DAR! DER! DOR!
Suara petir bergemuruh mengiringi malam yang begitu pekat. Sang Permaisuri telah melahirkan 3 seorang anak yaitu berjenis kelamin laki-laki dan sepasang putri kembar emas.
‘’Yang Mulia? Apakah mereka adalah putra dan putriku?’’ tanya Permaisuri yang masih dalam keadaan lemah.
Kaisar merasa terharu sambil melirik ketiga pewarisnya.
‘’Mereka bertiga memiliki tanda lahir yang sama di belakang telinga.’’ Kata Kaisar.
‘’Matahari tribal?’’ tatap Permaisuri melihat tanda lahir itu.
‘’Ketiga anak-anak kita akan menjadi matahari untuk kerajaan ini.’’ Kata Kaisar tersenyum.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
‘’Mohon maaf, Yang Mulia, hamba harap Anda tidak melupakan fakta bahwa anak kembar emas membawa malapetaka.’’ Kata Panglima memperingati.
Keadaan di dalam ruangan itu langsung sunyi. Sebuah malapetaka saat keluarga kerajaan melahirkan anak kembar emas. Orang-orang beranggapan itu bisa membawa bencana.
‘’Mori? Kau satu-satunya orang yang kupercayai selama melayani Permaisuri, aku percayakan Putri Erina padamu.’’ Kata Kaisar.
‘’Yang Mulia? Apa maksud Anda?’’ tanya Permaisuri merasa tidak enak.
Kaisar tersenyum pedih menatap bayi Putri Erina yang digendongnya.
‘’Kita tidak punya cara lain, kita harus membuang bayi ini.’’ Kata Kaisar begitu pedih.
‘’Tidak, Yang Mulia tidak boleh melakukannya.’’ Kata Permaisuri yang sudah terdengar parau.
‘’Jika Lady Alice mengetahui hal ini, maka semuanya akan tamat.’’ Kata Kaisar.
Permaisuri menangis histeris melihat putrinya dibawa pergi sambil dikawal panglima.
‘’Erina, maafkan kami.’’ Kata Kaisar menangis.
•Kediaman Lady Alice•
Wanita itu menoleh setelah pengawal kepercayaannya melapor.
‘’Permaisuri melahirkan sepasang anak kembar emas?’’
Pengawal itu membenarkan pertanyaan Lady Alice.
‘’Kalau begitu, kejar pelayan itu dan bunuh tuan putri.’’
•Aula Istana•
Para anggota kerajaan beserta seluruh rakyat menyambut kedatangan Kaisar dan Permaisuri yang membawa kedua pewaris mereka.
‘’Dia adalah Pangeran Pertama yang kuberi nama Pangeran Kairi! Serta Putri Pertama yang kuberi nama Putri Enelis!’’
‘’PANGERAN KAIRI BANZAI! PUTRI ENELIS BANZAI!’’ sorak semuanya bersujud.
Melihat tangan Kaisar gemetar, terukir senyuman di bibir Lady Alice.
Pelarian diri…
Panglima memegangi pelayan Mori sambil menunggani kuda.
‘’HYAAA!’’
Namun saat itu juga pengawal kepercayaan Lady Alice berhasil mengejar. Panglima spontan menarik tali kuda.
‘’Pergi dan bawa Tuan Putri Erina! Aku yang akan menghadangnya.’’
Pelayan Mori berlari sekuat tenaga, ia menoleh ke belakang melihat Panglima.
‘’Sudah aku bilang, cepat pergi!’’
Pengawal kepercayaan Lady Alice menarik panah dan berhasil mengenai paha pelayan Mori.
SINGG!
Hentakan pedang dari Panglima sebelum pelayan kepercayaan Lady Alice mencapai bayi Putri Erina yang terlempar tadi.
‘’A-Akh…’’ ringis pelayan Mori melepaskan panah yang tertancap di pahanya.
Bayi Putri Erina menangis mendengar suara hentakan pedang yang saling beradu.
‘’Tuan Putri jangan menangis, hamba ada di sini.’’
Dengan sekuat tenaga, pelayan Mori membawa bayi Putri Erina pergi meskipun darah bercucuran di pahanya.
‘’Beraninya kau mencegahku, Kujo!’’ Kata pengawal kepercayaan Lady Alice.
‘’Riku? Bahkan jika harus menewaskan nyawaku, aku tidak akan membiarkanmu melenyapkan tuan putri.’’ Kata Panglima Kujo.
Keduanya bertarung tanpa menyadari sebuah jurang tepat di belakang mereka hingga akhirnya kedua lelaki itu terjun ke laut.
•Halaman Kediaman Lady Alice•
Sebelah alisnya terangkat mendengar kabar yang dibawa salah satu prajurit yang mengikuti pengawal kepercayaannya. Lady Alice berjalan mendekati prajurit itu.
‘’Kau bilang, Putri Erina berhasil dibawa kabur?’’
Prajurit itu mengangguk meskipun rasa takut menguasainya.
SREET! BUGH!
Semua yang ada di sana memalingkan wajah setelah Lady Alice menebas leher prajurit tadi dalam sekejap.
‘’Wajahku jadi kotor.’’ Kata Lady Alice membuang pedang kemudian berlalu.
‘’Ahh, kakak benar-benar menakutkan.’’ Kata salah satu iparnya.
End Flashback.
‘’Begitulah riwayat kelahiran Tuan Putri.’’ Kata pelayan Mori.
Putri Erina mengepalkan tangan, meskipun tidak terima dengan perlakuan Kaisar yang membuangnnya, perlakuan Lady Alice lebih membuatnya marah.
‘’Lady Alice, kekuatannya yang sangat besar membuktikan bahwa ia membujuk para bangsawan untuk menggulingkan Kaisar terdahulu dari takhtanya guna mengincar kekuasaan itu.’’ Kata pelayan Mori.
‘’Mereka beranggapan kalau anak kembar emas membawa bencana, kalau begitu akan kuubah kutukan itu dengan menjadi Ratu Pertama di dinasti ini.’'
Pelayan Mori terbelalak.
‘’Menjadi Ratu adalah takdirku!’’
‘’Tuan Putri?’’
‘’Kita akan kembali ke istana.’’
‘’Tapi Tuan Putri?’’
‘’Aku akan merebut takhta itu sebelum Lady Alice mencapainya.’’
Hari pemilihan pasukan penjaga Kaisar…
Putri Erina yang menyamar menjadi lelaki ikut terpilih menjadi salah satu pasukan penjaga Kaisar yang terbagi atas beberapa divisi. Tepat hari itu, ia bertemu dengan Lady Alice saat menyusuri istana. Keduanya berpas-pasan tanpa ada yang menoleh. Langkah kaki Lady Alice terhenti, ia lalu menoleh melihat beberapa pasukan penjaga yang dilewatinya tadi.
‘’Ada apa, Lady Alice?’’ tanya suaminya.
‘’Tidak ada apa-apa.’’
Malamnya…
•Desa•
Butuh perjuangan agar menyelinap keluar istana. Putri Erina yang mengenakan pakaian biasa bertemu dengan pelayan Mori.
‘’Tuan Putri? Kenapa Anda bisa ada di sini?’’
‘’Aku tidak bisa berlama-lama, hanya saja aku ingin memberimu oleh-oleh ini, kau pernah bilang, saat melayani ibunda, kau selalu diberikan kue hangwa ini, karena sudah lama kau tidak pernah memakannya, jadi kubawakan untukmu.’’
Pelayan Mori bersujud dengan rasa haru.
‘’Eh? Jangan seperti itu, semua orang melihat, kalau begitu, aku pergi dulu.’’
Seseorang yang mengikutinya langsung pergi begitu saja.
•Kediaman Lady Alice•
‘’Kau mengawasi pasukan penjaga yang aku suruhkan?’’
‘’Ya, Lady Alice, hamba mengikutinya yang menuju ke desa untuk menemui seseorang.’’
‘’Seseorang?’’
‘’Mungkin kerabatnya, tapi wanita itu bersujud setelah lelaki yang bernama Yahiko memberinya sesuatu.’’
‘’Ya sudah, tetap awasi dia.’’
Keesokan harinya…
Putri Erina hendak menuju ke taman, namun tanpa sengaja ia melihat seorang putri tengah melukis. Putri Erina tertegun, tanpa diberitahu pun ia sudah tahu, setelah 21 tahun, ia baru bertemu dengan saudari kembarnya. Ada rasa rindu yang begitu kuat, matanya mulai berkaca-kaca, tanpa menyadari dirinya sudah di belakang putri itu.
‘’Eh? Kau baik-baik saja?’’ tanya sang putri membuat Putri Erina tersadar.
‘’L-Lukisan tuan putri begitu indah sampai-sampai membuat hamba terharu.’’ Kata Putri Erina berbohong.
Putri itu terkikik hingga datang seorang lelaki yang menghampirinya.
‘’Enelis? Kau di sini rupanya.’’
‘’Kakak? Pasukan penjaga ini terharu hanya karena melihat lukisanku.’’ Kata Putri Enelis.
Putri Erina menatap lelaki yang mengenakan pakaian pangeran itu.
‘’Dia pasti Kakak Kairi.’’ Kata Putri Erina dalam hati.
‘’Ayahanda dan Ibunda mencarimu.’’ Kata Pangeran Kairi.
‘’Kenapa?’’
‘’Pangeran Domino sedang menangis.’’
‘’Pangeran Domino?’’ tanya Putri Erina dalam hati.
Mendengar hal itu, Putri Enelis segera bergegas disusul Pangeran Kairi.
Hari demi hari saat Putri Erina selalu menyelinap keluar istana di malam hari membuat Lady Alice curiga, hingga ia turun tangan sendiri.
•Desa•
‘’Tuan Putri? Anda datang lagi? Bagaimana jika Tuan Putri ketahuan?’’ cemas pelayan Mori.
‘’Tenanglah, tidak ada satu pun orang yang mengikutiku.’’ Kata Putri Erina.
Seperti biasa, setelah Putri Erina berbincang sambil menikmati teh, ia bergegas pulang ke istana. Lady Alice yang memakai cadar menghampiri rumah itu.
TOK! TOK!
Pintu terbuka. Lady Alice melotot melihat pelayan setia yang membawa bayi Putri Erina 21 tahun yang lalu.
‘’Ada yang bisa saya bantu?’’ tanya pelayan Mori.
Lady Alice membuka cadarnya membuat pelayan Mori tersentak.
‘’L-Lady Alice?’’
‘’Jadi lelaki yang menyamar menjadi pasukan penjaga tadi adalah Tuan Putri Erina yang hilang 21 tahun yang lalu?’’
Pelayan Mori benar-benar terdiam. Bibir, tangan dan kakinya gemetar hebat.
‘’T-Tolong jangan b-bunuh T-TT-Tuan Putri Erina.’’
Mata Lady Alice menyipit.
‘’Kau memerintahku?’’
‘’Tidak La-‘’
SYUUT!!
Belum sempat pelayan Mori bicara, Lady Alice sudah menikamnya.
‘’Dasar rakyat rendah, beraninya memerintah calon penguasa selanjutnya.’’
Pagi berikutnya…
•Kediaman Putri Enelis•
‘’Tuan Putri? Lady Alice datang untuk bertemu dengan Anda.’’
Raut wajah Putri Enelis spontan berubah.
‘’Baiklah, persilahkan dia masuk!’’
CEKLEK!
Lady Alice tersenyum sambil memberi hormat.
‘’Tidak biasanya Lady Alice mengunjungiku.’’ Kata Putri Enelis.
‘’Saya datang membawa kabar baik untuk Anda.’’
‘’Kabar baik?’’
‘’Tapi sebelum saya memberitahu Tuan Putri, berjanjilah untuk tidak memberitahu siapapun dulu.’’
‘’Lady Alice? Kau memberi perintah terhadap pewaris kerajaan sepertiku?’’
‘’Anda bisa menganggapnya sebagai permintaan.’’
‘’Kalau begitu, apa kabar baik yang sampai membawamu kemari?’’
‘’Saudari kembar yang Tuan Putri cari sejak dulu, saya telah menemukannya.’’
Putri Enelis tersentak.
‘’Kau tahu hukuman apa yang didapatkan jika mencoba membohongiku?’’
‘’Tuan Putri bisa memastikannya sendiri ke pasukan penjaga yang sedang menyamar sebagai Yahiko, dia adalah Putri Erina, saudari kembar Anda.’’
•Taman Istana•
Putri Enelis terengah-engah saat melihat Putri Erina yang tidak jauh sedang duduk sendirian. Ia segera menghampirinya.
‘’Salam, Tuan Pu-‘’ Kata Putri Erina terpotong karena Putri Enelis langsung memeluknya.
‘’Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau telah kembali?’’ isak Putri Enelis.
‘’Erina? Kau tahu berapa lama aku dan Kakak Kairi mencarimu semenjak ibunda menceritakan kelahiran kita?’’
2 kepala pasukan penjaga yang melihatnya terbelalak.
‘’Jadi Yahiko itu bukan laki-laki tapi saudari kembar Tuan Putri Enelis?’’ tatap Konan.
‘’Sepertinya fakta ini telah disembunyikan, Permaisuri ternyata melahirkan sepasang anak kembar emas, ini bencana.’’ Kata Heizo.
Putri Erina terharu, tidak peduli bagaimana saudarinya itu tahu dari mana, tapi ia begitu senang.
‘’Kalau begitu, kita keluar istana, setelah 21 tahun kita tidak pernah menghabiskan waktu.’’ Kata Putri Enelis.
Ia lalu melihat 2 kepala pasukan penjaga dan memanggil mereka untuk mengawalnya.
•Desa•
Putri Enelis dan Putri Erina beserta 2 kepala pasukan itu menikmati jalan-jalan mereka hingga keempat orang itu menuju hutan.
•Hutan•
‘’Tuan Putri? Kenapa kita datang kemari?’’ tanya Konan.
‘’Kau akan tahu sendiri, kalian berjaga di sini saja.’’ Kata Putri Enelis.
Beberapa menit kemudian…
Muncul Putri Enelis yang mengenakan pakaian pasukan penjaga, sedangkan Putri Erina mengenakan pakaian tuan putri kakaknya.
‘’Karena adikku tidak pernah merasakan mengenakan gaun seperti itu, aku ingin bertukar tempat dengannya, agar aku bisa merasakan bagaimana dia hidup seperti ini.’’
Seseorang dari jauh mengenakan topeng mengintip dibalik semak.
‘’Mereka berdua benar-benar menukar pakaian seperti yang dikatakan Lady Alice.’’
Flashback.
‘’Aku memberi saran kepada Tuan Putri agar membawa saudari kembarnya berjalan-jalan diluar istana dan mencoba memakaikan pakaiannya pada adiknya, tepat setelah mereka bertukar pakaian, bunuh Putri Erina yang mengenakan gaun putri.’’
End Flashback.
Lelaki bertopeng itu menarik panah bersiap membunuh Putri Erina, namun niatnya gagal saat keempat orang itu sudah hilang.
‘’Kakak? Bisakah kita menukar pakaian lagi? Aku sepertinya susah berjalan.’’ Kata Putri Erina.
‘’Tapi?’’
‘’Aku akan memakai gaun ini jika aku sudah resmi mengumumkan identitasku.’’
‘’Baiklah kalau begitu.’’
Beberapa saat setelah keduanya kembali menukar pakaian. Keempat orang itu berjalan mengeluari hutan. Lelaki bertopeng tadi menemukan mereka, sebelum terlambat, ia menarik panah.
BUGH!
Putri Erina, Konan dan Heizo terpaku melihat panah menembus bagian jantung Putri Enelis di depan mata mereka sendiri. Lelaki bertopeng itu pergi secepat mungkin.
‘’Kakak!!’’
‘’Tuan Putri!!’’
Putri Enelis terjatuh.
‘’Siapa? Siapa yang melakukan hal ini?! Beraninya!!’’ marah Konan.
‘’E-Erina…uhuk! Meskipun sebentar, tapi aku sangat senang bisa bertemu denganmu lagi hikss, aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu bersama Kakak Kairi.’’
Putri Erina menangis histeris sambil memegangi tangan kakaknya.
‘’T-Tolong jaga Pangeran Domino, dia adalah putraku sekaligus keponakanmu, katakan padanya kalau aku meminta maaf hikss, harus meninggalkannya di umurnya yang masih muda seperti itu.’’
‘’Jadi Pangeran Domino adalah…’’
Putri Enelis tersenyum untuk terakhir kalinya.
‘’Padahal kupikir setelah ini, aku akan memberitahu Kakak Kairi agar kami mengangkatmu sebagai Putri Kaisar.’’
‘’Hikss, hikss, kakak bertahanlah.’’
‘’Aku serahkan urusan Lady Alice padamu dan kakak.’’
‘’Kakak! Kakak!’’
‘’Tuan Putri! Tuan Putri!’’
Ketiga orang itu menangis tak berdaya. Setelah kematian Putri Enelis diketahui, Kaisar dan Permaisuri begitu terpukul. Kaisar memerintahkan agar mencari dalang dibalik pembunuhan itu.
‘’Putri Enelis, yah? Kalau begitu setidaknya dia sudah tersingkirkan terlebih dahulu.’’ Kata Lady Alice.
1 bulan setelah kematian Putri Enelis, para pasukan penjaga Kaisar dikirim untuk berperang. Dari ratusan pasukan penjaga, semua telah tewas di wilayah itu kecuali Putri Erina dan kepala divisi pasukan penjaga. Keadaannya bahkan sudah tidak bisa dikondisikan.
‘’Haa, huha, aku tidak boleh mati di sini.’’ Katanya begitu lemah sambil merangkat melewati tumpukan mayat lainnya.
‘’Tuan Putri Erina!’’ teriak Konan dan Heizo yang menghampiri.
•Istana•
Lady Alice begitu murka melihat Putri Erina ternyata selamat dari peperangan. Ia jadi mengganti rencananya.
•Kediaman Pangeran Kairi•
Sebuah surat tengah tergeletak di depan pintu kediamannya begitu saja.
‘’Siapa yang meletakkan surat di sini?’’
Tepat setelah surat itu terbuka, mata Pangera Kairi membulat besar. Ia memasukkan kembali kertas itu dan bergegas pergi.
Para pasukan penjaga memberi hormat melihat kedatangan Pangeran Kairi.
‘’Tinggalkan kami!’’ perintahnya.
Pangeran Kairi menatap kondisi Putri Erina yang terbaring lemah dengan iba. Ia mengepalkan tangan.
‘’Erina?’’ panggilnya.
‘’P-Pangeran Kairi! S-Salam.’’ Kata Putri Erina bangkit.
‘’Erina? Erina!’’
Putri Erina tersentak, sekali lagi salah satu saudaranya mengetahui identitasnya sebelum ia memberitahunya sendiri.
‘’Entah apa yang harus kulakukan jika saja kau tidak berhasil selamat dari peperangan itu.’’
‘’Kakak Kairi tahu darimana?’’
‘’Tiba-tiba ada sebuah surat yang memberitahuku kalau adik yang selama ini aku cari ternyata ada di sini dan menyamar.’’
Pangeran Kairi menggengam tangan adiknya.
‘’Aku akan memberitahu Ayahanda dan Ibunda tentang hal ini.’’
‘’Tidak! Jangan dulu.’’
‘’Tapi kenapa?’’
‘’Aku minta bantuan kakak agar mendukungku menentang Lady Alice untuk merebut takhta Ayahanda.’’
‘’Tentu, aku dan Enelis juga seperti itu, kami berusaha melawannya tapi pengaruhnya begitu kuat, dia adalah sosok wanita yang memiliki peranan penting.’’
‘’Kita pasti bisa menemukan cara.’’
Beberapa hari kemudian, kondisi Putri Erina telah membaik. Semua orang terbelalak melihat Pangeran Kairi memberi jamuan padanya.
‘’Eh, itu, Pangeran Kairi? Anda tidak perlu repot-repot melakukan hal ini.’’
‘’Sudah aku bilang, panggil aku kakak saat kita berdua saja.’’
‘’Tapi begitu banyak orang yang mengawasi, semua akan curiga.’’
Saat itu juga Lady Alice datang, membuat Putri Erina berdiri memberi hormat.
‘’Jika Pangeran tidak keberatan, bisakah saya bergabung?’’
‘’Tentu saja, silahkan.’’
‘’Tidak biasanya Pangeran Kairi memuat jamuan ini untuk seorang pasukan penjaga, apakah ada sesuatu yang menarik?’’ tanya Lady Alice.
‘’Hanya memberinya perayaan karena berhasil selamat dari peperangan.’’
Lady Alice tersenyum dengan sebelah alis sambil menunduk.
‘’Jika Pangeran mengijinkan, bisakah saya melayani Anda?’’
Pangeran Kairi mengangguk. Lady Alice menuangkan teh dari teko. Dengan pelan, ia membuka tempat berlian cincinya sehingga bubuk itu masuk ke dalam the Pangeran yang sedang sibuk berbincang dengan Putri Erina.
‘’Kalau begitu, silahkan nikmati jamuannya kembali, saya permisi dulu.’’
Selepas kepergian Lady Alice…
‘’Kakak, ada yang aneh di sini, maksudku Kakak Enelis juga mengetahui identitasku seperti kakak mengetahui identitasku sebelum aku se-‘’
PRANK!!
Putri Erina melotot melihat Pangeran Kairi terjatuh. Cangkir yang dipegangnya tadi sudah pecah.
‘’Pangeran!’’
Para prajurit kemudian berlari ke sana. Putri Erina terdiam sambil melihat prajurit itu memeriksa.
‘’Pangeran Pertama telah tewas.’’
DEG!
Putri Erina terpaku. Semua pandangan langsung tertuju kearahnya.
‘’Dia telah membunuh Pangeran! Tangkap dia!’’
‘’Tidak! Bukan aku, ka- Pangeran Kairi hikss, hikss, ini bohong, ‘kan? P-Pangeran Kairi tidak mungkin meninggal, beberapa saat yang lalu dia masih baik-baik saja! ini bohong! Hikss, hikss…’’
Para prajurit menyeret Putri Erina yang histeris tidak ingin melepaskan genggamannya pada Pangeran Kairi.
•Kamar Kaisar dan Permaisuri•
PRANKK!
Permaisuri menjatuhkan cangkir setelah mendengar kabar kematian Pangeran Kairi. Spontan kesadarannya menurun. Sedangkan Kaisar benar-benar murka. Kasus pembunuhan Putri Enelis saja belum terpecahkan dan sekarang, putranya juga malah ikut terbunuh tiba-tiba.
‘’Siapa yang melakukannya?!’’ marah Kaisar.
‘’Salah satu pasukan penjaga yang berhasil selamat dari peperangan.’’
‘’Apa?’’
‘’Kami melihatnya duduk dengan Pangeran Kairi sebelum Pangeran terbunuh, selain itu kami juga mendapat laporan bahwa sebelum Putri Enelis tewas, pasukan penjaga itu juga sempat bersamanya.’’
Kaisar mengepalkan tangan.
‘’Segera siapkan pengeksekusiannya di aula istana! Aku sendiri yang akan mengeksekusinya!’’ perintah Kaisar.
•Aula Istana•
Para warga bergitu marah setelah tahu alasan mereka dikumpulkan. Mereka melempari Putri Erina dengan batu yang sedang terikat. Dahi, sudut bibir dan beberapa bagian tubuh Putri Erina berdarah akibat lemparan tadi. Putri Erina mendongakkan kepala menatap Lady Alice.
‘’Jadi dia yang telah membunuh kedua kakakku, tepat setelah dia menuangkan teh kepada kakak, kakak langsung tewas.’’
Kaisar tiba dengan raut wajah begitu murka. Semua rakyat bersujud menyambut kedatangannya. Permaisuri masih menangis. Kaisar berjalan menghampiri Putri Erina sambil membawa obor. Kedua pandangan mereka bertemu.
‘’A-Ayahanda…’’ tatap Putri Erina dalam hati.
‘’Beraninya kau melakukan dosa besar dengan membunuh kedua pewarisku, terimalah karmamu!’’
Sebelum Kaisar membakarnya, Putri Erina menangis membuat Kaisar terhenti.
‘’Tangisan dan penyesalanmu tidak akan mengembalikan nyawa kedua anakku, karena itu terima sendiri ko-‘’
‘’Hikss, Ayah? Kau tidak mengenali putrimu ini?’’
Kaisar melotot.
‘’Diam! Aku hanya punya satu putri dan itu adalah Ene-‘’
Kalimat Kaisar terhenti karena menyadari sesuatu. Ia mengingat dirinya pernah menyerahkan salah satu putrinya pada pelayan Mori. Namun Kaisar menolak, ia hendak kembali membakarnya.
‘’Tunggu! Yang Mulia.’’
Mendengar suara itu, Kaisar dan semua orang menoleh.
‘’Panglima Kujo?’’ Kata Kaisar dan Lady Alice bersamaan.
‘’Yang Mulia! Dia adalah putri Anda, saudari kembar Tuan Putri Enelis!’’
Sekali lagi semua orang dibuat kaget. Dengan ragu, tangan Kaisar terulur.
DEG!
Terlihat tanda lahir matahari tribal di belakang telinga Putri Erina.
‘’E-Erina?’’
‘’Hikss, hikss, iya Ayah, ini aku Erina.’’
Kaisar langsung memeluknya dan Permaisuri menghampiri mereka.
‘’Putriku Erina, hikss, hiks, hikss…’’
Kaisar mengumumkan kesalahannya 21 tahun yang lalu dan mengumumkan Putri Erina sebagai pewaris terakhirnya.
‘’PUTRI ERINA BANZAI!’’
Lady Alice mengepalkan tangan sambil tersenyum.
•Ruang Kenegaraan•
Putri Erina muncul dengan memakai pakaian tuan putri. Akhirnya ia kembali ke posisinya meskipun kedua kakaknya sudah tiada.
‘’Tapi Panglima, setelah 21 tahun kau ke mana?’’ tanya Kaisar.
‘’Sambil bertarung dengan Riku, kami berdua terjun ke laut, hamba berhasil selamat tapi tidak dengan Riku, jadi hamba berusaha kembali kemari dan saat di desa, seorang wanita ditemukan tewas karena baunya yang begitu mencekam.’'
‘’Wanita tewas?’’ tanya Permaisuri.
‘’Dia pelayan Mori.’’
Semua tersentak terutama Putri Erina. Semenjak hari itu, dia tidak pernah mengunjungi pelayan Mori karena pergi berperang dan sekarang setelah ia menjadi putri, kabar kematian pelayan Mori malah tersampaikan.
Kaisar mengumumkan Putri Erina sebagai kepala utama pasukan penjaga. Dengan begitu, ia lebih sering bertemu dengan Lady Alice.
‘’Tuan Putri Erina.’’ sapa Lady Alice.
Keduanya dikawal masing-masing oleh pasukan penjaga. Lady Alice tersenyum sambil menggenggam tangan Putri Erina.
‘’Saya senang akhirnya Tuan Putri Erina yang selama ini hilang telah kembali.’’
Putri Erina spontan menarik tangannya pelan.
‘’Tangan yang kau gunakan untuk membunuh kedua kakakku dan pelayan Mori, beraninya kau menyentuhku, aku ini Tuan Putri, tidak sepantasnya kau langsung menyentuhku tanpa ijinku terlebih dahulu.’’
Lady Alice mengepalkan tangan disela kepergian Putri Erina. Hari demi hari Putri Erina mulai mengatur semua aktivitas di istana. Ia juga tanpa ragu menentang pendapat Lady Alice membuat semua ada di bawah kendalinya. Hal itu membuat Lady Alice selalu mengotak-atik kamarnya dengan amarah. Tak punya cara lain lagi, Lady Alice tanpa ragu mengajukan perang untuk menyerang istana. Putri Erina memimpin pasukan membuat Lady Alice semakin marah. Beberapa hari perang berlalu, pasukan pemberontak malah kalah. Lady Alice memilih bunuh diri. Suami, adik dan iparnya yang berkhianat ditangkap.
•Kamar Kaisar dan Permaisuri•
Kaisar terbaring lemah dengan wajah yang memucat. Seluruh rambutnya sudah putih. Ia merasa bangga dengan putrinya dan menyesal karena telah membuang Erina. Merasa hidupnya tidak lama lagi, Kaisar mengeluarkan titah dengan menjadikan Putri Erina untuk menggantikannya menjadi Kaisar.
‘’Maafkan ayah.’’
Dengan hembusan terakhir, Kaisar pun wafat. Permaisuri dan Putri Erina histeris. Semua orang berduka.
3 hari kemudian…
Seorang wanita mengenakan jubah dan mahkota berjalan menyusuri karpet lalu menaiki tangga.
‘’Kamu tidak bisa lagi mempercayai siapapun tetapi tidak boleh meragukan siapapun, kamu akan sendirian, tapi kamu harus kuat, apa kau sanggup?’’ tanya Permaisuri yang telah menyandang gelar ‘’Ibu Suri’’
‘’Menjadi Ratu adalah takdirku.’’ Kata Ratu Erina.
Semua berlutut memberi penghormatan kepada Ratu yang baru. Ratu Erina pun menduduki singgasana.
‘’RATU ERINA BANZAI! BANZAI! BANZAI!’’
‘’Begitu banyak yang dikorbankan untuk mencapai singgasana ini. Ayah? Kakak Kairi? Kakak Enelis? Apakah kalian melihatku dari sana?’’ tatap Ratu Erina dalam hati.
Hanya buliran air yang terjatuh dari sudut matanya yang kini telah menjadi Ratu.