Kata kunci : hantu, ruang waktu lain, kamar
Sharon memandang rumah kuno yang ada dihadapannya.
"Kak Anton haruskah aku tinggal disini selama kau pergi?" tanya Sharon kepada kakaknya Anton.
Selama ini Sharon dan Anton tinggal berdua di rumah peninggalan orang tua mereka di kota Glasgow.
Tetapi karena Anton harus pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaannya, maka untuk sementara waktu Sharon akan dititipkan pada Paman William yang merupakan adik dari ayah Anton dan Sharon.
Anton merasa khawatir kalau sampai meninggalkan Sharon sendirian di rumah mereka di Glasgow. Akhirnya, terpikir oleh Anton untuk menitipkan Sharon pada Paman William yang merupakan satu-satunya kerabat mereka.
***
Rumah Paman William terletak di York. York sebenarnya merupakan kota kecil yang indah. Dimana sebagian besar bangunan di kota ini merupakan bangunan tua dan kuno yang tersusun dari batu-batu yang masih bertahan hingga kini.
Begitu pula dengan rumah Paman William. Rumah Paman William masih berdiri dengan gagah walaupun sudah berusia ratusan tahun.
Rumahnya sendiri bersih dan rapi. Tapi karena tersusun dari batu-batu, sedikit menimbulkan kesan seram.
***
"Mari masuk keponakanku," Paman William menyambut hangat kedatangan Sharon dan Anton. Ia memeluk satu persatu keponakannya itu.
"Berapa lama kau pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaanmu itu?" tanya Paman William pada Anton.
"Rencananya selama sebulan, tapi ada kemungkinan lebih Paman," jawab Anton.
"Aku senang kau menitipkan Sharon padaku. Aku senang jadi ada yang menemaniku. Selama ini hanya ada Helga... pelayanku, yang sesekali menemaniku mengobrol."
"Helga tolong kau antarkan Sharon ke kamar tamu." Paman William member perintah pada Helga sang pelayan.
"Mari ikuti saya Nona," kata Helga kepada Sharon.
Dengan menjinjing koper kecilnya, Sharon mengikuti Helga menuju sebuah kamar. Kamar itu cukup besar, terlihat bersih dan rapi.
"Kalau ada yang Nona butuhkan, jangan segan-segan untuk mengatakannya kepada saya," kata Helga sambil menganggukkan kepalanya, kemudian ia meninggalkan kamar itu.
Tak lama Anton datang menemui Sharon. "Sharon sayang, aku akan pergi sekarang. Bersikap baiklah pada Paman William. Aku menyayangimu adikku," kata William sambil mengusap bahu Sharon.
"Aku juga menyayangimu Kak. Hati-hatilah selama perjalanan."
***
Malam itu, sulit rasanya bagi Sharon untuk tidur. Ia tidak terbiasa meninggalkan rumahnya, apalagi tidur selain di kamarnya sendiri.
Sharon sudah membolak-balikkan posisi badannya, tapi tetap saja ia merasa kesulitan untuk tidur.
"Ah, mungkin segelas susu bisa membuatku mengantuk..." gumam Sharon. Kemudian ia beranjak dari tempat tidurnya. Ia keluar dari kamarnya dan mencari letak dapur.
Sharon tidak familiar dengan rumah ini. Rumah Paman William ini cukup luas, dengan banyak kamar. Dan karena sekarang malam hari, pencahayaan sangat minim karena banyak lampu yang dimatikan.
Dalam remang-remang, Sharon terus berjalan menuju bagian belakang rumah. Bukankah dapur itu biasanya ada di bagian belakang rumah? Begitu pikir Sharon.
Tiba-tiba dari sebuah kamar terlihatlah ada cahaya berpendar. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Sharon mendorong pintu itu dengan sangat perlahan...
Sharon sedikit tersentak karena didalamnya terlihat ada seorang pemuda tampan berwajah pucat yang sedang memandang kearahnya begitu tahu pintu kamarnya terbuka.
"Ma-maaf... aku pikir tak ada orang didalamnya." Sharon berniat akan menutup kembali pintu kamar itu, tapi pemuda itu mencegahnya.
"Mary kaukah itu?... Mary..." pemuda itu menghampiri Sharon. Pemuda itu terlihat memakai pakaian bangsawan Inggris pada era Georgian.
"Bukan! Aku bukan Mary! Aku... Sharon. Siapa kau?" Ketika pemuda itu mendekat, Sharon mundur beberapa langkah.
"Aku Andrew Ghale, tidakkah kau ingat padaku?" Pemuda itu berkata sambil memegang erat tangan Sharon. Ia menarik Sharon masuk ke dalam kamar itu.
"Mary... aku sudah lama mencarimu. Aku sudah lama menantikanmu. Lihatlah rumah yang kubangun untukmu. Untuk kita tempati setelah menikah. Rumah untuk membesarkan anak-anak kita."
Seperti ada pintu keluar didinding kamar itu, Andrew menarik tangan Sharon melewati pintu itu.
Terlihatlah sebuah halaman indah dalam suasana siang hari. Halaman luas yang dipenuhi bunga beraneka warna.
"Lihatlah rumah yang kubangun untukmu," kata Andrew sambil membalikkan tubuh Sharon.
Ketika membalikkan tubuhnya, Sharon melihat rumah yang ditinggali oleh Paman William tapi tampilannya seperti baru saja dibangun.
Tiba-tiba terdengar derap kuda dibelakang Sharon dan Andrew. Mereka pun berbalik. Terlihat beberapa orang laki-laki datang dengan menunggangi kuda. Merek
"Berani-beraninya kau menculik Mary anakku. Sungguh-sungguh kau tak sayang nyawamu," teriak seorang laki-laki setengah baya yang masih terlihat gagah.
"Pengawaaal... kau bawa Mary pulang dan sekap didalam kamarnya!"
"Dan kalian tangkap si Andrew itu!" Laki-laki setengah baya itu memerintahkan pengawal sisanya untuk menyergap Andrew.
Sharon yang diseret paksa oleh 2 orang pengawal, meronta-ronta menolak pergi.
"Aku bukan Mary! Aku Sharon!"
Begitu pula dengan Andrew yang badannya dikunci oleh 2 orang pengawal berperawakan tinggi besar, ia meronta-ronta sekuat tenaganya.
"Tuan Arthur aku tidak bermaksud buruk pada Mary anakmu. Kami sama-sama saling mencintai. Aku akan menikahinya dan membahagiakannya."
Sharon tertegun mendengar perkataan Andrew, ia memandang wajah Andrew, terlihat ada air mata yang menetes di pipinya. Andrew pun memandang kearah Sharon.
"I love you, Mary", suara Andrew terdengar bergetar.
"Aku tidak merestui kalian. Aku akan menikahkan Mary dengan seorang bangsawan dari Bridlington." Laki-laki yang dipanggil Arthur itu melangkah mendekati Andrew sambil menghunus pedangnya. Muka Arthur terlihat merah padam.
Cleb...
Tiba-tiba saja Arthur menancapkan pedangnya menembus dada Andrew. Darah segar mengalir keluar dari dada Andrew.
"Aarghh....." terdengar suara Andrew mengerang kesakitan.
"Tidaaaaak...." Sharon berteriak sangat keras. Ia tak tahan melihat pembunuhan yang sangat kejam terjadi didepan matanya. Ia pun terkulai pingsan.
***
"Sharon... Sharon... sadarlah nak," Paman William menepuk-nepuk pipi Sharon.
Sharon bergerak perlahan. Ia mulai membuka kedua matanya.
"Aku ada dimana Paman?" Sharon beringsut bangun dan bersandar pada tepian tempat tidurnya.
"Sekarang kau ada dikamarmu. Tapi tadi kamu berteriak sangat keras dan ditemukan pingsan di halaman rumah. Kenapa kamu bisa pingsan di halaman rumah?" Paman William malah balik bertanya kepada Sharon.
Sharon terdiam sejenak. Ia berusaha mengingat semua kejadian lengkap yang telah menimpanya. Lalu ia menceritakannya kembali pada Paman William tanpa terlewat sedikitpun.
Paman William mendengarkan cerita Sharon dengan seksama. Tetapi ketika Sharon sudah selesai menceritakan semua kejadian yang menimpanya, Paman William menjadi tercengang.
"Sebenarnya aku mendengar sedikit cerita dari masa lalu tentang nenek buyut keluarga kita. Nenek buyut keluarga kita bernama Mary. Ia jatuh cinta dengan seorang bernama Andrew. Tapi ayahnya Mary tidak merestui. Ayahnya Mary kemudian membunuh Andrew dan menikahkan Mary dengan seorang bangsawan dari Bridlington.
Dari pernikahannya dengan bangsawan Bridlington, Mary dikaruniai seorang putri yang diberi nama Anna.
Tapi tak lama setelah Anna lahir, bangsawan Bridlington itu jatuh sakit kemudian meninggal.
Setelah suaminya meninggal, Mary memilih pergi dari kediamannya dan tinggal dirumah ini yang telah dibangun oleh Andrew. Mary membesarkan Anna di rumah ini.
Dan kita adalah keturunan Mary...." Paman William mengakhiri ceritanya.
Sharon tertegun mendengar cerita yang dituturkan oleh Paman William. Tanpa terasa air matanya menetes di pipinya.
-TAMAT-