Sore itu menjadi sore terakhirku melihatmu, Ayah. Semua orang riuh membicarakan kebaikanmu, langit pun menggelap seolah ikut bersedih akan kepergianmu.
Masih teringat jelas di ingatanku, aku menyaksikan sendiri detik-detik kau meninggalkanku.
Tepat tanggal 4 Desember 2013, kau masih mampu membuatkanku sebuah baju sebagai hadiah ulang tahunku. Aku sangat bahagia, bahkan berkali-kali aku pakai baju buatanmu itu.
Hingga pada suatu hari, aku melihatmu meringis kesakitan.
"Ayah, kenapa? Apa Ayah sakit?" tanyaku dengan khawatir.
Ayah menoleh kearahku, ia masih menyempatkan tersenyum di depanku. Padahal terlihat jelas di mataku, tangannya meremas dengan kuat di bagian kepala.
"Ayah tidak apa-apa, hanya sedikit sakit kepala."
Aku berlalu meninggalkan Ayah, berniat untuk membuatkan teh manis hangat kesukaannya.
"Yah, minum teh dulu."
Ayah meminum teh buatanku, tak lupa ia juga memuji rasa teh manis itu padaku.
"Ayah mau aku antar ke Dokter?" tanyaku.
Ayah mengangguk, dan saat itu juga aku mengantar Ayah pergi ke Dokter.
Setibanya di klinik kesehatan, aku tak ikut masuk ke dalam. Aku menunggu Ayah dengan tenang, doa-doa terbaik aku tujukan untuk Ayah.
Hingga aku melihat Ayah keluar dari ruang pemeriksaan, lagi-lagi aku masih melihat senyuman di wajahnya.
"Gimana, Yah?" tanyaku dengan penasaran.
"Ayah hanya sakit lambung," jawab Ayah.
Aku memutuskan untuk percaya, dan kami pun memutuskan untuk kembali pulang.
Seminggu setelah kejadian itu, aku terkejut melihat Ayah yang tengah terbaring di kamarnya.
"Ayah, kenapa? Ayah sakit lagi?" tanyaku sembari menangis.
Bukan Ayah yang menjawab, melainkan Ibuku.
"do'akan Ayah, yah. Biar Ayah cepat sehat lagi," pinta Ibu dengan lirih padaku.
Aku mengangguk, tanpa di pinta aku akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kesembuhan Ayah.
Hingga suatu hari, kembali aku di kejutkan dengan kondisi Ayah yang semakin memburuk.
Aku yang berniat untuk membantu Ayah bangun dari tempatnya, seketika berteriak memanggil Ibu ketika Ayah berucap bahwa kakinya tak dapat di gerakkan.
"Nak, kaki Ayah tidak bisa bergerak."
Sontak aku memukul kaki Ayah, entah apa yang membuatku melakukan hal itu.
"Ayah, apa terasa sakit?" tanyaku setelah beberapa kali memukul kaki Ayah.
Ayah menggelengkan kepalanya, apa yang terjadi pada Ayah? Aku menangis, aku menangis sejadi-jadinya.
Seluruh keluargaku memutuskan membawa Ayah ke Rumah sakit, dan sayangnya aku tidak bisa ikut menemani Ayah. Aku harus menjaga adik bungsuku, Ibu tidak mungkin membawa adikku ke rumah sakit, ia masih terlalu kecil.
Aku menunggu kabar tentang Ayahku, satu minggu lebih aku tak melihatnya. Hanya sebuah foto yang aku dapatkan dari kerabatku, terpasang berbagai selang juga alat-alat lain di dada juga hidung Ayahku.
"Tuhan, ada apa dengan Ayah? Aku mohon sembuhkan Ayah, jangan ambil Ayah dariku..."
Aku terus berharap Ayah akan segera sembuh, kabar yang aku dapatkan tentang penyakit Ayah adalah meningitis. Penyakit macam apa itu, kenapa bisa menyerang Ayahku. Aku sangat terpukul, aku tidak mau hal buruk terjadi pada Ayah.
Sampai hal yang tidak ingin aku dengar, malah begitu mudahnya datang padaku.
"Nak, jangan pergi sekolah. Hari ini Ayah pulang," ucap salah satu keluargaku.
Dalam benakku, aku mempertanyakan arti ucapan itu. Ayah pulang? Apa Ayah sudah sembuh? Berkali-kali pertanyaan itu terlintas di kepalaku.
18 Desember 2013, Aku menunggu kedatangan Ayah di depan rumah, di temani oleh sanak saudaraku yang lain.
Aku melihat semua orang yang juga menunggu kepulangan Ayah, sepanjang jalan mereka membicarakan Ayahku. Entah apa yang mereka bicarakan.
Sayup-sayup aku mendengar dari kejauhan, suara sirine mobil yang aku takutkan selama ini. Ternyata benar dugaanku, sebuah mobil ambulance datang dengan berhiaskan bendera kuning di bagian depannya.
Aku tak bisa menahan air mataku, aku berteriak sekencang mungkin.
"Ayah..."
Seseorang memelukku dengan erat, ia mencoba untuk menguatkan aku. Menahan tubuhku yang meronta, aku ingin melihat Ayahku.
Aku menatap wajah Ayah yang tampak tenang, ku peluk tubuh kurusnya. Masih hangat.
Aku terus berteriak memanggil Ayah, berharap ia membuka matanya dan balas memelukku.
Namun semua sia-sia, Tuhan telah mengambil Ayahku.
Aku tidak percaya ini, Ayah benar-benar pergi meninggalkanku.
Dan kini aku merasakan sebuah kerinduan yang tak akan pernah terobati, merindukan seseorang yang telah pergi untuk selama-lamanya.
Aku mencoba untuk tegar, demi Ibu, demi adikku, dan demi ketenangan Ayah di alam sana.
Sungguh, aku tidak marah kepada Tuhan karena telah mengambil Ayah dari sisiku. Aku bersyukur karena kini Ayah telah bahagia di surga sana. Ayah harus tahu, rinduku tak pernah pudar padamu. Aku selalu yakin bahwa Ayah akan selalu baik-baik saja, bahkan pertanyaan "Apakah Ayah merindukanku?" tak akan pernah berhenti.