Dia mengayuh sepeda menyusuri jalanan di gang-gang sempit sambil menggendong anaknya di belakang. Sesekali menuntunnya ketika menemui jalanan terjal dan berlumpur.
Panas terik serta guyuran hujan tak pernah ia hiraukan. Demi bisa mengumpulkan pundi-pundi recehan untuk bisa membeli sebungkus nasi.
Panggil saja Mak Edah. Para tetangga menyebut namanya. Wanita berkepala empat yang memiliki tiga anak. Hidup mandiri bersama ketiga anaknya di sebuah rumah kecil pinggiran sungai.
Suaminya pergi meninggalkannya demi menikahi wanita lain saat ia mengandung anak ketiganya di usia lima bulan. Saat ini ia harus bekerja banting tulang untuk bisa menghidupi ketiga anaknya.
Anak pertamanya bernama Rani usia sepuluh tahun. Seharusnya ia duduk di bangku kelas enam sekolah dasar. Tapi karena terbatasnya biaya ia harus sementara berhenti sekolah. Rela mengalah demi sang adik untuk tetap bisa sekolah.
Anak keduanya bernama Reni. Duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Kadang ia merasa sedih melihat kakaknya berhenti sekolah karena emak tidak memungkinkan bisa membayar biaya sekolah keduanya secara bersamaan.
Anak ketiganya bernama Reno. Anak laki-laki yang punya cita-cita ingin melindungi sang emak dan kedua kakaknya ketika besar nanti.
"Mak, lebih baik kita cari tempat untuk berteduh dulu", teriak Reno kepada sang emak yang terus mengayuh sepedanya di saat hujan lebat.
Hujan lebat beserta angin sore ini hampir membuat mereka basah kuyup. Dengan segera Mak Edah menghentikan sepedanya di depan sebuah rumah kosong. Rumah yang menurutnya lebih layak daripada rumah yang ia tinggali saat ini.
Rumah kecil berdinding kayu itu sering bocor disaat musim hujan seperti ini. Banyak tambalan disana sini. Tak heran ia selalu mengkhawatirkan kedua anak perempuannya di saat ia tidak di rumah.
"Nak, apa kamu kedinginan?".
"Tidak Mak!", ucap Reno berbohong tidak mau emaknya terlalu mengkhawatirkannya.
"Maafkan Emak ya Nak. Seharusnya kita berteduh dari tadi. Emak hanya ingin cepat sampai rumah karena rumah pasti bocor. Kasian kedua embakmu", ucap Mak Edah memberikan pemahaman pada Reno.
"Tidak apa Mak. Reno kuat kok. Nih lihat", meringis sambil memperlihatkan otot lengannya.
Membuat Mak Edah menahan tawanya. Karena melihat lengan anaknya yang kurus kerempeng itu menunjukkan aksinya.
Di balik canda tawa bersama anaknya tersimpan luka yang amat mendalam dalam hatinya. Luka yang tak akan pernah ia lupakan di sepanjang hidupnya.
Bila mengingat perjuangannya sampai sejauh ini tidaklah mudah baginya. Tubuhnya yang kurus kering itu harus pontang panting mengais rejeki.
Belum lagi hinaan serta cacian dari para tetangga sekitarnya. Karena selama tinggal di rumah itu mereka tidak pernah melihat suami Mak Edah.
Namun hatinya selalu kuat. Ia tak pernah menghiraukan apa yang dikatakan orang lain. Hatinya seakan sudah ia balut dengan besi agar tidak mudah rapuh hanya karena ucapan orang lain yang menyakitkan.
Bekerja sebagai kuli bangunan serabutan adalah rutinitasnya sehari-hari. Barulah ia berkeliling mencari rongsokan ketika sore hari. Gaji sebagai kuli bangunan tidak bisa mencukupi kebutuhannya. Belum lagi biaya sekolah anaknya. Untuk itu ia berusaha mencari tambahan pekerjaan lain.
Sering kali Rani merengek ingin membantu bekerja. Tapi Mak Edah selalu melarangnya. Bukan ia tak mau mengajarkan kepada anaknya pentingnya membantu. Tapi mengingat usianya yang masih di bawah umur Mak Edah merasa bersalah kalau harus mengijinkan anaknya bekerja.
Hari demi hari ia jalani dengan penuh suka cita. Pantang menyerah penuh semangat meski harus melalui jalan hidup yang penuh liku.
Hujan mulai reda. Ia menggendong kembali Reno di belakang sambil mengayuh sepedanya. Menuju ke rumah. Ketika berteduh tadi anak itu tertidur di pangkuan sang Emak. Tak tega rasanya jika harus membangunkannya.
Mak Edah selalu menyayangi ketiga anaknya. Biarlah aku yang susah seperti ini tapi kelak anakku jangan. Itulah prinsipnya.
"Nak, apa bocornya belum berhenti?", tanyanya pada kedua anaknya sesampainya di rumah. Sambil menurunkan Reno dari gendongannya. Anak itu masih saja tertidur pulas.
Diletakkannya di atas tikar berukuran dua meter. Tak ada tempat tidur beralaskan kasur tebal dirumahnya. Yang ada hanyalah busa tipis yang cukup untuk mengganjal tubuh mereka.
"Mak, tadi Bu Winda kesini memberikan surat ini", Rani memberikan kepada Emak. Sedangkan Reni menuangkan air putih di gelas untuk emaknya.
"Apa ini?", Mak Edah membuka surat yang diberikan oleh Rani. Bu Winda adalah kepala sekolah Rani dan Reni.
"Besok Emak diminta datang ke sekolah Nak", ucap emak.
"Lalu Emak akan pergi?", tanya Rani.
"Emak akan pergi. Ini pasti mengenai sekolah kalian. Emak titip Reno saja besok", ucap Emak. Kedua anak itu mengangguk.
Hari telah berganti. Pagi pun datang. Demi memenuhi panggilan Bu Winda. Mak Edah telah siap untuk pergi ke sekolah. Ia selalu mengutamakan keperluan anaknya. Meski harus ijin dari pekerjaannya.
"Bu, bagaimana kalau Rani kembali sekolah lagi? Soal biaya Rani akan saya urus nanti. Sehingga mulai besok pagi ia bisa kembali sekolah. Karena sangat disayangkan kalau tidak sekolah. Ia anak yang pintar", ucap Bu Winda sesampainya di sekolah.
"Benarkah Bu? Apa saya tidak salah mendengar?", tanya Emak meyakinkan.
"Tidak Bu. Ibu pantas mendapatkannya".
Emak mengucapkan banyak terimakasih kepada Bu Winda. Ia tak menyangka masih ada orang baik yang mau membantu kesulitannya.
Keinginannya untuk bisa menyekolahkan anaknya kembali terwujud tanpa diduga. Ia percaya selama ia berbuat baik kepada orang lain Tuhan akan datangkan orang baik juga kepada kita. Jadi jangan pernah lupa bersyukur...Selamat hari perempuan sedunia. Jadilah wanita hebat ibu hebat untuk anak-anak kita.
TAMAT...!