku untuk mengajar anak mereka, walau beberapa diantaranya terlihat terpaksa bahkan mengumpatku dengan suara rendah. Setidaknya mulai saat ini tak ada yang mengacaukan perjuangan muliaku.
~~
6 bulan berlalu, sejak saat itu hingga sekarang tak ada lagi yang berani mengganggu proses belajar mengajarku. Muridku pun bertambah yang semula hanya 4 orang sekarang menjadi 37 orang. Bahkan sekarang aku memiliki 2 sukarelawan yang turut membantuku mengajar para anak jalanan. Kedua temanku adalah Iyos dan Fitri, yang juga merupakan teman sesama perawat di rumah sakit tempatku bekerja.
Sekarang anak-anak tak hanya belajar membaca, berhitung dan menulis, tetapi juga ilmu agama, seperti mengaji, tahwid dan solat yang diajarkan oleh fitri. Sementara Iyos, memberikan pelajaran olahraga kepada mereka.
"Assalam'alaikum. Halo semua!" seru Bagas menyapa anak-anak.
"Wa'alaikumussalam Pak Bagas," jawab anak-anak serempak.
Ya, anak-anak ini telah mengenal Bagas sejak 6 bulan lalu. Aku kira saat itu atasan bagas hanya menggertak para orang tua saja, ternyata beliau menepati kata-katanya. Seminggu sekali Bagas datang untuk memantau proses belajar mengajarku yang berlokasi di bawah jembatan, seperti saat ini.
"Semuanya dengerin Pak Bagas ya! Bapak punya berita gembira. Dalam waktu dekat kalian akan punya ruang kelas untuk belajar." ucap bagas dengan lantang yang membuat kami semua tercengang dan tak percaya.
"Horeeee!" Anak-anak berteriak gembira.
"Bagas apa semua itu benar?" Aku mencoba memastikan pernyataan bagas yang dilontarkannya barusan.
"Ya Rista, benar. Atasanku mengajukan permohonan tertulis kepada pemerintah setempat agar mmberikan dana dan lokasi untuk tempat pembangunan rumah belajar Rista." Bagas kembali mengejutkanku dengan pengajuan rumah belajar yang menggait namaku.
"Rumah belajar Rista?" tanyaku tak percaya.
"Ya, rumah belajar Rista. Karena kamulah yang menggerakkan mereka untuk memiliki semangat belajar yang tinggi. Pemerintah memberimu apresiasi bukankah itu wajar?" Bagas tersenyum manis padaku.
"Terima kasih Bagas." Aku sangat bahagia. Akhirnya perjuanganku untuk kak Zoya demi anak-anak ini kini telah membuahkan hasil.
~~
5 bulan kemudian, sekarang aku tak lagi mengajar di bawah jembatan yang sebenarnya sangat tak layak untuk anak-anak. Berkat bantuan Bagas dan atasannya, kini pemerintah menyediakan rumah belajar yang berukuran cukup luas dan ditambah sebuah ruang mosholla lengkap dengan kamar mandi dan kran wudhu'.
Bahkan sekarang para sukarelawan bertambah dari komunitas mahasiswa dan beberapa anak pramuka yang turut menjadi pengajar anak-anak jalanan di rumah belajar ini.
Mereka tak hanya memberi ilmunya secara cuma-cuma kepada anak-anak ini, tapi mereka kerap mengumpulkan uang untuk memberi sebungkus makanan ataupun bingkisan snack dan susu untuk diberikan kepada anak-anak di rumah belajar.
"Akhirnya, sekarang kita bisa belajar di dalam ruangan anak-anak. Bilang apa dong sama pak Bagas?" ucapku membuka pembicaraan kala itu.
"Terimakasih Pak Bagas!" seru anak-anak serempak.
"Sama-sama anak-anak. Kalian harus rajin belajar ya biar kalau sudah besar jadi orang sukses." ucap Bagas menyemangati anak-anak.
"Iya pak Bagas." jawab mereka serempak.
"Bagas, aku ingin mengganti nama rumah belajar ini menjadi Rumah Belajar Zoya." Aku mencoba meminta pada Bagas untuk mengganti nama tempat ini.
"Kenapa diganti? Siapa Zoya?" Bagas melontarkan tanya dengan raut wajah penuh rasa bingung.
~~
Keesokan harinya Aku mengajak Ayah, Ibu, Bagas, anak-anak rumah belajar serta semua pengajar sukarelawan untuk menyambangi tempat kak Zoya.
Disana aku ingin memperkenalkan kak Zoya pada mereka. Aku ingin mereka semua tau bahwa yang mendorong semangatku untuk mencapai titik ini adalah kak Zoya.
" Assalamu alaikum ya ahlad diyar minal mukminin wa muslimin,wa inna insya Allahu bikum la hiqun, nasalullahi lana walakumul 'afyah." kuucap salam dengan suara lirih. "Kak Zoya, aku datang."
Semua yang datang terkecuali Ayah dan Ibu terkejut saat aku duduk bersimpuh menghadap nisan yang bertuliskan Zoya Astawidya Bin Amir Rahman. Ya, inilah tempat kak Zoya sekarang.
"Ini adalah kak Zoya, kakakku tercinta. Dialah yang sebenarnya memiliki tujuan mulia untuk mengajar anak-anak jalanan. Tapi usahanya selalu mendapat penolakan. Kak Zoya menghabiskan beberapa tahun untuk mengumpulkan sejumlah uang agar bisa membeli buku dan alat tulis untuk dibagikan kepada para anak-anak jalanan. Tapi naas, baru satu bulan kak Zoya berjuang, Tuhan menjemputnya. Melalui sebuah kecelakaan yang menimpanya saat pulang mengajar di bawah jembatan." Aku tak bisa menahan linangan air mataku. Samar deru tangis pun pecah dari mereka yang mengelilingi pusara kak Zoya.
"Kak Zoya, lihatlah anak-anak ini. Aku berhasil memberikan pendidikan pada mereka. Cita-cita kak Zoya telah tercapai. Lihatlah kak, mereka semua sekarang sedang menemui. Walau aku tak sebaik kak Zoya dalam mengajar anak-anak, tapi aku akan berusaha dan berjuang sebaik mungkin untuk memberikan mereka pendidikan seperti yang kak Zoya cita-citakan. Kak Zoya, semoga sekarang kau selalu tenang disana." Air mata tak berhenti mengucur dari pelupuk mataku, disusul dengan isak tangis mereka yang terdengar jelas.
Kami semua melanjutkan membaca al-Fatihah untuk kak Zoya, dan mendoakannya. Setelah itu kami juga menaburkan bunga segar di atas pusara kak Zoya dan meletakkan beberapa gambar ucapan terima kasih dari para anak-anak jalanan untuk kak Zoya.
"Rista, aku tersentuh dengan semua kebenaran dibalik perjuanganmu. Sekarang aku akan membantumu mengganti nama rumah belajar milikmu menjadi Rumah Belajar Zoya." Bagas akhirnya menyetujui permohonanku. Aku semakin bahagia, akhirnya aku memiliki sesuatu yang bisa aku persembahkan untuk kak Zoya.
"Terima kasih Bagas." ucapku lirih.
Ziarah hari itu berakhir dengan pengambilan foto kami semua yang terdiri dari Aku, Ayah, Ibu, Bagas, anak-anak rumah belajar dan para pengajar sukarelawan yang terdiri dari kedua temanku, beserta komunitas mahasiswa dan para anak pramuka.
Aku berinisiatif mengambil potret kami bersama diatas pusara kak Zoya sebagai pajangan di rumah belajar, agar kami selalu mengingat siapa sebenarnya sosok yang telah menghidupkan semangat memperjuangkan pendidikan untuk para anak jalanan. Sosok itu adalah kak Zoya.
Epilog :
"Rista adikku, terima kasih telah melanjutkan mimpiku. Semoga perjuanganmu akan menuai hasil yang indah untuk negeri ini."
-TAMAT-